Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
100 : Anak Ke Tiga


__ADS_3

Hari-hari berlalu menorehkan kenangan indah walau rasa lelah tetap ada. Namun semenjak tahu Azelia tetap ditahan walau wanita itu buta permanen, Arnita merasa dunianya menjadi memiliki banyak pelangi. Tak ada kekhawatiran apalagi ketakutan lagi mengenai Azelia yang bisa saja melukai anak-anaknya.


Terlepas dari semuanya, alasan Azelia ditahan karena wanita itu dinilai berbahaya. Keputusan tersebut diambil setelah catatan demi catatan fatal Azelia di masa lalu, khususnya mengenai Azelia yang terus saja mengganggu keluarga Restu. Selain itu, sikap Azelia yang terus kasar sepanjang wanita itu menjalani penanganan hukuman termasuk hingga sekarang juga menjadi alasan kuat kenapa Azelia tetap saja ditahan di penjara khusus.


Bangun tidur di tengah suasana yang masih temaram, hal yang langsung Arnita lakukan adalah mematikan beker yang terus berdering di nakas sebelah. Segera ia menguncir rambut panjangnya, meraih daster yang tergeletak di tepi bantal kemudian memakainya.


Menghela napas pelan, Arnita berangsur mengambil kalender meja dari nakas sebelahnya. Ia membuka kalender sebelumnya. Arnita mengamati kalender dua bulan terakhir. Ia mengamatinya silih berganti, kemudian tatapannya itu juga berganti tertuju kepada Restu.


Arnita berangsur mengelus-elus sebelah pipi Restu. Tak butuh lama akhirnya suaminya itu terbangun bahkan berangsur duduk.


“Ada apa?” Restu yang hanya memakai boxer masih terkantuk-kantuk.


“Papah ngidam enggak, sih? Sudah dua bulan kan, aku enggak datang bulan,“ ucap Arnita.


“Ya berarti memang jadi. Kamu memang enggak sampai KB, kan?” Dengan suara yang masih berat khas orang baru bangun tidur, Restu memastikan. Dan sang istri langsung menggeleng. “Coba dicek Ada stok test pack?” lanjutnya dan lagi-lagi sang istri menggeleng.


Sambil memakai kaus lengan pendek warna putihnya dan ia ambil dari sebelah bantal, Restu berkata, “Aku beli ke apotek dulu.”


“Jangan, Pah. Papah masih ngantuk gitu. Nanti kita berangkatnya bareng-bareng saja sekalian mampir beli test pack, ya?” balas Arnita.


“Berarti ini aku boleh tidur lagi, ya?“ ucap Restu yang tetap lesu.


“Sudah mau setengah enam, Devano sama Didi bentar lagi pasti ke sini. Pakai celana yang bener,” balas Arnita yang sampai mengambilkan celana training panjang milik sang suami dan terkapar di sofa depan tempat tidur mereka.


“Sekalian pakein ...,” rengek Restu dan membuat Arnita buru-buru naik ke tempat tidur. Namun, Arnita tidak memakaikan celana Restu seperti yang pria itu minta. Karena yang Arnita lakukan malah duduk di pangkuan Restu kemudian mendekap erat Restu menggunakan kedua tangan.


“Sayang banyak-banyak ke Papah!” ucap Arnita.


“Ini bahasanya Didi,” lirih Restu yang juga langsung tertawa sambil balas memeluk punggung Arnita. Tak lama kemudian, Restu berangsur meraba perut Arnita. “Di sini beneran sudah ada adiknya kak Vano sama kak Didi?” lirihnya sambil mengelus-elus perut Arnita.


Sungguh interaksi yang sangat manis.

__ADS_1


***


Berbeda dari biasanya, hari ini Restu yang satu mobil dengan Arnita, sengaja mampir ke butik Arnita. Seperti rencana, sebelumnya, mereka juga mampir ke apotik dan membeli dua test pack di sana.


“Harusnya memang positif. Apalagi kehamilan sebelumnya juga lancar semua.” Restu sengaja ikut masuk ke kamar mandi yang ada di ruang kerja Arnita.


Sembari menunggu sang istri masuk ke ruang toilet, Restu sengaja mencuci kedua tangannya di wastafel. “Sayang, sudah belum?”


“Baru pipis. Tapi omong-omong, rasanya tetap kayak hamil pertama ya.” Arnita berseru dari dalam sana.


“Ya tentu. Sama-sama spesial. Masa iya, hanya karena anak ketiga, cuma dapat sisa. Lagian masalah baju, kamu bikin sambil merem juga bisa,” ucap Restu sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang sudah tersedia di sebelahnya. “Kamu beneran enggak ngidam, dan aku pun enggak. Kayaknya yang sekarang agak beda. Kayaknya versi kalem mirip papahnya.”


“Kayak gitu kok kalem!” komentar Arnita dari dalam sana, tapi langsung membuat Restu tertawa.


