Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 15 PACARAN BUANG-BUANG WAKTU


__ADS_3

“Terus Teh kenapa den Tama kemarin tidak mau memanfaatkan kesempatan kan enak ndak pakek acara pendekatan nikah sama orang yang disuka ya ga atuh pak?” suara perempuan


“Ya itu kan Bapak sudah bilang den Tama itu pemuda baik, kalau laki-laki lain bukan Cuma memanfaatkan kesempatan malam-malam di rumah kosong itu jelas sudah di habisin itu mbak Rana” suara laki-laki


“lah sampe sekarang belum ngerti itu mbaknya?” suara perempuan


“Kabarnya sama buk Kades dan pak Kades mau langsung dilamar buk selesai KKN” suara laki-laki


“Ranaaaaa....... Kamu menyembunyikan hal besar dari kami? Sekarang sudah rahasia-rahasian ya?” Ucap Lilik dengan mata mendelik dan pipinya yang cubby semakin membesar dengan bibirnya yang mengerucut.


“Aku rasa disini Kak Fhey yang harus menjelaskan itu dari mana dan siapa?” tatapku kearah kak Fhey yang tersenyum geli sambil menyimpan handphone nya kedalam saku celananya.


“Posko ku itu rumahnya Pak Andi dan Buk Siti. Nah pak Andi itu kan yang menyadap Karet di kebun nya pak Kades juga sekaligus supir kalau buk kades dan pak kades mu ke Kota. Aku mendengar mereka mengobrol di dapur tepatnya ketika kita akan pulang,mereka tidak tahu aku lagi di dalam kamar mandi” jawab kak Fhey


“dikamar mandi apa di WC kak Fhey?” Tyo pun berkomentar dengan senyum dan mata nya yang disipitkan melirik ke arah kak Fhey.


“kalau di desa namanya kamar mandi” jawab kak Fhey diikuti tawanya.


“Sekarang kembali ke pemeran utamanya nya nih, betul Ran itu?” selidik Rudi padaku


“Ya kan itu kata mereka, aku ga tahu lah” jawab ku singkat dan acuh. Aku rasanya tak ingin membahas ini lebih dalam. Aku harus fokus ke skripsi bukan yang lain.


“Hayolah Ran.... Ada yang kamu sembunyikan pada kami?” paksa Lilik yang sudah didepan ku dan menatap muka ku dengan jarak yang hanya tersisa berapa centimeter.


“Heh..... tidak ada Lik, aku belum dilamar dan aku tidak tahu apa-apa tentang rekaman itu” jawabku sambil memegang pipi chubby Lilik dengan kedua tangan ku dengan sedikit meremasnya sehingga bibirnya tambah mengerucut.


“Berarti akan dong?” tanya Rudi


“udah lah sekarang sudah hampir magrib, ayo pulang sebelum kamu di omelin ibu mu tercinta itu karena sampai rumah lewat waktu magrib.” Aku mengatakan itu dan melepas tangan dari pipi Lilik.


Kami berjalan ke arah warung soto mang Encep dan menuju arah parkiran. Ketika naik keatas motor, Lilik memberikan Helm kepada ku dan berkata

__ADS_1


“Kamu bisa bohong pada yang lain. Tidak dengan ku Kirana. Aku tunggu cerita sebenarnya” lalu Lilik menghidupkan motornya dan meninggalkan warung soto mang Encep.


Setiba nya di dalam kost aku langsung membersihkan diri dan mengambil pakaian yang ada di jemuran teras kost an ku. setelah melaksanakan ibadah shalat magrib tiba-tiba handphone ku berdering dari nada deringnya bisa ku pastikan yang menelpon adalah Emak ku atau mas Hardi. dengan cepat aku mendial tombol hijau dari layar handphone ku yang kulihat Mas Hardi yang video call.


"Assalamualaikum, Mak e..... mak.... Rana kangen sama Mak e." ucap ku seraya mendekatkan layar handphone ke wajah ku.


"Walaikumsalam, kamu sehat Ran?"


"Alhamdulilah sehat Mak"


"sudah mulai kuliah hari ini Ran?"


"sudah Mak tapi baru satu mata kuliah, dosennya yang satu cuma kasih tugas mak."


"besok kamu keterminal ya, tadi mas Hardi dari kebun panen Duku dan Durian juga ada beberapa kilo mangga. itu sudah ibu buat sendiri-sendiri kardusnya. Sekalian punya pak Agam tolong diantar ya Ran"


"Ah Mak e, kan Rana sudah Ndak kerja disana lagi"


"Ya Ampun Mas Hardi maksudnya bukan gitu, mas Hardi ga tahu sih kalau ketemu istrinya pak Agam itu gimana orang nya. orang nya jutek, belum lagi kalau ngelihat Rana tuh kayak mau nelen Rana hidup-hidup mas."


"Hust... Rana, Ndak baik bicara begitu. bagaimana pun pak Agam sudah membantu kamu selama kamu di kota, hampir 7 tahun kamu kerja di fotokopi nya. Kalau sudah pernah ditolong Orang itu harus diingat-ingat. termasuk saat ini pas kita lagi panen kalau ga pas panen ya kita ga bisa kasih apa-apa ke beliau secara wong uang nya Pak Agam itu yo turah-turah"


"iya buk, tapi Rana besok antarnya ke toko nya aja ya buk. Rana takut kalau ketemu Buk Yuni."


