
Mas Tama membuka pintu rumah itu, aku sedikit mengerutkan kening ku. Karena bukankah kami tamu disini. Apakah sebebas itu dia dirumah atau tempat praktek wanita itu hingga dia tak perlu mengetuk pintu atau menekan bel? Aku masih menatap kearah pintu yang dibuka mas Tama sambil mendorong kursi roda Mak e yang ku tumpu pada tangan kiri ku.
Ketika aku memasuki rumah itu ternyata di dalam ruangan itu sudah banyak orang, dan secara bersamaan menyanyikan sebuah shalawat Mabruuk Alfa Mabruuk.
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
Selamat hari milad
Semoga dapat rohmat
Selamat hari milad
Semoga dapat rohmat
Dari Allahu Ahad
Hingga hidup selamat
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk ‘Alaika mabruuk
Mabruuk alfa mabruuk yawm miiladik mabruuk
Selamat ulang tahun
Semoga berkah turun
Selamat ulang tahun
__ADS_1
Semoga berkah turun
Dari Allah Pengampun
Sehingga hidup rukun
Mertua ku, Mas Hardi dan mbak Imah, keempat sahabat ku dan masing-masing pasangannya ada disini. Mereka semua terlihat dengan wajah bahagia dan Ibu Tatik mendekat ke arah ku dan memberikan pelukan nya namun terlihat kaget.
"Tangan mu kenapa Ran?" tanya nya penasaran.
"Kena pisau Bu..." Suara mas Tama cepat setelah mendorong kursi roda Mak e ke arah mas Hardi.
"Maaf Ran, mas terpaksa bohong sama kamu. Karena, permintaan Tama untuk mas bantu persiapan finishing rumah ini" Mas Hardi mengarahkan pandangannya pada ruangan ini.
"Mas...." aku melirik ke arah suami ku namun aku masih dibuat penasaran oleh lelaki yang beberapa menit lalu membuat jijik dan benci.
"Kita makan dulu, mas sudah lapar dan teman-teman mu itu dari kemarin sibuk bantu mas juga minta pesta tumpeng dengan sesuai menu kesukaan mereka juga hehehe" mas Tama menarik tangan ku dan telah didahului oleh teman-teman ku.
"Selamat ya Ran... kamu tahu aku terpaksa meninggalkan Baby Luki dengan mertua ku demi bantu mas Tama kasih kejutan untuk istrinya" Lilik memberikan pelukannya pada ku.
Dan bergantian dengan Rudi berserta tunangan ya.
Ada rasa senang namun sedikit sedih. Aku yang lebih dulu menikah namun aku sendiri yang belum dikaruniai buah hati.
Mas Tama mempersilahkan makan dan terlihat satu orang perempuan paruh baya dan satu orang yang berusia hampir 40 tahun membantu menyiapkan beberapa menu di meja makan.
Ada banyak menu selain nasi tumpeng yang ada dimeja ini. Kami makan sambil bercengkrama. Ternyata satu hari saat Mak e dirumah sakit, mas Tama yang tidak jadi membeli mobil untuk hadiah ulang tahun,bingin memberikan hadiah sebuah rumah yang terdapat banyak kamar di Bawah. Yang cocok untuk kondisi Mak e.
Selesai makan dan teman-teman berpamitan, ibu dan bapak memilih istirahat di salah satu kamar begitu juga mas Hardi dan mbak Imah yang beberapa hari ini ikut merapikan dan memilih furniture yang dianggap lebih mengerti selera ku. Mas Tama mengajak aku dan Mak e kesebuah kamar yang berada di dekat tangga.
"Dirumah ini ada 8 kamar. 2 kamar ART tadi, dan 2 kamar diatas. 4 kamar di bawah. Dan ini kamar kita. Mas sengaja pilih kamar kita dibawah biar kedepan ketika kamu sedang hamil pun akan tetap aman tidak harus turun nai tangga"
Mas Tama membuka pintu dan mendorong kursi roda Mak e. Aku sedikit bingung kenapa Mak e ikut kedalam kamar. Mungkin mas Tama ingin memperlihatkan saja pada Mak e. Aku hanya diam namun rona wajah ku masih memerah karena menahan malu.
Malu karena telah berburuk sangka pada suami ku. Malu karena sudah menamparnya.
Pandangan ku bingung menatap ada 2 pintu di sudut yang berbeda dan hal itu membuat mas Tama membuka satu pintu yang berada di sebelah Lemari pakaian.
