
"Ran.... pelit Amat sih masa ngasih kado cuma satu lembar..." Lilik menggerutu seraya menerawang amplop yang ku beri.
"Ih kebiasaan kamu tuh ya Lik apa-apa ga diteliti dulu. Langsung tancap gas koment aja.... dibuka dulu baru ngomel".
Dengan cepat Lilik membuka amplop yang kuberi padanya sebagai Hadiah pernikahannya. Dan terlihat dia membaca selembar kertas kecil itu. Dengan tatapan kaget langsung memeluk ku seolah mengabaikan dandannya yang sekarang sedang mengenakan kebaya putih lengkap dengan cucuk dan untaian bunga melati. Kebaya warna putih yang dipadu dengan jarik yang khas adat jawa.
"Rana.,.. Hadiahnya betul-betul amazing,... ini betul Ran?" Tanya Lilik tidak percaya.
"Beneran... kita berangkat nya bareng kok."
"What?? Bareng? bukan honeymoon dong Ran kalo kamu ikut... masa aku satu kamar sama kamu, atau kita bertiga atau kamu sendirian..."
Cepat kututup mulut Sahabat ku ini dengan sebuah kue dimulutnya.
"Namanya Couple honeymoon ya kita sendiri-sendiri kamar nya dong...."
Aku begitu kesal karena kebiasaan sahabat ku ini akan mengomentari apa-apa tanpa lihat dulu lebih jelas dan apa-apa semua mau serba cepat dan instan.
"Ga kebayang deh nasib Tyo punya istri kayak kamu apa-apa mau nya serba cepat"
"Bagus dong ga pakek harus fore play... hehe..."
Entahlah otaknya yang sudah diracuni film Korea yang dulu sering kami tonton bersama karena terkenal dengan keromantisan nya.
"Ya ampun.... belum nikah aja nih Otak sudah mesum gimana kalau sudah menikah" Aku memandang Lilik dengan tatapan tak percaya kenapa sahabat ku ini bisa sefulgar ini malam ini.
Cukup lama kami berada dirumah Lilik menyaksikan prosesi ijab dan makan malam bersama. Hingga mas Tama mengajak ku pulang karena sudah hampir pukul 10 aku akhirnya berpamitan dengan Lilik dan Tyo Serta Kedua orang tua Lilik.
"Yang sabar ya Yo... punya istri kaya speaker harus sabar..."
"Rana....." Lilik akan mencubit aku namun aku buru-buru meninggalkan panggung menghindari amarahnya.
_________________
Setibanya dirumah kami masuk rumah lewat pintu didalam garasi yang langsung mengarah ke dapur. Aku merasa haus karena tadi setelah mencicipi puding aku tidak minum air putih. Namun ketika aku akan. Mengambil air dispenser ternyata airnya habis. Aku membuka jilbab ku dan mengambil Galon yang terisi penuh disebelah kulkas dan menaruhnya ke atas dispenser.
""Rana..... Kenapa ga bilang...."
__ADS_1
"Hehe.... cuma kayak gini aja kok mas"
Lalu aku mengambilkan mas Tama segelas air dan memberikan pada mas Tama. Terlihat mas Tama tersenyum dan mengambil napas dalam.
Lalu kami masuk kekamar untuk membersihkan diri dan istirahat. Kini aku dan mas Tama sedang menikmati empuknya kasur dari ranjang king size ini. Seperti biasa aku akan menyandarkan kepala ku di dada ma Tama dengan sebelah tangan mas Tama memeluk ku.
"Ran....."
"Hem...." Aku membuka mata dan melihat mas Tama.
"Mas boleh minta sesuatu?"
"Boleh asal jangan malam panas ya mas.... Rana capeeeekkk banget kaki nya pegel, pinggang nya, seharian ini bantu-bantu dirumah Lilik"
"Hehe.... ga ah kan baru Shubuh tadi di service sama istri mas... aduh aduh...."
Mas Tama meringis karena ku cubit pinggangnya. Aku sangat tidak nyaman jika membahas yang sudah dilakukan apalagi terkait adegan panas dikamar karena ada rasa malu walau itu hanya berdua dengan mas Tama.
Mas Tama duduk dan meraih sebuah handbody yang berada di nakas. Lalu menyingkap selimut serta mengolesi handbody ke kedua betis ku.
"Kenapa ga bilang kalau pega-pegal, besok mau kesekolah badannya ga fit loh" Mas Tama memijat kaki ku dan tentu saja aku sudah dalam mode melow karena tindakan mas Tama. Ini bukan kali pertama pria ini membuat terpesona oleh tindakan nya. Sepele tapi tidak semua perempuan menerima perlakuan begini oleh suaminya. Bahkan di tempat ku mengajar aku malah lebih sering mendengar keluh kesah para istri tentang suami-suami mereka. Entah karena usia pernikahan kami seusia jagung atau memang karakter mas Tama seperti ini pandai memanjakan istrinya bukan dengan kata-kata tetapi dengan tindakannya.
"Eh... ga apa-apa. Katanya tadi mau minta sesuatu. Minta apa mas?" kilah ku setelah ketahuan tentang suasana hatiku.
"Ran, hampir satu bulan lebih kita menikah. Mas tidak merasa jadi suami seutuhnya"
Aku mengerutkan kening dan menaikan alis ku menelaah perkataan mas Tama. Karena kalau dilihat dari perjanjian awal aku tidak ingin disentuh sebelum membuka hati. Bukankan belum cukup satu bulan aku sudah dibuat klepek-klepek oleh pesona nya hingga aku dengan senang hati memberikan mahkota ku padanya.
"Maksud mas?"
