Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
78 : Terlalu Capek


__ADS_3

“Aku pikir-pikir, apa yang kita alami ibarat bukti nyata pentingnya menghargai,” ucap Arnita setelah mendapatkan segelas lemon tea dari sang suami. Walau niat awal ingin langsung pulang, Devano yang sedang senang-senangnya main di wahana permainan membuat mereka tak memiliki pilihan lain selain menunggu bocah itu main.


Restu menatap istrinya, langsung menyimak dengan serius. Di sebelah mereka dan merupakan wahana mandi bola dilengkapi dengan aneka perosotan, Devano tertawa riang main bersama sang oma.


“Karena roda kehidupan selalu berputar, sementara kita juga enggak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jangankan nanti, setelah ini saja, kita enggak tahu apa yang akan terjadi.” Arnita berangsur menyesap lemon tea hangatnya sambil menatap kedua mata suaminya dengan saksama.


“Kamu kenapa, sih, ngelihatin aku sampai segitunya?” tegur Restu yang memang langsung salah tingkah gara-gara terus ditatap berlebihan oleh Arnita.


“Aku salut ke Mas. Kalau aku perhatikan, dari dulu Mas selalu bisa menyikapi keadaan dengan sangat tenang,” ucap Arnita.


“Itu karena aku sudah terlalu capek. Dari kecil aku sudah dioper sana sini, enggak ada yang sudi urus. Capek banget rasanya,” ucap Restu. “Jadi memang bakalan bikin aku tambah capek kalau aku buang-buang tenaga lagi.”


Mendengar itu Arnita langsung menggunakan tangan kirinya yang tidak memegang gelas berisi lemon tea, untuk mendekap Restu. Tak hanya itu, karena ia juga sampai menyandarkan kepalanya pada dada pria itu.


“Hidup sama aku beneran simpel. Kalau mau aku urusin cukup ikuti peraturanku, tapi kalau enggak mau ya sudah silakan pergi,” ucap Restu.


“Sakit banget yah, Mas?” lirih Arnita sambil menengadah, menatap miris kedua mata sang suami.


“Iya, ... jujur sakit banget. Saking sakitnya jadinya rasanya capek!” ucap Restu.


“Bener sih ... saking sakitnya jadinya capek dan bahkan bisa mati rasa,” ucap Arnita.


“Mungkin aku juga sebenarnya sudah mati rasa. Apalagi pas Lia sama Ken selingkuh ya. Aku dengan sadar melihat mereka di tempat tidur super berantakan, dan mereka beneran polos enggak pakai baju. Itu beneran mati rasa banget. Sampai aku berpikir, ini aku masih hidup enggak sih? Aku sampai enggak bisa emosi. Kurang apa aku? Nah pas di mobil, Lia sama sekali enggak merasa bersalah padahal bukti sudah kuat banget. Ya sudah, aku sidang.” Restu menatap kedua mata Arnita dengan saksama. Wanita itu nyaris tak berkedip menyimaknya, kemudian mengangguk-angguk.


“Bener sih, kayaknya refleks enggak marah yang Mas ceritakan tadi beneran yang namanya mati rasa. Terus si Lia, ... dia beneran keterlaluan banget sih. Padahal aku berharap, dia juga bahagia dengan kehidupan barunya. Semoga dia cepat dapat hidayah, soalnya aku yang lihat saja udah capek banget,” ucap Arnita.


“Namun sejak akhirnya kita bertemu dan kamu kasih aku Devano, bahkan sekarang sedang proses satu lagi, aku beneran punya alasan buat jadi lebih baik lagi,” ucap Restu yang langsung disambut senyum ceria oleh Arnita.


“Mas, Mas! Aku haus. Aku mau minum, dong!” seru Devano sambil menatap sang papah.

__ADS_1


Mendengar itu, Restu dan Arnita kompak menoleh kepada sang putra.


“Mas, aku haus. Mau es!” mohon Devano masih ceria sambil loncat-loncat berpegangan pada benteng wahana permainan.


“Kaka ngomong sama siapa?” sergah Restu penasaran.


“Sama Mas Papah, kamu!” balas Devano yakin.


Restu dan Arnita kembali bertatapan dan Arnita langsung tersenyum kikuk.


“Mulai sekarang jangan panggil Mas lagi,” ucap Restu sambil mengangguk-angguk penuh arti kepada sang istri.


Sambil tersenyum ceria, Arnita mengangguk-angguk paham. Ia berangsur berdiri dari duduknya bersamaan dengan Restu yang mengambil satu gelas lemon tea dingin. Restu langsung mengurus Devano, sementara Arnita yang masih agak pening berangsur mengambil satu botol air mineral untuk sang mamah mertua yang juga menepi. Ibu Rembulan tampak kelelahan. Napasnya terdengar ngos-ngosan selain wanita paruh baya itu yang sampai kuyup keringat.


“Vano, daripada main perosot-perosotan, mending main yang loncat-loncat, yuk biar makin bakar lemak,” ucap ibu Rembulan.


