
Waktu sudah menunjukan pukul 06.15, Aku sudah siap dengan blazer peach ku dan tentu saja dengan Jilbab berwarna pink salem yang senada, beruntung saat dulu aku meminta lengan panjang sehingga bisa ku pakai saat aku berhijab seperti sekarang. Karena aku mengajar di sekolah swasta maka hari Senin Blazer berwarna peach menjadi seragam para guru disekolah kami.
"Mas antar ya Ran" ucap mas Tama singkat saat sedang mengenakan sepatu.
"Ga usah mas, biar Rana naik ojek saja" tolak ku yang sedang memeriksa perangkat pembelajaran yang ada didalam tas ku.
"Ran...." Mas Tama menatap ku lembut setelah mengenakan sepatunya.
"Arah kantor dan sekolah ku berbeda mas. Dan biasanya akan macet" aku masih berusaha menolak dan memang logis arah tempat kami bekerja berlawanan arah.
"Mas naik motor, jadi bisa cepat dan sekalian antar kamu. oke....."
"Baiklah asal tidak merepotkan mas saja" Jawab ku yang masih dengan muka datar.
"Ran... ayolah jangan seperti ini. Mas salah apa.... " Mas Tama kini sudah berada di hadapan ku dan menatap netra ku seolah mencari jawaban.
"Sudahlah kita bisa terlambat mas...." aku berdiri dan akan berjalan keluar rumah. Pergelangan tangan ku ditahan oleh mas Tama.
"Kita harus berbicara sepulang berkerja Ran. mas yakin kamu menyimpan sesuatu dengan sikap mu pada mas seminggu ini. Bukankah kamu sendiri bilang bahwa rumah tangga itu kuncinya komunikasi dan kejujuran....."
Belum selesai mas Tama berbicara, aku sudah jengah dengan kondisi seminggu ini dan merasa muak pun memotong pembicaraannya.
"Jika mas sudah tahu bahwa kunci kebahagian dan keberhasilan dalam rumah tangga adalah komunikasi dan kejujuran lantas kenapa mas sendiri tidak menjalankannya???" Ucap ku dengan menatap mas Tama seolah menantang suami ku ini tentu dengan nada yang masih rendah. Tapi dengan tatapan ku mas Tama seolah menyadari bahwa emosi ku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
__ADS_1
Akhirnya seolah Bom waktu yang sudah beberapa hari dijinakkan pagi ini meledak karena mas Tama yang terus menerus meminta penjelasan padahal dia sendiri sumber dari masalah tersebut.
"Mas tidak tahu salah mas dimana Dan apa, mari kita berbicara jangan sampai kita suami istri malah menceritakan kepada orang lain masalah rumah tangga kita Ran".
"Jangan khawatir mas, Mak e dan keluarga ku sudah banyak berpesan untuk tidak membuka aib pasangan kita dengan siapapun. Hingga detik ini pun tidak ada yang tahu permasalahan rumah tangga kita!. Aku bukan seperti kamu yang apa-apa harus diceritakan bahkan termaksud kepada orang tua!. Cukup mas... cukup... aku tidak ingin berdebat pagi hari begini. Setengah jam lagi pukul tujuh. Ijinkan aku naik ojek karena kamu akan terlambat jika mengantar ku" Berkali kali aku menarik napas untuk menyelesaikan kalimat ku.
"Tidak Ran... kamu bawa mobil mas saja biar mas bawa motor"
"Maaf mas apa mas lupa kalau istri mas ini dari keluarga yang biasa saja tentu tidak punya mobil apalagi bisa menyetir mobil. Dan untuk naik motor aku tidak punya SIM. Bisakah kamu mengijinkan aku naik ojek saja yang lebih cocok untuk ku"
"Ran.... Hhh.... ya Sudah nanti kita bahas lagi masalah ini. Mas Carikan ojek di pangkalan kamu tunggu diteras"
Aku berjalan menuju teras tidak lama mas Tama keluar dan mengendarai motor matic silver nya dan Kembali dengan seorang tukang ojek.
"Wah istri nya Pak Bagus Cantik.... Kok ga diantar pak?" Tukang ojek yang memakai jaket merah ini menatap ku dan tersenyum.
"Siap.... pak. pokoknya insyaallah saya antar dengan selamat. Hehe... mamang paham kalau pengantin baru kesiangan hehe..... Ayo Mbak silahkan naik dipakai dulu helmnya"
Aku dan mas Tama salah tingkah dengan komentar mamang ojek ini. Mas Tama menyodorkan tangan nya dan aku pun mencium punggung tangannya karena tidak ingin menjatuhkan wibawa suami ku dihadapan orang lain.
"Hati-hati ya Ran. kabari mas kalau sudah sampai sekolah..."
"Iya mas, aku berangkat dulu assalamualaikum"
__ADS_1
"Walaikumsalam....
Beberapa menit kemudian.
Hiruk pikuk di hari Senin terlihat sekali karena siswa-siswa hadir lebih pagi dan berlari-lari Takut terlambat.
"Loh mang Asep.... " Terlihat sebuah motor berhenti disebelah motor ojek yang ku tumpangi. Dan ternyata pak Cahyo guru olahraga.
"Eh pak Cahyo... pagi pak"
"Pagi, dapet orderan sampai sini mang"
"Iya... ini tadi diminta Pak Bagus nganter istrinya"
aku turun dari motor dan membayar ongkos ojek kepada pria berjaket merah itu.
"Loh Buk Kirana....." ujar pak Cahyo kaget.
"Hehe... pak Cahyo... pagi pak"
"Wah.... wah.... sekarang sudah berjilbab buk?? tambah cantik hehe....jadi suami buk Kirana itu pak Bagus bendahara masjid di komplek kita. Berarti tetangga kita buk. Saya satu RT sama pak Bagus. Maaf ya Ran bapak ga bisa hadir di pernikahan kamu soalnya pulang kampung."
"Iya ga apa-apa pak."
__ADS_1
Kembali aku tahu sosok suami ternyata seorang bendahara di masjid dari orang lain. Tidakkah bisa suami ku itu bercerita tentangnya seperti diriku yang selalu bercerita tentang pekerjaan, tentang sahabat-sahabat ku padanya. Kembali seolah ingin mengendurkan syaraf ku, aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya.
Aku berjalan memasuki sekolah dimana tempat aku mengajar hampir 2 tahun. Aku merindukan suasana sekolah ini dan aku merindukan anak-anak Murid kelas X A. Karena aku wali kelas mereka.