Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
40 : Cemburu dan Pria yang Sama


__ADS_3

“Mario ...?” Batin Restu.


Nama itu langsung membekas di ingatan Restu. Nama yang juga langsung membuatnya teringat pada parsel buah maupun boneka Pororo berukuran besar yang kini menjadi teman tidur sang putra. Boneka yang juga langsung Restu pastikan keberadaannya.


Walau Arnita berdalih sengaja cerita agar tidak ada salah paham di antara mereka, agar Restu tidak mendengarnya dari orang lain, tetap saja Restu tidak bisa menepis kecemburuannya.


“Aku sudah jujur, loh, Mas.” Arnita menatap sebal Restu yang langsung menepis tatapannya.


“Wajar kalau aku cemburu. Aku kan suami kamu. Aku sayang kamu, dan selama lima tahun ini aku nyaris gilla gara-gara tanpa kamu.” Restu menatap serius Arnita yang malah duduk sila menghadap kepadanya, padahal yang ia inginkan, Arnita duduk bersandar manja kepadanya. Benar-benar gagal romantis.


“Sebenarnya aku juga khawatir hal semacam itu terjadi, tapi mau gimana lagi, Mas? Aku pun enggak punya kontak Mas. Aku enggak hafal juga jadi aku enggak bisa hubungi Mas,” ucap Arnita.


“Tapi, kenapa kamu sampai langsung enggak bisa dihubungi? Nomor ponsel kamu langsung enggak bisa dihubungi, padahal sebelumnya, kita masih komunikasi!” sergah Restu yang langsung berbicara cepat. “Bayangin, pas itu kamu sakit. Kepalaku beneran nyaris retak gara-gara mikirin kamu yang sedang sakit, tapi juga sampai enggak bisa dihubungi!”


“Orang pas ngamuk, Lia sampai buang ponsel aku, Mas. Pas Mas telepon sebelum ponselku enggak bisa dihubungi, Lia datang sama Ken. Lia beneran kayak kesurup-pan. Dia nga-muk aku, ... perutku sampai ditendang hanya karena dia tahu aku hamil!”


“Takutlah Mas, makanya aku mending langsung pergi jauh saja. Bayangin kalau Lia sampai ngelakuin hal lebih nekat? Atau malah, Lia ngerahin keluarganya buat menge-royok aku lagi kayak biasanya? Aku enggak yakin aku akan baik-baik saja kalau aku tetap ada di sekitar sana apalagi sampai bertahan. Pasti Lia sama keluarganya terus bergerak cepat!”


Mendengar cerita Arnita, kedua tangan Restu langsung mengepal sangat kencang. Azelia dan semua luka-luka dari wanita itu memang tak terlupakan.


“Pas aku mampir ke bidan pun, aku waswas banget takut disusul. Alhamdullilah, sebelah rumah bidannya travel dan aku sekalian ikut ke Jakarta.” Arnita membiarkan Restu memeluknya. Pelukan yang makin lama makin erat. Azelia dan semua luka dari wanita itu, Arnita sungguh tidak akan lupa satu pun. Luka-luka yang juga menjadi alasannya bertahan, menjadi orang sukses, yang bisa Arnita pastikan akan membuat mantan sahabatnya itu segan bahkan menyesal.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Arnita sudah mulai masuk kerja dan Devano ditemani oleh suster khusus. Arnita pergi kerja bersama Restu, merasa agak lega karena putranya sudah langsung mengizinkannya bekerja. Satu hal yang sedikit mengurangi beban Arnita. Karena mulai hari ini juga, pak Lukman resmi menjadi pengawal khusus untuk Devano.


“Pulang dari rumah sakit, kalian akan tinggal di mana?” sergah Restu yang kali ini menyetir sendiri karena pria itu berdalih belum menemukan pengganti pak Lukman. Belum ada yang cocok.


Arnita yang sedang menyusun berkas-berkas desain dan juga pekerjaan di pangkuannya, langsung menatap heran Restu. “Pertanyaan Mas, sangat rancu.”


“Di apartemen apa rumah saja?” lanjut Restu.


“Coba tanya ke Vano karena apa pun pilihan Vano, aku akan ikut,” balas Arnita.


“Vano penginnya di rumah, tapi yang ada saljunya, yang ada hutannya juga,” balas Restu.


“Berarti nanti sewa tukang desain ruangan saja buat bikin konsep kamar yang Vano inginkan. Semacam salju pun kayaknya bisa diakalin pakai apa nanti,” balas Arnita.


