Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 29 DIPERTEMUKAN OLEH TAKDIR


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Aku dan Mak e ditemani Mak Imah yang kemari setelah Shubuh untuk membantu kami memasak beberapa menu untuk menyambut kedatangan pak le dari Klitang.


Untuk kue Mak e memilih memasak kesukaan buk lek dan pak le yaitu kue buak tat dan kue lapis legit.


Buak Tat adalah jenis kue yang bagian tengahnya diisi dengan selai nanas berbentuk segi empat juga ada bundar dan mempunyai motif ukiran. 


Sedangkan kue lapis legit memiliki bentuk yang berlapis-lapis dan rasanya sangat manis.


Dan untuk menu makan siang nanti Mak e memilih Tempoyak dan Seruit.


Tempoyak merupakan makanan yang terbuat dari bahan dasar durian. Cita rasanya yang asam manis hasil permentasi ini membuatnya terasa nikmat ketika dijadikan sebagai lauk untuk saat makan nasi. Tempoyak biasanya diolah dengan sambal dan campuran daging ikan sehingga terasa gurih.


Dan kali ini Mak e memilih Memasak Ikan Patin Tempoyak. Sekitar pukul 09.15 kami selesai dengan aktifitas di dapur dan mbak Imah pamit pulang untuk melihat ibunya sekedar untuk mengganti Pampers atau jika ibunya butuh sesuatu seperti minum atau merubah posisi tidurnya.


Mas Hardi sudah datang dengan mengenakan batik lengan pendek lengkap dengan peci hitamnya.


"Mau kemana mas?" tanya ku heran


"Loh... ya Ndak kemana-mana"


"Kok udah rapi kayak mau kondangan aja mas"


"Kamu itu ya ini namanya menghormati calon besan. Ga mungkin mas pakai baju untuk Ngarot menyambut calon besan dan pak le"


"Kan baru kenalan mas.... kok sudah disambut segitunya"


"Ran.... mas ini gantinya bapak. Mas Ndak mau dianggap tidak ada sopan lah wong cuma pakai baju kayak gini kok dibilang berlebihan. Kamu siap-siap sebentar lagi pak le sampai sekitar setengah jam lagi tadi pak le telpon."


"Iya mas ku..." Aku beranjak ke kamar untuk mengganti pakaian ku agar terlihat lebih rapi.


"Pakai gamis saja nduk, bila perlu pakai jilbab"


Suara Mak dari balik pintu kamar mengingatkan ku.


Aku memutuskan keluar dari kamar,


"Mak, Rana kan tidak memakai jilbab. Biarlah Rana apa adanya. Rana Ndak mau mengenal bahkan memulai sebuah hubungan dengan berpura-pura.


"Yo wes yang penting pakai gamis biar terlihat sopan"


"Iya mak.." Aku masuk ke kamar lagi untuk menuruti permintaan Mak e.


Beberapa menit kemudian suara mobil terdengar berhenti dihalaman rumah ketika aku akan ikut keluar mas Tama menyuruh ku untuk kedapur membuatkan kopi dan teh. Akhirnya aku menurut dan kedapur untuk membuat kopi kental manis favorit pak le dengan menunggu airnya matang. Pak le ku itu tidak suka jika kopi diseduh dengan air dari termos katanya kurang mantap. Pak le adalah adik almarhum bapak satu-satunya sehingga aku cukup dekat dan hapal kebiasaan beliau karena ketika kecil dulu pun aku sering ketika libur sekolah menginap dirumah pak le.


Sambil menunggu air nya mendidih terdengar sayup-sayur suara pak le dan tamu yang diajaknya untuk diperkenalkan kepadaku. Tiba-tiba ada yang menepuk pundak ku dari belakang.


"Lah kok malah disini... kenapa ga keluar?" Buk le Fatimah mengagetkan ku.


"Masih mau buat minum buk le, apa kabar buk le sehat?" tanya ku pada buk le Fatimah


"Alhamdulilah sehat" Buk le menarik kursi meja makan yang ada disebelah ku.


"Ran, kamu tahu sebuah perjalanan hidup kita sudah ditakdirkan oleh yang kuasa. Maka seberapa kuat kita menolak jika itu ternyata memang takdir kita maka dia tidak akan berpindah ke orang lain. Buk le harap kamu berpikir matang-matang tentang pemuda yang akan melamar kamu. Ibunya Sepupu nya buk le. Dia anak yang berbakti, Sholeh insyaallah. Jika mbak yu ku saja bahagia sebagai ibunya apalagi nanti istrinya. Buk le harap kamu bisa menerima pemuda ini Ran. Buk le kenal dia dari kecil, Kamu keponakannya buk le yang buk le rasa sayang jika pemuda sebaik dia malah dijodohkan dengan orang lain sedang keponakan buk le masih sendiri diusia sekarang" Buk le mengakhiri perkataannya dengan menggenggam tangan ku.


