Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
63 : Bertemu Azelia


__ADS_3

“Kamu mau makan apa?” tanya Restu kepada Arnita.


“Ndog gulung kayak Vano!” ucap Arnita sambil menatap ceria Restu dan perlahan sampai tertawa renyah.


“Aku cari bentar, mau sekalian apa lagi?” balas Restu sambil memandangi suasana sekitar.


“Terserah Mas sih. Ada, semacam pecel enggak sih? Gado-gado juga boleh. Tapi kayaknya kebanyakan gorengan gitu, ya?” balas Arnita sambil melongok ke sana kemari.


“Aku keliling dulu,” balas Restu sengaja pamit.


Arnita kembali tersenyum ceria. “Cari yang asam tapi pedas, Mas!”


Restu mengangguk-angguk kemudian pergi dari sana. Arnita yang ditinggalkan, melepas kepergian punggung suaminya sambil tetap duduk santai. Kemudian, wanita cantik itu mengalihkan tatapannya, mencari keberadaan sang putra. Di komedi putra yang ada di depan sana, sang putra tersenyum.


Belum lama pergi dan Arnita baru mengeluarkan ponsel dari tas selempangnya, Restu sudah kembali membawa satu botol air mineral dan satu kantong camilan.


Arnita menatap hangat wajah suaminya yang masih tersenyum semringah.


“Takut kamu haus apa lapar,” ujar Restu.


Arnita yang masih menatap wajah Restu berangsur mengangguk-angguk. “Berasa baru PDKT mau pacaran.”


Mendengar itu, Restu langsung memelotot syok, kemudian tertawa. “Ya sudah, aku mau langsung cari pecel!” ucapnya bersemangat.


“Semangat!” lirih Arnita masih tersenyum ceria.


Restu langsung tersipu, deg-degan. “Benar katamu, Mah ....”

__ADS_1


Arnita tersenyum geli kemudian kikuk menatap Restu. “Kenapa gitu, Pah?”


Kian tersipu, Restu yang sampai merasa pipinya terasa panas, berkata, “Berasa lagi PDKT buat ajak kamu pacaran. Sampai deg-degan keringetan gini!”


Mendengar itu, Arnita terpejam menahan tawanya, kemudian menutupi wajahnya menggunakan tangan kiri yang tidak memegang hape.


Undur dari hadapan Arnita, Restu langsung keliling pasar malam mencari pecel atau makanan yang asam tapi juga pedas. “Di pasar malam biasanya banyaknya semacam permen kapas, kan? Ah, coba aku cari ke sana siapa tahu ada pecel! Bentar, antre telor gulung dulu!”


Bertepatan dengan Restu yang baru akan antre, dari sebelah kanan ada yang buru-buru antre juga. Wanita berhijab dan sampai menabrak bahu Restu. Restu refleks menoleh menatap penabraknya, tapi sosok itu sedang fokus menoleh ke sebelah.


“Eh, maaf!” ucap si wanita sambil menatap Restu dan langsung membuat Restu mengernyit.


Restu merasa tidak asing dengan suara barusan dan benar saja, di tengah suasana di sana yang tidak begitu terang, apa yang ia pikirkan memang benar. Itu sungguh Azelia. Tidak ada lagi kemewahan dari seorang Azelia. Wanita itu tampak menjalani hidup dengan sederhana karena wajahnya saja kusam tak terawat. Selain itu, Azelia juga menjadi memiliki tubuh melebar, tak lagi langsing layaknya ketika menjadi istri Restu. Tak lupa, kenyataan Azelia kelayaban ke pasar malam yang biasanya bukan level wanita itu, juga membuat Restu makin yakin, tak ada laki-laki lain yang bisa membahagiakan apalagi memberikan kehidupan mewah kepada Azelia melebihi dirinya.


“Mas Restu!” berbinar-binar Azelia menatap pria gagah di hadapannya. Spontan saking girangnya, ia langsung memeluk Restu, tapi pria itu dengan spontan melepasnya.


Azelia kebingungan. “Maaf, Mas. Refleks, saking senangnya akhirnya bisa ketemu Mas lagi!”


“Kenapa malah begitu? Bukannya dulu kamu malah senang banget, bisa cerai dariku karena dengan begitu kamu bisa leluasa sama mantan terindah kamu?” sinis Restu.


Azelia menatap sedih Restu. “Dulu pun aku enggak mau cerai dari kamu, Mas! Kamu yang menceraikan aku sepihak!”


