
“Perut Mamah, ada bayinya lagi?“ tanya Devano yang baru saja ikut tiduran di sebelah Arnita.
Walau di kediaman Tuan Cheng, Devano sudah memiliki kamar sendiri, bocah itu tetap memilih tidur bersama kedua orang tuanya layaknya Divani. Jadi, di kamar yang dulunya sempat ditempati Restu, mereka tidur berhimpit-himpitan. Namun biasanya jika Divani sudah tidur, Restu akan mengalah tidur di sofa atau malah tidur di kasur lantai.
Arnita mengangguk-angguk kemudian meraih sebelah tangan Devano, membimbingnya untuk meraba perutnya.
“Perut Mamah enggak gede kayak pas ada Divaninya. Gedean perutnya pak Lukman,” lanjut Devano, sampai menatap perut sang mamah yang ia raba menggunakan kedua tangan, dengan leluasa.
“Terus, kenapa perut Mamah bisa ada bayinya?” lanjut Devano.
Detik itu juga, Arnita refleks menoleh dan menatap Restu. Tak lama kemudian, pria itu juga menatapnya. Arnita yakin, Restu sudah langsung tahu bahwa kali ini, ia kesulitan menjawab pertanyaan sang putra.
“Kakak, tidur sudah malam. Didi saja sudah tidur,” tegur Restu.
“Nanti, ah. Aku belum ngantuk,” balas Devano enteng. Mendadak ia ingat, ketimbang perut mamahnya yang terbilang rata, selain perut pak Lukman, perut Divani juga besar.
“Lihat, Mah. Perut Divani juga besar. Jangan-jangan di perut Divani, ada bayinya juga!” Saking yakinnya, Devano sampai duduk, menunjukkan kepada kedua orang tuanya, bahwa perut sang adik memang besar.
“Kakak, alasan perut Divani besar karena pertumbuhan pada anak kecil dimulai dari perut. Serem kan kalau anak kecilnya jadi agak gendut, tapi gedenya dari kepala, apa kaki dan itu sebelah?” jelas Restu.
“Terus, kenapa Mamah sampai hamil?” tanya Devano lagi.
“Karena Mamah sudah menikah,” jawab Arnita yang kemudian menggunakan kedua tangannya untuk menuntun Devano kembali tidur di sebelahnya. “Nanti kalau Kakak juga sudah dewasa, Kakak juga nikah, ya?”
“Enggak mau, ah. Aku enggak mau hamil. Kalau di perutku sampai ada bayi, pasti berat banget!” balas Devano sambil memeluk erat pinggang Arnita.
__ADS_1
Walau sempat syok dengan jawaban sang putra, Arnita berangsur menoleh, menatap Restu yang kemudian menggeleng serius.
“Pusing. Sudah, jangan dibahas lagi. Makin dia banyak tahu, malah makin pusing! Nanti deh, kalau sudah agak lebih gede!” ucap Restu lirih.
“Siapa yang pusing dan banyak tau?” tanya Devano sampai menoleh hanya untuk menatap sang papah. Namun karena Restu juga hanya diam, ia pun mengalihkannya kepada Arnita yang kemudian tersenyum kepadanya.
Di keesokan harinya, kabar pernikahan Fiola dan Mario langsung membuat Devano berpikir keras. Devano terlalu khawatir kepada Mario yang Devano khawatirkan hamil. Karena yang Devano tahu dari sang mamah, alasan mamahnya hamil adalah pernikahan.
“Aku kasihan ke Om. Udah Om hamil, perut Om gede, terus Rayyan cengeng, si Fiola juga cengeng, ngerepotin orangnya kayak Rayyan. Terus suaranya ih, enggak banget! Mirip suara kentutnya kucing!” ucap Devano.
Ruang makan di kediaman Tuan Cheng mendadak dipenuhi gelak tawa oleh mereka yang kini dalam formasi lengkap. Tentu, semua itu gara-gara ocehan Devano. Namun dari semuanya, ucapan Devano yang menyamakan suara Fiola dengan suara kentut kucing, yang menjadi tawa di sana benar-benar pecah. Sekelas Fiola yang sempat marah saja, sudah langsung tertawa sampai menangis.
“Mas Restu, ... anakmu makin enggak jelas!” kesal Fiola sambil menyeka sekitar matanya menggunakan tisu yang ia terima dari Devano.
