
Selama perjalanan di mobil aku masih mencoba menetralkan perasan di hati ini, karena semua rasa menjadi satu, rasa kaget, rasa benci, sakit hati dan bahagia karena bisa melihat wajah kesal dari wanita yang dulu mungkin tertawa bahagia dengan kebodohan ku. Yang bahkan mas Hardi tahu bahwa mas Ardi berhubungan dengan Melinda. Bahkan wanita itu pun tahu kalau mas Ardi itu pacar ku. Lama tak bertemu wanita itu memang makin cantik tetapi dengan Baluran make up diwajahnya karena aku belum lihat wajah asli dibalik topeng make up yang tebal itu. Dan pakaian nya membuat aku tak habis pikir bagaimana mungkin mas Ardi yang dulu aku tahu sangat sopan bisa membiarkan istri nya memakai pakaian kurang bahan itu. Aku terkejut ketika sedang sibuk dengan pikiran ku ketika mas Tama mencium pipi ku dan terlihat dia telah menepikan mobilnya di sebuah cafe.
"Mau cerita?" tanya mas Tama pada ku karena memang selama ini sulit menyembunyikan suasana hati ku sekalipun aku menyimpannya rapat-rapat.
"Ga tunggu nanti malam saja mas?" tanya ku setelah melihat ke arah cafe yang membuat ku penasaran karena terlihat daftar menunya yang kekinian.
"Nanti malam ada agenda yang lebih penting daripada membicarakan masalalu kamu di balik selimut kita sayang... Bukan kan hari ini kamu sudah masuk masa subur? Ayo... ceritakan sekarang pada suami mu ini. Jangan sampai mas mendengar dari orang lain tentang masalalu istri mas. Agar suatu saat jika mas yang bertemu masalalu mu itu mas mampu mengambil sikap seperti apa mas harus bersikap" Mas Tama keluar dari mobil dan membuka kan pintu untuk ku, hal sepele yang selalu dia lakukan selama ini dan tidak berubah.
"Baiklah, tapi apakah tidak apa-apa membahas masalalu mas?" tanya ku pada mas Tama yang telah memeluk pinggang ku. Hal yang jarang ia lakukan di muka umum.
"Bukan membahas, tapi menceritakan. Oke" kami telah memasuki sebuah cafe.
__ADS_1
Kami memilih meja dilantai dua yang mana hanya terdapat 2 meja disana.
Mas Tama memesan cappucino dan green the Lattle untuk minuman nya serta memesan Lobster Termidor 2 porsi.
"Apakah dia wanita yang merebut mantan pacarmu dulu?" mas Tama memulai pertanyaannya setelah pelayan tadi mengambil catatan pesanan menu kami.
Aku mengangguk an kepala dan menggenggam tangan mas Tama. Aku harus menceritakan masalalu ku pada mas Tama setidaknya agar suami ku ini tahu, aku tidak ingin kehilangan kedua kalinya.
"Bukan cemburu mas... tapi lebih ke rasa benci dan sakit hati... maaf kan Rana mas.. Rana juga tidak bisa mengendalikan perasaan ini" jawab ku pelan dan masih menggenggam tangan nya.
"Mas tahu yang pernah kamu rasakan, mas pun pernah merasakan sakit ketika kita kehilangan orang yang kita cintai. Mas bersyukur wanita itu merebut mantan pacar mu dan kata-kata kamu tadi begitu membuat mas begitu senang"
__ADS_1
"Apakah menurut mas dia cantik? menarik? dan seksi?" Tanya ku masih dengan wajah serius namun penuh selidik bagaimana pun suami ku laki-laki. Jika orang melihat nya mungkin hanya seorang PNS yang masih memiliki golongan rendah tetapi jika orang melihat isi kartu debitnya yang ada 3 maka bisa kupastikan bagiamana jiwa-jiwa pelakor itu akan mengejar nya. Beruntung suami ku ini tipe lelaki yang sederhana dalam penampilan, sederhana dalam gaya hidup. Bukan kemewahan ketika dia membeli barang tetapi lebih butuh dan kenyamanan. Seberapa mahal barang itu jika dia tidak nyaman maka dia tidak akan membelinya.
Hal itu terbukti ketika kami akan ke pesta pernikahan saudaranya. Disebuah butik terdapat 2 buah gaun yang indah namun salah satu terlihat mewah dan cantik ketika ku pakai tetapi mas Tama tidak nyaman pada bagian dada dan pantatnya yang terlalu ketat hingga mengekspos tubuh ku. Dia lebih memilih sebuah gaun tertutup tetapi lekuk tubuh ku tidak terlalu terpampang jelas dengan kisaran harga separuh dari gaun yang dia bilang cantik tadi.
"Kamu cemburu? Mas lihat wanita itu melirik mas tadi" Mas Tama tersenyum dan mengusap punggung tangan ku.
"Tidak. Lebih ke antisipasi. Jika memang mas tergoda akan kecantikan nya, aku akan rajin-rajin kesalon untuk merawat diri dan belajar make up seperti dia. Jika mas tergoda akan keseksian nya aku akan coba kedokter spesialis kecantikan agar aku terlihat seksi seperti dia. Bukankah mas bilang tadi Tugas ku menghabiskan isi kartu debit mu? Aku akan berusaha mempertahankan apa yang aku miliki dan cintai dan aku akan berusaha memantapkan diri untuk bersanding dengan mu mas" Jawab ku jelas.
"Kamu tahu sayang, Kecantikan wajah, kulit, kemolekan tubuh seorang wanita akan tergerus seiring waktu dengan bertambahnya usia. Tetapi kecantikan hati, cinta yang tulus dari hati itu akan selalu akan ada dalam hati dan akan selalu menghangatkan hati yang dicintainya disaat tubuh sudah membungkuk, kulit telah keriput, dan wajah yang tak lagi menarik syahwat. Dan kamu wanita yang mas pilih bukan karena fisik, bukan karena kemolekan tubuh tapi mas terpesona pada mu pada saat pertama kali hati mu berbuat kebaikan dan hati mas sudah jatuh hati lalu tumbuh bersama mu dan tak akan bertunas di lain hati"
Berkali-kali mas Tama mampu membuat aku terpesona dengan kata-katanya. Dia bukan pria yang gombal namun ketika dia mengatakan isi hati nya maka hal itu mampu membuat ku berakhir dengan menikmati penyatuan bibir kami dengan lembut hingga seperti saat ini mas Tama kembali mengemudi mobil nya dengan kecepatan lebih dari biasanya. Setiba dirumah aku tidak bisa dibuat berkutik dengan kelembutan nya dibalik selimut sentuhan demi sentuhan hingga berakhir dengan sama-sama menikmati ******* dari penyatuan. Dan kegiatan itu berlangsung dari pukul 4 hingga hampir menjelang magrib.
__ADS_1