
Berpisah dari Mario dan membuatnya memergoki sang mamah tengah menggendong Rayyan keluar dari ruang kerja Restu, membuat hati Fiola seolah terketuk. Bersamaan dengan itu, ingatan Fiola juga langsung dihiasi sederet perhatian sang mamah yang begitu peduli kepadanya maupun Rayyan. Hal yang selanjutnya terjadi adalah terputarnya cerita Mario mengenai pria itu yang dijerat dengan peraturan konyol dari keluarga bahkan sang mamah, di ingatan Fiola. Detik itu juga Fiola merasa, dirinya sangat beruntung. Sudah sewajarnya ia bersyukur sekaligus jauh lebih menghargai apa yang ia miliki.
Tersenyum semringah, Fiola langsung bersikap ceria. “Rayyan!” Ia sampai agak berlari kemudian mengulurkan kedua tangannya dan mengemban Rayyan.
Ibu Rembulan yang melihat secara langsung perubahan drastis sang putro, sampai merinding. Wanita cantik itu refleks memastikan kedua tangannya, ia dapati, bulu halus di sana yang kompak berdiri.
“Jangan sampai, aku juga jadi mamah egois kayak mamahnya mas Mario!” batin Fiola yang tiba-tiba saja ingin menjadi mamah yang baik untuk Rayyan. “Dikenang sebagai orang jahat apalagi oleh anak sendiri beneran enggak enak!” batinnya sambil mendekap erat tubuh Rayyan, menimangnya penuh cinta.
“Kamu kenapa?” tanya ibu Rembulan yang malah menjadi mengkhawatirkan perubahan drastis seorang Fiola.
Fiola langsung tersenyum kemudian menggeleng, mencoba menepis kekhawatiran sang mamah.
“Jangan bikin Mamah takutlah,” lanjut ibu Rembulan tetap takut dengan perubahan drastis. “Kamu habis dapat job bagus, ya? Atau jangan-jangan, kamu malah lagi jatuh cinta? Enggak biasanya kamu gitu.”
Meninggalkan Fiola yang akhirnya mendapat ilham, Arnita dan Restu juga tengah merasakan bahagianya menjadi pasangan sekaligus orang tua. Apalagi walau baru memiliki seorang putra, kebersamaan mereka sudah selalu heboh karena tingkah Devano.
“Kenapa Mamah suka menjahit?” tanya Devano yang merasa bosan dengan suara mesin jahit Arnita dan memang mengganggu fokusnya dalam merangkai setiap puzzel.
Arnita yang tetap membiarkan mesin jahitnya menyala langsung tersenyum membalas wajah datar sang putra. “Ya suka saja. Selain memang hobi, menjahit kan bisa bikin pakaian, bisa membenarkan pakaian yang kurang pas atau malah rusak, dan kita juga bisa dapat uang dari hasil jahitan kita!”
Dengan tampang yang tetap judes, Devano berkata, “Jadi, menjahit ibarat hobi yang menghasilkan duit, yah, Mah?”
__ADS_1
Arnita berangsur mematikan mesin jahitnya walau tatapannya fokus menatap Devano selain ia yang sudah langsung sibuk mengangguk.
“Kirain mesin jahitnya enggak penting,” celetuk Devano yang kembali duduk di lantai tak jauh dari Arnita tengah menjahit jas pengantin milik Restu.
Arnita terheran-heran menatap Devano. “Memangnya mesin jahitnya mau Kakak apain?”
“Mau aku buang,” sinis Devano tanpa menatap atau sekadar melirik sang mamah.
Arnita langsung diam dan tak berani bertanya lagi.
“Kalau Mamah berisik, Kakak mainnya di kamar saja,” ucap Arnita yang ragu melanjutkan jahitannya bahkan sekadar menyalakan mesinnya.
“Malas,” singkat Devano masih judes.
“Kaka, ....” Arnita mulai menyalakan mesin jahitnya, dan di sebelahnya, Devano langsung menatapnya. “Sering kali, di balik keindahan, ada proses yang sungguh penuh perjuangan.”
''Seperti halnya Mamah yang bikin Kaka keberisikan gara-gara mesin jahit Mamah yang Mamah pakai untuk menjahit, Kakak pun harus berjuang dan butuh konsentrasi tinggi hanya untuk menyusun setiap kepingan puzzel milik Kakak, kan?” lanjut Arnita. Kemudian ia memergoki Devano yang langsung terdiam bahkan tampaknya merenung serius.
Devano tidak menjawab, tapi tatapannya berangsur mengawasi puzzel miliknya sekaligus mesin jahit milik sang mamah. Bisa Arnita pastikan, jika keadaannya sudah begitu, Devano yang memang pintar, sudah langsung paham arah dari maksud ucapannya.