“Enggak mau cerai, tapi kamu rutin tidur sama mantan kamu dan buktinya setelah dipenjara, kalian nikah, terus kalian jalani proses hukum sebentar, kemudian kalian keluar dari penjara karena uang jaminan. Yang aku tahu kabarnya seperti itu!” balas Restu masih sinis.


“M-mas!” ucap Azelia sembari menghela napas dalam.


“Kamu menikmati perselingkuhan kamu, Li. Bahkan kamu sengaja selingkuh buat balas dendam. Balas dendam mengada-ngada karena emang dasarnya kamu yang enggak bener!” sergah Restu yang kemudian berkata, “LEPAS DARI KAMU, AKU BENAR-BENAR BAHAGIA. KARIERKU MAKIN BAGUS, KESEHATANKU YA ALHAMDULLILLAH MAKIN BAIK, REZEKI MAKIN MELIMPAH, DAN KELUARGA KECILKU JUGA ALHAMDULLILAH.”

__ADS_1


Azelia langsung berkaca-kaca mendengarnya. Malahan, wajahnya jadi makin dipenuhi kesedihan. Ia menunduk pedih. “Alhamdullilah, Mas kalau gitu. Aku ikut senang.”


Restu sudah langsung tidak merespons. Ia memesan lima puluh tusuk telur gulung. “Eh, tapi takutnya kurang, Mas. Minta seratus dulu deh. Berapa? Tapi saya tinggal dulu, ya, mau keliling.” Restu mengeluarkan dompetnya dan segera melakukan pembayaran pada tukang telur gulung yang langsung sibuk tersenyum kepadanya dan mungkin efek ia telah beli dalam jumlah banyak.


“Makasih banyak, Mas!” ucap penjual telur gulungnya setelah memberi Restu kembalian.


“Sama-sama, Mas. Kalau bisa tolong cepat yah, soalnya yang nungguin lagi ngidam!” ucap Restu.


“S-siap, Mas!” sanggup penjual telornya.


Restu balas tersenyum. Kenyataan yang tentu saja jarang ia lakukan sebelumnya apalagi jika kepada orang asing. Kemudian yang ia lakukan adalah buru-buru pergi dari sana tanpa sedikit pun peduli kepada Azelia.


“Yang nunggu lagi ngidam?” lirih Azelia kebas menahan cemburu. Sungguh, ia langsung cemburu mendengar itu. Apalagi gosip yang beredar, istri Restu yang sekarang sangat cantik, orang kota. Dan Restu sudah memiliki seorang putra tampan dari pernikahannya.


“Mas Restu! Aku beneran pengin sama kamu lagi. Aku, ... aku pengin kita kayak dulu lagi,” batin Azelia.


Sambil fokus menatap kepergian punggung Restu, Azelia buru-buru menyusul pria itu. Pria yang begitu ia damba untuk kembali menjadi suami sekaligus bagian terpenting dalam hidupnya. Apalagi sejauh ini, memang tidak ada laki-laki yang lebih baik dari Restu untuknya. Tak ada laki-laki lain yang bisa membahagiakannya, memberinya kehidupan mewah melebihi seorang Restu. Karena jangankan hidup mewah, cukup saja belum ada.


Restu masih mencari-cari pecel, tapi ia tak kunjung menemukannya. Namun di pinggir jalan, ia menemukan ruko gado-gado.


“Mbaknya bisa buatin pecel, enggak? Istri saya lagi ngidam dan pengin pecel banget,” ucap Restu.


“Di sini adanya gado-gado, Mas. Karedok, kalau bahasa orang sininya. Karedok mirip pecel, bumbunya masih kacang dan bahannya mentah,” jelas Mbak-mbak penjualnya.


“Mentah? Bisa bikinin yang mateng enggak? Takutnya kan lagi hamil kan harus serba mateng. Yang mentah tetap ada, bikin lima porsi, yang mateng juga lima. Ada kupat juga, ya? Ini semacam gantinya lontong, kan?” Restu membeli semuanya dengan sangat rinci.


Sementara Azelia yang mengikuti hanya gigit jari. “Istri Mas Restu beneran lagi hamil lagi? Pantes Mas Restu bahagia banget, pas sama aku saja, dia sudah langsung pengin punya anak, dan sekarang setelah lepas dari aku, dia sudah mau punya dua!” batin Azelia, masih ingin kembali menjadi istri sekaligus bagian terpenting dari seorang Restu.

__ADS_1


__ADS_2