
Terlepas dari kebahagiaan keluarganya yang terasa makin sempurna setelah hadirnya Divani, Restu tetap menyempatkan diri untuk memantau perkembangan keadaan Azelia.
Di rumah sakit Azelia dirawat, wanita itu masih koma menempati salah satu ruang ICU. Di sana ada orang tua sekaligus om dan tante Azelia. Semuanya kompak menatap Restu penuh harap cenderung menuntut keadilan. Padahal jelas, kebersamaan mereka di sana diawasi oleh dua orang polisi. Sebab memang tak hanya satu atau dua kepala keluarga saja yang merasa terganggu dengan kesibukan Azelia mondar-mandir di kompleks perumahan Restu. Ulah Azelia telah membuat mereka yang tinggal di sana merasa sangat resah. Hingga setelah mengetahui kecelakaan yang menimpa Azelia, semuanya kompak menuntut pihak Azelia untuk mengamankannya.
“Nak Restu, tolong bantu kami!” mohon ibu Sami. Ia mendekati Restu, tapi Restu berangsur menggeleng.
“Serahkan saja semuanya ke pihak yang berwajib, Bu. Yang ada kita salah jika apa-apa, Azelia sengaja dibela. Alasan saya ke sini pun seperti korban lainnya, saya mendukung pelaporan terhadap Azelia karena anak-anak saya sangat terganggu dengan tingkahnya.” Tentunya, Restu juga tidak lupa dengan kenekatan Azelia yang terus-menerus mendatangi rumahnya yang ada di kampung. “Belum lagi yang pas di kampung.”
“Jujur Bu, saya sekeluarga beneran capek, kami muak dengan ulah Azelia dan segala dramanya.” Restu mengakhiri ucapannya dengan menghela napas dalam.
Berderai air mata ibu Sami menatap Restu dengan sangat memelas. “Nak Restu, Ibu mohon dengan sangat. Mohon keadilan untuk Azelia.”
Restu berangsur menggeleng. “Dalam kasus ini, bukan saya pemilik dari keadilan, Bu. Dan jawaban saya masih sama, saya menyerahkan semua keputusan kepada pengadilan.”
Belum lama dari penegasan Restu, ibu Mimi selaku tantenya Azelia, mengabarkan Azelia akhirnya siuman.
Tanpa berniat masuk, Restu penasaran dengan kabar terbaru Azelia, sengaja hanya menunggu di luar sambil melakukan video call dengan sang istri. Dari seberang, Arnita mengarahkan kamera yang ditinggal pada keberadaan Divani, hingga layar ponsel Restu dipenuhi wajah cantik dari sang putri.
Di dalam, Azelia yang tatapannya kosong, terus mengeluh bahwa semuanya terlihat gelap.
“Mah ...? Mamah di mana, Mah? Mah, gelap banget, Mah, tolongin aku!” tangis Azelia makin tidak jelas lantaran mulutnya masih dihiasi selang ventilator yang membantu pernapasannya.
Ibu Sami makin kacau, apalagi ketika dokter yang datang dan langsung melakukan pemeriksaan, mengabarkan ada kerusakan serius di kedua mata Azelia. Semacam, Azelia mengalami kebutaan akibat kecelakaannya.
“Enggak mungkin ... aku enggak mungkin buta karena yang terluka kepalaku, bukan mataku!” protes Azelia yang malah marah-marah.
Orang tua Azelia hanya bisa meratapi nasib sang putri yang tengah menuntut keadilan.
__ADS_1
“Kalian pasti sudah malpraktek ke saya! Kalian apakan saya? Saya akan tuntut kalian!” tegas Azelia yang kemudian menyingkirkan selang ventilator hingga yang ada, ia jadi lemas sendiri.
Sikap Azelia tersebut pula yang membuat Restu muak. Restu yang awalnya melongok dari pintu memilih pergi. “Memang udah enggak waras sih. Makanya stres gitu!” kesal Restu dalam hatinya.
Dalam hatinya, Restu juga memutuskan menutup kisah Azelia dalam hidupnya maupun keluarganya. Apalagi selain telanjur sudah merasa sangat lelah dengan tingkah Azelia, Restu juga merasa, dirinya sekeluarga sudah sepantasnya bahagia tanpa bayang-bayang Azelia.
***
“Hah? Ngeri banget, Pah,” komentar Arnita ketika Restu menceritakan kabar Azelia.
“Biarin lah. Azab mungkin,” balas Restu yang kemudian merengkuh, mengemban sang putri yang awalnya ada di tengah-tengah tempat tidur mereka.