“Takut lonct-lonctnya rusak karena Oma berat. Lagian kan, wahananya cuma buat anak-anak. Kalau Oma memang mau bakar lemak, ikut zumba atau senam yang bareng ibu-ibu, loh!” balas Devano jujur.


“Ah kata siapa cuma buat anak-anak. Biasanya Oma juga main sama Rayyan. Asal bayar pasti boleh!” yakin ibu Rembulan setelah selesai menenggak air mineralnya. Ia merasa jauh lebih segar setelah minum cukup.


“Kalaupun boleh, tapi memangnya Oma enggak malu main sama anak kecil? Kalau aku sih lihat saja malu. Tadi saja pada nanya ke aku, itu oma kamu? Aku enggak ngaku,” jujur Devano.


Restu dan Arnita kembali menertawakan balasan jujur sang putra yang langsung membuat sang oma mengomel.


“Mulut anak kalian jahat banget!” keluh ibu Rembulan setelah Devano pergi untuk kembali lanjut main perosotan.


“Lagian Mamah juga aneh, tahu wahana untuk anak-anak, sudah jadi nenek masih saja ikut main!” balas Restu.


“Mamah kan biasa jagain Rayyan. Kalau yang jagain biasanya boleh main dan memang wahana mainnya seru!” balas ibu Rembulan masih membela diri. Walau Devano tetap tidak mengakuinya sebagai Oma di setiap ia ikut main di wahana, ia tetap nyaman-nyaman saja mengikuti Devano mencoba setiap wahana di sana. Sekalian untuk meluapkan emosi agar ia tidak setres.

__ADS_1


***


Kesibukan sang mamah yang jadi sering menginap di rumah Restu, membuat Fiola cemburu. Ditambah jika sang mamah pergi, otomatis tidak ada yang membantunya mengurus Rayyan. Karenanya, Fiola sengaja membawa sang putra yang sampai saat ini masih memanggilnya Kakak, ke kediaman Restu.


“Ngapain kamu ke sini-sini?” sinis Devano langsung menghalang-halangi mamahnya dekat-dekat dengan Rayyan.


“Kakak jangan gitu, ... Rayyan ini adik Kakak. Saudara,” jelas ibu Rembulan sengaja.


Devano melirik Rayyan yang langsung menangis sambil memeluk Fiola. “Enggak ah, ... aku enggak mau punya saudara apalagi adik cengeng begitu!” ucapnya menolak bujuk rayu sang oma yang sampai merengkuh kedua lengannya, selain ibu Rembulan yang sampai jongkok guna mensejajarkan tinggi mereka.


“Mamah, ih. Yang nangis kan Rayyan, yang nakal Vano, ngapain Mamah malah peluk-peluk Vano?! Mamah makin lama makin pilih kasih ih!” kesal Fiola yang kerepotan mengemban Rayyan.


“Enak saja kamu bilang aku nakal!” kesal Devano yang langsung malas berurusan dengan Fiola dan Rayyan.


Devano memilih pergi sambil menggandeng sang mamah meninggalkan ruang keluarga kebersamaan mereka.


“Kalau Rayyan di sini, bisa-bisa Devano tantrum terus. Tapi bisa dicoba sih buat belajar biar Vano terbiasa berinteraksi sama adiknya,” pikir Arnita yang jadi merasa terganggu dengan omelan Fiola kepada sang mamah yang mengatai ibu Rembulan pilih kasih tidak mau mengurus Rayyan lagi.


“Mamah pilih kasih!”


“Pilih kasih gimana sih, Fi. Kan sudah dijelasin, kak Nita sedang ngidam dan di beberapa kesempatan beneran parah banget pusing enggak bisa ngapa-ngapain, takutnya jatuh apa gimana kalau enggak dijagain. Kayak kamu lah pas kemarin hamil Rayyan, kamu juga enggak bisa ngapa-ngapain, kan, tiduran saja?” ibu Rembulan berusaha menjelaskan.


Arnita yang tidak mau terjadi masalah serius sengaja menengahi, meminta ibu Rembulan untuk pulang sesuai kemauan Fiola apalagi di sana ada pak Iman.


“Nah kan, Mah, kak Nita saja enggak butuh Mamah!” semprot Fiola.


“Bukannya enggak butuh, Fi. Aku minta Mamah pulang, agar kita enggak ribut. Lagian, Rayyan kan anak kamu. Kenapa kamu membebankan ke Mamah kamu? Belajar urus sendiri kenapa?” ujar Arnita sengaja memberi Fiola peringatan keras. “Malu, kamu sudah jadi ibu, jadi jangan kayak anak kecil lagi!”


Fiola hanya mendengkus kesal kemudian buru-buru membawa Rayyan kabur dari sana.

__ADS_1


“Hei, kalau dibilangin yang sopan!” tegur Arnita yang juga sampai meminta Fiola tidak boleh pergi jika masih emosi. Arnita berani kepada Fiola karena Restu juga kerap memintanya untuk tegas pada Fiola yang emosinya masih sangat naik turun mirip anak kecil. Arnita ingin mencoba mengubah Fiola karena Restu sudah terlalu banyak beban.


__ADS_2