
Boneka Pororo dan parsel buah berukuran besar, sudah langsung mengusik kebersamaan mereka. Namun, baik Arnita termasuk Restu kompak diam. Keduanya bekerja sama membaringkan Devano yang sudah tidur. Namun, Arnita sudah langsung menduga bahwa kedua hadiah tersebut dari Mario. Termasuk Restu yang tanpa membahasnya dengan Arnita, langsung mengetahuinya dari sang ajudan.
Ajudan yang Restu datangi memberikan foto Mario selaku sosok yang datang dan sampai membawa parsel buah berukuran besar, selain boneka Pororo berukuran besar. Boneka yang menjadi tokoh kartun anak-anak kesayangan Devano.
Hanya saja, Restu belum tahu alasan Mario ke sana karena pria itu memiliki perasaan khusus kepada Arnita. Restu malah menduga alasan Mario ke sana karena memang perwakilan dari orang kantor. Sebab, Restu mengenal Mario sebagai orang kantor, si manajer pelaksana yang hari ini turut ia jumpai di ruang rapat.
“Mas?” ucap Arnita lirih dan melongok dari balik pintu ruang rawat yang sedikit ia buka.
Di luar tak jauh dari pintu, Restu tampak berhadapan dengan sang ajudan. Pria itu memegang sebuah ponsel kemudian buru-buru memberikannya kepada sang ajudan, setelah Restu menoleh sekaligus menatapnya.
“Ada apa?” balas Restu yang sepenuhnya sudah balik badan. Ia dapati, Arnita yang sampai membawa tas bahunya. Menandakan, wanita itu akan pergi. “Kamu mau ke mana?”
“Aku mau pulang dulu. Mau ambil pakaian ganti, bantal, sama selimut juga. Termasuk keperluan Vano, takutnya Vano bosan. Sebentar, kok. Karena kata dokter, puncak rasa sakitnya Vano, malam ini,” jelas Arnita.
Restu yang menyimak berangsur mengangguk-angguk. “Diantar pak Lukman, yah, biar aman.”
Arnita tidak menolak dan langsung mengangguk. Meski ulah Restu yang mengelus-elus kepalanya tak lama setelah ia melangkah, refleks membuatnya bergidik. Namun ketika ia menatap pria itu, Restu hanya membalasnya dengan senyuman yang begitu hangat dan membuat wajah tampannya, tak sekeji biasanya.
***
Malam semakin larut dan Arnita juga baru kembali bersama pak Lukman yang turut membawakan bawaan Arnita. Arnita membawa ransel jinjing berisi pakaian ganti, selimut, termasuk bantal dan bantal guling kesayangan Devano. Selain itu, Arnita juga sudah sampai mandi, Restu yang diam-diam mengamati menjadi makin betah melihatnya.
Arnita mengganti selimut Devano dengan sangat hati-hati. Selimut rumah sakit ia lipat dan sisihkan di nakas. Sementara selimut yang ia bawa dan itu selimut berhias karakter Pororo, ia selimutkan kepada Devano yang tengah merintih kesakitan, ditenangkan oleh Restu.
“Guling, selimut, semuanya Pororo. Besok kita tinggal main salju, ya. Makanya kamu cepat sembuh,” lirih Restu masih menenangkan. Ia kembali meminta bantuan Arnita untuk membawakan botol infusnya karena ia kembali mengemban tubuh Devano. Membawanya jalan santai di dalam ruangan, memandangi suasana malam dari kaca jendela kamar.
__ADS_1
Seperempat jam sebelum Arnita datang, Devano memang terbangun sambil merintih kesakitan setelah sebelumnya nyaris kejang. Kini, Arnita mengamati wajah Devano maupun Restu, silih berganti.
“Vano mau smoothie?” tanya Restu.
Berkaca-kaca Devano menoleh, menatap sang mamah yang ada di sebelah kanannya.
“Mamah buatin, ya?” lirih Arnita memberikan senyum hangatnya.
Bersama Restu, Arnita kembali bekerja sama mengurus putra mereka. Mereka kompak meminum smoothie, menghabiskan satu blender secara bersama-sama. Arnita yang menyuapi mereka menggunakan sendok yang sama. Tentu kebersamaan kini menjadi kebersamaan impian Arnita maupun Restu. Kebersamaan yang sudah sangat Restu damba, bahkan sebelum pria itu menikahi Arnita. Kebersamaan keluarga bahagia yang dipenuhi kehangatan. Meski tentu saja, jika boleh memilih, mereka tidak mau kebersamaan tersebut malah terjadi karena sakitnya Devano.
