
“Pulang kampung lagi, ketemu Lia lagi. Kira-kira, Lia masih nungguin papahnya Vano enggak ya?” ucap Arnita sambil mengelus-elus perutnya.
Setelah pulang dari resepsi, mereka langsung menginap di kediaman ibu Rembulan, kini di malamnya, mereka baru sampai kamar mereka. Seharian hingga malam, mereka menghabiskan waktu di sana bersama Devano dan pak Iman juga. Dan kini, Restu mendadak malas pulang karena teringat tingkah ajaib Azelia.
“Pulang kampungnya enggak usah saja, ya?” tanya Restu yang langsung mengambil posisi untuk tidur. Toh, pulang dari kediaman ibu Rembulan mereka memang sudah mandi. Mereka bersama Devano maupun pak Iman memakai piama lengan panjang warna kuning buatan Arnita.
“Enggak jadi gimana? Yang ada nanti Devano ngamuk. Lagian, biar mamah Wulan ngamuk ke Lia, biar Lia kapok!” balas Arnita. “Karena sepertinya memang wajib orang lain, dalam arti bukan kita yang melakukan itu langsung.”
Tersenyum ceria, Arnita langsung naik ke tempat tidur kemudian meringkuk di sebelah lengan sang suami yang akhir-akhir ini menjadi tempat favoritnya. Mendapati itu, Restu langsung tersenyum kemudian mengusap kening sang istri penuh sayang, sebelum tangannya itu sibuk mengelus perut Arnita.
“Sekarang, mual efek naik mobil sudah enggak separah awal, tapi malah pindah ke papahnya, ya?” ucap Restu dan Arnita langsung terkejut mendengarnya.
“Masa?” Arnita menatap penasaran kedua mata suaminya. Selain sayu, kedua mata Restu juga tampak merah.
“Ini saja lagi pening mual enggak jelas!” lirih Restu sambil mengangguk-angguk tersenyum pasrah membalas tatapan sang istri. Arnita yang memang menjadi jauh lebih sehat langsung tertawa riang.
“Bagi-bagi rezeki, loh. Berarti yang di perut sayang banget sama papah mamahnya!” ucap Arnita sambil mengelus-elus perutnya menggunakan tangan kiri.
“Sudah mau seminggu kayak gini, setiap turun dari mobil apalagi pas di kantor, mirip dewa mabook!” keluh Restu sambil memijati kepalanya sendiri.
“Berarti mulai sekarang Papah harus lebih hati-hati. Apalagi Papah kan pemarah, takutnya darah tinggi. Bentar aku ambilin minyak urut. Sini aku yang urut. Gantian, biasanya kan Papah yang urus aku.” Arnita yang masih belum bisa menyudahi tawanya berangsur bangun.
Arnita meraih minyak urut dari nakas di sebelahnya dan memang sengaja ditaruh di sana karena ia sudah terbiasa memakainya. Karena semenjak hamil lagi termasuk itu meski kehamilannya belum ketahuan, Arnita jadi terbiasa memakai minyak urut untuk kaki dan juga tangannya yang menjadi sering pegal-pegal. Biasanya jika Restu tidak ada semacam belum pulang, Arnita akan mengurut sendiri. Namun jika sudah ada suaminya bahkan walau pria itu baru pulang kerja, Restu mau-maunya saja mengambil alih. Jadi, kini Arnita yang membalasnya, gantian mengurus sang suami karena efek ngidam mendadak pindah ke Restu.
“Sayang, besok di kampung, Vano sunat saja, ya. Vano kan sudah ngerti asal dikasih tahu. Terus kayak kalau dikampung, naik kuda dan hiburannya kuda lumping. Tapi itu kalau Vano sudah sembuh. Harusnya semingguan, sunatnya sudah sembuh. Buat kenang-kenangan sekalian silaturahmi juga sama tetangga,” ucap Restu yang tengah tiduran dan membiarkan kepalanya dipijat Arnita.
__ADS_1
Arnita langsung semringah mendengarnya. Tentu itu kabar baik apalagi nanti, mereka akan pulang kampung ramai-ramai dengan orang tua Restu.
“Sekalian sama Rayyan, yah, Pah?” tanya Arnita memastikan apalagi sekarang, hubungan Devano sudah jauh lebih baik.
“Kalau Rayyan jangan dulu, soalnya mental sia enggak sekuat Vano. Nanti yang ada dia malah jadi nangis terus, bener kejadian deh, Rayyan dibuang ke kandang ayam sama si Vano,” balas Restu dan langsung membuat Arnita tertawa.
