Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
44 : Makan Malam Romantis


__ADS_3

Pintu kamar mandi terbuka. Restu yang sampai keramas, memakai kemeja lengan panjang warna maroon dipadukan dengan celana jeans warna hitam. Sementara Arnita yang baru beres rias langsung menoleh.


Restu yang awalnya biasa-biasa saja, langsung terkesima melihat kecantikan wanitanya. Apalagi, kenyataan rambut panjang Arnita yang sampai diblow, membuat kecantikan wanita itu makin paripurna.


“Cantik banget,” ucap Restu sambil menghampiri sang istri yang ada di sofa lipat sebelah ranjang rawat Devano berada. Sofa yang juga menjadi tempat tidur Arnita selama Devano menjalani rawat inap di sana.


Arnita mesem, membiarkan Restu menggeser tirai cokelat yang awalnya nyaris menutup rapat ruang keberadaannya.


“Aku enggak bawa baju khusus. Semuanya pakaian kerja,” ucap Arnita sengaja berucap lirih karena biar bagaimanapun, di sana tidak hanya ada mereka.


Restu yang duduk di hadapan Arnita, pura-pura memasang wajah kecewa.


“Enggak usah pura-pura,” ledek Arnita sambil menahan senyumnya dan sampai mencubit perut Restu.


Restu yang langsung tersipu sengaja menahan tawanya. Ia menatap tirai yang di sebelah Arnita dan memang tipis bahkan terbilang tembus pandang.


“Kenapa?” tanya Arnita yang sampai menoleh ke belakang, memastikan apa yang Restu lihat.


"Enggak kenapa-kenapa,” ucap Restu refleks mengelus-elus lutut kanan Arnita yang tak sepenuhnya tertutup rok span. Istrinya itu duduk dengan feminin, tak sampai membuat pahanya terlihat berlebihan. Benar-benar hanya terlihat sedikit.


Arnita melirik curiga Restu seiring kedua tangannya yang mengemasi seperangkat alat riasnya ke dalam tas.


“Kenapa?” tanya Restu lirih, menatap heran Arnita.


“Aku yakin, pikiran Mas sudah ngeres,” ucap Arnita.


Restu langsung tersipu. “Enggak apa-apa. Ngeres gara-gara istri sendiri. Lagian, sudah lama enggak ngeres kok.”


“Tapi sekali ngeres kayak habis kena angin putingbeliung, ya?” balas Arnita sambil menahan senyumnya dan tentunya sengaja meledek sang suami.

__ADS_1


“Putingbeliung enggak ada apa-apanya karena gara-gara kamu bisa lebih parah,” balas Restu.


Kali ini Arnita tak kuasa menjawab. Ia menahan senyumnya sembari menggeleng tak habis pikir. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di tempat parkir depan rumah sakit Devano dirawat. Di dalam mobil, Restu yang sempat gugup berangsur meraih sebelah tangan Arnita. Wanita itu langsung menatapnya dan detik itu juga tatapan mereka bertemu.


“Jujur yah, Mas. Kepalaku rasanya panas banget dan rasanya kayak nyaris meledak.” Kali ini, Arnita benar-benar berkeluh kesah. “Kapan yah, kita punya waktu santai?”


“Kamu mau resign saja, biar bisa urus Vano?” balas Restu. “Buka butik sendiri saja, bagaimana?” lanjutnya. “Jujur kalau bukan karena orang tua, aku juga enggak mau pegang jabatan itu apalagi kalau sudah gitu jadinya terikat.”


“Terus?” ucap Arnita.


“Aku cuman sanggup dua tahun, sih. Nyaman ya lanjut, enggak ya cabut. Lagian tanpa jadi CEO di sana pun, aku tetap bisa dapat penghasilan lebih,” balas Restu yang kemudian berkata, “Mau buka butik, enggak? Nanti aku urus biar kamu juga bisa istirahat soalnya aku lihat jadwal kerjamu beneran enggak kenal waktu. Meski kamu akan merasa sangat bahagia ketika rancangan sekaligus kerja kerasmu dipasarkan besar-besaran apalagi kalau sampai laris, ... coba kamu lihat ke sisi lain. Untuk sampai di situ kamu beneran harus mengorbankan banyak hal. Waktu, kesehatanmu, anakmu, ... aku.”


“Kerja enggak kenal waktu begitu hanya bagus buat mereka yang belum punya pasangan dan memang belum berkeluarga,” lanjut Restu.


Arnita memipihkan bibir bergincu merahnya. Tentu ia langsung memikirkan ucapan Restu. Setelah menunduk beberapa saat, ia berangsur menatap Restu lagi. “Aku bereskan tanggung jawabku di sana dulu, yah, Mas. Soalnya setelah proyek ini, aku juga ada satu proyek lagi buat koleksi blazer.”