Hingga subuh menyapa, Restu dan Arnita masih terjaga. Keduanya duduk berhadapan condong menghadap Devano yang akhirnya bisa tidur dengan lelap.
Di tengah mata mereka yang sudah sangat sayu, Arnita dan Restu tak sengaja bertatapan. Keduanya kompak menatap satu sama lain, meminta satu sama lain untuk tidur.
“Mas saja yang tidur. Besok kan Mas harus pergi ke kantor. Kalau aku kan jaga Vano, jadi bentar-bentar pasti aku masih bisa tidur,” lirih Arnita.
Walau sempat nyaris akan memejamkan mata, Arnita memilih urung melakukannya. Wajah Restu yang sedang tidur layaknya sekarang jauh lebih menarik. Wajah itu nyaris tak memiliki perbedaan dengan wajah Devano, selain faktor usia.
Arnita berpikir Restu akan mengatakan sesuatu kepadanya, tapi pria itu sudah langsung mendengkur, menegaskan bahwa Restu sudah langsung lelap.
***
“Hari ini aku akan menemui Mia, memastikan Fiola meminta maaf kemudian mencari gantinya. Jadi menurut kamu, siapa yang cocok menggantikannya?” ucap Restu yang sudah sampai mandi. Pria itu bersemangat menikmati roti gandum dan juga smoothie-nya di sebelah Devano yang juga tengah sarapan.
Devano sudah sampai seka, dan wajahnya pun terlihat jauh lebih segar. Arnita tengah menyuapinya, tapi fokus tatapan Devano terus kepada Restu.
__ADS_1
“Runner up yang bareng dia, Mas. Nanti aku kirim profil sama IG dia ke Mas,” balas Arnita.
Restu yang langsung menyimak, mengangguk-angguk setuju. Kemudian, tatapannya tertuju pada Devano. Namun, kenyataan Devano yang terus menatapnya, seolah bocah itu tak mau ia tinggal.
“Vano, hari ini Papah pulangnya malam. Makanya Vano yang semangat biar cepat sembuh, ya. Nanti kalau Vano sudah sembuh, Papah ajak Vano ke kantor. Vano mau, kan?”
Devano yang tetap fokus diam menatap wajah Restu, berangsur mengangguk. “Aku juga mau sekolah.“
Restu yang baru saja memenuhi mulutnya dengan roti gandum berselai stroberi, buru-buru mengangguk. “Tentu! Nanti kalau Vano sudah sembuh, kita langsung daftar sekolah. Nanti daftarnya beneran langsung sama Papah, sama Mamah. Nanti, Vano pilih mau sekolah di mana.”
Senyum sangat tipis dan hanya sedikit menarik sudut bibir Devano, menjadi tanggapan yang Restu dapatnya.
“Wajah kamu datar banget. Kamu enggak percaya ke Papah?” tanya Restu yang kali ini protes.
Arnita yang kembali menyuapi Devano smoothie, menahan tawanya. “Wajah Vano memang gitu, Pah. Mirip banget sama papahnya!”
“Aku ganteng, Mah!” ucap Devano sengaja protes.
“Lah, memangnya Papah enggak ganteng?” sergah Restu tak kalah protes. Ia sampai menunda makannya, menatap kedua wajah di sana, silih berganti.
“Aku yah, Mah. Gantengan aku, kan?” Kali ini, Devano sungguh tidak mau kalah. Ia sangat mengharapkan pengakuan khususnya dari sang mamah.
Arnita yang menahan senyumnya, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, tentu saja. Anak Mamah tentu yang paling ganteng!”
Tak mau ketinggalan, Restu yang menjadi ceria dan melahap tuntas roti gandum di tangannya berkata, “Soalnya papahnya juga ganteng banget. Jadi anaknya pun jadi yang paling ganteng.”
__ADS_1
Karena Devano tampak tak terima, Restu sengaja berkata, “Iya, Vano yang paling ganteng. Yang penting Papah sudah laku, sudah punya Mamah. Pokoknya nanti kalau Vano sudah sembuh, kita jalan-jalan. Kita liburan ke ... ke desa,” ucap Restu yang kemudian menatap Arnita penuh terka lantaran ia tak kuasa melanjutkan ucapannya. “Si Pororo tinggalnya di desa mana itu aku lupa?”
Arnita menahan senyumnya. “Desa Porong-Porong, Papah.” Arnita takjub, demi membahagiakan Devano, Restu langsung berusaha mengenal semua yang putra mereka sukai. Benar-benat papah sekaligus suami idaman.