Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
88 : Sudah Sampai Kampung


__ADS_3

Kedatangan Restu dan Arnita yang sampai membawa keluarga lain dengan mobil tak kalah mewah, langsung menghebohkan warga. Termasuk itu Azelia yang sudah kembali tinggal di kediaman orang tuanya. Azelia yang mendengar kabar itu langsung menggebu-gebu ingin segera bertemu Restu.


“Lia, jangan bikin gara-gara lagi,” tegur ibunya Azelia ketika memergoki sang putri buru-buru lari berusaha keluar dari rumah. Azelia sudah akan melewati pintu rumah yang memang dibiarkan terbuka lebar.


Keantusiasan Azelia tersebut terjadi setelah Pramono sang bapak, mengabarkan kepulangan Restu. Ibu Sami selaku mamah dari Azelia langsung waspada, takut anak perempuannya bikin gara-gara lagi karena ia tahu, Azelia sangat ingin kembali dengan Restu. Lihat saja kini, baru dilarang, Azelia sudah langsung cemberut menatapnya.


“Masuk kamar!” tegas ibu Sami.


“Mamah enggak tahu kekuatan cintaku ke Mas Restu, Mah!” tepis Azelia memohon.


“Ma-suk!” sergah ibu Sami kali ini marah. “Kalau kamu terus-menerus begitu, yang ada kamu dipenjara lagi karena Restu sudah enggak mau sama kamu. Yang ada dia jijiiiiiik!” lanjutnya yang kali ini sampai meledak-ledak.


Azelia menangis. Alasannya menurut masuk kamar pun karena ia terpaksa melakukannya. Ibunya saja setega itu, apalagi orang lain, pikirnya.


“Bikin malu saja!” kesal ibu Sami yang kemudian keluar rumah. Suasana di luar sudah sore nyaris petang.


Suasana yang akhir-akhir ini terik membuat setiap yang dijemur cepat kering. Termasuk itu padi yang baru dipanen dan telah menyita sebagian halaman rumah orang tua Azelia, maupun rumah tetangga mereka. Tampak orang-orang yang tengah mengumpulkan padi jemurannya. Ada yang langsung memasukkan ke karung, ada juga yang tetap dibiarkan dan hanya ditutup tenda maupun terpal setelah mengumpulkannya.


“Andai dulu kamu tahan dan enggak sampai sama Ken, Li. Pasti yang hidup enak kayak ratu bukan Arnita, melainkan kamu!” batin ibu Sami menyesali keadaan putrinya. Ia menatap sedih nasi kering di tampahnya dan baru ia ambil dari atas bunga kertas yang ia bentuk menyerupai bonsai, di depan rumah. “Nasi kering ini saja jauh lebih mulia daripada nasibmu yang telanjur dicap tukang serong atau itu tukang selingkuh!” batinnya lagi. Pedih rasanya jika ia teringat nasib miris Azelia, selain Azelia yang memang masih sangat sulit diarahkan. Malahan tak jarang, ibu Sami merasa, menghadapi putrinya mirip menghadapi orang gillla.


Tanpa ibu Sami ketahui, diam-diam Azelia nekat keluar dari jendela kamar. Azelia memanjat jendela kemudian turun dengan hati-hati. Azelia bisa kabur dengan mudah karena rumah orang tuanya tak sampai dibenteng atau itu pagar dengan tembok atau besi kokoh. Beda dengan rumahnya dan Restu dulu yang atas bentengnya saja sampai dihiasi pecahan beling maupun beberapa kawat.


Sementara itu, di kediaman Arnita dan Restu, Fiola dan orang tuanya termasuk Rayyan, sudah langsung diajak keliling oleh Devano dan pak Iman. Mereka dibawa melihat-lihat rumah bagian depan. Devano dengan berbaik hati meminjami Rayyan satu kelincinya, tapi bocah itu takut dan berakhir menangis tersedu.


“Ih, Rayyan, cengeng banget kamu! Aku masukin kamu ke kandang ayam belakang biar kena taii, baru tahu rasa kamu!” tegas Devano.


Ibu Rembulan dan sang suami langsung menertawakannya. Lain dengan Fiola yang langsung berusaha membimbing sang putra untuk memegang kelincinya, agar Rayyan tak serba takut lagi.


“Enggak apa-apa, cuma pegang. Tuh lihat, Kak Vano saja enggak apa-apa. Yuk kelincinya dikasih makan juga. Kelincinya makannya apa, yah, Kak Vano?” ucap Fiola.

__ADS_1


“Kelincinya makan wortel! Bentar aku ambil dulu di kulkas!” sergah Devano. Sebelum pergi mengambil wortelnya, ia sengaja menitipkan kelincinya kepada pak Iman.


“Jagain, Mbah. Jangan sampai lepas, takutnya ilang!” pesan Devano.