Walau awalnya cuek karena terlalu fokus pada hamparan puzzel yang harus disusun, pada akhirnya Devano terpukau dengan jas milik Restu dan baru saja Arnita selesaikan.
__ADS_1
“Bagus banget, kan, ya? Papah Kakak pasti makin keren kalau pakai jas ini!” ucap Arnita sengaja memamerkan jas putih keemasan yang baru selesai ia buat.
Devano terdiam dan memang karena tak bisa berkata-kata. “Kalau hobi menjahit Mamah bisa bikin mamah bikin pakaian dan salah satunya jas Papah, hobiku nyusun puzzel bisa menghasilkan apa, Mah?” tanyanya yang kemudian berkata, “Aku serius tanya, Mah. Soalnya kalau hobiku menyusun puzzel enggak ada gunanya, aku bakalan buang semua ini!”
Sebenarnya Arnita tidak ingin tertawa, tapi hobi Devano yang apa-apa serba buang membuatnya tak bisa untuk tidak tertawa. “Kakak, apa-apa jangan serba buang, ih. Setiap hal pasti ada manfaatnya walau levelnya nggak sama. Itu Kakak hobi nyusun puzzel seluas itu padahal Kakak masih kecil, kan bagus buat konsentrasi Kakak.”
Devano berangsur menghadap sang mamah, menyikapi wanita cantik itu dengan jauh lebih serius. “Kok Mamah bilang Kakak masih kecil, kata Papah Kakak sudah besar makanya Kakak dikasih adik?”
Arnita langsung syok. “Waduh, ternyata aku salah ngomong!” batinnya merasa kecolongan, tapi tak lama setelah itu, ia malah menertawakan dirinya sendiri.
Semenjak Restu kembali dan ia keluar dari perusahaan, Arnita memang lebih memiliki banyak waktu dengan Devano. Semuanya berjalan sesuai tujuan Arnita agar ia tidak membuat putranya itu kesepian apalagi kekurangan kasih sayang seorang mamah lagi. Selain itu, Arnita juga tengah berusaha menebus masa-masa emas mereka yang harus mereka korbankan karena kesibukan Arnita di masa lalu. Sebab sebelum mereka bertemu Restu, Arnita selalu menitipkan Devano karena ia harus tetap bekerja. Sementara kini, belum ada dua bulan berjalan, hubungan mereka malah sudah mirip sahabat. Malahan Arnita merasa, dari semua sahabatnya di masa lalu dan semuanya hanya menyakitinya, Devano menjadi sahabat terbaik untuknya.
Tanpa terasa, waktu terus berlalu dan mengantarkan mereka kebanyak perubahan hal. Hingga mereka merasa semuanya berlalu sangat cepat bersama kebahagiaan yang menyelimuti. Hari ini menjadi hari resepsi pernikahan Arnita dan Restu. Acaranya diselenggarakan di hotel mewah walau acara tersebut terbilang privat. Arnita dan Restu begitu bahagia dengan resepsi pernikahan mereka yang mereka siapkan penuh cinta. Tak ada yang tidak bahagia karena sekelas Fiola yang sudah mendapatkan ilham, juga sampai heboh meminta warisan buket pengantin.
“Kamu pesan pakaian pengantin ke istriku, mau buat apa? Halloween-nan? Pasangan saja enggak punya kok mau nikah!” ucap Restu sengaja mengejek sang adik.
“Mas Restu ih, aku naksir banget sama gaun pengantin Kak Nita!” mohon Fiola yang masih berdiri di sekitar pelaminan. Mereka akan menjalani sesi foto keluarga.
“Mah, nanti kalau gaunnya sudah beres Mamah pakai, biarin Fiola foto sama gaun Mamah karena dia sudah langsung jadi fans beratnya!” bisik Restu tepat di sebelah telinga Arnita.
Arnita yang mendekap mesra sebelah lengan Restu menggunakan kedua tangannya hanya tertawa. Di depannya, sang putra yang begitu cool dan sampai memakai sarung tangan putih layaknya mereka, ia tugas memegang buket pengantinnya. Sementara di antara tamu undangan yang dihadiri hanya sekitar seratus orang, tampak Mario yang baru datang.
__ADS_1
Satu hal yang sengaja mereka lakukan. Karena walau di sana ada pak Iman dan juga orang tua Fiola sebagai orang tua mereka, mereka sengaja tidak mengundang pak Rustam ke panggung pelaminan. Mereka hanya mengundang pria itu sebagai tamu biasa untuk menyaksikan kebahagiaan mereka. Baru saja, Mario menghampiri sang paman yang terbengong gelisah duduk sendirian layaknya orang tersesat di antara sederet tamu undangan dan kebanyakan merupakan orang penting.