
Pak Iman yang sudah sampai ganti pakaian, langsung dijamu dengan baik oleh Arnita sekeluarga. Hanya saja, kecanggungan masih menjadi warna dari kebersamaan mereka, khususnya dari Arnita dan sang bapak. Lain dengan Devano yang masih saja tidak suka kepada sang mbah, dan malah sampai tantrum. Dari semuanya, malah Restu yang menjadi banyak bicara, sibuk mencairkan suasana kebersamaan di sana.
Makan malam kali ini terasa mewah untuk pak Iman. Apalagi selain sajiannya yang terlihat jelas disajikan spesial, suasana meja makan di sana juga mirip suasana meja makan yang pria itu lihat di acara televisi.
Meja makan berbahan kaca di hadapan mereka penuh dengan hidangan lengkap. Selain sayuran, sup, dan lauk-pauk, di sana juga sampai ada aneka buah yang ditaruh di wadah khusus berbahan kaca. Sementara untuk air minumnya juga tak hanya air putih. Ada satu poci besar berisi teh manis hangat yang tentu saja tidak semua kepala keluarga di kampung mereka berada, akan makan dengan menu selengkap itu.
“Makan yang banyak, Pak!” ucap Restu yang sengaja aktif bicara karena Arnita tak mungkin melakukannya.
Bagi Restu, akan sangat sulit untuk para introvert seperti Arnita, menjalin hubungan dengan sosok yang telanjur membuat mereka kecewa.
“Kalau Kakak sudah beres makan, nanti langsung gosok gigi sama pak Lukman, ya?” lirih Arnita yang masih memantau Devano. Karena meski di sebelahnya Devano makan sendiri, bocah itu masih belum begitu rapi dalam melakukannya.
Devano menatap berat sang mamah dan memang masih tantrum. Di sebelahnya, Arnita yang tengah makan ikan goreng dengan sambal kecap, langsung menatapnya penuh kepedulian.
“Mau Mamah suapin?” tawar Arnita, tapi sang putra yang selalu mandiri, lagi-lagi mendengkus sebal.
Arnita sadar, apa yang sebenarnya tengah Devano masalahkan. Terlepas dari semuanya Arnita juga yakin, masih karena penyebab yang sama dan itu sang mbah. Karena layaknya Restu, Devano juga tipikal yang akan menilai sifat seseorang dari pertemuan pertama mereka. Dan tampaknya, pak Iman telah memberikan kesan kurang nyaman di pertemuan pertamanya dengan Devano, beberapa saat lalu.
Ketika Arnita menatap Restu yang ada di sebelah Devano, ternyata pria itu tengah memperhatikannya. Tatapan mereka bertemu, tapi walau mereka kompak diam, mereka sama-sama tengah mempermasalahkan keadaan putra mereka.
“Kaka ingin disiapkan sesuatu?” tanya pak Lukman yang juga turut menyadari gerak-gerik tak nyaman dari bos kecilnya. Ia yang duduk persis di depan Devano dan memang tengah ikut makan bersama layaknya biasa sengaja berdiri, tapi Restu memintanya untuk tetap makan.
“Enggak apa-apa Pak Lukman. Pak Lukman lanjutin saja makannya. Si Kaka sedang ingin dimanja saja sama Papah Mamahnya. Sini Papah suapin. Kakak jagoan, kan?” ucap Restu yang sungguh mengambil alih piring makanan Devano kemudian menyuapinya.
__ADS_1
Dalam diamnya, pak Iman yang duduk di tempat duduk ujung berhadapan dengan Restu sadar, sang cucu tidak menyukainya. Alasan Devano tantrum begitu karenanya. Alasan yang juga membuatnya menjadi tidak nyaman. Ia menjadi tidak bersemangat melanjutkan makannya, padahal sebelumnya terasa sangat lezat.
“Rasanya gini banget, ya? Enggak nyaman, padahal semuanya sudah serba mewah. Malahan aku jadi merasa berdosa karena selama ini, aku enggak pernah kasih apa-apa ke Arnita. Malahan, ...,” batin pak Iman yang sekadar berbicara dalam hati saja tak kuasa melanjutkan ucapannya.
***
“Bertahun-tahun enggak bertemu, aku beneran ingin tahu.” Arnita sengaja memulai obrolan setelah semua makanan dibereskan dari meja makan oleh bi Ade beserta suami. Juga, setelah Devano diboyong pergi ke kamar oleh pak Lukman.
Kini, di sana hanya ada Restu, Arnita, dan juga pak Iman yang tengah Arnita interogasi. Restu juga sampai duduk di sebelah Arnita, bekas Devano duduk, hingga mereka menjadi tidak begitu berjarak.
Pak Iman menatap sang putri penuh keseriusan. “Maafin Bapak, Nit.”
Arnita menghela napas dalam-dalam, mencoba mengontrol emosinya yang seketika bergejolak akibat permintaan maaf dari sang bapak.