"Saya Ndak janji buk le, lihat nanti saja"


"Iya... eh itu airnya mendidih. Yo wes buk le tunggu di depan ya"

__ADS_1


Hhhh..... Ada napas yang berat dan sesak di dada. Buk le Fatimah itu jika sudah berkata seperti itu maka ada sesuatu tapi apa aku sedikit bingung. Akhirnya aku selesai dengan teko teh dan satu gelas kopi kental manis. karena tidak tahu jumlah tamunya maka aku membuat teh menggunakan teko kecil.


Sesampainya diruang tengah aku merasa tidak asing dengan suara perempuan dan laki-laki yang sedang mengobrol dengan Mak e dan pak le.


"Lah.... ini dia yang ditunggu dari tadi kopi nya Rana... pak le sudah rindu dengan kopi buatan mu nduk"


Deg!


Jeddeeerr.....!


"Buk kades.... pak kades....Mas Tama..." ucap ku sedikit berbisik. Aku begitu kaget tapi masih melangkah maju untuk menyajikan kue dan minuman yang sudah aku bawa di nampan ku.


Ketika aku sudah sampai dimeja tamu aku menuangkan minuman untuk semua yang ada diruangan ini dan menyalami buk kades dan pak kades serta pak le. Aku memilih duduk disebelah buk le dan Mak e.


"Pak le kaget Lo Ran, tadi pas sampai disimpang tiga mas Narso menanyakan tentang kamu lah ternyata sudah kenal dengan mas Narso dan Bagus"


"Lah saya pikir kemarin sama ibu nya mungkin ada banyak nama Kirana mungkin sama namanya makanya saya ndak terlalu detail terus Tama juga Ndak tanya-tanya. Lah Sampai disimpang tiga Tama sama ibu nya bilang itu arah kerumahnya Kirana lah saya langsung telpon kamu toh No" Jelas pak kades pada pak le.


"Jadi kamu pernah dilamar Na? sama Bagus ini?"


Aku tidak berani menjawab, hanya menganggukkan kepala bahkan dari tadi aku hanya menundukkan kepala ku karena ada rasa malu pada buk kades serta mas Tama serta rasa sungkan karena pernah menolak lamaran mas Tama. Aku baru ingat mas Tama mempunyai nama lengkap Bagus Pratama.


"Iya waktu itu katanya Rana masih mau cari pengalaman No. Jadi ya namanya setiap orang punya hak. Ndak bisa dipaksa akhirnya ga jadi. kata dek Fatimah Kamu sudah mengajar sekarang nduk disalah satu SMA dikota?" buk kades bertanya kepadaku


"Iya buk... alhamdulilah hampir satu tahun setengah. Sekarang lagi libur jadi saya pulang kampung dulu"


"Alhamdulilah, Ibu berharap kalian berjodoh sekali ini Ran.... lah bayangkan Ran sudah 3 kali coba kenalan dan hasilnya 2 ditolak, satu gagal lah tinggal berapa hari menjelang acara lamaran... Ibu berharap sekali ini jawaban kamu berbeda. Sudah punya pengalaman toh sekarang" Buk kades berhenti berbicara seketika karena terlihat mas Tama melirik ke buk kades seolah meminta untuk berhenti berbicara.


"Hayo silahkan diminum dulu Bu... ayo ini nak Dwi pasti Suka ini kue lapis legit rasanya manis" Mak e mempersilahkan buk kades dan keluarga untuk menikmati minuman dan makanan yang telah disajikan.


Beberapa lama pak le mengobrol dengan mas Hardi begitu pun pak kades. Sedangkan ibu dan buk le serta buk kades juga sesekali mengobrol membahas masalah makanan. Hanya aku, Dwi dan mas Tama yang seperti nya sibuk dengan layar handphone masing-masing.


"Kalau saya tidak keberatan paman, mungkin pertemuan ini ada hikmahnya. Toh setelah saya melamar Rana saya juga belum menemukan yang cocok begitupun Rana yang katanya sudah 3 kali menolak lamaran dari orang lain. Saya kembali ke Rana kalau hari ini saya berniat untuk kembali melamar Rana apakah dia bersedia atau tidak paman"


"Bagaimana Rana kamu dengar sendiri dari Tama. Dia ingin kembali melamar kamu"


"Nduk...." ibu menyentuh tangan ku meminta aku menjawab pertanyaan pak le.


Kuberanikan diri mengangkat kepala dan menatap kearah buk kades dan mas Tama.


"Baiklah, bisakah kita berbicara berdua dulu mas ada beberapa hal yang mungkin ingin saya tanyakan sedikit pribadi kepada mas Tama".


