Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
104 : Taubat yang Terlambat


__ADS_3

Fiola dan Mario mendapatkan pernikahan impian mereka. Arnita yang menjadi bagiannya merasa sangat bangga, apalagi gaun buatannya sudah langsung mencuri pusat perhatian. Hampir semua warganet membahas gaun Fiola, dan nama Arnita langsung diseret-seret karena sebelum ini pun, Arnita diketahui menjadi desainer dari brand yang Fiola populerkan.


“Bangga?” ucap Restu mengejutkan Arnita yang duduk di sebelahnya.


Mereka tengah berada di tepi pantai, menjadi tamu spesial resepsi kedua Mario dan Fiola.


“Enggak bangga lagi, ... sampai enggak bisa berkata-kata.” Arnita menatap sang suami penuh cinta di tengah kedua matanya yang berkaca-kaca.


Restu yang memangku Divani, tersenyum hangat kemudian membingkai pipi kiri Arnita menggunakan tangan kanannya. Ia mencium gemas punggung hidung Arnita, kemudian mengusap sayang perut wanitanya itu yang makin lama makin besar.


Usia kehamilan Arnita sudah masuk bulan ke enam, tapi baik Arnita termasuk Restu sama sekali tidak mengalami drama mengidam. Kini saja, mereka yang sama-sama sibuk, melakukan semuanya dengan leluasa.


Sambil fokus menyaksikan Mario dan Fiola berbincang sambil bercengkerama mesra di depan sana, Arnita berangsur meraih, menggenggam tangan kanan Restu sangat erat. “Ingat, Mas? Fiola yang dulu bagaimana?”


“Rasanya kayak melepas anak perempuan sendiri. Apalagi kita sama-sama tahu, akhir-akhir ini dia sering merengek ke aku. Akhir-akhir ini, hubungan kami sangat dekat,” lanjut Arnita masih berucap lirih seiring ia yang sampai merapatkan tubuhnya ke Restu.


“Kamu memang seistimewa itu. Makanya semua orang selalu nyaman sama kamu,” lirih Restu.


“Si Fiola sok cantik ya,” ketus Devano. “Jangan sampai si Fiola nyanyi lagi. Duh, pusing aku.” Memasang wajah flat, ia buru-buru menyumpal kedua telinganya menggunakan headset.


“Ya ampun Kakak. Presiden saja enggak sesentif Kakak,” ucap Restu sambil mencubit gemas hidung Devano dan kebetulan bocah itu duduk di sebelahnya.


Devano tetap cuek bebek dan memilih sibuk main game di ponselnya. Bahkan walau di depan sana, Fiola sampai beberapa kali menyapa, Devano hanya menatap musuh bebuyutannya itu dengan ekspresi datar. Hingga ketika wajah Devano tersorot oleh kamera dan memenuhi setiap layar di acara resepsi, Fiola yang memang sangat gemas kepada bocah itu, langsung terpingkal-pingkal.


“Vano, senyum!” mohon Fiola.


Terlepas dari kebahagiaan Fiola dan Mario, tentu yang paling tidak bisa dilupakan adalah keluarga Mario, dan selama ini sudah menjadikan terbiasa bergantung kepada Mario sebagai budaya. Ditambah Mario yang malah menikah dengan artis dan juga anak dari pengusaha kaya raya. Tentu kenyataan tersebut membuat keluarga Mario makin silau.


“Harusnya sih sudah enggak. Harusnya sudah aman,” yakin Restu, bahkan walau tempat duduk di sebelah mereka dihuni oleh keluarga dari Mario.

__ADS_1


Namun sepanjang kebersamaan, Mario tetap lebih dekat dengan keluarga Fiola. Mungkin karena meski selalu membiayai hidup keluarganya, hubungan Mario dengan keluarganya benar-benar hanya sebatas itu tanpa hubungan lebih. Termasuk juga semacam rasa hormat, dan sama sekali tidak pernah Mario dapat. Hingga yang ada, Mario yang sudah terbiasa bersama keluarga Fiola menjadi merasa jauh lebih dekat dengan keluarga istrinya itu.


