Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 41 KELILIPAN DI BIBIR


__ADS_3

Aku sudah masuk keruangan mushola dengan membawa mukena yang diberikan mas Tama. Tampak memang berbeda dengan mukena yang aku miliki. Mukena yang diberikan mas Tama berbentuk langsungan dan terdapat seperti tangan yang biasa ada pada baju dan terdapat tali diujung nya.



Aku langsung mengenakan mukena yang dibelikan mas Tama.


Mas Tama mendekat dan melihat ku sekilas.


"Mas rasa yang ini lebih baik Ran"


Tidak lama muncul Mak e yang menggunakan mukena yang sama seperti ku. Dan sudah membentangkan sajadah disisi ku.


"Ini tadi pagi dikasih Tama katanya dari mertua mu" ucap Mak e menjelaskan seolah mengerti apa yang aku pikirkan.


Kami melaksanakan shalat Shubuh berjamaah hal yang cukup lama tidak kami rasakan karena sejak mas Hardi menikah maka aku dan Mak akan shalat secara bergantian. Suara mas Tama pun begitu jelas. Tampak mas Tama lebih memilih surah Al ikhlas di rakaat pertama. Dan tentu saat rakaat kedua setelah i’tidal mas Tama membaca doa qunut. Dan hal itu tidak asing bagi ku karena dari kecil di masjid dan dirumah pun kami melakukannya. Aku ingat kata pak le Yatno ketika aku sudah berkenalan dengan mas Tama untuk kedua kali nya yaitu.


"Pemahaman nya sama dengan kita Ran. Setidaknya pak le merasa ayem. Untuk ukuran pemuda yang tidak mondok pak le rasa dia memiliki bekal ilmu yang cukup bisa diandalkan untuk istri dan anak-anak nya kelak. Serta karakternya yang lembut tapi tegas juga terbiasa mandiri itu point' plus yang pak le suka dari dia. walau dilihat dari penampilan nya memang terkesan tidak seperti orang alim"


Ya selama aku KKN di desa mas Tama dan selama beberapa kali kami bertemu dia lebih suka mengenakan celana jeans dan kaos atau kemeja. Aku akan melihat mas Tama mengenakan baju Koko atau sarung ketika shalat Jumat atau ada acara di masjid serta acara kenduri didesanya.


Setelah melaksanakan shalat Shubuh Mak e langsung ke dapur karena sudah ada saudara yang akan menyiapkan sarapan untuk yang datang gotong royong membongkar tenda di dapur.


Aku pun ingin segera membantu Mak e tetapi mas Tama menahan ku untuk tetap duduk.


"Kamu tidak ingin bertanya kenapa mukena nya mas suruh ganti yang ini?"


"Rana penasaran sih mas tetapi nanti saja mas, saya buatkan mas sarapan dulu. Mas mau kopi atau teh minumnya? memangnya mas tidak lapar?" tanya mas Tama.


"Belum, mas biasa sarapan pukul 6.30 dan itupun mas biasa sarapan langsung nasi Ran. Tentunya hari ini masih banyak orang didapur. Toh mereka juga paham kenapa pengantin baru masih suka berdua-duaan"


Wajah ku sudah bersemu merona. Dan aku masih duduk di sajadah ku.


"Kamu tahu Ran ketika waktu aku dan ibu mengantar kamu mendengar Mak e sakit?"


Aku menganggukkan kepala ku.


"Saat shalat ashar disini ibu merasakan mukena yang itu yang biasa kamu pakai beresiko tidak sah nya shalat karena ada bagian-bagian tubuh yang harus nya ditutup namun masih terlihat tanpa kita sadari. Karena kesalahan pemakaian mukenah bisa jadi berpengaruh pada keabsahan shalat. Itu ibu bicarakan setelah dirumah lalu ketika kemarin mas meminta ibu membelikan mukena untuk isi kotak hantaran."


"Bukan kah sama-sama tertutup mas?"


"Ya sepintas tapi jika kita hati-hati dan merujuk pada yang mas pernah pelajari dan itu pun ibu jelaskan Kembali ketika membelikan mu mukena ini. Mukenah terusan yang bersambung dari atas ke bawah (tidak terpotong), maupun mukenah potongan yang terbagi menjadi atasan dan bawahan. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan, terutama pada bagian lengan dan telapak tangan."


Mas Tama membenarkan posisi duduk nya dan kembali melanjutkan penjelasannya.


"Mukena jaman sekarang banyak yang memiliki aksesoris berlebihan, terutama di area wajah. Padahal aksesoris semacam ini sangat rawan bisa menutup jidat yang harusnya menempel pada alas sujud saat sujud. Jika sampai jidat tertutup maka shalatnya tidak sah." Mas Tama menyentuh mukenah ku bagian jidat. Lalu melanjutkan penjelasannya.


