Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
97 : Papahku Super Hero!


__ADS_3

“Mamah, Didi lucu, ya?” lirih Devano sambil memandangi wajah sang adik dengan jarak yang sangat dekat.


“Gak lucu lagi, gemesin juga, kan?” sergah Arnita.


“Kayak Papah pokoknya! Lucu, gemesin, paket komplit.” Restu yang baru pulang sengaja menimpali dan bermaksud membuat Devano kesal. Namun, kali ini bocah itu mendadak antusias, hati-hati meninggalkan sang adik sambil merentangkan kedua tangan mendekatinya.


Restu menjatuhkan kedua tas kerjanya kemudian langsung mengemban Devano. “Duh, tumben begini. Ada yang lagi manja kayaknya. Apa Kakak lagi pengen apa?” ucapnya langsung menimang Devano penuh sayang.


Arnita yang sedang menyusun pakaian Divani di lemar bayi dan memang baru beres ia seterika hanya mampu tersenyum bahagia melihat kembar beda generasinya akur.


“Pah, hari ini aku kesel banget sama Miss Intan. Sumpah, Miss Intan pembodohan banget. Masa, kan aku sudah bilang, Papahku Restu. Aku enggak butuh Papah lain, enggak mau diganti-ganti pakai super hero. Teman-teman kan pada ganti superman, spiderman, batman, aku enggak mau! Kesel banget aku ke Miss Intan. Makanya aku bilang, papahku Restu, super hero Restu!” Devan bercerita sangat antusias.


Restu langsung antusias bahkan bangga. Arnita yang awalnya fokus merapikan pakaian Divani yang walau masih bayi sudah banyak koleksi karena Arnita membuatkannya secara khusus, tak kalah antusias.


“Terus temenku pada bilang, heh, Devano. Pilih salah satu super hero di papan tulis yang pengin kamu jadikan papah buat acara hari papah besok! Ya aku enggak mau. Mereka bilang lagi, pilih superman apa batman yang bisa terbang! Aku balas dong, dikiranya aku enggak punya papah, papahku saja serba bisa! Kalau Papahku mau terbang itu cukup naik pesawat apa heli! Jangan halu!” lanjut Devano.


Restu sampai terbahak karena sejauh ini, Devano yang sangat realistis memang tidak menyukai aneka super hero yang disajikan dan sudah menjadi hal lumrah di masyarakat. Terlebih semenjak mereka kembali bertemu setelah lima tahun terpisah, walau Restu kerap jail kepada Devano, Restu selalu melakukan semua yang terbaik untuk Devano. Restu selalu memenuhi semua keinginan Devano. Pantas jika Devano menganggap sang papah sebagai super hero nyata dalam hidupnya.


“Jadi besok Papah enggak usah pakai kostum aneh-aneh. Enggak banget pokoknya. Besok Papah pakai jas sama dasi kayak biasa saja!” lanjut Devano makin pintar saja. Malahan Restu berpikir, andai ia membuka perusahaan mandiri dan menggaet Devano di masa depan, mereka akan sama-sama berhasil.


“Mah, besok si Didi kalau ikut jangan cuma pakai popok, ya. Takutnya dikira ngikutin gaya super hero!” usul Devano lagi.

__ADS_1


Arnita langsung mengangguk-angguk sambil tetap mempertahankan senyumnya.


“Lama-lama, gurunya yang dididik sama dia,” bisik Restu masih cekikikan tak lama setelah Devano minta diturunkan. Bocah itu kembali mengawasi sang adik dari jarak sangat dekat.


Arnita tetap hanya membalas sang suami dengan senyuma.Di tempat tidur mereka, Devano yang awalnya agak tengkurap di sebelah wajah Divani, perlahan meringkuk dan tampak terkantuk-kantuk. Selalu begitu setelah Devano mulai memiliki rasa sayang kepada sang adik. Bocah itu selalu ingin dekat Divani agar bisa selalu menjaganya. Apalagi jika Fiola datang, heboh Fiola yang selalu meledek akan mengambil Divani, langsung Devano usir. Dan semenjak itu juga, malam mereka selalu dalam formasi empat lengkap. Karena Devano juga akan tidur bersama mereka. Kadang jika Divani tidak dipindah ke ranjang bayi, Restu yang mengalah dengan tidur di sofa panjang yang ada di depan tempat tidur.