“Walau Fiola juga jauh dari sempurna, aku rasa semua yang Mario dapat dari Fiola termasuk hubungan baik kita sebagai keluarga Fiola dengan dia, ibarat kado terindah yang sengaja Tuhan siapkan buat dia. Ditambah lagi, Mario yang memang penyuka anak kecil, akhirnya juga dapat istri sekaligus anak,” jelas Restu masih berbincang intens di tengah embusan angin cukup kencang yang menghiasi pantai kebersamaan mereka.


Arnita tersenyum hangat, merasa setuju dengan anggapan sang suami. Benar, menikah dengan Fiola ibarat hadiah terindah dari Tuhan untuk Mario. Karena dari Fiola, Mario merasakan indahnya apa itu keluarga yang selama ini belum pernah Mario rasa.


“Penyuka anak-anak, namanya pedofil, kan? Ini enggak baik, kan? Pak Lukman bilang begitu, jadi aku harus sangat hati-hati apalagi dari orang asing.” Devano menatap kedua wajah orang tuanya penuh keseriusan.


Restu langsung menghela napas lelah sebab pria itu merasa sangat kewalahan dengan setiap pertanyaan yang Devano layangkan. Lain dengan Arnita yang menjadi sibuk menahan senyumnya. Senyum yang juga langsung membuat Devano betah memandanginya.


“Beda lagi, Kak. Maksud Papah, om Mario ini penyayang anak kecil. Bukan pedofil yang jahat ke anak kecil.” Resty meyakinkan.


“Tapi aku baca di buku kakak kelasku, pedofil itu penyuka anak kecil dan juga penjahat kelamin!” yakn Devano.


Restu yang mendengar itu refleks bilang, ”ADUH!”


“Itu kira-kira, om Mario sayangnya karena penjahat kelamin juga, enggak, ya? Duh, padahal aku sudah kasihan gara-gara dia nikah sama si Fiola. Kasihan kan kalau dia hamil kayak Mamah tuh, perutnya gede, berat, nanti keluar Didin lagi! ” ucap Devano yang malah mengomel.


“Bosen, Pah. Sudah bolak-balik nonton! Aku kan sudah bukan anak kecil. Fiola bilang, adikku bakalan tambah lagi. Otomatis aku jadi tua, kan?” balas Devano.


“Kamu belum tua. Yang tua itu Papah. Sudah gitu saja!” yakin Restu, tapi tampaknya diamnya sang putra yang langsung berpikir serius, memang karena Devano meragukan balasannya.


“Sayang, kalau yang di dalam kayak gini lagi, kayaknya kepalaku bakalan penuh uban!” keluh Restu.


“Ya enggak apa-apa, Pah. Nanti kan aku cabutin ubannya Papah lebih gampang, tinggal digunduli cepat, kan?!” Devano sangat bersemangat.


Divani makin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kakak laki-lakinya sangat berisik, papahnya yang tampak pusing cenderung kesal, sementara sang mamah yang memakai gaun magenta layaknya dirinya, tak hentinya menahan senyum.


Meninggalkan kebahagiaan Arnita dan Restu yang dipusingkan oleh tingkah Devano yang serba tahu, di tempat lain, di tahanan khusus, Azelia tak hentinya berlinang air mata. Tatapan kosongnya karena matanya memang buta, membuat tampangnya yang tak lagi memakai kerudung sementara kepalanya sudah dipenuhi uban, menjadi makin menyeramkan.

__ADS_1


“Dunia ini benar-benar kejam. Orang buta sepertiku saja masih ditahan, padahal jelas-jelas Arnita yang salah. Semua ini bermula karena Arnita yang menjebak Mas Restu agar tidur dengannya!” batin Azelia.


Merasa muak, Azelia berangsur berdiri. Namun tak lama kemudian, sayup-sayup ia mendengar suara ibu Sami.


“Li, ayo pulang, Li. Akhirnya kamu bebas asal kamu ikhlas, Li.” Suara Ibu Sami terdengar tersedu-sedu.


“Kenapa semua orang masih saja memintaku intuk ikhlas,” ucap Azelia ketika sang mamah sudah sampai di hadapannya.


Ibu Sami langsung merawat sang putri yang menjadi tak terurus. “Istighfar, Li. Sudah saatnya kamu menyadari kesalahan kamu. Jangan sampai kamu menyesal untuk yang terakhir kalinya dan di saat itu beneran sudah enggak ada kesempatan untuk sekadar berobat. Jangan sampai kamu seperti Kenz, yang mati terpanggang sama teman-temannya, setelah asyik judi, mabuk, bahkan pesta wanita di rumahnya!”