"Maka dari itu, aurat perempuan ketika shalat merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan, sehingga dalam pemakaiannya tidak sembrono alias asal pakai saja. Maka diperlukan pengetahuan terkait bagaimana pemakaian mukenah sesuai syariat Islam dan hal-hal yang harus diperhatikan ketika memakai mukenah untuk shalat. Karena kesalahan pemakaian mukenah bisa jadi berpengaruh pada keabsahan shalat. Termasuk sekarang mas sedang memberi tahu istri mas karena kamu sekarang sudah menjadi tanggungjawab mas" Tatapan mas Tama dalam pada ku.

__ADS_1


"Pada mukenah terusan, bisa jadi pada bagian ruas lubang telapak tangan ukurannya terlalu lebar, sehingga memungkinkan terlihat bagian lengan dalamnya. Untuk mukenah bawahan, bisa jadi lengannya terlalu panjang sehingga bisa menutupi telapak tangan yang sunnahnya menempel terbuka pada lantai (alas shalat semisal sajadah) ketika bersujud."





"Maksudnya telapak tangan mas?" Aku bertanya karena mukenah yang kini ku pakai terlihat juga telapak tangan nya. Malah mukenah ku yang dahulu tidak terlihat bahkan jari pun tidak terlihat.


"Jadi begini, bagian yang boleh terbuka bagi perempuan adalah wajah dan kedua telapak tangan. Oleh karena itu perempuan harus menutup bagian bawah dagu dan memperhatikan apakah ada rambut-rambut yang keluar atau tidak. Adapun telapak tangan yang dimaksud yaitu telapak tangan bagian luar dan dalam, sampai pergelangan tangan saja. Dan jari-jari masih boleh terbuka. Jadi pergelangan tangan ketika bagian mukena kendor akan terlihat."


"Contoh telapak dang punggung tangan seperti ini" Mas Tama mengangkat lengan ku dan membolak balikan tangan ku menunjukan telapak tangan yang tertutup mukena.




"Dan... satu lagi selain wajah dan tangan serta dagu yang sering sekali riskan salah satunya mukenah yang menerawang. Karena dalam menutup aurat, seorang wanita harus menggunakan pakaian yang bisa menutup warna kulit dan juga lekuk tubuh. Serta rambut yang keluar dari atas karena tidak memakai dalaman jilbab atau tembus dari mukenah itu pun harus diperhatikan" mas Tama membelai puncak kepala ku.




"Dan mukenah mu yang ini tidak muncul rambut-rambut diatas sini" mas Tama masih membelai kepala ku dengan lembut. Entahlah apakah suami ku ini sedang mencari-cari kesempatan atau sedang betul-betul menjelaskan mengenai perihal bagian tubuh yang harus tertutup ketika shalat khusus nya bagi wanita.




"Ya tidak masalah mukenah nya mau yang langsungan atau potongan. Yang penting mukena nya mampu menutup bagian tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna dan tidak menerawang. Hanya saja bagi mas pribadi melihat kemarin kamu memakai yang yang potongan dikhawatirkan jika tidak berhati-hati ada beberapa anggota tubuh yang riskan terbuka seperi tangan ketika takbiratul ihram contohnya, ketika rukuk mukena yang menjuntai kebawa dan belum lagi ketika sujud mukena akan menutupi wajah kita sehingga tidak mengenai sajadah , dan dagu yang kadang masih terlihat. Karena menurut ilmu fiqih anggota tubuh dibawah dagu dan rahang tidak dinamakan wajah namun masuk kategori leher sedangkan leher termasuk bagian aurat seorang wanita yang wajib ditutup saat shalat. Apabila leher terlihat walaupun sedikit shalat seseorang bisa menjadi tidak sah"


"Kenapa mas bisa tahu detail begini" Tanya ku penasaran karena ini terkait masalah perempuan tetapi mas Tama punya penjelasan yang cukup detail menurutku.


"Karena ketika mondok dulu walau cuma jadi santri kalong kami santri laki-laki dituntut untuk juga fokus ketika ada materi yang berkaitan dengan perempuan karena tanggungjawab untuk mendidik istri pasti kami temui kedepan,Nanti ada materi yang lebih rumit lagi bagi kaum perempuan pembahasan mengenai Haid, nifas dan istihadho. Dan mas rasa untuk membahas masalah itu butuh guru yang juga perempuan karena kami tidak begitu detail ketika materi pembahasan tersebut. Hanya garis-garis besarnya saja. Sekarang betul apa yang dikatakan guru nya mas. Setidaknya ilmu mas bermanfaat untuk anak, istri dan lingkungan nya mas".



Tangan mas Tama masih terus membelai kepala ku. Aku bertanya kepada mas Tama untuk menghilangkan kecanggungan ku karena mas Tama masih saja membelai kepala ku sambil menatap ke arah ku.


