Menikah Berujung Cinta.

Menikah Berujung Cinta.
BAB 58 BENTAKAN SUAMI BAGAI MEMECAHKAN GUCI


__ADS_3

Aku mengusap punggung mas Tama yang barusan tersedak karena mendengar penuturan Tyo yang begitu to the poin, dimana hal itu harusnya tidak boleh di bicarakan pada orang lain karena aib rumah tangganya namun entah karena Tyo merasa lelah atau tidak ada nya titik tengah antara dia dan Lilik hingga menceritakan hal itu dihadapan aku dengan mas Tama.


Lilik tidak tinggal diam, ekspresi mata nya yang sipit dibuat membesar karena mendengar pernyataan Tyo pun menyatakan bahwa ia sedang marah. Dan mungkin karena jodoh, botol ketemu tutup istilah sehari-hari kalau dilingkungan ku maka Lilik pun ikut mengeluarkan segala lahar di hatinya yang mungkin selama beberapa bulan ini dia pendam.


"Ya ampun.... laki ya yang dipikir cuma kasur doang.... kamu sadarkan Yo... 6 bulan nih.... lebih 6 bulan kita nikah. Aku bangun jam 5 pagi ni,.. udah masak, nyiapin sarapan, nyiapin bontot terus kamu pergi kerja aku nyuci piring, nyapu, ngepel, nyuci baju, menyetrika, masak lagi buat makan malam. Belum lagi nih 3 bulan belakangan aku masih suka mual... Aku masih urus rumah dan kamu dengan baik.... Masa malam-malam masih harus suruh lembur juga... Tuh mata dijaga kalau diluar... Jadi otak ga taveling trus mesum pikiran nya.... Enak kalau udah dapet jatah ini istrinya mau dipijit atau diapain... eh dia langsung ngorok.... aku berasa lebih-lebih pembantu...."


"Lilik.... Sssstt.... Udah sabar, kan kalian mau cari solusi biar ga gini kondisinya bukan cari siapa yang salah...." aku memotong pembicaraan Lilik karena aku lihat Lilik makin emosi menyampaikan isi hatinya dan Tyo pun terlihat makin tidak nyaman dengan wajahnya makin memerah.


"Ga Ran, mumpung dibahas. Kalau dirumah ini aku ngomong gini nih... ditinggal tidur, atau ditinggal main game pakek headset atau ditinggal pergi kan nyakitin. Coba kalau istrinya dibantu, kan mungkin waktu istirahat bertambah ga mungkin lah kita alasan capek Ran kalau memang badan kita fit"


"Tapi kalau aku pulang kerja kamu pasti lagi nonton drakor atau main medsos. Jadi nonton drakor sama main medsos itu ga capek?" Sanggah Tyo mendengar pembelaan Lilik.


"Yo.... Saran aku besok kamu libur. Coba deh Lilik kerumah ibu mu dulu. Satu hari aja dari pagi Sampai sore kamu gantiin posisi Lilik dirumah. kamu bakal tahu mengapa dia bisa mengeluh. Itu belum ketambahan anak Yo" Mas Tama coba memberi solusi mendengar keluh kesah suami istri yang baru 6 bulan ini namun masalah sepele begini membuat mereka bisa bertengkar.

__ADS_1


Entah aku melihat ini aneh karena aku tidak mengalami beberapa masalah seperti mereka atau karena aku mengalami juga beberapa namun aku dan mas Tama bersyukur karena kami bisa menemukan solusi setiap perbedaan diantara kami.


"Setuju, biar aku besok kerumah ibu, kamu dirumah biar ngerasain kayak apa jadi ibu rumah tangga. Kalau pas kamu pulang aku lagi santai ya wajar lah aku juga butuh waktu me time. Sekalian nih... sebenarnya uang pernikahan kita kemarin masih ada atau sudah habis. Masa iya uang segitu banyak habis. Atau jangan-jangan kamu buat ngembangin channel YouTube kamu??"