Mendengar itu, Azelia yang baru selesai diganti pakaiannya dan itu kembali menggunakan gamis lengkap dengan kerudung, langsung kebas.


“Gimana, maksudnya, Mah?” Azelia berharap, ia hanya salah dengar. Karena biar bagaimanapun, Kenzo tetap menjadi cinta pertamanya. Kenzo tetap laki-laki yang membuatnya mabuk kepayang. Iya, mungkin Kenzo nol besar dalam urusan nafkah harta, tapi urusan batin dan kepuasan, pria itu tetap menjadi yang tak terlupakan.


“Satu minggu lalu, Kenz sama teman-temannya judi, mabokan, bawa banyak wanita enggak benar juga. Rumah Kenz kebakaran habis. Tinggal kusen sama bahan keras saja yang tersisa. Itu pun gara-gara ada hujan deras yang langsung memadamkan api. Orang tua Kenz juga ikut terpanggang di dalam rumah. Jadi, tetangga subuh-subuh sudah heboh karena memang enggak ada saksi mata. Walau masih diselidiki polisi karena dicurigai adanya tindakan kesengajaan, tubuh Kenz sama teman-temannya enggak bisa dilurusin. Dikubur gitu saja karena memang kaku. Enggak berakhlak banget pokoknya.”


“Makanya, kamu jangan sampai kayak mereka. Beneran terlambat tanpa dikasih kesempatan buat bertobat. Sekarang kamu belajar saja dari kejadian Kenz. Toh dari awal memang kamu yang salah. Kalau memang kamu mau menyalahkan, salahkan Sita dan mamahnya. Salahkan juga diri kamu, kenapa kamu malah memaksa Arnita menikahi Restu. Kenapa kamu malah sengaja selingkuh berulang kali dengan Ken. Yang salah beneran Sita, ibu Misya, dan terutama kamu!”


Setelah obrolan tersebut, Azelia menjadi merenung serius. Azelia merasa sangat ngeri, tapi ia juga tetap merasa dendam kepada Arnita dan teman-temannya.


“Tunggu di sini bentar, Li. Mamah mau beli soto babat bentar,” ucap ibu Sami yang langsung meninggalkan sang putri hanya berdua dengan sang bapak, sementara ia masuk ke kedai soto babat langganannya di sana.


“Duh, Li. Bapak pengin pipis. Yuk kamu ikut tunggunya di depan toilet, takutnya di sini kenapa-kenapa,” sergah bapak Azelia, tapi Azelia langsung menolak dengan dalih, dirinya akan jauh lebih malu jika harus menunggu di depan toilet laki-laki.


“Ya sudah, kamu di sini, ya. Bapak bentar, kok!” ucap Bapak Azelia yang buru-buru lari karena ia memang sudah sangat kebelet. Ia meninggalkan Azelia di tempat parkir depan kedai soto babat.


“Hah!” Azelia mengembuskan napas pelan. Ia tetap di sebelah motor orang tuanya karena keduanya merembetnya menggunakan motor bebek tersebut.


“Semuanya beneran gelap. Aku beneran buta gara-gara Arnita. Aku doakan, Arnita mati secepatnya. Aku doakan, Arnita mati secara tragis!” kesal Azelia tak kuasa mengakhiri kebenciannya kepada Arnita.

__ADS_1


Tak lama kemudian, dari depan yang merupakan SPBU besar, sebuah tangki minyak mendadak melesat kehilangan keseimbangan dan sampai menghantam Azelia yang seketika meninggal di tempat karena tubuh wanita buta itu tergilas oleh roda kanan tangki.


Semuanya yang terkejut dan sempat buru-buru melarikan diri dari area depan, menjadi tidak bisa berhenti merinding karena telanjur syok. Lain dengan orang tua Azelia yang langsung histeris mendapati tubuh anaknya nyaris rata dengan tehel di dekat jalan aspal sana. Ibu Sami langsung pingsan, setelah sebelumnya sampai menjatuhkan kantong berisi sotonya. Anehnya, hanya Azelia yang tertabrak. Motor bebek tua milik orang tuanya masih berdiri layaknya semestinya ketika bapak Azelia meninggalkannya.


__ADS_2