Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
49 : Perjuangan yang Melelahkan


__ADS_3

“Mohon kerja samanya!” mohon Arnita menatap setiap wajah desainernya. Ia sampai membungkuk ke setiap mereka yang sebagiannya masih duduk di kursi depan mesin jahit.


“Mulai sekarang juga, kita enggak perlu meributkan alasan kesulitan ini terjadi. Yang perlu dan memang harus kita lakukan sekarang adalah menambahkan pola sekaligus detail seperti desain terbaru yang saya buat.” Arnita kembali memberikan semangat. Bahkan walau sebagian besar dari mereka yang jumlahnya ada tiga puluh orang di sana, usianya jauh lebih tua darinya.


“Ini memang akan sangat berat, tapi daripada kerja keras kita sama sekali tidak dihargai bahkan berakhir dengan dibakar? Kita sama-sama berjuang, ya. Kita sama-sama semangat! Saya yakin, hasilnya akan jauh lebih indah apalagi kali ini, Tiara dan Fiola akan jadi ambasadornya!” lanjut Arnita. Ia mendapati beberapa dari mereka yang awalnya tampak frustrasi sekaligus putus asa, langsung tersenyum ceria hanya karena mendengar nama dari calon ambasador model mereka.


“Sudah bisa dibayangkan kan, akan seheboh apa jika mereka yang jadi ambasador kali ini?” Arnita tersenyum hangat. Walau lelah sangat terasa, tapi sebuah perjuangan memang akan terasa mudah ketika dikerjakan bersama-sama dan itu dengan semangat yang kompak.


“Reward tambahannya, nanti kalian bisa foto bareng sama mereka. Nanti saya yang atur. Jadi, saya benar-benar mohon kerja samanya. Sekarang, ayo kita semangat!” lanjut Arnita.


Semuanya sudah langsung bekerja. Dan Arnita pun menjadi sosok yang paling sibuk dari semuanya. Ia sudah langsung menemui Mario bahkan Restu yang sudah menunggu di ruang kerjanya. Mereka membahas strategi sekaligus beberapa hal lain mereka dalam menyukseskan kesempatan sepuluh hari yang mereka dapatkan dari Tuan Cheng.


“Seharusnya Miss Tania bisa dipenjarakan, loh,” ucap Mario sambil melirik penuh arti, Restu yang duduk di sebelahnya.


“Sudah diurus. Sekarang pun wanita itu sudah ada di kantor polisi. Walau hanya tahanan kota, paling tidak ini akan membuat orang sepertinya jera,” balas Restu tetap fokus dengan kesibukan mengetiknya di papan tik laptop.


Arnita yang duduk di hadapan kedua pria itu langsung mesem menatap sendu sang suami. “Untung ada Mas Restu. Mas Mario juga yang tetap jadi atasan baik meski aku tetap enggak bisa balas cintanya. Sehat-sehat, yah, kalian. Khususnya buat Mas Mario, semoga bisa secepatnya bertemu dan menikah dengan jodohnya,” batin Arnita yang langsung terusik oleh telepon video masuk dari Devano.


“Mohon kerja samanya yah, Sayang. Setelah ini, Mamah janji bakalan fokus ke kamu,” yakin Arnita.


“Berarti Mamah enggak akan kerja?” tanya Devano dari seberang dan masih dijaga khusus oleh pak Lukman.


Menyimak itu, Mario apalagi Restu langsung menghentikan kesibukan mereka. Kedua pria itu penasaran, benarkah Arnita akan mengundurkan diri setelah proyek sepuluh hari ke depan, selesai?


***

__ADS_1


Hari-hari melelahkan mereka lewati penuh perjuangan. Berbagai cara mereka lakukan untuk bertahan lembur menyelesaikan jahitan sebanyak mungkin. Semacam kopi dan jatah makan sengaja Restu siapkan di setiap malam hingga dini hari dengan uang pribadi karena dari pihak perusahaan sudah tidak mau keluar banyak modal untuk proyek sekarang. Termasuk untuk jatah sarapan, mereka yang memang sampai tidur di sekitar mesin jahit, juga mendapatkan jatah sarapan bergizi dari Restu.


“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar bisa membayar semua perhatian yang Mas berikan?” tanya Arnita sambil mendekap sebelah lengan Restu menggunakan kedua tangannya.


Bertepatan dengan itu, Mario baru masuk ruang produksi selaku ruang kebersamaan Restu dan Arnita yang sedang mengawasi kinerja karyawan malam ini. Selain sampai mendekap lengan Restu menggunakan kedua tangan, Arnita yang sampai memakai jas Restu juga sampai menyandarkan manja kepalanya pada bahu pria yang memang suami dari Arnita.


Mario mirip orang hilang hanya karena memergoki kebersamaan tersebut. Jelas kebersamaan yang sangat berbeda dari ketika Arnita bersamanya. Namun kenyataan tersebut membuat rasa kagum seorang Mario kepada Arnita makin menggunung. Karena dengan kata lain, kesetiaan Arnita kepada Restu sangatlah kuat.