"Ini kamar Mak e. Ma minta di desain seperti ini. Agar istri mas lebih leluasa merawat Mak e selama Mak e seperti itu. Karena terapi dengan cinta dari anak akan lebih cepat membuat orang tua pulih daripada seorang dokter"
__ADS_1
Mas Tama mendorong kursi roda Mak e, lalu menggendong Mak dan membaringkan Mak di kasur serta Mak e mengecilkan AC yang terasa cukup dingin dikamar Mak e. Terlihat Mas Tama mengambil sebuah tablet yang diarahkan ke Mak e. Lali Mak e memencet beberapa tombol dengan ujung jari yang kaku.
Aku yang masih terpaku duduk di kursi yang berada sebelah ranjang Mak e menatap heran mas Tama dan Mak e.
"Mak mau Tidur." terlihat sebuah ketikan di tablet itu. Aku yang membaca tulisan itu menatap mas Tama lalu beranjak ke arah Mak e, aku bertanya mau ganti baju atau tidak tapi Mak e menggelengkan kepala sedikit susah. Aku membuat posisi Mak e nyaman lalu kembali ke pintu yang terhubung ke kamar ku.
Sesampai di kamar dan aku menutup pintu kamar. Aku bersandar di pintu ini, aku menangis dengan menutup kedua wajah ku.
Mas Tama terlihat mendekat lalu kurasakan dia memencet satu tombol tepat diatas kepalaku. Kini aku merasakan pelukan hangat dari mas Tama. Dan usapan lembut dikepala ku.
"Apakah keputusan istri mas masih sama seperti di toko bunga?" mas Tama melerai pelukan nya dan mengangkat dagu ku.
"Mas jahat.... tega... aku ga kepikiran kalau bakal di prank" Aku masih menangis dan memukul dada bidang suami ku dengan kesal karena merasa dibohongi serta bertingkah bodoh tadi dan lebih memalukan aku menampar mas Tama.
"Mas hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Mas tidak bohong. Mak e tidak boleh tinggal di rumah kita. Tapi Mak e boleh kamu rawat disini. Dirumah kamu. Rumah ini mas beli dan buat atas nama kamu. Rencana untuk hadiah ulang tahun pernikahan akhirnya mas membuat para pekerja ekstra siang malam menambah pekerja biar cepat selesai."
"Jadi mas minta bantuan kak Fhey?" jawab ku setelah mas Tama menghapus air mata di pipi ku.
"Semua, semua nya mas minta bantuan. Kamu belum jawab pertanyaan mas Tama tadi sayang?" Kini mas Tama sudah menggendong ku dan berjalan ke arah ranjang.
"Aaa...." aku yang kaget sedikit berteriak namun cepat kututup dengan telapak tangan karena khawatir Mak e mendengar teriakan ku. karena kamar kami hanya terpisah oleh dinding.
"Ayo katakan," mas Tama kini telah menyandarkan aku di ujung ranjang dan dia duduk di tepi kasur menatap tangan ku yang terbalut perban.
Mas Tama mengecup perban yang membalut telapak tangan kanan ku.
"Aku menikah dengan sebuah niat untuk beribadah mas, dan kamu punya kriteria yang aku inginkan. Tapi hari ini Rana yakin bahwa pernikahan kita ini sudah berujung Cinta dihati Rana"
Kini giliran ku menarik tangan mas Tama dan mencium nya berkali kali.
"Lidah mas memang tidak bertulang Ran, tapi mas ingin menua bersama kamu dirumah ini. Bersama Mak e. Itu kalau kamu mengizinkan mas menua bersama kamu dirumah mu ini" Mas Tama menggoda ku dengan nada diakhir kalimat nya.
"Ran, mas e sudah istirahat dan bel itu akan berbunyi ketika Mak e memanggil kamu. Mas kangen kamu Ran. Satu Minggu ini kamu pandai bersandiwara, menutup rasa sedih, rasa kecewa kamu pada mas. Senyum mu masih manis tapi hambar karena tidak dari hati."
Aku salah tingkah ketika mas Tama makin mendekat. Dan menggigit bibir bawah ku. Aku tahu mas Tama sedang ingin menyalurkan rasa cinta nya pada ku. Entah karena aku pun ingin mengungkapkan rasa cinta ku namun aku berusaha untuk diam, hingga mas Tama menarik selimut dan tahu seolah aku menahan sesuatu.
Aku sedikit kaku dang canggung, dan mungkin mas Tama merasakan perbedaan ku. Dia naik ke atas tubuh ku dan membisikkan sesuatu.
"Tenanglah sayang, kamar ini kedap suara. tombol disamping pintu tadi adalah tombol kedap suara"
__ADS_1
Sore ini setelah satu minggu aku selalu tetap memberikan suami ku haknya namun merasa benci padanya setelah kegiatan itu. Namun sore ini kami seperti satu pasangan yang lama tak bertemu.