
Azelia merasa, dirinya rugi bandar jika sama sekali tidak mendapatkan Restu. Ia sudah sampai menjual perhiasan, masa sekadar menjadi istri kedua saja, tidak? Malahan, kini ia akan disidang. Tentu semacam surat perjanjian juga harus ia tanda tangani. Surat perjanjian yang bisa dipastikan berisi dirinya yang tak boleh dekat-dekat Restu lagi.
Empat orang pria yang merupakan ketua RT dan juga ketua RW mereka baru saja bergabung di sana. Karena keterbatasan tempat duduk, dari rombongan Restu hanya Arnita saja yang duduk. Sedangkan Restu masih setia terjaga di sebelah Arnita. Tangan kanan Restu ada di pundak kanan Arnita.
Menghela napas pelan, Azelia yang merasa putus asa menatap Arnita dengan tatapan memohon. “Nit, kalau kamu wanita baik-baik, harusnya kamu izinin Mas Restu menikahiku daripada terjadi fitnah!” Ia sengaja berucap demikian sebelum sidang dimulai.
“Loh kok kamu malah bilang gitu, Li? Kamu kesurrupan apa bagaimana? Kamu sudah punya suami, Nita sama Restu juga sudah bahagia banget, bahkan Nita lagi hamil anak kedua,” tegur pak Iman yang kini akan selalu menjadi garda terdepan untuk membela sang putri.
Azelia yang masih duduk, menghela napas sambil menghela napas tak habis pikir menatap pak Iman. “Bapak enggak usah ikut campur deh Pak. Bapak enggak usah sok berlaga peduli karena semua orang kampung sudah tahu tabiat Bapak.”
Emosi seorang Azelia meledak-ledak. “Semuanya sudah tahu kelakuan Bapak seperti apa! Bapak pikir saya tidak tahu alasan Bapak mati-matian membela Arnita? Karena Bapak sadar jadi istri Mas Restu, Arnita bisa jadi sumber kekayaan Bapak, kan? Makanya, Bapak sengaja bersekongkol dan mengutus Nita untuk merebut Mas Restu dari aku!”
“Li, istighfar! Aku bukan kamu yang hidup enak cuman modal numpang!” sergah Arnita tapi kali ini, ia menghadapi wanita di hadapannya dengan sabar apalagi Restu sudah mengingatkan. Energi maupun waktu Arnita terlalu berharga untuk orang seperti Azelia.
“Andai lepas dari Mas Restu hidup kamu enggak susah, pasti kamu enggak semenyedihkan sekarang, ... ngemis ke suami orang minta dinikahi!” lanjut Arnita. “Parahnya, kamu beneran enggak bisa membedakan kenyataan sama halusinasi!”
“Tanpa aku, Nita sudah jadi desainer keren, Li. Dia tinggal dan memang punya apartemen. Dan walau Nita sibuk kerja, Nita masih bisa bagi waktu. Putra kami terawat dan sangat sehat sekaligus cerdas,” jelas Restu. “Kamu beneran enggak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan Nita. Apalagi melihat kamu yang sekarang, ... kamu makin enggak tahu malu gini. Aku sampai malu karena dulu pernah jadi suami kamu.”
Arnita mengeluarkan ponselnya, kemudian membuka aplikasi youtube, melakukan pencarian kemudian memutar salah satu video peragaan busana. Itu video peragaan busana rancangannya dan memang yang terbaru, yang menjadikan Fiola sebagai salah satu modelnya.
“Kamu lihat kan, itu aku!” ucap Arnita. Tak hanya Azelia yang langsung kepo. Karena sekelas Ken, pak RT dan ketua RW, juga ikut nimbrung karena penasaran.
__ADS_1
“Sekarang juga aku mau kamu minta maaf ke bapakku! Sembarangan kamu, mentang-mentang kamu dan keluargamu pernah jadiin Mas Restu ATM berjalan, kamu seenaknya menuduhku begitu juga!” kesal Arnita.
Azelia langsung melengos, tak peduli dan malah makin sinis kepada Arnita. Azelia hanya sesekali melirik sinis Arnita.
Restu yang makin muak dengan ulah Azelia, sampai bingung harus bagaimana. Karena setelah tidak mempan dengan kata-kata, yang ada tangan atau malah kakinya juga ingin maju. “Sekarang aku mau, semua ini berakhir karena aku ingin hidup tenang bersama keluargaku. Aku ingin menikmati hidup bersama keluargaku termasuk ketika kami sedang pulang kampung seperti sekarang,” ucap Restu.
