Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
36 : Menjadi Orang Tua Siaga


__ADS_3

Luka-luka Devano akan menorehkan puncak rasa sakit di hari ini. Jadi, bocah itu bisa diprediksikan akan kesakitan meski ekspresi sakit Devano, sampai menyerupai kejang karena sekadar bersuara sengaja bocah itu tahan.


Devano terus berusaha kuat sebab bocah yang dewasa sebelum waktunya itu sadar, luka dan rintih sakitnya akan sangat melukai sang mamah. Lihat saja, mata mamahnya sudah sangat sembam, selain kedua mata itu yang terus mengawasinya nyaris tak berkedip.


“Aku lapar. Aku mau piza,” ucap Devano.


Didatangi Restu langsung membuat bocah itu tenang.


“Piza apa? Biar Mamah carikan. Di sekitar sini pasti ada,” sergah Arnita.


“Minta ke pak Lukman saja. Catat, dia pasti tahu!” sergah Restu sambil menatap Arnita.


Arnita buru-buru mengangguk kemudian segera meraih tasnya dari nakas sebelah. Ia mengeluarkan buku agenda dan juga pulpen dari sana, kemudian mencatat setiap pesanan sang putra.


“Mau sekalian chiken wings? Biasanya kamu suka banget. Ini lihat menu di web mereka, biasanya banyak pilihan. Kamu pilih, ya.” Arnita buru-buru mengeluarkan ponselnya dari tas, kemudian sengaja agak bungkuk karena ia memberikannya kepada Restu. “Papah, maaf. Di sini yang jadi bos Vano, bukan Papah. Tolong bantu pilih, aku mau ke kamar mandi dulu.”


Restu langsung menatap Arnita sambil menahan senyum geli yang mana ia juga sampai menggeleng. Tatapannya berubah dipenuhi peringatan.


“Memangnya, Papah bosnya Mamah?” tanya Devano yang sudah langsung menjadi pengamat baik.


“Ya, kalau di kantor. Tapi di luar itu pasti Mamah yang akan tetap menjadi bos. Lihat saja, Mamah pergi sambil menertawakan Papah!” ucap Restu. Di depan sana, Arnita yang sudah akan masuk kamar mandi sambil berusaha menguncir rambutnya, langsung menahan tawa. Tubuh Arnita menjadi terguncang pelan karena tawa yang ditahan.


Setelah mencepol tinggi rambutnya, Arnita sengaja membasuh wajahnya, mencucinya menggunakan sabun cuci wajah yang juga selalu menghiasi tasnya. Selain kedua matanya sudah terasa sangat panas akibat kesibukannya menangisi keadaan Devano yang sampai kejang, wajahnya juga terasa kaku karena air mata.


Melihat wajah Arnita yang tak lagi dipoles rias, lingkar mata wanita itu terlihat sangat hitam. Menegaskan betapa wanita itu kurang tidur bahkan istirahat. Kedua mata sendu Arnita yang kini tampak sangat sembam terlihat sangat letih. Kini wanita itu hanya memoles bibirnya dengan lipstik warna merah sementara wajahnya semacam hanya dipoles pelembab. Restu yang diam-diam mengamati menjadi tidak tega.


Restu memberikan buku agenda berisi catatan makanan yang akan dipesan, ponsel Arnita, dan juga semua uang tunai lembaran berwarna merah yang menghiasi dompetnya.

__ADS_1


“Memangnya pesan banyak banget, ya?” Arnita yang awalnya syok melihat banyaknya uang yang Restu berikan refleks kicep ketika pandangannya teralih pada deretan pesanan di buku agendanya.


“Aku belum sempat makan. Tadi, baru mau minum smoothie, kamu sudah telepon marah-marah mirip orang kesu-rupan. Gimana aku enggak panik,” ucap Restu yang juga mengatakan, dirinya sudah pesan kepada sang sekretaris untuk menyimpan smoothienya di kulkas beku.


Arnita memberikan wajah menyesal kemudian meminta maaf. “Ini, pak Lukman sudah dipesenin belum? Kalau belum mau aku pesenin sekalian.”


Restu yang masih menatap Arnita berangsur mengangguk-angguk. “Sudah.”


***


Menjadi orang tua siaga, itulah yang tengah Restu dan Arnita lakukan. Sesekali, Devano merengek pada Restu yang menyanding laptop, bekerja di sebelahnya.


Arnita yakin, andai kedua tangan Devano tidak sampai diperban, pasti bocah itu sudah digendong ke sana kemari oleh Restu. Namun baru saja, pria itu meminta bantuannya untuk melakukannya.


Restu mendekap tubuh khususnya punggung Devano dengan sangat hati-hati. Bersama Arnita yang memegangi botol infus Devano, sebisa mungkin mereka membatasi gerak tangan Devano. Di depan jendela kaca ruang rawat Devano yang gordennya sengaja Arnita buka, mereka menikmati suasana malam dari sana.