Bahagia, Arnita san Restu merasakannya. Baru memiliki anak sepasang saja, mereka begitu bahagia, apa kabar jika sungguh empat.


Keesokan harinya, di hari ayah dan dirayakan di sekolah Devano, bocah itu bangun lebih awal. Tak sengaja menyempatkan waktu untuk main dengan Divani yang sudah bisa berceloteh, tapi sekali lagi, Devano yang bawel sengaja mengingatkan sang papah yang sampai ia bangunkan untuk tidak memakai pakaian macam-macam.


“Iya, Sayang ...,” sanggup Restu tetap bertahan meringkuk di sofa soalnya dia sangat ngantuk.


Dalam diamnya, Arnita yang sedang memberi Divani ASI secara langsung sambil meringkuk menjadi berpikir, kelak saat dewasa, selera Devano untuk pasangan pasti sangat tinggi. Wanita itu harus lebih sabar dari Arnita, tapi Arnita juga berharap, Devano memiliki istri mandiri sekaligus tegas.


“Papah ...,” protes Devano cemberut lantaran sang Papah malah mendekapnya hingga yang ada ia menjadi mirip bantal guling.


Diam-diam, Arnita yang melongok, menertawakannya. Namun, Arnita tak berniat berkomentar karena urusannya bisa menjadi panjang.


Hari ini, hari ayah dan sampai dirayakan khusus di sekolah Devano, tampaknya Devano menjadi anak yang paling bahagia karena ia tak hanya ditemani sang papah, tapi juga satu kesatuan karena oma dan opanya termasuk Fiola dan Rayyan juga ikut. Kehadiran Fiola di sana langsung membuat semuanya antusias karena biar bagaimanapun, Fiola artis khususnya peyanyi.


“Papah keren banget, kan? Papah bisa datangin semua keluarga buat lihat Kakak tampil di panggung!” ucap Restu yang sudah mengemban Devano. Nantinya, putranya itu akan tampil menyanyikan beberapa lagu daerah sambil bermain angklung bersama teman sekelasnya.

__ADS_1


Devano yang juga memakai pakaian adat Jawa tengah lengkap dengan blankon, mengangguk-angguk. Mengenai seragam, tentu Arnita yang menyiapkannya secara khusus. Hingga dari semua murid, pakaian Devano yang terlihat paling pas. “Makasih banyak, Pah! Selamat hari ayah sedunia, tapi meski bukan hari ayah terus, aku juga selalu sayang Papah, meski Papah juga sering nyebelinnya.”


Mendengar itu, Restu yang awalnya terharu, menjadi tersenyum pasrah.


“Besok kalau aku sekolah di sini, aku mau minta papahku pakai baju batman!” ucap Rayyan yang sangat kagum pada papah-papah yang memakai kostum.


“Siluman dong papah kamu? Batman itu kan kelelawar! Papah kamu kan besok Mario!” cibir Devano yang mulutnya memang ditakdirkan tidak memiliki rem.


Rayyan yang diemban sang opa karena Mario tidak ikut dan tentu saja terikat pekerjaan dengan perusahaan, menjadi bengong.


“Mah, besok Om Mario suruh pakai kostum batman, ya?” pinta Rayyan sungguh ingin dan sampai memohon kepada sang mamah yang berdiri di sebelahnya.


Fiola mengangguk-angguk sambil tersenyum ceria. Tangan kanannya meraih sekaligus menggenggam sebelah tangan Rayyan.


“Jangan lupa, besok pesan kostumnya ke mamah aku, ya?!” ucap Devano dan lagi-lagi membuat Restu tertawa. Antara terharu sekaligus bangga.


“Si paling bawel, paling ngangenin!” ucap ibu Rembulan sambil mencubit gemas hidung Devano.


“Papahku super hero tanpa harus pakai kostum, Oma!” ucap Devano.


Ibu Rembulan langsung mengangguk-angguk. Dalam diamnya ia berpikir, walau di masa lalu ia sempat merasa sangat terluka, tapi semua itu sungguh terbalas dengan kebahagiaan anak dan cucunya.

__ADS_1


__ADS_2