Arnita menahan tawanya, menertawakan Restu yang mendadak bertingkah layaknya ketika pria itu menyikapi Devano.


“Sudah jalan. Nanti Devano nunggunya kelamaan,” tegur Arnita.


“Ciumm dulu,” lirih Restu yang kali ini benar-benar memohon.


Arnita langsung tersipu. Ia merasa sangat bahagia memiliki Restu yang sudah langsung memikirkan segala sesuatunya. Bahkan walau baru rencana, dengan semua yang telah terjadi sekaligus Arnita miliki, adanya Restu dalam kehidupannya dan Devano, seperti menjadi cahaya sekaligus pelangi yang begitu indah.


***


Restu membawa Arnita ke restoran mahal yang masih ada di sekitar rumah sakit. Tidak ada yang aneh, semacam Restu yang terus menggandeng sebelah tangannya pun dirasa Arnita merupakan hal yang wajar karena pria itu suaminya.


Suasana restoran terbilang ramai dan kebanyakan dari pengunjung saling berpasangan. Ada yang memilih mengobrol lirih dan terlihat sangat intens. Ada yang biasa-biasa saja, ada juga yang sesekali terbahak hingga membuat pengunjung restoran berkonsep romantis di sana menatap tak nyaman ke arah pasangan berisik tadi.

__ADS_1


Restu menuntun Arnita ke meja dekat jendela di paling depan, dekat panggung hiburan musik. “Sebelumnya selain sekarang, siapa yang berani ajak kamu makan malam apa jalan romantis gini?” ucapnya sampai membantu Arnita duduk. Wanita itu berterima kasih sambil tersenyum ceria memandanginya.


“Beberapa kali karena terpaksa dan seringnya Mas Mario, tapi semua itu gagal karena Vano lebih galak dari Ibu Suri,” ucap Arnita.


Restu mencebikkan bibir, cemburu, tapi ia meredamnya melalui ciumann bibir yang mendadak ia lakukan dan sukses membuat Arnita mencubit perutnya.


“Tempat umum!” bisik Arnita memberi peringatan.


Restu cuek, kemudian menarik kursi di hadapan Arnita. Ia duduk di sana, tak lama kemudian, seorang pelayan datang, memberikan buku menu. Sekitar setengah jam kemudian, pesanan mereka datang. Sajian pertama mereka sampai ditutupi tutup saji stainless.


Setelah mengucapkan terimakasih, Arnita membiarkan semua sajian dihidangkan oleh pramusaji yang sampai menggunakan troli untuk memboyong pesanan mereka. Selain makanan, ternyata Restu sampai memesan buket mawar putih berukuran besar. Di bagian tengah buketnya diselipi mawar merah yang sengaja disusun menyerupai bentuk hati.


“Kamu suka?” ucap Restu sambil menatap hangat Arnita yang langsung mendekap ceria buketnya. Istrinya itu sampai harus menggunakan kedua tangan hanya untuk mendekap buket pemberiannya.


Arnita mengangguk-angguk. “Berasa lagi pacaran!”


“Pacaran sama suami, dapat berkah ya pahala!” balas Restu. Tak hanya Arnita yang tersipu karena ia yang mengatakannya juga. “Ya sudah ayo kita makan!” sergah Restu.


Arnita kembali mengangguk-angguk. Sebab diberi buket bunga seperti sekarang membuat hatinya seolah turut dipenuhi buket satu kebun. Apalagi ulah Restu tersebut juga membuat semua mata di sana memperhatikan mereka. Mereka kompak menatap iri pada Arnita khususnya para wanita. Tentu, Arnita merasa sangat spesial.


Setelah meletakan buketnya dengan hati-hati di tempat duduk sebelah, membuat buket beraroma sangat segar itu dalan keadaan berdiri agar tidak rusaak, Arnita segera membuka tutup sajinya satu-persatu. Baginya, kini menjadi gilirannya mengabdi pada Restu, memuliakan pria itu dalam urusan makan.


“Mas mau makan apa dulu?” tanya Arnita.


Setelah tatapan Arnita teralih dari wajah Restu, menatap hidangan yang baru wanita itu buka dan tutupnya saja masih di tangan kanannya, Arnita langsung tidak bisa berkata-kata. Ada dua cincin emas di sana. Cincin yang merupakan cincin pasangan itu ada di lambar. Di sekitarnya merupakan kelopak mawar dan mawar putih yang dibentuk menyerupai hati layaknya buket yang sudah Arnita terima.


“Nikah, yuk? Nikah lagi dengan benar, meski buku nikah kita sudah jadi!” ucap Restu. Ia merogoh saku dalam jasnya, kemudian mengeluarkan dua buku nikah milik mereka.


“Seenggaknya, ... kita wajib mengadakan resepsi secara resmi, kan?” lanjut Restu. Kali ini ia berbicara sangat hati-hati, menatap penuh harap sang istri.

__ADS_1


__ADS_2