“Mau gimana lagi, Yang? Itu saja Azelia marah-marah, menuduh pihak rumah sakit telah melakukan malpraktek. Ngawur banget kan. Sudah begitu, bukannya sadar diri, lebih belajar dari masa lalu buat jadi pribadi lebih baik lagi, malah taii!” lanjut Restu.
Arnita juga makin tak habis pikir kepada Azelia sekeluarga. “Ya sudahlah Pah, ... nambah beban hidup saja.”
“Ya sudah, kamu makan. Mumpung Didi juga lagi anteng, belum ngereog!” balas Restu yang menjadi tersenyum memandangi sang putri.
Restu melepas kepergian Arnita dengan memukul gemas pantat wanita itu.
“Kalau Devano lihat, sudah dibuang Papah ke kolam ikan!” ledek Arnita, tapi Restu hanya cengengesan.
“Makasih banyak,” ucap Restu di tengah senyumnya.
“Terus saja gitu!” balas Arnita yang kali ini mengomel.
Keluarnya Arnita, bertepatan dengan Devano yang buru-buru masuk dengan kepada masih basah.
__ADS_1
“Kakak, kepala Kakak masih basah,” tegur Arnita.
“Enggak apa-apa, aku kuat!” balas Devano cuek karena fokusnya sudah langsung tertuju kepada Divani.
“Kakak les karatenya sudah pulang?” ucap Restu yang kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk disalami sang putra.
Devano yang langsung menyalami tangan sang papah dengan takzim berkata, “Jam segini kok Papah sudah di rumah? Papah enggak kerja, ya? Uh dasar pemalas!” cibirnya.
Mendengar itu, Restu dan Arnita kompak saling tatap.
“Papah kan cuma pulang lebih awal karena beberapa pekerjaan sengaja Papah kerjakan di rumah, Kak. Biar Papah ada waktu sama Kakak, sama Didi, Mamah. Kakak bilang, Kakak kangen Papah? Papah bilang, Kakak sebel kalau Papah pulang malam terus?” terang Restu mencoba memberi sang putra pengertian.
“Iya, sih,” balas Devano yang kemudian buru-buru duduk mendekati Didi penuh keceriaan.
“Nah, gitu dong akur. Mamah tuh pusing kalau kembar beda generasi sudah ribut, ditambah Didi juga nangis,” batin Arnita yang perlahan menutup pintu kamarnya dengan sangat hati-hati.
Arnita melangkahkan kakinya menuju dapur bersama rasa lega yang menyelimuti hatinya, setelah mendengar kabar terbaru Elia. Kendati demikian, Arnita tetap berharap Azelia menyadari kesalahannya kemudian bertobat menjadi manusia lebih baik lagi.
Di tempat berbeda, di ruang ICU semula, Azelia tengah membiarkan dirinya menjalani persiapan pemindahan ke rumah sakit khusus tahanan. Sebab walau ia sampai buta, hukuman untuknya tetap berjalan. Sementara mengenai kebutaannya, pihak rumah sakit sudah menjelaskan, ada saraf di kepala Azelia yang mengalami luka fatal dan berdampak ke penglihatan.
“Tuhan, kenapa Engkau sangat tidak adil? Jangan lupa, Arnita yang sudah jadi duri di rumah tanggaku, kenapa Enggak malah menyiksaku tanpa henti? Harusnya yang disiksa Arnita, bukan aku!” kesal Azelia dalam hatinya.
Dalam hatinya Azelia juga khawatir, hukumannya akan makin berat karena sebelumnya, ia sempat berurusan dengan hukum. Ia semat dipenjara selama empat tahun.
“Aku doakan kamu tidak pernah bahagia, Nit! Semoga kamu membusuk di neraka!” batin Azelia yang mendadak panik karena saat pemindahan tubuhnya, tampaknya petugas yang melakukannya malah tidak becus.
“Kalian kalau kerja yang becus, kenapa? Sakit ini!” kesal Azelia merintih kesakitan di lantai. sungguh, tubuhnya sampai terbanting.
__ADS_1
Ketiga perawat laki-laki di sana langsung mendengkus kesal melirik Azelia. Lagi, seperti sebelumnya, Azelia kembali membuat mereka kewalahan dalam mengangkatnya. Alasan tersebut juga yang membuat mereka kelepasan tubuh Azelia. Padahal jika melihat dari postur tubuh Azelia, wanita yang kabarnya buta dan terancam dipenjara itu terbilang kurus.
“Mungkin nih orang terlalu kebanyakan dosa!” bisik salah satu dari mereka yang memang berkerumun, tak kunjung mengurus Azelia yang benar-benar berisik, tak hentinya marah meragukan kinerja mereka.