Lantaran Arnita hanya diam, pak Iman menjadi waswas.
Arnita langsung menyikapi sang bapak dengan sinis. Namun, ekspresi melempem sang bapak yang seolah akan membenarkan tudingannya, tak ubahnya mata tombak yang sudah langsung menghunjam ulu hatinya.
“Ya ....” Suara pak Iman tertahan di tenggorokan seiring ia yang menunduk dalam. Ia menjadi tidak berani menatap Arnita.
Tak hanya air mata Arnita yang lolos dari kedua ujung matanya kemudian membasahi pipi. Karena jantungnya juga seolah mengalami hal serupa. Pemacu kehidupan dalam tubuh Arnita juga seolah langsung berhenti bekerja detik itu juga.
Restu yang sudah menggenggam sebelah tangan Arnita, kian sibuk mengelusnya. Karena melalui elusan tersebut, ia tengah berusaha menenangkan sang istri.
__ADS_1
“Bapak dan ibumu menikah karena dijodohkan. Dan selama itu, ibumu tahu kalau Bapak tetap dengan mamak Misya.” Pak Iman tetap menunduk dalam.
Kebas. Dunia seorang Arnita mendadak hancur lebur tak berupa hanya karena pengakuan sang bapak barusan. Walau bukan ia yang merasakan pengkhianatan untuk sang ibu, rasanya tetap tak kalah menyakitkan dari ketika ia dikhianati oleh pasangan sendiri.
“Kalau kenyataannya memang begitu, berarti Bapak enggak lebih baik dari binattang. Binatanng saja enggak sejahat Bapak, Pak! Pantas seumur hidup Bapak, Bapak selalu susah. Ternyata memang Bapak sudah terlilit karma yang Bapak buat!”
“Satu lagi, sampai mati pun, aku enggak akan sudi memanggil wanita itu mamakku. Maaf, mulutku terlalu berharga untuk mengucapkan itu. Apalagi aku yakin, kejahatan kalian kepadaku sudah membuat mamakku menangis batin jauh di alam sana!” Tubuh Arnita sampai gemetaran karena emosi yang susah payah ia tahan.
“Pengecuut! Bannci! Katakan padaku, panggilan apa yang pantas buat Bapak setelah apa yang Bapak lakukan?” todong Arnita.
“Bapak sudah menikah dengan mamakku dan hasilnya sampai ada aku, tapi Bapak tetap jalan dengan wanita demit itu!” lanjut Arnita. Rasanya, ia sungguh sudah sangat ingin mengamukk.
“Dan bahkan kalian juga memperlakukanku dengan keji. Bapak juga sangat jarang membelaku. Tentunya aku enggak akan lupa kalau dari dulu, untuk Sita selalu ada. Namun jika untukku, Bapak selalu memintaku mandiri.”
“Satu lagi, andai dulu Juan enggak buru-buru melamarku, Bapak juga nyaris menikahkan paksa aku dengan duda beranak tiga yang masih teman dekat wanita demit itu! Sesakit itu memang Bapak! Pekok!” Berderai air mata, Arnita memilih pergi dari sana.
Restu tidak menahan dan memilih diam di sana, menyaksikan sang bapak mertua yang diam-dia. Ia pergoki berlinang air mata. Sampai detik ini, pak Iman masih menunduk dalam. Sesekali, isak penuh penyesalan juga terdengar dari pria itu.
Arnita yang melangkah cepat dan masuk ke dalam kamar, langsung ke kamar mandi. Berderai air mata, Arnita memilih membasuh wajahnya. “Ya Tuhan, begitu besar bara dendam dalam diriku. Betapa besar keinginan diri ini untuk menghancurkan kedua wanita itu!” batinnya. Tentu saja, kedua wanita yang ia maksud masih Sita dan ibu Misya.
“Sampai kapan pun, saya juga enggak akan pernah bisa memaafkan mereka apalagi menerima mereka sebagai bagian dari hidup Arnita, Pak.” Restu yang berucap lirih juga sengaja berkata, “Mereka enggak lebih baik dari samppah yang masih bisa didaur ulang. Mereka beneran enggak ada harga dirinya. Pertama ibu Misya, wanita itu jelas memang sudah sangat murrahan karena mau-mau saja menjalin hubungan dengan Bapak dan sampai ada Sita. Sedangkan Sita, mungkin dia begitu karena dia terlahir dari pasangan murahhan!”
“Lakukan sesuatu, tunjukkan ketegasan Bapak kepada mereka sebagai wujud penyesalan Bapak kepada Arnita maupun almarhumah ibu mertua saya!” Restu sungguh menuntut pak Iman.
__ADS_1
Mendengar itu, pak Iman langsung menatap Restu. Ia dapati, sang menantu yang sudah menatapnya penuh keseriusan.
“Sekali saja, tolong berguna untuk Arnita!” tuntut Restu. Kedua tangannya berangsur mengepal kencang di atas meja kaca yang memisahkan kebersamaan mereka.