Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
99 : Membahagiakan Anak-Anak


__ADS_3

“Sayang, udah, kan? Aku tinggal dulu, ya. Soalnya ada kerjaan mendadak.”


Hari ini menjadi hari peresmian butik Arnita, tapi Restu sengaja rese sekaligus jail kepada istrinya.


“Papah saja hari ini sampai cuti cuma buat nemenin kita, eh kamu mau pergi!” rengek Arnita yang juga mengomel.


Restu yang baru masuk ruang kerja sang istri langsung terpingkal-pingkal. Membuat istrinya langsung meliriknya dengan sebal.


“Enggak, ... enggak. Aku enggak pergi. Hari ini aku bakalan full temenin kamu, meski aku wajib kerja secara online. Kamu kan tahu, levelku sama papah beda. Papah lebih suhu. Malahan kalau papah sampai libur, yang ada aku malah makin sibuk karena harus urus kerjaannya. Aku yang urus kerjaannya, tapi di.laporan tetap nama dia.” Restu menghampiri Arnita.


Arnita tetap merenggut sebal walau Restu sudah ada di hadapannya.


“Jangan ngambek,” bujuk Restu.


“Aku lagi bingung loh, Sayang,” cerita Arnita.


“Bingung kenapa?” lirih Restu langsung menanggapi dengan serius.


“Tadi kan, papah sama mamah menemui aku. Kami ngobrol gitu. Papah sama mamah bilang, mereka bakalan sediain tempat khusus buat pajang beberapa contoh unggulan hasil dari butik aku, di galeri perusahaan!” jelas Arnita. “Aku jadi enggak enak, kesannya mereka belum rela aku lepas dari perusahaan. Memang masih pakai merek aku sih, tapi aku mikirnya, ini kayak tamparan halus. Berasa jadi menantu durhaka.” Arnita menatap serius suaminya.


“Sebenarnya konsepnya bukan gitu. Galeri perusahaan kan itu proyek terbaru aku. Semacam mal-nya buat butik. Jadi, kami memang menerima kerja sama dengan beberapa perusahaan termasuk dengan beberapa butik ternama.” Restu menjelaskan. Sembari menyalami tangan kanan Arnita, ia berkata, “Selamat, yah. Anda beruntung karena langsung diajak kerja sama tanpa mengajukan proposal!”


Arnita menatap tak percaya sang suami seiring senyum di wajahnya yang juga menjadi bermekaran mirip bunga-bunga di musim semi. “Serius, ini beneran aman? Berarti aku bukan menantu durhaka, ya?”


“Urusan menantu durhaka enggaknya sih, aku kurang paham ya,” balas Restu jail lagi ke sang istri.


Arnita yang telanjur kesal langsung mencubit perut Restu. Tak tanggung-tanggung, ia melakukannya dengan kedua tangan.

__ADS_1


“S-sayang, sakit banget!” keluh Restu sampai memejamkan pasrah kedua matanya sementara kedua tangannya memegangi bekas cubitan sang istri.


“Satu lagi,” ucap Arnita, tapi kini dengan suasana hati yang jauh lebih tenang.


Restu tak lagi kesakitan dan malah jadi penasaran. “Kamu hamil lagi?” tebaknya. Namun, Arnita yang tampak terkejut perlahan malah menertawakannya. “Aku serius,” mohonnya, tapi Arnita langsung menggeleng.


“Bukan itu. Ini mengenai Vano.” Arnita menatap Restu dengan sungguh-sungguh. Masih ada senyum di wajahnya, dan tampak jelas kenyataan tersebut pula yang membuat sang suami penasaran.


“Devano debat lagi sama gurunya?” tebak Restu lagi.


Arnita langsung menggeleng. “Bukan, tapi ....”


“Tapi ...?” lirih Restu makin penasaran.


“Tadi papah minta, setelah dewasa nanti, papah berharap Devano mau menggantikannya,” ucap Arnita bersama senyum manis yang membuat bibir tipisnya makin pipih.


Ucapan Restu barusan membuat Arnita terpingkal-pingkal. “Sayang, kamu kalau ngomong, ya!” Tangan kanannya mencubit gemas bibir Restu.