"Baiklah"


"Kita ngobrol diteras saja mas" pintaku pada mas Tama lalu kami berdua berjalan kearah Teras. Didepan teras terdapat meja bundar dan dikelilingi 4 kursi kayu. Kami duduk dengan berhadapan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan Ran?"


Kuberanikan menatap lawan bicara ku saat ini. Kuamati muka teduh namun berwibawa serta tampan dengan hidungnya yang mancung serta alisnya yang hitam dan berbentuk sedikit meruncing diujung seperti dibentuk namun lebih terlihat itu adalah ukiran dari sang penciptanya.


"Hem.... Aku tahu mas Tama pria yang baik, apakah mas Tama tidak ada rasa sakit hati atau jengkel setelah maksud baik mas Tama saat itu tidak kuterima. Kenapa mas Tama masih berniat melanjutkan proses pertemuan ini dengan ke proses selanjutnya yaitu lamaran?"


"Kalau untuk rasa sakit hati, jengkel seperti tidak sampai kesana Ran. Kalau kecewa iya, tetapi aku maklum. Aku masih ingin melanjutkan proses ini ke lamaran karena bagi ku dalam diri kamu ada kriteria calon istri ku. Dan kamu memiliki karakter yang aku cari untuk mendampingi aku dalam mengarungi bahtera rumah tangga maka walau dahulu kamu sempat menolak maksud baik ku aku masih berharap kali ini jawaban mu tidak sama. Bukan kah betul kata ibu sekarang kamu sudah punya pengalaman setelah selesai kuliah?"


"Ya Alhamdulilah aku bisa merasakan bagaimana menjadi seorang tenaga pendidik dan menyalurkan apa yang selama ini aku pelajari selama kuliah kepada anak didik ku" Jawab ku sambil memutar-mutar sebuah kembang kertas yang diatas meja untuk menghilangkan rasa kikuk ku.


"Lalu apakah kamu akan menolak ku lagi kali ini Ran? bukan kah kamu bilang orang baik akan bertemu dengan jodoh nya orang baik pula dan sepertinya hari ini takdir sedang berbicara kepada kita bahwa saat ini mungkin adalah waktu dimana kamu dan aku mungkin telah jadi sama-sama orang baik"

__ADS_1


"Ada beberapa hal lagi yang ingin kutanyakan kepada mas Tama, Bagaimana menurut mas Tama jika seorang perempuan setelah menikah ingin merawat orang tuanya dan bila perlu dia ingin membawa orang tuanya untuk tinggal bersama dirinya setelah menikah nanti? karena katanya kalau seorang perempuan ingin merawat orang tua setelah menikah haruslah dengan izin suami"


"Tentu aku sangat senang jika istri ku mau merawat orang tuanya ketika usia mereka sudah sepuh, Namun aku tidak akan mengijinkan nya jika ingin mengajak orang tua nya tinggal bersama kalau itu dengan paksaan istri ku. Karena sikap kita yang memaksa kan kehendak kepada orang tua itu justru malah menyakitinya bukan membahagiakan nya. Karena terkadang banyak orang tua yang anaknya sukses dengan alasan bekerja, dengan alasan kenyamanan mereka dengan istri/suami memaksa orang tua tinggal bersama maksudnya ingin berbakti, ingin merawat orang tua. Akan tetapi mereka tanpa mau bertanya atau meminta pendapat orang tua mereka. Karena rata-rata orang tua akan memiliki kenangan indah tersendiri di rumahnya yang mungkin selama ini banyak kenangan bersama suami atau anak-anaknya dan berat untuk meninggalkan rumahnya". jelas mas Tama dan aku mendengar kan dengan seksama karena ini salah satu point' penting ku untuk memilih pasangan hidup.


"Lalu bagaimana jika sang ibu sudah renta tapi tidak mau tinggal bersama kita sedang istri ingin merawatnya"


"Hem.... Itu tinggal dikomunikasikan. Jika tempat tinggal berdekatan bisa setiap hari mengunjungi beliau. namun jika tempatnya jauh bisa memberikan alternatif kepada istri untuk beberapa hari mengunjungi orang tuanya atau jika memang orang tuanya sudah sepuh sangat maka seorang istri bisa tinggal merawat orang tuanya biar suami mengunjungi istri nya. Intinya sesuatu itu akan lebih mudah mengambil keputusan ketika kita berhadapan langsung dengan masalah itu"


"Baiklah mas, 2 pertanyaan terakhir mas. Pertama apa arti seorang istri bagimu?"