"Iya terserah kamu. Tapi kamu terpaksa nyewa mobil Ran. kalau naik angkot takutnya penuh itu. Soalnya ini mak buat masing-masing 3 kotak"


"banyak banget mak, buat siapa aja?"


"yang satu buat pak Agam, satu buat kamu sama temen-temen kostan trus bisa dibagi ke Lilik, Tyo, Pey dan Rudi. nah buat Lilik sama Rudi itu dilebihin ya Kan mereka ada keluarganya. kalau Tyo sama si Pey itu kan ngekost"


"Siap Mak laksanakan.Fhey mak pakai F bukan pakai P, emangnya saudara yang didesa sudah mak? kok tumben banyak banget kirim kesini?"

__ADS_1


"Alhamdulilah sudah semua dan sisa nya baru sama mas Hardi dijual, alhamdulilah bisa bagi dua sekalian besok Mas Hardi transfer buat bayar kost bulan ini dan buat biaya kuliah ya Na."


"iya mak alhamdulilah kalau begitu. Mas Hardi sendiri kerumah Mak e?"


"iya, tadi mbak mu sama ponakan mu ikut keladang jadi kecapean katanya. sudah mungkin mas mu juga mau istirahat disini mau hujan Ran kasihan kalau mas mu pulangnya kehujanan. itu saja ya Ran kamu jaga diri baik-baik jangan telat makan terus hati-hati kalau lagi berkendaraan"


"Iya mak. salam buat Mbak Imah ya mas, ibu juga sehat terus ya. Titip Mak e ya mas"


"Tenang saja, Mak e baik-baik saja yang penting fokus kuliah dan cepat selesai itu pak Ustad Abdul nanyain kamu terus kapan selesainya, sekarang sudah diangkat PNS dia Na bagian administrasi di KUA kecamatan kita.... kan lumayan kalau nikah sama yang ngurus biaya nikah Gratisss... hahahaha...."


"Mas Hardiiiiii..... Emang mas Hardi nikah dicomblangi hihihi...."


"Yo wes mas mau pulang dulu takut keburu hujan, jangan lupa pesen Mak e Lo Ran assalamualaikum."


"Iya iya mas ku yang paling tampan walaikumsalam"


Ha.... senang rasanya bisa bertatap muka dengan Mak e walau hanya lewat layar handphone. Mas Hardi dan Mak e tidak tahu kalau aku pacaran dengan mas Ardi sudah 5 tahun. Ah air mata ku kembali mengalir tanpa bisa kutahan. Seakan kini aku sadar bagaimana saat itu ada banyak teman laki-laki di desa ku yang ingin menjalin hubungan pacaran dengan ku. ibu sudah memberiku peringatan untuk tidak boleh pacaran. seakan terngiang kata-kata ibu dan kini itu menjadi benar nyatanya.


"Wes Ndak usah pacar-pacaran Na, pacaran itu cuma buang-buang waktu, pikiran tenaga, uang terus lalai sedikit bikin dosa. Yang penting fokus belajar terus kerja terus jadi orang baik insyaallah nanti jodohnya baik. Tapi kalau tamat SMA kamu langsung nikah karena katanya Mas Hardi itu Ustad Abdul mau lamar kamu Mak e juga ga setuju. Lah won mbiyen ALM bapak mu kepingin lihat kamu kuliah karena Mas Hardi mu ga Mau kuliah karena langsung mau menikah tamat SMA. Jadi Mak e itu tenang kalau kamu minimal selesai S1 paling tidak cita-cita ALM bapak mu bisa Mak e wujudkan".


Dan sekarang aku betul-betul merasakan buang-buang waktu. Buang-buang waktu 5 tahun yang bisa kadang berjam-jam telponan belum lagi nanti jalan-jalan walau ketemu keluarga Mas Ardi. Pikiran pun akhirnya terganggu biasanya aku bisa tidur nyenyak sekarang sering menangis kalau ingat mas Ardi. Uang jelas, ketika dia ulang tahun aku harus pandai-pandai menyisihkan uang gaji atau kiriman Mak e untuk membelikan kado untuk mas Ardi.


Kado ya aku jadi teringat kotak coklat kemarin. Baiknya aku apakan ya. Kalau dibakar sayang. Ah Aku kasih pak Andang saja kan anaknya ada yang baru kuliah.


Pak Andang adalah tetangga beberapa rumah dari kost an. Beliau yang selalu bertugas di komplek kami untuk mengangkut sampah dari rumah-rumah ke TPA.


Aku menyesal sudah mengabaikan Mak e dan sudah berbohong. Nanti kalau liburan aku akan minta maaf pada Mak e secara langsung.


Dan entah kenapa aku membuka file di handphone ku dan memutarkan lagu Didi kempot yang sempat ku download ketika KKN mas Tama mengatakan Ambyar... Entah mengapa lagu ini begitu bisa membuat aku menangis tanpa bisa mengingat masalalu hanya bait-bait lagunya yang begitu ku resapi seolah lagu ini mewakili apa yang aku rasakan.


"wes kebacut ambyar, ambyar koyo ngene,

__ADS_1


manis e janji mu jebule mung Ono lambe...."


__ADS_2