Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
76 : Kami yang Dulu Dibuang


__ADS_3

“Wah, Vano sama Papah Mamah, sama Oma, ada acara apa ramai-ramai ke sini?” tanya Mario sangat santun. Ia menyalami Restu maupun ibu Rembulan.


“Ini rumah kamu?” todong ibu Rembulan menatap Mario penuh terka.


Mario yang perlahan melepas jabatan tangannya dari ibu Rembulan, berangsur mengangguk.


Detik itu juga ibu Rembulan syok dan refleks mundur. “Kenapa dunia ini benar-benar sempit?” lirihnya refleks masih menatap tak percaya Mario. “Jadi, kamu anaknya Rustam?!” Baru menduga saja, ibu Rembulan sudah sangat emosi.


“Ibu Rembulan kenal dengan Paman Rustam?” tanggap Mario masih sopan.


“Hah?” Ibu Rembulan makin bertanya-tanya. Karena jika Mario bukan anak dari mantan suaminya dan sangat ia benci, kenapa Mario sampai menjadikan rumah di hadapan mereka untuk pulang?


“Saya anaknya mamah Reni kakaknya paman Ramlan, Bu,” ucap Mario.


“Sudah saya duga!” jengkel ibu Rembulan.


Di sebelah ibu Rembulan, Restu dan Arnita sudah langsung menduga-duga.


“Mereka benar-benar orang tua sekaligus keluarga aku, walau sebelum ini, saya sempat ditaruh di panti asuhan karena keterbatasan biaya hidup,” cerita Mario yang kemudian menunduk dalam, tapi di beberapa saat kemudian, ia sengaja memasang senyum dan sebisa mungkin menyikapi keadaan dengan tegar.


Dejelaskan oleh Mario, walau sudah sama-sama berumah tangga, pak Ramlan dan keluarga ibu Reni masih tinggal satu rumah. Jadi, di rumah itu benar-benar ramai apalagi jika sedang berkumpul karena sebagian anak ibu Reni maupun pak Ramlan memilih tinggal mandiri. Contohnya Mario yang walau belum menikah tapi sudah punya apartemen sendiri.


“Paman dan Mamah kamu apa kabar?” tanya ibu Rembulan tak bisa biasa-biasa saja apalagi untuk tidak emosional.

__ADS_1


Kendati demikian, Mario masih bersikap santun. “Alhamdullilah, Bu. Kemarin Mamah sempat jatuh, tapi sudah membaik. Mamah kan sekarang di kursi roda.”


Menyimak balasan Mario, dalam hatinya ibu Rembulan menjadi tak hentinya bersyukur. “Syukurin kamu, Mbak! Mungkin itu balasan karena dulu kamu kejam banget ke aku!” batinnya.


“Saya anaknya pak Ramlan. Bagaimana kabar dia? Kamu enggak usah terkejut apalagi bingung karena dari awal sepertinya adanya saya memang tidak diharapkan dan sengaja dibuang. Untung saja saya tidak sampai dititipkan ke panti seperti kamu!”


Walau Restu memintanya untuk tidak terkejut, tetap saja pengakuan dari sang CEO dan hampir sepuluh hari ini izin, langsung membuatnya terkejut. Dan jika Restu anak pamannya, dengan kata lain mereka masih saudara!


***


“Mario enggak salah loh, Mah. Yang salah yang tua. Yang salah itu tante Reni sama papahku. Karena seberapa pun keji tante Reni ke mamah, kalau papahku waras, pasti dia enggak akan bikin keadaan jadi begini,” Ucap Restu penuh penekanan, tak lama setelah mereka ditinggal oleh Mario masuk ke dalam.


Suasana rumah di sana terasa tua dan ibu Rembulan sebagai sosok yang pernah tinggal, membenarkannya. Bertahun-tahun tak tinggal di sana bahkan nyaris tiga puluh satu tahun lamanya, semuanya tetap terasa sama dan seolah tak tersentuh renovasi.


Tak bisa Arnita pungkiri, setegar apa pun seseorang, tetap akan ada masa orang tersebut membutuhkan orang lain. Layaknya yang tengah sekarang Arnita lakukan kepada sang mamah mertua, walau wanita itu punya segalanya, tetap ada masa wanita itu membutuh uluran tangan bahkan pelukan.


Ibu Rembulan mengangguk-angguk paham. Membuat Arnita refleks tersenyum lega kemudian mengalihkan perhatiannya kepada sang suami yang duduk di sebelahnya.


