
“Jadi, kamu mau konsep yang bagaimana?” tanya Arnita yang tengah menghadapi Fiola dan Mario. Kebersamaan mereka ada di ruang kerjanya. Fiola dan Mario tengah memesan pakaian pengantin.
Arnita sudah membuat tiga buah desain gaun pengantin untuk Fiola dan Arnita nilai cocok untuk tubuh Fiola yang tinggi dan benar-benar semampai. Apalagi perawatan yang Fiola tekuni, membuat kulit iparnya itu makin lembut sekaligus mulus mirip tofu.
Fiola mengambil ketiga desain buatan sang kakak ipar yang langsung sukses membuatnya dilema. Bukan karena desain perkiraan dari Arnita untuknya hasilnya di luar ekspetasi. Melainkan karena semuanya bagus. Baik yang memakai lengan, tanpa lengan, maupun berlengan pendek.
“Sayang aku bingung,” rengek Fiola benar-benar manja kepada Mario yang awalnya serius menatap layar ponsel. Mario yang memakai kacamata bening karena mata pria itu sudah agak bermasalah.
“Bentar, ya. Ini Mas Restu minta laporan rinci acara kemarin,” lirih Mario tetap serius memandang layar ponsel yang juga menjadi tempat kedua tangannya sibuk mengetik.
Fiola yang menjadi manyun, berangsur menatap Arnita yang langsung membalasnya dengan tersenyum. “Ini si Devano belum pulang? Tumben biasanya jam segini sudah heboh di sini.”
Semenjak Arnita sibuk di butik, baik Devano maupun Divani memang akan ikut serta. Namun dari tadi, yang Fiola lihat hanya Divani yang sibuk menonton video lagu anak-anak sambil sesekali jogedan sekaligus sibuk sendiri di sofa lipat sebelah.
“Hari ini Vano ada semacam camping. Acaranya masih di sekolah. Jadi, nanti sore rencananya kami tengok ke sana. Kalau sekarang sih, pak Lukman tetap siaga pantau, takut kenapa-kenapa,” jelas Arnita.
“Lah, gurunya saja takut ke Vano, apalagi muridnya? Yang ada kalau aku yang jadi teman Vano, kayaknya aku bakalan ter kencang-kencang saking takutnya ke dia!”ucap Fiola yang menertawakan ucapannya sendiri.
“Sebenarnya nanti Kakak sama Mas Restu juga mau sekalian ketemu guru Vano. Karena katanya, kemarin mereka dapat teguran dari salah satu wali murid. Anak wali murid itu katanya enggak mau sekolah gara-gara takut ke Vano, sudah seminggu. Ini beneran berita baru banget dan tadi baru Kakak bahas sama Mas Restu,” cerita Arnita.
“Wah, jangan-jangan anak Kakak sudah bikin masalah. Atau anak si wali muridnya saja yang mirip Rayyan?” ucap Fiola yang lagi-lagi tertawa hanya karena teringat betapa takutnya Rayyan kepada Devano.
“Nah itu, ... sejauh ini sih, semua kasus begitu. Devano enggak bakal bikin masalah kalau yang bersangkutan enggak salah,” balas Arnita.
Fiola mengangguk-angguk paham. “Ya sudah, Kak. Nanti diberesin. Takutnya kasus ini jadi Devano dibully temennya juga.”
__ADS_1
Arnita mengangguk-angguk berat. “Kalau ini sih sudah. Beneran sudah kejadian, tapi Vano santai-santai saja. Tahu lah, anak sekarang meski masih di bawah umur, sudah banyak yang suka bikin drama. Kami sudah sampai dipanggil. Pihak sana hanya diwakili sopir meski Kakak sama Mas Restu mintanya, yang datang ini pihak keluarga. Kasus ini sudah beres dua minggu lalu.”
“Wah ....” Fiola melirik panik Mario yang ternyata sudah sampai menyimak. “Terus gimana, Kak? Mau pindah sekolah?”
Arnita langsung menggeleng tegas. “Enggak. Devano enggak mau. Dan kamu tahu alasan anak itu ngajak teman-temannya bully Devano?” Pernyataannya barusan sudah langsung membuat kedua orang di hadapannya penasaran.
“Kenapa, Mbak?” tanya Fiola yang lagi-lagi menoleh, menatap Mario yang juga balas menatapnya.
“Karena Devano terlalu ganteng sama pintar katanya. Dan karena Devano terlalu ganteng juga, pacarnya minta putus. Masih bocil sudah pacar-pacaran! Ya ampun!” Arnita memijat-mijat pelipisnya menggunakan kedua tangan. “Padahal itu sekolah elite, kan.”
“Kayaknya mirip masa kecilnya Fiola!” ujar Mario yang kemudian tertawa, merasa geli sendiri.
Fiola menatap geli calon suaminya. “Mas Mario paham banget,” lirihnya yang kemudian tertawa geli.
