Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 56 KALAU BERANI SAMA LAKI-LAKI


__ADS_3

"Sekarang ceritakan pada ku apa yang terjadi sampai mata mu yang sipit ini bertambah sipit". Ucapku yang telah kembali duduk dengan membawa cemilan rengginang dari Mak e.


"Ran, aku sedih, jengkel kecewa sama Tyo....." aku mendengarkan cerita Lilik dengan seksama.


"Kamu tahu kan sebelum menikah dia suruh aku resign dan dia meminta aku tidak bekerja lagi setelah menikah. Dia bilang untuk jadi ratu dalam hidupnya. Nyata nya apa Ran.... hiks...hiks..." Lilik menangis dalam pelukan ku.


Aku yakin Tyo jelas Sangat membuat Lilik kecewa dan terluka karena diantara aku dan Lilik, Dia adalah yang paling jarang mengeluarkan air mata. Ku biarkan sesaat Lilik menangis dalam pelukan ku.


"Maaf ya jadi basah jilbab nya..." Lilik menatap ke arah jilbab orange yang ku kenakan.


"Sudah ga apa-apa. Sekarang ceritakan ada apa? biar plong."


"Bayangin ga Ran hampir 6 bulan aku menikah dengan Tyo, aku coba jadi istri yang baik, aku coba jadi ibu rumah tangga, terus sekarang aku lagi hamil 3 bulan. Tyo itu betul-betul menjengkelkan. Hari ini dia janji mau antar aku ke dokter kandungan eh ada teman nya datang jemput buat main futsal dia langsung bilang iya gitu Ran... terus aku marah Dong Ran...." Lilik mengambil tissue di meja dan mengelap sisa-sisa air matanya.


"Harusnya kamu juga ga boleh marah sama suami Lik....."


"Ih kamu ma iya bisa bilang begitu secara mas Tama itu suami idaman dan sempurna beda sama Tyo.."


"Hus... ga boleh bilang begitu. Bagaimana pun suami itu kehormatan kita Lik. Kalau bukan kita yang menjaga wibawanya, nama baiknya dan menutupi kekurangan nya maka siapa lagi yang bisa menjaga harga diri suami kita...."


"Ran... ini bukan sekali dua kali. Aku berasa cuma status atau pajangan sama Tyo. Kalau cuma ada kondangan atau Arisan baru dia ajak aku atau mode manis sama aku. selain itu cuma sibuk sama teman-teman dan handphone nya. Belum lagi kalau malam nanti sudah di depan komputer streaming YouTube nya"


"Kenapa ga coba diobrolkan dengan Tyo?" tanya ku seolah menangkap bahwa sahabat ku ini kurang komunikasi saja dengan suaminya.


"Sudah yang ada dia cuma bilang aku terlalu posesif lah, terlalu over lah, apa-apa mau nya menang sendiri. Ngomel melulu jadi ga betah dirumah..."

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi...."


"My star..... oh... my star...." suara dari handphone Lilik.


"Kok diriject?" Tanya ku penasaran setelah melihat Lilik mendial tombol merah di handphone nya yang jelas itu panggilan dari Tyo.


"Males... biarin.... tadi aku sengaja ga masak. Dia itu kalau ingat aku kalau ada butuhnya aja. Nanti pulang futsal yang dicari itu makanan di tudung saji bukan istri.... bete....bete.... sebeeelll...."


"Lik... kamu salah kalau pergi kemana-mana ga pamit suami. Bagaimana pun dia suami mu"


Handphone Lilik kembali berdering.


"Kamu aja yang angkat...." ucap Lilik seraya menyerahkan ponselnya ke arah ku.


"Halo... Lik..,. kamu dimana? ini dirumah kosong, aku telpon bunda katanya kamu ga disana?"


"Liliknya mana sekarang Ran...."


"Ada... Tapi dia lagi ga mood Yo. baiknya kamu kemari deh jemput dia soalnya kalau dia mengendarai motor dengan kondisi seperti ini khawatir kenapa-kenapa soalnya dia kan lagi hamil. Aku kebetulan lagi menanti mertua jadi tidak bisa antar Lilik".


"Ya sudah aku kesana sama ojek saja.... maaf jadi ngerepotin kamu sama mas Tama Ran"


Seketika telpon ditutup oleh Tyo.


"Ngapain sih Ran.... kenapa juga suruh dia kesini aku bisa pulang sendiri.." Lilik melotot kearah ku tanda tidak setuju dengan ide ku agar Tyo kemari menjemputnya.

__ADS_1


"Yang jelas kalian perlu bicara, suami istri kalau punya masalah harus duduk bersama. Ceritakan yang jadi keluh kesah mu, tapi ga pakek emosi juga karena laki-laki itu diluar pas cari nafkah jelas banyak pikiran, tekanan dan tuntutan Lik. Setidaknya nya rumah dan istri tempat dia untuk mengendurkan saraf-saraf ketegangan nya dikantor atau diluar".


Tidak berapa lama Tyo sudah datang kerumah ku.


"Kita pulang sekarang Lik... aku capek banget ini...." Tyo yang kini duduk di sofa yang berada di dekat pintu menatap Lilik yang duduk disebelah ku. Namun Lilik hanya diam saja.


"Denger ga sih Lik...!" Tyo kembali berkata namun dengan nada sedikit kesal.


"Lik....." aku memanggil Lilik dengan menyenggol punggung tangannya.


"Aku mau pulang sendiri!" Lilik pun tak mau kalah menjawab dengan nada sewot.


"Kamu itu ya selalu begitu semau-mau mu saja. Kalau dibilangin nyolot.... pokok nya sekarang pulang atau aku kasih tau bunda kamu pergi dari rumah ga bilang-bilang sama aku. bikin khawatir dan repot orang saja...." Tyo yang kini sudah berada disebelah Lilik dan menarik tangan Lilik.


"Aku bilang ga mau ya ga mau... kamu itu bisa nya selalu mengancam.... koreksi diri juga dong. sana adukan saja sama bunda. Aku juga habis ini mau pulang kerumah bunda. Biarin sekalian bunda tahu kalau aku ga dalam keadaan baik-baik aja...."Lilik berdiri dan menatap Tyo tajam namun dengan penuh air mata dan napas tersengal.


Namun seolah sinteron Tyo menarik pergelangan tangan Lilik dengan paksa dan menyeret Lilik keluar dari rumah. Namun beberapa langkah Tyo tertahan saat mas Tama memegang lengan Tyo.


"Berhenti...."


"Ada apa mas? ini urusan saya sama istri saya... maaf Ran suruh suami kamu jangan ikut campur urusan kami" Tyo menatap tajam mas Tama dan kearah ku seolah memberi perintah.


Kembali menarik Lilik kasar sehingga Lilik meringis kesakitan.


"Buggghh....." Seketika mas Tama menghantam pipi Tyo dengan tinjunya...

__ADS_1


"Kalau berani jangan sama perempuan! sini sama laki-laki! Dia itu istri kamu ... tidak bisakah kamu memperlakukan dia dengan lembut???" wajah mas Tama memerah terlihat dari suaranya yang membentak Tyo dan menatap tajam Tyo mas Tama sedang marah.


__ADS_2