“Mas bagaimana? Mas baik-baik saja, kan?” lirih Arnita.


“Ya biasa saja. Marah, kecewa, ... hanya sekadar itu. Toh mau menuntut, paling ya akhirnya mentok di kata maaf. Sudah lah terserah mereka. Aku enggak pernah takut aku enggak bahagia tanpa mereka karena aku yakin, aku bisa dan aku memang punya kemampuan. Kecuali kalau aku sampai ditinggal kamu lagi, ... sudah, mentoknya paling aku gilaa!” lirih Restu emosional sambil menunduk.


Arnita berangsur menyandarkan kepalanya ke bahu Restu. “Aku enggak akan pergi apalagi meninggalkan Mas lagi.”

__ADS_1


Setelah sekitar lima menit berlalu, akhirnya pertemuan yang ditunggu-tunggu terjadi juga. Ibu Reni yang sudah si kursi roda, memiliki perawakan besar, selain wajah wanita itu yang tampak sangat garang. Awalnya ibu Reni tidak mengenali ibu Rembulan maupun Restu. Wanita itu mengenal Restu dan ibu Rembulan sebagai bos dari Mario sesuai yang sang anak kenalkan. Barulah ketika ibu Rembulan bersuara, ibu Reni langsung tercengang.


“Apa kabar, Mbak?” ibu Rembulan menyapa dengan elegan sambil memangku tas mahalnya.


Ibu Reni yang terbengong-bengong juga sampai tidak bisa berkata-kata. “Ini beneran kamu, Lan?” Akhirnya pertanyaan itu terucap dari bibirnya.


Ibu Rembulan mengangguk-angguk. “Ya iya, memangnya siapa lagi, Mbak? Ini beneran aku, Rembulan yang Mbak jadikan musuh hanya karena sejak adik Mbak menikahiku, adik Mbak jadi membagi penghasilannya buat aku. Oh iya, kenalin, ini Restu. Restu ini CEO di perusahaan Mario bekerja. Nah kalau perusahaan mereka bekerja, punya suamiku yang sekarang. Terus ini, ini Arnita istrinya Restu, dia lagi hamil anak kedua, dan di sebelah Restu itu anak pertama mereka. Arnita juga merupakan desainer. Sebahagia ini hidup kami setelah lepas dari Mbak sekeluarga!” jelasnya penuh suka cita bersama kelegaan yang ia rasa. Kelegaan yang juga menjadi awal mula ia benar-benar merasa bahagia. Apalagi jika ia melihat tanggapan ibu Reni yang langsung tidak bisa berkata-kata memandangi wajah-wajah yang baru saja ia perkenalkan.


“Ini beneran Restu?” tanya ibu Reni memastikan.


Restu yang telanjur malas sekaligus muak, berangsur mengangguk.


“Kamu mirip banget sama papah kamu,” ucap ibu Reni.


“Padahal jelas-jelas dulu, Mbak juga yang fitnah aku hamil anak laki-laki lain. Pas baru lahir pun, Mbak juga yang maksa aku buat tes DNA. Gimana aku bisa tes DNA, kalau biaya hidup sama sekadar lahiran saja, pakai uangku karena suamiku sibuk urusin Mbak?” sinis ibu Rembulan.


“Kemarin Mamah juga sempat minta aku tes DNA, tapi pas lihat wajah Vano, Mamah langsung kicep saking miripnya wajah Vano dengan Mas Restu,” batin Arnita.


Tanpa peduli pada balasan sinis ibu Rembulan, ibu Reni kembali fokus menatap Restu. Ia memberikan senyum terbaiknya kepada Restu. “Kamu sudah menikah dan sampai jadi orang hebat. Bantulah papah kamu, kasihan dia sudah tua enggak ada yang bantu.”


Mendengar itu, ibu Rembulan benar-benar marah.


“Saya bukan panti sosial yang akan memberi dengan cuma-cuma apalagi kepada mereka yang dulu sengaja membuang saya. Sudah beda urusan,” ucap Restu dingin. “Alasan saya ke sini tak semata karena saya ingin memastikan, seperti apa manusia yang dulu dengan sangat kejiii berusaha melenyappkan saya!” tegas Restu masih berucap lirih, tapi sudah langsung membuat wajah ibu Reni pucat pasi.

__ADS_1


__ADS_2