Sementara di dalam rumah, Arnita tengah mengurus sang suami yang tepar efek mabok perjalanan. Arnita langsung mengeroki pungguk Restu di ruang keluarga, di sofa panjang yang ada di sana, sementara baru saja, Bi Ade datang membawa dua gelas teh hangat.


“Bun, tehnya.”


“Iya, Bi. Makasih banyak.”


“Sama-sama, Bun. Oh iya, Bun, es campurnya keluarin sekarang?”


“Iya, Bi. Keluarin saja. Pakai termos es saja, kasih gelas es campur sama sendoknya, ya, tolong.”


“Baik, Bun.”


“Sama-sama, Bun.”


Bi Ade baru mau pergi, tapi Devano datang sambil berlari menghampirinya.


“Bi Ade, ada wortel buat kelinciku, enggak?” tanya Devano.


“Banyak Kakak. Di kulkas, bentar ya, Bibi ambilin,” sergah bi Ade bersemangat.


Sambil terus mengerok punggung Restu yang sudah langsung sangat merah, Arnita berkata, “Kakak, Bi Ade sibuk banget karena banyak yang harus diurus. Kakak ambil wortelnya sendiri, yah, kan Kakak sudah tahu kalau wortelnya ada di kulkas.”


“Oh, oke, Mah!” sergah Devano yang menyimak dan memang tetap bersemangat.


Lantaran Devano langsung berlari, Arnita sengaja berseru, “Ambilnya jangan sampai berantakan. Wajib dirapihkan kalau sampai berantakan, ya!”

__ADS_1


“Oke, Mah!” sergah Devano tak kalah berseru.


“Duh ...,” lirih Restu sambil menggeleng. Sebelah tangannya yang dekat perut Arnita, mengelus-elus di sana. “Cuma obrolan dua orang tapi kayak di pasar.”


“Enggak apa-apa, Pah. Biar Devano ngerti, diarahkan kan hasilnya Papah juga merasakan, anaknya selalu tertib gitu,” ucap Arnita dan kemudian langsung dikejutkan oleh seruan Devano yang mengabarkan sudah dapat wortelnya.


“Oke, Sayang! Terus Rayyan gimana?” Arnita melepas kepergian sang putra yang berkata bahwa Rayyan seperti biasa, nangis dan cengeng.


Di depan, kebersamaan benar-benar seru walau mereka hanya menjadikan kebersamaan Devano dan kedua kelincinya sebagai bahan tontonan. Sementara Rayyan diemban oleh sang kakek. Tak lama berselang, Restu yang sudah memakai jaket menyerupai mantel, juga bergabung dengan. Kedatangan Restu disertai oleh pak Soleh dan pak Lukman. Keduanya mengangkat meja, membawanya ke tengah-tengah halaman. Meja tersebut langsung diisi es campur yang bi Ade bawa. Kemudian sopir ibu Rembulan juga menyusul membawa nampan berisi gelas maupun sendok untuk es campurnya.


“Mah, Pah, ini es campurnya dimakan dulu biar seger. Di sini kan suasananya lebih panas dari si Jakarta,” ucap Arnita.


Ibu Rembulan yang memang sudah kepanasan, mengangguk-angguk. “Bener, sih. Di sini lebih panas dari Jakarta, tapi lama-lama juga adem sih soalnya anginnya kenceng banget dekat sawah gini!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tersenyum. Terpikir olehnya, andai ia masih memiliki besan wanita, pasti acara liburan mereka di sana makin seru.


Kemudian, sambil menikmati es campur yang sampai membuat semuanya termasuk bi Ade nambah karena mereka memang makan sama-sama, tak lain kolam ikan gurame maupun emas milik Restu dan posisinya ada di sebelah rumah.


“Sudah gede-gede, Mas? Mau dong dibakar kayaknya enak pakai sambal!” sergah Fiola bersemangat.


“Sudah, sudah lumayan gede, buat makan malam saja kali, ya. Bakar-bakar di depan,” usul Restu yang mendadak ingin ikan emas bakar.


“Setuju-setuju, setuju! Nanti aku bantu, Mas!” sergah Fiola.


“Ah, kamu ... paling juga bantu makan!” balas Restu sengaja menyindir tapi yang disindir langsung tertawa.


“Mas Restu paling tahu emang!” ucap Fiola santai-santai saja sambil menikmati es campurnya.


“Kalau dipikir-pikir, rumahmu kayak dilengkapi Zoo, Res. Bayangin, di belakang banyak kandang ayam, bebek, sama entog. Di depan ada kandang kelinci, di samping ada kolam,” ucap ibu Rembulan sambil memijat-mijat pundak sang putra menggunakan kedua tangannya.


Sedangkan yang dilakukan oleh Azelia, wanita itu masih berjalan kaki di tengah gelapnya petang yang mulai menyelimuti suasana sekitar bulak dan kanan kirinya merupakan hamparan sawah. Azelia menjadi satu-satunya yang lewat dan wanita itu sungguh akan pergi ke rumah Restu.

__ADS_1


__ADS_2