"Bukan begitu Lik.... kamu itu ga sabaran. Kan aku bilang tunggu 5 bulan lagi nanti aku kasih ke kamu uang nya pas kamu ulang tahun. Klo masalah itu buat kamu sewot ya sudah. Sebenarnya uang pernikahan kita kemarin. Aku belikan tanah dan buat rumah minimalis dan sekarang tinggal tahap finishing" Tyo menjelaskan alasannya yang selama ini dia tutupi.


"Yo... aku ini istri kamu... dan kamu mutusin beli rumah cuma buat kejutan... harusnya kan kamu sharing ke aku nya kalau masalah kek gitu...." Lilik tertunduk dan kembali menitikkan air mata.


Aku berusaha menenangkan Lilik, aku merasa mereka berdua saling menyayangi, saling mencintai namun dengan cara mereka. Tyo mencintai Lilik dengan cara lelaki yang dimana lebih mengedepan kan sesuatu yang logis, yang ada nyata nya, lebih ke memakai logika bukan hati. Sedangkan Lilik menginginkan sesuatu yang lebih menggunakan hati seperti perhatian walaupun hal-hal kecil. Andai saja Tyo bisa melihat betapa Lilik mencintai nya dengan cara Lilik dan Lilik mengerti indahnya cara Tyo mencintai Lilik dengan cara lelaki maka hal seperti ini tidak akan terjadi pada mereka.


"Mas cuma saran Lik, kedepan kamu harus diam dulu ketika Tyo berkeluh kesah, terus... Tyo itu kan udah suami kamu. Ya coba dijaga wibawanya di depan teman-teman nya. kalau ingin berdebat, marah itu usahakan hanya berdua. Lebih seru kalau berdebat di kamar hehe.... Dan dengarkan dulu isi hati suami mu saat dia mengeluh. Mungkin dikantor lagi ada masalah atau diluar ketemu orang-orang yang menguji kesabaran nya. Dan kamu Yo cobalah pahami perasaan istri mu. Terkadang istri kita itu kuat ditempat kerja disakitin atau dibentak sama bos atau teman nya bahkan sama mertua mungkin masih bisa tuh mereka sabar tapi kalau sudah kita nih yang satu ranjang sama dia udah membentak/berbuat kasar bakal sakit mereka Yo. Ibarat kata guci kalau dipecahkan itu ga bisa disatukan lagi. Perempuan terlihat baik-baik saat kita bentak tetapi hatinya sakit kayak pecahan guci kalau sudah pecah. Apalagi Lilik sudah memutuskan jadi ibu rumah tangga otomatis dia butuh kamu sebagai teman ketika dirumah"


"Hem, iya mas.... Saya minta maaf jadi ngerepoti mas Tama dan Rana. Saya akan berusaha lebih sabar sama dewasa kedepannya" Tyo kembali duduk ke tempatnya semula.

__ADS_1


"Kalau begitu kita lihat rumah nya ya Yo... kata mu tinggal tahap finishing" Lilik merengek dengan gayanya yang manja.


"Besok saja, kalau sekarang para pekerja sudah pulang. Besok mas pulang cepat deh..."


"Assalamualaikum"


Terlihat Bapak,ibu dan Dwi masuk kerumah membawa beberapa tas dan paper bag.


"Loh ada tamu Ran..." ibu yang menerima uluran tangan dari Lilik dan Tyo pun sedikit kaget.


"Iya Bu... ini teman Rana tadi mampir"


"Mbak Rana... Dwi lapar... mbak Rana masak apa?" Dwi yang duduk disebelah mas Tama memegang perut bundarnya.

__ADS_1


"Mbak masak Semur ayam sama tumis kangkung plus sambel teri.... mbak siapin makan ya... sekalian Yo, Lik kita makan bareng soalnya mau magrib tanggung kalian kalau pulang sekarang."


Telrihat anggukan dari Lilik dan Tyo mengiyakan. Saat aku mengajak Lilik kebelakang ku pesankan jangan bahasa masalah nya tadi di depan ibu mertua ku. Bagaimana pun masalah rumah tangga adalah aib yang harus ditutupi dan diselesaikan suami istri tanpa harus pihak lain hingga menjadi konsumsi publik.


__ADS_2