“Uwis ...? Eh, Sayang ... uwis itu sudah, kan? Itu bahasa jawa, kan?” lanjut Restu. Ia berangsur membuka pintu kaca menuju tuang toilet keberadaan Arnita.


“Iya, uwis du bahasa Jawaku, artinya sudah. Papah payah, bertahun-tahun nikah sama orang Jawa masih enggak bisa bahasa Jawa. Devano saja sudah pinter,” ucap Arnita lembut.


“Selamat yah, Pah. Selamat buat kita. Anak ketiga beneran lagi OTW!” ucap Arnita sambil memberikan benda panjang tak lebih dari pensil tersebut kepada sang suami.


Walau sudah sangat yakin bahwa Arnita memang tengah hamil lagi, Restu tetap sampai tidak bisa berkata-kata, sementara kedua matanya nyaris tak berkedip menatap dua garis merah di test pack yang Arnita suguhkan.


Sekitar dua menit kemudian, Restu yang menahan senyumnya dan sampai berkaca-kaca, berangsur menerima test pack pemberian Arnita. “Bakalan aku simpen. Makasih banyak, dan selamat ya! Keren!” ucapnya lembut yang perlahan mendekap hangat punggung sang istri.


“Aku seneng banget, Pah!” girang Arnita.


“Lebih-lebih aku. Aku bahagia banget punya kamu. Aku bahagia banget punya keluarga kecil kita!” ucap Restu yang menjadi tak hentinya bersyukur. Apalagi di kehamilan yang ketiga ini, mereka sama sekali tidak mengidam. Walau mereka memulai semuanya jauh dari kata mudah, rasanya segala kelancaran rezeki maupun kesehatan yang mereka dapatkan, telah membayar semua pengorbanan yang selama ini mereka lakukan.


“I love you!” lirih Restu seiring dekapannya yang makin erat.


“I love you too, Pah!” balas Arnita yang juga makin mengeratkan dekapannya.

__ADS_1


Malamnya, Restu yang memboyong keluarga kecilnya untuk menginap di rumah sang mamah, membagikan kabar bahagia mengenai calon anak ketiganya.


“Ya ampun, sudah isi lagi? Ih ... selamat!” Fiola yang kebetulan baru pulang bersama Mario, langsung heboh.


“Iya dong ... kan mau bikin kesebelasan buat urus perusahaan!” balas Restu dengan santai dan memang sengaja pamer.


“Ah, Mas Restu sih iya! Bakat banget bikin iri!”sebal Fiola sambil meletakan tas di bahu kanannya, tapi Mario langsung membantunya, dan pria itu meletakannya di meja kecil sebelah.


“Enggak usah iri. Kalau mau, tinggal nikah dulu, terus bikin!” balas Restu yang kemudian duduk di sofa tunggal yang ada di belakangnya.


Silih berganti semuanya memberi selamat. Termasuk Tuan Cheng yang sampai turut memeluk Arnita.


“Kayaknya ini cowok lagi!” ucap Tuan Cheng yakin sambil mengelus perut Arnita yang masih rata.


Semuanya kompak tersenyum.


“Itu beneran enggak ada yang ngidam lagi? Pas Didi kan lucu, ngidamnya estafet gantian!” komentar Fiola yang kembali memeluk erat Arnita.


Kemudian, yang mencuri perhatian mereka tentu interaksi manis antara Divani dengan Rayyan. Divani dengan berbaik hati membagi camilan dan juga aneka permennya kepada Rayyan.


“Didi sayang Rayyan?” tanya Fiola kegirangan. Bahagia rasanya jika anak-anaknya juga akur dengan anak Restu maupun saudara lainnya.


“Iya, Didi cayang Ayyan. Cayang banyak-banyak!” balas Divani yang membiarkan tubuhnya di bopong oleh sang papah untuk duduk di sofa sebelah Rayyan.


“Didi emang si paling sweet setelah yang pertama serata tembok sebelum kena gempa!” ucap Fiola yang melirik Devano penuh arti.


“Aunty pengin aku buang ke sungai, sindir-sindir aku begitu?!” omel Devano yang sudah duduk di sebelah Tuan Cheng, pemandangan tetap yang akhir-akhir ini terjadi hingga Devano sampai dijuluki sebagai cucu kesayangan Tuan Cheng.


“Si Kakak sekarang sudah naik level. Dibuangnya enggak ke kandang ayam lagi, tapi sungai!” Fiola yang makin heboh juga berangsur berkata, “Kalau yang pertama Devano, yang ke dua, Divani, yang ke tiga ...?”


“Masih deadline itu!” cibir Devano yang memang paling musuh kepada Fiola.

__ADS_1


“Oalah Mas Restu ... anak ketiga Mas kata si Kakak namanya Deadline!” Fiola yang terbahak berangsur mendekap Mario yang ada di sebelahnya. Ia membenamkan wajah di dada kekasihnya itu. Berlindung dari Devano yang tak segan mengejarnya. Devano tampak sangat gemas kepadanya.


__ADS_2