"Istri bagiku adalah seorang teman, partner yang akan kuajak berjalan disamping ku, teman ku untuk berdiskusi dalam kehidupan ku kedepan. Satu dari 3 wanita yang akan aku jaga, aku sayangi, dan aku lindungi selain ibu kandung ku dan ibu sambungku" jawabnya mantap terlihat dari wajahnya dan nada suara nya mas Tama menjawab tidak dibuat-buat itu memang suatu pikiran yang spontan bukan sebuah gombalan meraih hati ku.


"Yang terakhir mas, Seandainya aku menerima lamaran mas Tama dan kita menikah mampukah mas Tama menunggu hati ku sepenuhnya mencintai mas Tama baru mas Tama meminta hak Batin mas Tama sebagai suami? Karena sejauh ini ada karakter yang aku cari untuk pendamping hidupku dalam diri mas Tama akan tetapi aku masih hanya merasa nyaman belum ada rasa cinta"


"Lalu kamu ingin jika kamu tidak mencintai ku lalu kita bercerai? Seperti cerita di sinetron-sinetron itu?"


Deg! pertanyaan nya membuat kaget dan bingung menjawab apa.


"ya Ndak begitu maksud ku mas"


"Ran, pernikahan itu sesuatu yang suci dan sakral. Aku ingin satu kali menikah hingga akhir hayat ku jika Allah mengijinkannya. Dan aku akan berusaha membuka hati kamu untuk aku walau mungkin diawal pernikahan kita, kamu belum mencintai aku"


"Tetapi aku ragu mas, Saat kamu meminta nomor handphone ku saat KKN hampir setengah tahun kamu tak ada usaha untuk mendekati ku, jangan kan untuk menelpon sekedar untuk mengirim pesan pun kamu tidak lakukan itu. Bagaimana jika menikah apakah kamu akan berusaha seperti yang kamu ucapkan".


"Ran.... bukan kah kamu sendiri yang mengatakan kalau kamu ingin fokus kuliah untuk bisa cepat wisudah maka aku berprinsip waktu yang tepat adalah ketika kamu menyelesaikan kuliah mu apa bedanya dengan pacaran jika aku menelpon kamu atau aku sering bertemu dengan kamu? bukan kah itu juga suatu hubungan yang semu?"


Aku terdiam, aku membenarkan perkataan mas Tama, kali ini aku membuang Pandangan ku ke arah bunga-bunga Yang ada diteras.


"Dan untuk pertanyaan mu yang terakhir mungkin terdengar dzalim kepada seorang suami tapi aku ikhlas jika memang begitu aku akan berusaha menunggu mu Ran, dan aku harap kalau memang kamu menerima aku menjadi suami mu kamu tidak akan menggugat ku untuk bercerai berjanjilah kamu juga akan membuka hati untuk ku"


"Baiklah mas terima kasih, bisakah kamu memberikan aku waktu 3 hari? setelah itu aku akan menghubungi mas Tama tentang jawaban ku. Aku butuh kemantapan hati mas untuk keputusan yang akan kuambil. Ini begitu mendadak"


"Baiklah, Kamu bisa kabari aku lewat WA, nomor handphone ku masih yang lama kamu masih save kan?"


"Kayaknya aku ragu mas soalnya aku ganti handphone, coba nanti di hubungi nomor Rana soalnya masih pakai nomor yang lama"


"Oke, masih ada yang mau dibahas? kalau tidak kita kedalam lagi khawatir sebentar lagi masuk waktu Dzuhur"


"Baiklah kalau begitu, Terima kasih mas...."


"Sama-sama, mudah-mudahan ada kabar baik darimu".


Mas Tama mendahului ku masuk keruang tamu.


"Sudah selesai Ran?" Mak e bertanya setelah aku duduk di tempat ku tadi.


"Sudah Mak"


"Sudah ada jawabannya Ran?" Buk kades terlihat antusias dan tidak sabar tentang hasil dari obrolan kami tadi.


"Mohon maaf Bu, saya minta waktu 3 hari pada mas Tama untuk memberikan keputusan, mudah-mudahan keputusan Rana nanti bisa diterima dengan baik dan ikhlas kedua belah keluarga. Dan mohon maaf apabila tidak sesuai dengan yang diharapkan"


"Aamiin....." Ucap yang terlontar dari bibir yang ada diruangan ini.


"Bu, makan siang nya sudah siap Bu" Mbak Imah muncul dari balik pintu dapur.


"Ayo No pak Narso dan ibu kita makan siang dulu. Sudah waktunya makan siang ini". Ibu mempersilahkan pak le dan kedua orang tua mas Tama untuk makan siang.

__ADS_1


aku melirik kearah mas Tama laki-laki ini masih sama seperti setahun lewat tidak banyak berubah.


"Apakah dia jodoh ku? Semoga engkau memberi jawaban mu Ya Allah atas pertanyaan hamba mu ini" Aku bermunajat dalam hati sambil melirik mas Tama.


__ADS_2