“Aku akan mengatakannya nanti, setelah proyek ini beres. Masih tiga hari lagi dan aku optimis semuanya akan sesuai target!” balas Restu.


“Kenapa harus nunggu nanti?” tanya Arnita sambil mengerjap bingung menatap Restu yang sampai harus membuatnya menengadah.


Bukannya menjawab, Restu malah menahan senyum.


“Aku enggak akan minta macem-macem kok. Aku cuma minta kamu tetap jaga kesehatan saja,” balas Restu sambil menatap Arnita.


“Serius hanya itu?” tanya Arnita memastikan.


Restu tak langsung menjawab, tapi ia berangsur menatap Arnita penuh keseriusan. “Sebenarnya, aku ingin anak perempuan, sih.”


Mendengar itu, Arnita langsung tersipu. Lain dengan Mario yang memilih undur dari sana. Mario tak mau usahanya move on malah gagal gara-gara mengetahui selain cantik dan sangat setia, Arnita juga istri sekaligus mamah idaman.


“Dua atau tiga lagi, ... boleh, sih, Mas.”


Pengakuan Arnita barusan langsung membuat Restu membelalak. Pria itu benar-benar bersemangat. “Empat beneran?” Kali ini ia benar-benar memastikan di tengah kenyataannya yang sampai deg-degan saking senangnya.

__ADS_1


Arnita mengangguk-angguk. “Iya, dua pasang. Laki-laki dua, perempuan dua. Lagian, sekarang aku juga masih dua tujuh. Kalau jalan sama Vano pun, malah Vano dikira adikku!”


Restu langsung tersenyum lepas dan terlihat sangat semringah meski kedua matanya terlihat sangat lelah. Tanpa berkata-kata bahkan membisikkan kata mesra, Restu langsung memeluk Arnita sangat erat. Arnita sampai meringis menahan sakit dari pelukan suaminya, tapi Arnita bahagia. Arnita tahu maksud pelukan kini karena suaminya terlalu bahagia.


***


Sederet blazer masih diperbaiki di hari terakhir, ketika Tiara dan Fiola memasuki ruang produksi. Kedua idola yang awalnya sulit akur itu, dipaksa akur oleh Restu dan Arnita. Walau tampak canggung, keduanya tampak bekerja sama menghibur para pekerja di sana yang langsung terkesima kepada mereka. Dikawal oleh kameramen yang merekam jalannya kunjungan, Tiara dan Fiola kompak menyemangati. Keduanya yang memang jebolan dari ajang pencarian bakat bernyanyi, sampai duet menyanyikan lagu setiap permintaan pekerja.


“Sekarang pun kamu sudah bisa tidur nyenyak!” ucap Restu yang mengintip jalannya acara di ruang produksi. Ia berdiri di sebelah Arnita.


“Pengin, Mas. Sebenarnya pengin banget. Tapi nanti malam saja apalagi pasukanku juga masih harus berjuang,” balas Arnita yang kehilangan banyak bobot tubuhnya gara-gara proyek hari ini.


“Ya sudah, kita makan siang dulu di,” ucap Restu mendadak berpikir.


“Pengin makan pecel lele yang di pinggir jalan, siang-siang gini, ada enggak, Mas? Biasanya kan, rada sore, kan?” ucap Arnita.


“Sekarang makan yang lain, nanti sore makan pecel lele. Makan yang banyak,” balas Restu.


“Nasi Padang? Boleh lah soalnya aku beneran lapar banget. Alhamdullilah sudah bisa ngerasain lapar lagi setelah dari kemarin beneran enggak jelas banget!” Arnita nyaris menjerit saking girangnya perjuangannya tanpa Miss Tania malah lancar jaya.


Tak lama setelah kepergian Restu dan Arnita, Mario yang sengaja menjaga jarak, masuk. Detik itu juga perhatian seorang Fiola tertuju kepada pria pendiam itu.


“Mas Restu bilang, pria ini, pria baik-baik. Jadi jika aku ingin menjadi jodohnya, aku juga harus jadi wanita baik-baik biar bisa selevel. Terus masih kata mas Restu bahkan si Arnita, si Mario ini pekerja kerasnya enggak kaleng-kaleng. Bisa diandelin urus perusahaan lah, pokoknya,” batin Fiola. Ia yang sedang menyanyikan lagu “Tak Ingin Usai” sengaja mendekati Mario. Yang mana ia refleks menggenggam tangan pria itu, ketika ia mengambil nada tinggi di lagu yang tengah ia nyanyikan.


“Ini si Fiola kesuru-pan, apa gimana? Kok sampai ajak-ajak aku? Mau nolak takut tersinggung. Apalagi aslinya, kesabaran nih anak lebih tipis dari tisu disayaat jadi sembilan!” batin Mario jadi waswas.

__ADS_1


__ADS_2