
Aku baru saja memasukan beberapa barang terkahir didalam cover yang berwarna merah. Entahlah rasanya aneh saja aku dan mas Tama sudah menikah tetapi tadi aku mengemas baju kedalam 2 koper. Dimana cover hitam berisi pakaian dan peralatan mas Tama dan yang bewarna maroon ku isi dengan beberapa baju ku dan jilbab yang dibelikan mas Tama dan juga beberapa isi hantaran yang dibawa ketika ijab kemarin kumasukan kedalam koper.
Tampak suara beberapa sanak saudara masih ada di ruang tamu. Tetapi aku sudah minta izin untuk mengemasi barang karena besok khawatir aku tidak sempat berbenah apalagi kalau perias pengantinnya datang pagi sekali.
Ceklek.
Mas Tama muncul dari balik pintu. Tidak terasa besok genap satu Minggu aku dan mas Tama menjadi suami istri. Sejauh ini dia masih memegang janji nya. Bahkan baginya bagian tubuh ini yang halal hanya kening dan tangan ku Saja. Aku tidak menyalahkan nya karena itu permintaan ku diawal proses lamaran kami. Tetapi dari beberapa kejadian yang kami lewati aku tahu bahwa dia laki-laki normal pada umumnya. Maka bisa kupastikan setiap malam dia berjuang keras untuk tidak menyentuh ku. mungkin perginya dari kamar dan sibuk dengan tasbih-tasbihnya adalah cara terbaik untuk menepati janjinya.
"Sudah selesai Ran?" tanya mas Tama melihat 2 cover yang tadi berada pada posisi ditumpuk kini sudah pada posisi sendiri-sendiri di sebelah ranjang.
"Iya sudah mas, aku hanya meninggalkan 3 stel baju termasuk baju Koko dan sarung mas"
"Hem... Tapi besok yang rias perempuan kan Ran?"
"Iya.... kemaren sudah bilang sama Mak Onde minta Mak Onde sendiri yang rias jangan asistennya"
Aku jadi tersenyum geli mengingat kejadian setelah ijab dimana aku akan mengganti baju adat Jawa dengan gaun pengantin modern dan yang akan membantu ku merias wajah dan merapikan baju adalah Tia alias Tio yang merupakan asisten Mak Onde. Lelaki yang lemah gemulai tetapi suaranya masih menyatakan bahwa identitas nya laki-laki tetapi berbanding 180 derajat dengan tingkah dan gayanya berbicara.
__ADS_1
Saat itu mas Tama menunggu didalam kamar dan menyuruh Tia keluar kamar ketika aku akan berganti dan berkata di yang akan membantu memasangkan gaun itu. Dan yang paling terlihat konyol adalah ketika Tia ingin merapikan riasan diwajah ku mas Tama malah berkata "Biar seperti itu saja Ndak usah diganti lagi"
Tentu saja dengan gaya konyol nya Tia sewot dan menanggapi permintaan mas Tama.
"Ya Ndak bisa toh kang mas...... Ini masak iya pakai gaun modern muka nya dandan pakai paes Prada.... ya harus diganti... Tenang saja masnya.... Saya ini sudah Ndak tertarik sama mahluk yang dinamakan Wanita.... tapi kalo sama mas nya saya malah Berdebar gimana..... gitu" Ucap Tia sambil mengerling kan sebelah matanya.
Seketika mas Tama langsung bergidik dan untuk yang selanjutnya tidak mau dibantu memakaikan pakaian pengantinnya serta terlihat begitu posesifnya. Setelah sorenya baru mas bilang untuk proses ngunduh mantu yang merias harus lah wanita asli. Dia keberatan walaupun penampilan dan kelakuannya seperti perempuan tetap kodratnya lelaki dan bersentuhan dengan istri nya dia keberatan karena bukan mahram.
Seketika aku kaget karena mengingat kejadian lucu itu melupakan kalau mas Tama sedang berbicara pada ku.
"Ah.... Ndak ada kok mas cuma keinget ekspresi mas Tama pas lagi di goda Tia hehehe...." ucap ku jujur.
"Coba kalau yang menggodaku seperti itu istri ku Maka bisa dipastikan bakal berbunga-bunga kamar kita ini"
Kini mas Tama telah berbaring disebelah ku.
"Cepat tidur nanti kesiangan perjalanan nya lumayan besok Ran hampir 4 jam diperjalanan" Dan kini mas Tama telah menghadap ke arah ku dan memeluk guling dan tangan sebelah kanan menopang kepalanya.
__ADS_1
Hampir satu Minggu kami tidur satu kamar, satu ranjang namun sang guling masih setia menjadi tembok penyekat antara aku dan suami ku. Entahlah aku bingung sendiri melihat kelembutan suami ku. Kasih sayangnya, perhatian-perhatian kecilnya membuat ku ingin mengatakan silahkan ambil haknya jika dia mau. Tapi seperti tak ingin ingkar janji mas Tama selalu memberikan sentuhan-sentuhan pada jari-jari ku dan kening ku namun tidak bagi anggota tubuh ku yang lain.
"Ran...."
"Em... ya mas" kubuka mata yang mulai terpejam Mendengar mas Tama memanggil nama ku dengan suara sedikit lirih dan parau.
"Boleh malam ini gulingnya mas ganti sama kamu?"
Aku hanya diam dan kembali memejam kan mata. Ingin ku balikan tubuh ku agar aku membelakangi mas Tama tapi tidak mungkin. Bukan kah seorang istri tidak boleh tidur memunggungi suaminya. Maka aku hanya memilih memejam kan mata kembali. Aku terlalu malu untuk mengatakan ya atau menganggukan kepala.
Suasana begitu hening dan mas Tama pun tampak tak bergeming dari posisinya.
Sepolos itukah suami ku ini. Atau dia tidak pernah nonton drama Korea. Kenapa harus meminta persetujuan ku. Tidak kah ia bisa langsung singkirkan guling itu dan mendekat kearah ku. Ya tetapi dia masih setia dengan gulingnya dan bisa kurasakan dari suara napasnya yang terasa berapa kali mendesah seolah ada rasa yang begitu berat.
Entahlah apakah ego atau sifat pemalu ku yang membuat aku tidak berkata iya atau sekedar menganggukkanan kepala ku untuk pertanyaan mas Tama. Tapi dibalik sebongkah hati ku ada rasa Aku menginginkan nya sentuhan-sentuhan mu tidak hanya di kening dan jari jemari ku.
Satu Minggu bersama nya sedikit memberi rasa hangat rasa malu yang lama tidak ku rasakan semenjak hubungan ku dan mas Ardi berakhir.
__ADS_1