Fiola yang masih cengar-cengir berangsur mengangguk-angguk. Kemudian ia melirik Mario, dan menggoda calon suaminya itu dengan berkata, “Dengerin tuh Mas.”
“Yaiya, ini juga didengerin,” balas Mario benar-benar sabar dan langsung menyanggupi ketika Fiola mengajaknya ikut menjenguk Devano di acara camping.
“Mas, katanya cuti, tapi kamu masih sibuk sendiri. Masih urus pekerjaan juga,” tegur Fiola.
Mario hanya tersenyum dan menggunakan tangan kirinya yang tidak memegang ponsel, untuk mengelus kepada Fiola penuh sayang. “Sabar, ya. Yang namanya tanggung jawab dan pekerjaanku pun menyangkut banyak kepentingan, ... ya memang wajib begini. Toh, hasilnya juga masih kamu yang ngerasain.”
“Terus mau pilih desain gaun yang mana?” ucap Arnita takut lupa karena saat bersama, pasti ada saja yang diobrolkan, dan tak jarang akan membuat pembahasan utama mereka menjadi terlupakan.
Fiola menatap murung Mario, dan calon suaminya itu menanggapinya dengan menghela napas dalam sekaligus pelan.
__ADS_1
“Ta, Fiola pasti bingung. Bisa enggak, semua desain ini dijadikan satu konsep?” tawar Mario.
“Oke, bentar.” Arnita langsung membuat desain baru dan itu sungguh perpaduan dari ketiga desain yang sudah ia buat.
“Sayang lihat, segampang itu desainnya. Nah kalau aku yang buat, hasilnya ya manusia lidi apa busung lapar gitu!” bisik Fiola yang sampai mendekap manja tangan kiri Mario menggunakan kedua tangannya. Di sebelahnya, sang calon suami langsung menertawakannya.
“Setiap orang kan memang sudah ada jalan takdirnya masing-masing. Masa iya, hanya karena nasi jadi makanan pokok kita, kita wajib jadi petani padi? Enggak kan. Bayangin juga, andai semuanya jadi penyayi maupun artis kayak kamu, enggak berwarna banget dunia ini,” lirih Mario.
Fiola langsung tersipu manja. “Sayang, sebenarnya aku pengin gaun pengantin yang depannya pendek tapi ekornya panjang. Tapi usahakan biar pahaku enggak begitu kelihatan. Kalau kaki depan kelihatan sempurna kan bakalan bikin aku kelihatan jah lebih jenjang.”
“Silakan dibahas dengan ahlinya. Kakak iparmu saking gampangnya kok bikin itu,” ucap Mario dengan suara agak lantang, tak bisik-bisik lagi.
“Mmm, ... ada apa?” lirih Arnita langsung berkomentar dan berhenti mendesain lantaran tatapannya langsung fokus pada wajah kedua sejoli di hadapannya.
Yang langsung Fiola lakukan adalah menjelaskan setiap detail gaun pendek yang ia maksud. Namun lagi-lagi, Arnita membuatnya makin bingung karena konsep baru yang Arnita pilihkan juga tak kalah memukau.
“Saran Kakak, pilih gaun panjang dan belahannya di depan agak ke paha. Soalnya yang konsep bawahan pendek dan biar kelihatan jenjang, ini bagusnya buat acara resepsi di pantai, sementara acara resepsi kalian akan di dalam gedung.” Arnita menjelaskan serinci mungkin. “Bagaimana? Apa kalian mau ubah konsep resepsi? ”
“Bikin dua resepsi, yuk? Yang pertama di hotel, pakai gaun pilihan Kak Arnita. Yang ke dua, di pantai dan ini acara privat, pakai gaun pendek?” usul Fiola.
Arnita yang menyimak langsung tersipu. “Sudah langsung ketuk palu! Oke. Gitu saja, biar enggak nyesel. Bismillah, seumur hidup sekali.” Ia menatap kedua wajah di hadapannya penuh dukungan. “Bisa! Nanti gaunnya anggap saja dari Kakak dan Mas Restu. Dua pasang buat kalian! Acara di hotel pasti papah mamah yang urus, nah yang di pantai ini jatah kalian sekalian sewain kamar buat keluarga terdekat. Oke, kan?” usulnya yang mengakhirinya dengan senyum manis.
Fiola langsung tersenyum ceria sambil mengangguk-angguk kemudian menatap Mario yang juga langsung setuju.
“Weekend besok dibahas lagi, tapi nanti Kakak bakalan langsung bahas ke Mas Restu.” Dalam diamnya, Arnita masih merasa sangat takjub pada perubahan hubungan mereka. Sebab mereka yang awalnya tidak memiliki hubungan dekat, kini malah saling terikat dan tak hentinya saling memberikan dukungan. Sungguh Kuasa Tuhan yang Maha Membolak-balikkan rasa.
__ADS_1