“Dia terlalu jujur, tapi dia belum tahu kalau kejujurannya sangat menyakitkan!” ucap Restu yang juga menjadi sibuk menyeka sekitar matanya menggunakan tissu.
Lagi, Fiola mengomel, makin gemas pada Devano yang kebetulan duduk lurus di hadapannya. “Ini anak kenapa, sih?”
“Rayyan, sekarang kan kamu sudah punya Papah, jadi tolong, please banget, yah, jangan rebut Papah aku lagi. Ligian kamu, sudah sunat masuh cengeng! Awas loh, kalau kamu rengek-rengek ke papahku lagi!”
“Memangnya si Rayyan mau diapain, kamu awas-awasin?” tanggap Fiola lagi.
“Mau aku masukin ke kandang harimau, kalau dia masih cengeng!” balas Devano yang kemudian meraih ayam bakar bagian pahanya dari piring saji.
“Kayak tahu saja kandang harimau kayak apa?” balas Fiola meragukan Devano.
__ADS_1
“Tetangga sebelah kan punya harimau, Aunty! Aunty enggak tahu, ya? Ada monyet juga loh, di sana!” yakin Devano. “Lihat dari depan kamar Papah, kelihatan. Tanya saja Mamah sama Didi, pagi tadi kami lihat!”
Fiola langsung bengong saking syoknya. Kemudian ia menatap Arnita dan langsung membenarkan cerita Devano.
“Eh, Pah. Serem loh, tetangga punya harimau! Kalau sampai kabur terus menerkam kita, gimana?” keluh Fiola kepada sang papah.
“Paling dari semuanya, Aunty yang diterkam duluan. Dari semuanya kan Aunty yang paling berisik. Papah bilang, harimau suka menerkam orang yang berisik!” ucap Devano masih lahap menikmati paha ayam bakarnya tanpa nasi. Ia melakukannya menggunakan kedua tangan. “Nanti habis Aunty diterkam, paling tinggal Rayyan. Rayyan kan cengeng, nangis terus, tuh ... tuh, yah ... cengeng!”
Rayyan yang duduk di antara Fiola dan Mario sungguh menangis. Namun walau ulah Devano sukses membuat Rayyan menangis, tak ada yang marah. Malahan semuanya kompak meminta Rayyan untuk aktif sekaligus pemberani seperti Devano.
“Sudah, rumah ini jual saja biar kalian dapat uang banyak, biar cepat kaya!” lanjut Devano.
“Kakak, ... Kakak, sudah. Sudah fokus makan saja. Itu ambil ayam bakarnya lagi.” Arnita sengaja mengarahkan sang putra untuk diam.
“Itu tinggal satu, Mah. Itu jatah Rayyan. Nanti Rayyan tambah berisik nangisnya. Sudah, aku makan sup bakso ikan saja sama brokoli rebus!” Devano segera berdiri. Ia menolak bantuan Arnita yang akan mengambilkannya.
“Mamah istirahat saja. Mamah kan lagi hamil. Sudah, mulai sekarang biar Papah saja yang bantu-bantu!” yakin Devano, membuat mereka semua jadi tidak bisa fokus menikmati hidangan lezat yang memenuhi meja kaca berbentuk oval panjang nyaris tiga meter.
“Mamah, Mamah jangan cuma diem,” lanjut Devano sambil melongok sang mamah.
“Lah tadi, katanya Mamah suruh diem?” protes Arnita sambil menahan senyumnya.
“Bukan yang hamil dan harus banyak istirahat. Ini kan si Fiola, mau nikahan sama om Mario. Paksa mereka beli gaun ke Mamah, biar Mamah kaya!” ucap Devano masih sampai melongok keberadaan sang mamah yang ada si sebelah Restu.
“Aunty mau beli gaunnya ke tempat lain saja, Kak!” celetuk Fiola dengan santainya sambil menikmati satu ekor ikan kukus bawal putihnya.
__ADS_1
“Awas, loh! Aku masukin ke kandang harimau kalau kamu sampai beli di tempat lain!” sergah Devano benar-benar memberi Fiola peringatan.
“Pah, urusin anak kamu!” lirih Arnita kepada Restu. Jika keadaan sudah seperti sekarang, ia mendadak ingin angkat tangan dan menyerahkan Devano sepenuhnya kepada sang suami.