“Akhir-akhir ini aku perhatikan, Vano sibuk ngajarin bapak. Katanya biar gaul, biar enggak malu-maluin. Itu loh, bahasa sama pola pikirnya dewasa banget,” ucap Devano.
“Pas aku seusia Vano, aku juga sudah gitu sih. Aku pernah minggat pas mau dititipin ke nenek. Aku diam-diam masuk mobil, duduk di bawah tempat duduk belakang, padahal pas itu aku sudah dititipin ke nenek. Sudah dibekali dua koper besar. Nah pas sampai rumah, aku baru nongol dan mamah langsung marah-marah. Aku dipukulii pakai kemoceng yang ada di bagasi mobil. Aku ingat banget pas itu. Kalau papahnya Fiola sih emang dasarnya diem, cuma lihat bentar terus masuk rumah.”
“Masa lalu Papah jauh lebih miris dari masa laluku, walau pas dewasa, Papah langsung mandiri, yah, Pah.”
“Sebenarnya kamu juga mandiri, hanya saja kamu serba dibatasi sama Bapak. Nah pas aku kan, makin dewasa makin kelihatan kemampuan sama bakatnya, papanya Fiola langsung kasih fasilitas.”
Kemudian, keesokan harinya, masih pagi Devano sudah heboh karena tak sabar untuk pulang kampung. Devano sampai menggendong ransel kecil, memakai kacamata hitam lengkap dengan memakai topi maupun masker.
“Anak Papah mirip turis!” goda Restu yang belum naik mobil sudah pusing, mirip Arnita selama satu bulan terakhir.
“Papah mandi pakai kayu putih apa gimana sih, bau banget?” tegur Devano mendekati sang papah yang duduk di sofa tunggal ruang keluarga mereka.
“Papah tuh pusing, Kak,” ucap Restu sambil memijat-mijat kepalanya menggunakan kedua tangan.
Devano yang awalnya heboh memanggil sang kakek untuk lebih cepat, langsung mendekati Restu. Ia naik ke sofa dan kedua tangannya berangsur memijat-mijat kepala Restu.
“Ya sudah, Papah jangan capek-capek. Nanti kalau aku sudah gede, aku saja yang kerja, Papah di rumah saja,” ucap Devano.
__ADS_1
Restu yang langsung terharu bahkan berkaca-kaca, berkata, “Ah, masa Kakak gitu? Yakin, Kakak mau kerja buat Papah dan Papah beneran enggak perlu kerja?”
“Yakin ih!” sebal Devano bersama pijatannya yang makin bertenaga.
“Nah, Kak, gitu, Kak. Kencengin dikit!” balas Restu bersemangat dan malah sengaja jail ke Devano.
Devano yang sadar sang papah sedang menjailinya sampai refleks mencekkikk.
“Eh, eh, jangan!” teriak Restu buru-buru berdiri.
Arnita yang kebetulan baru keluar dari kamar dan melihat itu langsung menggeleng tak habis pikir. “Jangan jail dong Pah. Kebiasaan sih.”
Restu hanya tertawa kemudian berlari seolah-olah dirinya akan merebut Arnita dan Devano tak bisa bersama sang mamah lagi.
“Mamah, punya Papah.”
“Papah, itu Mamah aku!”
Keributan kini membuat Arnita berkomentar, “Dilanjut saja, nanti yang ada sampai di kampung, alamatnya Papah langsung dimasukin kandang bebek belakang rumah sama Vano!”
“Iya, gitu saja! Papah buang ke kandang bebek!” ucap Vano setuju kemudian memeluk erat Arnita apalagi Restu dengan sengaja tertawa jahat.
Sekitar setengah jam kemudian, mereka sudah ada di perjalanan dan Restu yang duduk di tengah bersama Arnita, sudah langsung tidur efek mabuk perjalanan. Lain dengan Devano dan sang mbah yang masih asyik menonton video di ponsel Devano. Sedangkan di belakang mobil yang mengangkut mereka, tampak Alphard hitam yang mengangkut orang tua Restu lengkap dengan Fiola dan Rayyan.
Pulang kampung kali ini benar-benar spesial. Tak hanya karena orang tua Restu ikut. Namun juga, nantinya Devano akan sunat. Selain itu, Restu dan Arnita juga yakin, kali ini Azelia akan menyerah karena ada ibu Rembulan yang akan menghadapinya.
__ADS_1