“Bapaknya Fiola memang paling paham bibit unggul. Dia tahu Devano cerdasnya di atas rata-rata. Devano yang kritis dan memiliki jiwa pemimpin. Ditambah lagi, anak kita itu lebih dari good looking dan ini sangat cocok buat narik hati klien khususnya para wanita. Masalahnya, anak seperti Devano biasanya lebih tertarik buat merintis segala sesuatunya sendiri, serba mandiri karena dia tahu, itu akan jauh lebih membuatnya dapat banyak untung!” jelas Restu.


“Nanti kita serahkan semuanya ke Devano yang mau menjalani. Senyaman dia,” ucap Arnita.


“Ya iya. Kalau enggak gitu, kita terancam dibuang!” balas Restu dan sukses membuat Arnita menahan tawa.


“Ya sudah, aku lanjut beresin ini dulu. Jangan lupa kalau dua jam lagi, kita harus ke wahana bermain. Kita sudah janji ke Vano sama Didi.” Arnita langsung membereskan setiap dokumen, bahan, dan juga beberapa gantungan pakaian di kursi tamunya.


“Aku bantu, ya. Tumben ruangan kerja kamu mirip neraka!” cibir Restu.

__ADS_1


Dengan santainya, Arnita yang baru akan meletakan map warna pink di tumpukan map yang ia pegang menggunakan tangan kiri, Arnita bertanya, “Memang Bapak sudah pernah ke neraka?”


Restu langsung memelotot tak percaya mendengarnya. Tanpa kata, ia melangkah cepat menghampiri Arnita, tapi yang di hampiri langsung histeris ketakutan dan ia yakini karena istrinya itu merasa sangat berdosa.


Sekitar satu jam kemudian, Arnita yang baru saja mengunci setiap laci meja kerjanya dikejutkan oleh kehadiran Restu lagi. Pria itu memboyong kedua anak mereka. Didi langsung buru-buru menghampiri Arnita hingga langkahnya yang belum stabil membuat bocah itu terjatuh.


“Enggak apa-apa, enggak apa-apa.” Devano langsung sigap membantu.


Restu dan Arnita, diam-diam saling lirik penuh arti. Segera Arnita mengambil alih, mengemban Divani dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Sedangkan yang dilakukan Restu, pria itu langsung memboyong kedua tas Arnita.


“Ayo kita berangkat. Katanya mau jalan-jalan,” sergah Restu memimpin langkah. Devano menyusul dan diikuti oleh Arnita.


“Kakak, besok kalau sudah besar mau bikin butik juga?” tanya Restu memulai obrolan sambil menuruni anak tangga menuju lantai bawah. Sesekali, ia menoleh ke belakang, memastikan setiap langkah kaki sang putra yang ia khawatirkan sampai jatuh.


“Besok aku bikin yang lebih gede.” Devano membiarkan tangan kanannya digandeng sang papah yang menjadi kerepotan karena harus menenteng dua tas Arnita menggunakan tangan kanan sekaligus.


“Amin!” ucap Arnita.


***


Sampai di wahana bermain yang keberadaannya ada di mal yang mereka kunjungi, Arnita dan Restu kompak memantau dari luar area. Sambil menyemangati dan tak jarang memberi arahan, keduanya sibuk mengabadikan momen kebahagiaan Devano dan Divani menggunakan ponsel canggih mereka. Karena seperti niat awal mereka, mereka sungguh ingin membuat anak-anak mereka menjadi anak-anak paling bahagia, walau di masa lalu, Arnita dan Restu pernah menjadi korban keegoisan orang tua.


“Kakak sama Didi istirahat dulu. Capek, kan? Nih, pak Lukman sudah bawa pizza kesukaan kalian.” Restu berseru meminta kedua buah hatinya untuk berhenti bermain trampolin. Keduanya sudah sampai kuyup oleh keringat.


Dibantu pak Lukman, Arnita langsung mengganti pakaian kedua anaknya. Sampai detik ini, termasuk ketika mengurus Devano saat masih bayi, Arnita memang tak sampai dibantu oleh baby sister secara khusus. Namun adanya pak Lukman, Restu, maupun pak Slamet, biasanya ketiganya langsung akan cekatan karena mungkin sudah terbiasa.


“Kakak, ... kalau hari besok, Pak Lukman pulang kampung, gimana?” tanya Restu yang kemudian sengaja bertanya, “Kakak nangis, enggak?”

__ADS_1


“Ya nangis, lah. Pak Lukman enggak boleh pulang!” jujur Devano dan langsung membuat semuanya kompak menahan tawa. ”Papah emang rajanya ngepreng!”


__ADS_2