Arnita yang awalnya sudah kembali fokus pada setumpuk desain pakaian di pangkuannya, langsung membeku. Tatapannya berangsur menyapa wajah sang suami. “Mas ada masalah apa? Kok kesannya sengaja bikin aku sibuk mengobrol sama Mas?”


Restu merengut manja. “Aku cemburu, loh.”


Arnita terheran-heran. “Cemburu bagaimana, kan jelas-jelas aku sedang bareng Mas. Dan ini pun aku sibuk urus kerjaan, bukan urusan lain.”


“Hari ini berarti kamu bertemu Mario,” ucap Restu refleks.


Arnita langsung terkesiap menatap Restu. “Padahal yang naksir aku, bukan hanya mas Mario loh, Mas.” Ia mengakhiri ucapannya sambil menahan tawanya. Apalagi ketika tanggapan Restu langsung ngenes melebihi sebelumnya.

__ADS_1


“Ta, ... aku punya pengalaman buuruk dengan hubungan. Kamu tahu belum sih, Lia selingkuh parah sama mantannya apalagi pas aku tinggal sepuluh hari? Dan sebelum itu pun, Lia sama Ken sudah kasus.” Restu merengek sedih. “Tolong, aku beneran enggak mau kehilangan kamu.”


“Mas Restu sembarangan ih, nyama-nyamain aku sama Lia. Kami beda cara pikir, Mas. Beda level juga.” Arnita meyakinkan. “Ah, jadi penasaran, sekarang Lia seperti apa? Serius yah, Mas. Beres proyek, kita mudik!” Kali ini ia mendadak bersemangat.


“Harusnya dia juga masih di penjara. Karena terakhir, aku laporin perselingkuhan sekaligus perzinahannya dengan Ken,” ucap Restu tak lagi merengek.


Alasan yang juga membuat seorang Arnita tercengang. Pantas Restu trauma diselingkuhi maupun kehilangan istri. Karena sepertinya, hubungan Azelia dan Kenzo memang sangat parah. Terbukti, keduanya sampai dibui.


Sampai di kantor, Arnita dan Restu tak sampai bermesraan karena keduanya sepakat untuk profesional. Malahan, Arnita tak mau statusnya dalam kehidupan Restu sampai diketahui banyak pihak. Andaipun sampai iya, cukup pihak tertentu saja.


Restu melangkah lebih dulu dan Arnita melangkah di belakangnya. Kendati demikian, kedatangan keduanya sudah langsung menjadi pusat perhatian. Beberapa karyawan yang melihat langsung berkerumun, berbisik-bisik membahas Arnita dan Restu. Tentu tak hanya Arnita yang tahu karena Restu yang super cuek, dingin melebihi kutub, juga menyadarinya.


Di depan lift, Restu menoleh, menunggu Arnita yang masih akan memakai lift yang sama dengannya untuk ke ruang kerja wanita itu.


“Pulang kerja jadi menemui Mia di penjara?” ucap Restu.


Arnita mengangguk-angguk menatap Restu. “Iya, Mas. Aku beneran penasaran. Aku kesel. Ya pokoknya nanti kita lihat ya, walau dia belum mau ngaku alasan yang sebenarnya, Mas bilang, hari ini apartemennya bakalan digeledah.”


Terbukanya lift di hadapan mereka, membuat Arnita dan Restu kompak diam sekaligus menjaga jarak. Tak disangka, yang ada di dalam malah Mario. Pria itu hanya sendiri, tapi membawa buket mawar merah berukuran sedang. Mario langsung tersenyum hangat kepada Arnita, dan tentu saja langsung membuat hati dan jantung Restu otomatis gosong.


Refleks, Restu menggandeng Arnita, membawanya menyelinap masuk, tentunya menjaga jarak dari Mario. Sebab meski Mario sangat berjasa dan telah membantu Arnita sesukses sekarang, nyatanya Mario melakukannya karena pria itu mencintai Arnita. Tentunya Restu cemburu dan tidak rela melepas istri sebaik sekaligus secantik Arnita.


Pemandangan di sekitarnya membuat seorang Mario dilema. Akal kewarasannya mulai menerka-nerka membaca hubungan Arnita dan Restu. Juga, pemandangan dua malam lalu yang sudah langsung membuat ia mengalami luka tak berdarah.

__ADS_1


Terpikir oleh Mario, apakah pria yang malam itu, masih Restu? Pria yang sampai Devano panggil papah.


__ADS_2