
Akhirnya ketemu juga Handphone yang dari tadi terus berdering suara lagu khas Didi kempot dengan judul Ambyar di dalam tas selempang ku.
Sedikit menundukkan kepala aku mendial tombol hijau di handphone ku dan aku jawab telpon dari mas Tama. Karena tak mungkin ku tolak siapa tahu penting belum lagi jika tidak segera ku angkat maka nada dering ini seperti menarik beberapa pasang mata didalam angkot ini.
"Assalamualaikum" sapa ku pada mas Tama di seberang
"Waalaikumsalam, Mbak Rana ini ibu mau bicara katanya" jawab mas Tama di seberang
Aneh bukan kan buk kades ada nomor WA ku kenapa haru lewat handphone mas Tama.
"Assalamualaikum mbak Rana, apa kabarnya?" sapa buk kades dengan suaranya yang khas logat Jawa.
"Waalaikumsalam buk. Alhamdulilah sehat dan baik buk. Ibu sendiri apa kabar?" tanya ku
"Alhamdulilah ini ibu semua nya baik dan sehat. Begini mbak Rana ini ibu mau minta bantuan sama Mbak Rana. Kira-kira kalau misal ibu mau cetak buku untuk LPJ itu tebalnya sekitar 150 halaman pakai kertas A4 tapi covernya warna mbak Rana butuh biaya berapa ya?" Tanya buk kades pada ku
"Owh itu, maaf buk tapi sekarang Rana tidak bekerja lagi di toko pak Agam. Tepat setelah berangkat KKN Rana sudah berhenti karena mau fokus ke skripsi sekalian Bu. Tapi saya bisa kirim nomor WA pak Agam atau nomor telpon toko bu." tawarku pada buk kades.
"Owh ya boleh mbak, ini bapak lagi sibuk jadi minta tolong ibu handle soalnya bapak fokus ke persiapan berkas buat nyalon lagi. kirim ke nomor WA ibu ya. handphone ibu kemarin keinstal hp nya buat game sama Dwi jadi contactnya hilang semua" Pinta buk kades pada ku.
"Owh baik Bu, saya kirim nanti buk." jawab ku singkat
"Baiklah kalau begitu terima kasih ya Ran, baik-baik selalu ya. Assalamualaikum"
"Walaikumsalam" Ku akhiri pembicaraan kami dan cepat aku mengubah nada dering yang sudah ku pilih kemarin karena iseng ternyata membuat ku malu hari ini.
"Sekarang yang suka sama karya nya mas Didi tuh betul-betul ga kenal usia, dan kalangan. Bahkan cewek-cewek cantik juga banyak yang jadi fans nya mas Didi. Mbak nya pasti penggemar karya mas Didi juga kan mbak?"
Tanya seorang ibu yang duduk di depan ku, terlihat ibu itu membawa beberapa belanjaan disampingnya.
__ADS_1
"Ah ga juga kok buk. Kebetulan saja" jawab ku sedikit malu karena betul aku bukan Fansnya mas Didi Kempot. Bahkan kalau aku keturunan Jawa tapi lagu mas Didi Kempot yang Ambyar baru ku ketahui setelah mas Tama yang mengatakan kala itu dan membuat ku searching lirik serta lagu MP3 nya.
"Kalau bukan fans berarti punya kesan sama lagu nya yang judul Ambyar pasti mbak nya"
Kembali ibu itu memberi pendapatnya tiba-tiba pak sopir angkot ikut mengomentari pembicaraan kami.
"Pokoknya the Goodfather. Lagu-lagu mas Didi itu seolah mewakili kita yang lagi sakit hati, putus cinta, pokoknya lagunya itu pas buat kita yang sedang kecewa. Nah buat mbak nya saya kasih yang lebih pas kalau lagi ditinggal orang yang disayang lagu nya mas Didi kempot yang ini nih mbak"
Senajan kowe ngilang, ra biso tak sawang
Nanging neng ati tansah kelingan
Manise janji - janjimu kuwi
Nglarani ati
Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo
Tatu sing ono ndodo
Perih rasane yen eling kowe
Opo aku salah yen aku crito
Opo anane
Wong sing neng sandhingmu ben melu krungu
Piye tenane
__ADS_1
Opo aku salah yen aku kondho
Opo anane
Ceritane tresno naliko biyen
Aku lan kowe
Senajan aku lara, ning isih kuat nyonggo
Tatu sing ono ndodo
Perih rasane yen eling kowe
Opo aku salah yen aku crito
Opo anane
Wong sing neng sandhingmu ben melu krungu
Piye tenane
Opo aku salah yen aku kondho
Opo anane
Ceritane tresno naliko biyen
Aku lan kowe
__ADS_1
"Ini kenapa sekarang aku jadi selalu ketemu dengan lagunya The Godfather of Broken Heart alias mas Alm. Mas Didi Kempot dan lagu ini apa pula judulnya. mau tanya ya malu lah. Tapi kok pas banget sama Kisa ku". Gumam ku ditengah senandung yang terdengar dari speaker yang ada didalam angkot yang sedang melaju ke arah kampusku.