Arnita segera melakukannya.


“Pah, aku mau ke hutan tapi yang ada saljunya.”


Rengekan dari Devano barusan membuat hati Arnita terenyuh. Perlahan tapi pasti, hadirnya Restu telah membuat Devano menjadi bocah pada umumnya. Bocah yang mau merengek bahkan bergantung kepada orang tuanya. Kenyataan yang sebelumnya sangat jarang Devano lakukan. Karena selain menanyakan keberadaan papahnya, Devano tidak akan pernah menuntut hal lain kepada Arnita.


“Tentu saja. Kalau kamu sudah sembuh, kita ke hutan yang ada saljunya.” Restu langsung menyanggupi.


“Tapi di sana ada singa apa serigala, enggak, Pah?”


“Memangnya kenapa? Kamu takut?”

__ADS_1


“Papah takut enggak?”


“Enggak!”


“Papah enggak takut digigit?”


Sadar di sebelahnya, Arnita sibuk menahan senyum atas obrolan Restu dengan Devano, Restu melirik Arnita sambil berkata, “Daripada ke serigala dan singa, Papah jauh lebih takut ke Mamah!”


Detik itu juga Arnita langsung membeku kebingungan. Membuat tampangnya yang tetap cantik walau tanpa sentuhan rias berarti, menjadi tampak pi-lon.


“Hah ... kok gitu, Pah? Memangnya, Mamah kenapa? Mamah punya taring, apa juga punya tanduk?” Devano benar-benar penasaran. Untuk pertama kalinya, ia merasa kecolongan karena tak mengetahui alasan sang mamah wajib ditakuti dan sampai membuat papahnya takut. Padahal sejauh ini, Devano yakin mamahnya baik-baik saja.


Restu yang menjadi menahan tawa karena merasa berhasil telah membuat sang putra percaya, mendadak sibuk meringis karena sebelah tangan Arnita yang tak memegang botol infus, malah mencubit perutnya penuh kesal.


Tanpa ketiganya sadari, Mario yang melangkah hati-hati sambil membawa boneka Pororo berukuran besar, setelah sebuah parsel buah berukuran besar juga sampai Mario taruh di meja, menyaksikan kebersamaan mereka. Namun, Mario tidak sampai melihat wajah Restu.


Mario hanya melihat sebagian wajah Arnita maupun Devano. Keduanya apalagi Arnita terlihat sangat bahagia. Malahan sebelah tangan Arnita yang tidak mengangkat botol infus, menjadi melingkar di pinggang Restu. Arnita menyandarkan kepalanya pada bahu Restu yang sampai detik ini belum Mario lihat wajahnya.


“Pah, ... nanti kalau aku sudah sembuh, kita tetap bareng-bareng, kan? Aku mau pamerin Papah ke temen-temen. Ke Aunty Mia juga yang selalu bilang aku enggak punya Papah. Terus, nanti Papah juga tinggal bareng aku sama mamah, kan? Kita tidur bareng, yah, Pah!” Devano sangat bersemangat hingga melakukan gerakan berarti dan bocah itu berakhir merengek kesakitan.


Detik itu juga Mario merasakan sakitnya luka tak berdarah. Luka tak berdarah yang Mario pastikan lebih menyakitkan dari luka-luka Devano. Di tengah kedua matanya yang menjadi basah, Mario memilih pergi setelah turut meletakan boneka Pororo yang ia bawa, di ujung tempat tidur. Kendati demikian, Mario tidak akan menyerah. Pria itu hanya memberi Arnita dan juga Devano waktu untuk menyadari betapa tulusnya ia selama ini.


Kembalinya Arnita dan Restu, setelah Devano akhirnya tidur dalam dekapan Restu. Melalui tatapan mata yang benar-benar teduh, keduanya bersyukur.


“Untung, kita udah ketemu. Kalau belum, aku enggak tahu apa yang akan terjadi,” ucap Arnita. Ia menunduk sedih, tapi Restu tidak menjawab. Namun tak lama kemudian, bibir berisi pria itu menempel di keningnya.


“Aku sudah mengirimkan ribuan in-box ke fb kamu. Andai kamu buka, kamu pasti tahu dan kita bisa bersama sejak lama.”

__ADS_1


“Takut, Mas. Ngeri banget. Dinding dan in-box fb aku penuh hu-jatan,” balas Arnita lirih kemudian menengadah, menatap wajah khususnya kedua mata Restu yang masih ada di atasnya karena bibir pria itu kembali menempel di keningnya. Namun baru saja, di tengah tatapan teduh mereka yang masih beradu, bibir berisi milik Restu menempel di bibirnya dan Arnita segera membalas.


__ADS_2