Pak RT berikut ketua RW, mengangguk-angguk paham.
"Enggak bisa gitu dong, Mas. Kamu harus pikirin nasib aku! Ken jarang banget kasih aku uang apalagi dia juga sering KDRT! Ken hobi judi, dia sering banget selingkuh bahkan bolak-balik tidur sama wanita lain! Kadang bahkan uangku diambil sama dia buat senang-senangg sama sama wanita lain! Aku capek banget dengan semua ini. Apalagi setelah ini, Ken pasti makin menjadi-jadi! Bisa-bisa aku malah mati gara-gara dipukulli dia!” keluh Azelia sampai berusaha meraih tangan kanan Restu yang awalnya ada di pundak kanan Arnita. Namun, Restu segera menghindar. Malahan Restu menuntun Arnita untuk berdiri dan perlahan beranjak dari sana.
Sadar menghadapi Azelia sangat sulit, Restu menyerahkan sidang di sana kepada kedua ketua RT dan juga kedua ketua RW yang sudah ia undang. Tentunya, ia juga meminta Arnita memesan menu makan malam untuk mereka.
“Pak Lukman dan pak Slamet sekalian. Bapak mau makan apa, bilang ke Ibu,” ucap Restu yang kemudian mengambil alih Devano dari pak Lukman.
“Kakak, Kakak mau makan apa?” tanya Arnita setelah sebelumnya ia mengizinkan sang bapak untuk ikut menyidang Azelia dan Ken.
Arnita mendata menu yang diinginkan oleh orang-orangnya termasuk Devano dan Restu.
“Mah, jangan lupa pesan juga buat pak RT sama pak RW,” ujar Restu dan Arnita langsung mengangguk-angguk.
“Iya pah, udah. Malahan aku sampai pesan buat Lia sama Ken juga,” balas Arnita.
__ADS_1
“Terlalu baik kamu!” ucap Restu sambil menggeleng tak habis pikir.
“Beruntunglah kamu, punya istri baik kayak aku!” balas Arnita sambil tersenyum kikuk. Restu yang awalnya terlihat lelah dan tak bersemangat langsung tersipu memandanginya.
Arnita dan Restu memang masih duduk berhadapan. Namun setelah Arnita selesai mendata pesanannya kepada salah satu pelayan di sana, Arnita segera duduk di sebelah Restu.
“Si Lia minta didatangkan orang tuanya karena sudah enggak mau sama Ken. Takut juga katanya,” bisik pak Lukman yang memang menyimak agenda sidang di belakangnya.
Arnita menghela napas pelan. “Sampai kapan pun kalau dia terus manja dan enggak ada inisiatif buat sama-sama bangun hubungan, ya akhirnya pasti bubar.”
“Sudah kita enggak usah ikut campur apalagi pusing-pusing lagi. Terserah mereka mau ngapain asal jangan ganggu hubungan kita saja, udah,” ucap Restu sambil mendekap manja punggung Arnita dari samping belakang. Karena meski emosinya sempat meledak, kini ia malah merasa ngantuk luar biasa. Itu juga yang membuatnya menyemayamkan wajah sekaligus kepalanya di pundak kanan sang istri.
“Mereka siapa, sih? Mereka orang jahat, ya?” tanya Devano kepada pak Lukman dan pak Slamet yang duduk di hadapannya.
Pak Slamet dan pak Lukman kompak mengangguk, memberi bos kecil mereka pengertian. Sementara itu, Azelia yang sudah tak mau bersama Kenzo lagi, sengaja menelepon orang tuanya. Namun, pandangannya yang tak sengaja memergoki kemesraan Restu dan Arnita, malah membuat hatinya makin meronta-ronta.
“Kamu beneran serius ingin cerai dari aku?” tanya Kenzo memastikan sambil menatap marah pria di sebelahnya.
Azelia yang terusik, langsung mengangguk beberapa kali sambil menatap marah Kenzo.
“Sombong banget! Belagu kamu! Kamu pikir kamu siapa?!” kesal Kenzo.
__ADS_1
Sekitar satu jam kemudian ketika Restu dan semuanya nyaris selesai makan, orang tua Azelia datang. Pak RT dan ketua RW yang awalnya tengah ikut makan, langsung melakukan serah terima Azelia kepada orang tua Azelia. Azelia dan Kenzo yang tak ikut makan walau mereka sudah dipesankan, segera menyelesaikan hubungan mereka. Di depan orang tua Azelia. Detik itu juga Kenzo menjatuhkan talak tiga kepada Azelia. Semua yang ada di sana langsung tercengang, tanpa terkecuali Azelia.