"Ehm.... berarti kesimpulannya mas. Pertama mukenah harus menutupi bagian wajah kita termasuk bulu-bulu halus disekitar wajah dan dagu harus tertutup dan mukena tidak boleh menghalangi kita ketika sujud seharunya jidat menempel pada alas sujud atau sajadah. Kedua mukenah tidak boleh menghalangi telapak tangan agar bisa menempel ke alas shalat saat sedang sujud serta ketika rukuk mukenah tidak boleh terjuntai kebawah. Ketiga Pergelangan tangan tidak boleh terlihat, termasuk saat takbiratul ihram bagian tangan dan dada tidak boleh terlihat. Mukena tidak boleh menerawang dan memperlihatkan lekuk tubuh. Keempat Rambut bagian atas kepala jangan sampai keluar dari sela-sela mukenah karena tipisnya mukenah atau karena tidak memakai dalam jilbab. dan terakhir Posisi telapak kaki ketika sujud tidak boleh telrihat. Kira-kira betul begitu mas?"




__ADS_1








"Ehm.... sepertinya mas tidak salah pilih istri.... kamu cantik, juga cerdas dan yang paling mas suka ada kepatuhan mu pada suami mu. Dan Mas akan senang sekali jika kepatuhan mu itu kelak akan kamu tunjukan ketika mas meminta waktu mu untuk mas menyalurkan hasrat yang hanya bisa disalurkan kepada pasangan halal mas"


Dan Kini mas Tama sudah mendekatkan wajahnya di hadapan ku hanya berjarak beberapa centimeter. Aku menundukkan kepala ku dan memejamkan mata karena aku tidak mungkin menolak jika dia meminta lebih. Hembusan napas mas Tama pun sudah begitu terasa diwajah ku.


"Astaghfirullahal 'adziim........ Jabang bayik..... Sundel bolong.... Kuntilanak...... eh copot eh copot...... "


Seketika karena kaget dan salah tingkah mas Tama berdiri dan aku menoleh ke arah sumber suara.


"Bik Ani....." Ucap ku pelan namun isi kepala ku sudah traveling tidak membayangkan apa yang baru saja dilihat bik Ani yang punya kebiasaan latah ini. Mas Tama yang merasa malu terlihat dari wajahnya cepat berjalan keluar dari mushola.


"Sudah Ndak kelilipan lagi toh Ran? Mas mau ganti baju dulu" Katanya pelan dan meninggalkan aku bersama bik Ani adik bungsu ibu ku yang tinggal di sebelah rumah ku.


Aku berdiri dan membuka mukenah untuk ku gantungkan di gantungan yang berada dibelakang ku.


"Ya Ampun Rana...... Mbok ya jangan di sini toh.... mending dikamar Ndak ada yang lihat. Lagian masih bisa disambung nanti malam atau besok pas yang rewang sudah bubar....." Goda bik Ani yang sekarang berada disebelah ku.


"Ih bibik.... wong Rana itu kelilipan tadi" protes ku dengan melanjutkan kebohongan yang mas Tama buat karena malu dan terlihat bik Ani mengambil sebuah dompet yang berada diujung rak yang terdapat Alquran. Mungkin beliau meninggal kan Benda itu ketika shalat Shubuh tadi.


"Kelilipan kok yang ditiup bibir nya...... hehehe"


Dengan muka berseri-seri bik Ani meninggalkan aku sendiri dimushola.


"A..,... Mas Tama.... sekarang jelas bik Ani akan bergosip ria di dapur...." Ucap ku sedikit kesal karena akan tahu apa yang terjadi di dapur nanti dengan karakter bik Ani yang selalu tidak bisa memfilter obrolan apalagi seperti kejadian barusan. Kenapa lagi mas Tama pakek acara bucin seperti itu di mushola batin ku.


____________________


Hai para readers yang cantik,ganteng, yang lagi sedih, lagi seneng, lagi susah, lagi patah hati, lagi bahagia, lagi sakit, lagi sehat.... Semoga kita senantiasa diberikan kemudahan dan kelancaran menjalankan kewajiban kita sebagai hamba dari Setiap Tuhan yang kita yakini.


Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan dan shalat teraweh kepada readers buat yg hari ini sudah puasa. Dan Ingat kita tinggal di Indonesia yang negara demokrasi maka jangan lah pusing atau sampai sindir menyindir apalagi hingga berkata-kata kotor hanya karena menganggap diri kita benar. Agama kita paling benar.


Terkait perbedaan puasa ada yang sekarang ada besok kita tidak usah berdebat toh kita tidak ada ilmu di bidang hilal meng hilal 🤭🤭🤭🤭 kita ikuti ulama kita masing-masing ya. Biar kita bisa ibadah dengan tenang dan nyaman tidak seperti negara-negara yang sekarang sedang berperang.


Selamat berpuasa 1443 H


@Sebutir Debu

__ADS_1


__ADS_2