"Mas tahu kamu wanita yang kuat, tegar, mandiri... tapi sekarang kamu sudah punya suami. Bahkan mas sekarang iri sama mas Hardi. Kemarin satu Minggu di rumah mu mas lihat bagaimana kamu sangat manja dengan mas Hardi bahkan untuk memindahkan sebuah pot yang tidak terlalu besar kamu akan merengek manja pada mas Hardi. Sedang mas Belum pernah menikmati kemanjaan mu selain diatas kasur ini. Itu pun kamu cenderung malu-malu..."
Aku diam tidak tahu mau koment apa dan bingung. Karena aku pun tidak merasa aneh. Tetapi aku menganggap hal yang biasa aku merengek kepada mas Hardi karena hal itu sering aku lakukan sedari kecil karena sosok seorang ayah ku dapatkan dari mas Hardi karena Bapak meninggal ketika aku masih SD.
"Maksud mas... kamu jangan terlalu mandiri sayang...." seolah mengerti apa yang kupikirkan mas Tama memperjelas isi hatinya.
Mas Tama menyudahi aktifitas nya dan kini sudah duduk kembali ke sisi ku.
__ADS_1
"Rana belum ngerti maksud nya mas...."
"Coba ingat selama kita menikah kamu pernah ga minta tolong mas?"
Aku menautkan kedua alis ku dan mencoba mengingat apa yang ditanyakan mas Tama. Cukup lama lalu mas Tama kembali bersuara.
"Tidak pernah, nyaris... tidak pernah. Kamu tahu Ran sedari mas masih sendiri bahkan sekarang mas sudah menikah pun di tempat kerja mas sering para ibu-ibu maupun para gadis selalu menarik perhatian mas dengan bersikap manja walau hanya sekedar angkatkan meja, ambilkan sesuatu di rak.... "
"Jadi mas Tama sering digoda dikantor?" selidik ku.
"Ya ada orang-orang tertentu tapi mas tidak menghiraukannya. Mas sudah punya kamu. Tapi mas minta kita sama-sama rawat cinta kita ini biar tidak ada hama atau kekeringan di kebun kita sendiri. Jadi jangan terlalu mandiri biar suami mu ini ga merasa tersisihkan karena sifat mandiri mu itu".
" Ih bahasa nya tumben puitis mas..."
"Karena mas juga pengen belajar romantis. Tadi mas dengar obrolan kamu sama Lilik tentang drakor dan oppa oppa mu itu hehe...."
Kini mas Tama sudah memeluk ku dan mencium kening ku berkali-kali. Sesuatu yang seperti nya menjadi hobi bagi suami ku.
"Jadi Rana harus gimana, Rana masih ga ngerti maksud pembicaraan mas"
"Setidaknya belajar lah merengek kepada mas mu ini untuk pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan kami kaum Adam... Bayangin selama kita menikah kamu selalu mengisi galon sendiri ke dispenser. Ketika belanja kamu akan menyusun sendiri bahan-bahan ke kulkas dan mengambil barang-barang yang tinggi sendiri dengan menggunakan kursi dan yang lebih membuat mas mu ini merasa tidak dianggap sebagai suami kamu membuat tali jemuran sendiri dibelakang rumah kita.... Lalu kamu membuat stop kontak untuk nge-charge hp di dapur... Cobalah untuk meminta tolong pada mas. Karena kamu tahu akan ada rasa bahagia... sekali ketika mas bisa membantu dan menyenangkan istri mas dan mampu menjadi super Hero. Walau mas bahagia mendapatkan istri yang dewasa dan mandiri."
Aku tertegun mendengar keluh kesah suami ku. Karena menurut pikiran ku itu bukan suatu masalah. Tetapi sesuai komitmen kami untuk membangun komunikasi tentang apa yang dirasa, apa yang dijalani dan akan dihadapi maka aku mengerti memang aku mengamini penjelasan mas Tama.
"Mas... bukan Rana tidak menganggap mas Tama suami. Rana terbiasa dari kecil melakukan apa-apa sendiri bahkan sedari SMP mas Hardi pun mengajari aku banyak hal yang biasa dikerjakan para lelaki karena aku merantau jauh dari keluarga. Belum lagi mas Tama terlalu sempurna. Cukup dengan cinta mu yang sekarang saja mas membuat ku terpesona. Maaf Rana pikir dengan melakukan semua seperti biasa mas Tama akan senang karena mas Tama bilang salah satu yang nas sukai dari Rana adalah sisi mandiri Rana."
"Mas suka semua yang ada pada dirimu tapi ingin menikmati sisi manja mu agar mas bisa merasakan jadi super Hero untuk istri mas...."
Aku cukup diam dan melirik jam kulihat masih setengah 12. Entah keberanian dari mana aku mengecup bibir mas Tama dan tidak berhenti mas Tama hanya diam dan menatap tidak percaya.
"Baik.... Rana lagi ingin dimanja sekarang mas..."
Kubisikan kata-kata dengan sedikit suara manja ketika ku lepas pagut*n ku dari bibir mas Tama. Aku tahu mas Tama cukup kaget karena ini kali pertama aku meminta terlebih dahulu dan dengan suara yang menggoda serta tak memalingkan wajah dari tatapan nya.
Ku kalungkan kedua tangan ku dileher mas Tama dan kembali ku ulangi apa yang tadi kulakukan bahkan lebih agresif.
"Malam ini Pahala besar menanti mu sayang.... Karena istri mas yang meminta lebih dulu haknya".
__ADS_1
Mas Tama mematikan lampu dan seperti biasa kami hanya akan mengijinkan seprai dan selimut yang menjadi saksi ibadah kami tidak untuk benda lain yang ada di kamar kami.