Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
89 : Tidak Diizinkan Menjadi Bagian


__ADS_3

Petang berubah menjadi malam, tapi suasana di halaman depan rumah Restu dan Arnita makin tampak ramai. Ada beberapa batu bata yang disusun menjadi tempat bakar-bakar. Para pria bekerja mengurus ikan. Restu dan sang papah, juga pak Iman dan suami bi Ade, bertugas membakar. Sementara pak Lukman, pak Slamet dan juga sopir orang tua Fiola, masih membersihkan ikan yang langsung ketiganya ambil dari kolam.


Tak jauh dari para laki-laki, para wanita juga tengah bekerja sama menyiapkan aneka sambal. Fiola yang ditugasi mengupas bawang sampai berderai air mata karena memang tidak terbiasa.


“Itu si Fiola sebenarnya sekalian curhat. Jadi, sesi kupas bawangnya cuma buat alibi padahal aslinya dia memang lagi galau gara-gara cinta!” ucap Restu sengaja menyindir sang adik.


Fiola yang menjadi satu-satunya wanita yang tidak duduk, langsung mendengkus. “Mas Restu paham banget deh!”


“Oh, jelas!” balas Restu yang langsung tersenyum lepas sambil mengipasi ikan bakarnya menggunakan kipas ayaman bambu. “Malam ini ikan, besok malam ayam, besoknya lagi bebek, dan seterusnya.” Restu mengakhiri ucapannya dengan tertawa.


“Tapi omong-omong, Rayyan dama Devano mana, ya?” lanjut Restu dan Arnita langsung pamit untuk mencari ke dalam rumah.


Belum sampai ke teras, Arnita sudah bertemu dengan Devano yang buru-buru lari sementara dari belakang terdengar tangis Rayyan. Tentu Arnita langsung khawatir, Rayyan diapa-apakan.


“Kakak, Rayyan mana?” tanya Arnita.


“Aku masukin ke kandang bebek. Soalnya berisik banget dia, nangis terus!” jawab Devano emosional.


Arnita langsung panik dan mengabarkannya kepada Restu. “Papah cepat, ih!” kesalnya lantaran Restu dan yang lainnya malah kompak tertawa. Hanya Fiola yang panik dan buru-buru lari.


“Ya ampun anakku. Ya ampun Kak Vano, kok adiknya dimasukin ke kandang bebek beneran?” rengek Fiola sambil terus lari melewati kebersamaan Arnita dan Devano.


“Dia nangis terus. Digigit nyamuk saja nangis terus padahal sudah aku olesi salep!” kesal Devano.


Arnita segera menyusul Fiola, tak enak lantaran biar bagaimanapun alasan Rayyan dibuang ke kandang bebek juga gara-gara putranya.


“Ya ampun, ... Rayyan mulutnya rapuh, kakaknya kesabarannya setipis tisu dibagi-bagi!” ucap Restu tak kuasa mengakhiri tawanya. Ia berpapasan dengan Devano yang menghampiri sang mbah karena memang dipanggil pak Iman.


“Mas Restu, tanggung jawab! Anakku penuh taii gini bau. Uweek!”

__ADS_1


Keluhan Fiola barusan malah membuat seorang Restu berhenti melangkah di tengah-tengah ruang keluarga. Restu berangsur jongkok dan perlahan duduk di lantai. Terdengar tangis Rayyan yang pada akhirnya diemban Arnita.


“Mbak, Mbak perutnya. Sudah sini saya saja yang gendong. ” Lebih tepatnya, Fiola cari aman daripada kena semprot Restu andai sesuatu yang tak diinginkan sampai menimpa Arnita dan kehamilan kakak iparnya itu.


Setelah drama pembuangan Rayyan ke kandang bebek, semuanya kembali berkumpul termasuk juga Rayyan, Fiola, maupun Arnita yang sampai kembali mandi karena terkena taii bebek.


“Dari tadi ada yang ngelihatin loh dari gerbang. Aku pikir hantu, tapi kayaknya orang,” ucap Devano yang duduk lesehan di sebelah sang mamah.


Untuk makannya, selain menggelar tikar panjang dan masih di halaman rumah, di tengah-tengah untuk alas nasi liwet, ikan, lengkap dengan sambalnya memang sengaja menggunakan hamparan daun pisang.


Arnita langsung menatap Restu yang persis ada di sebelahnya, di posisi paling pinggir untuk sebelah mereka. Arnita sudah mengira itu Azelia, begitupun dengan Restu walau keduanya kompak diam.


“Bentar coba, siapa sih?” ucap suaminya bi Ade yang juga tengah ikut makan bersama menjadi satu jejeran.


Setelah dipastikan, memang Azelia. Wanita itu duduk di depan gerbang sebelah pintu dan menjadikan daun pisang sebagai alas duduk.


“Mbak Lia ngapain di situ? Kebiasaan ih, ganggu rumah tangga orang saja!” kesal pak Woyo, suami bi Ade.


“Enggak ganggu gimana? Diamnya Mbak Lia ini maksa secara halus, biar kami yang kesannya jahat padahal Mbak Lia yang enggak punya akal sehat!” ucap pak Woyo yang kemudian langsung pergi tanpa membiarkan Azelia menjawab atau malah merespons lagi.


Kembalinya pak Woyo membuat semuanya tahu siapa yang ada di depan sana dan dari tadi sudah diketahui Devano. Namun, ibu Rembulan meminta semuanya untuk tetap lanjut makan.


“Nanti biar Mamah yang urus!” ucap ibu Rembulan yang kemudian memuji nasi liwetnya kepada bi Ade.


“Iya, Bu. Nasi liwetnya memang enak banget. Tapi yang masak bukan saya, melainkan Bunda Nita, menantu Ibu!” jelas Bi Ade dan langsung ditertawakan oleh Restu.


“Mamah salah alamat!” ucap Restu yang baru menerima suapan dari Arnita.


Ibu Rembulan yang duduk persis di sebelah Devano langsung ngakak. “Eh Sayang maaf. Mamah beneran enggak lihat kamu masak ini!”

__ADS_1


“Enggak apa-apa ih Mah! Tadi sebelum mandi kan langsung bikin pakai magicom!” ucap Arnita yang menjadi menahan tawanya. Ia membiarkan sang mamah mertua mengelus-elus punggungnya. Ibu Rembulan yang menjadi kerap tertawa, tampak gemas kepadanya.


***


“Sekarang mau kamu, apa?” Itulah pertanyaan yang ibu Rembulan lontarkan kepada Azelia, setelah wanita itu ia izinkan masuk lantaran acara makan malam bersama yang turut ditutup dengan memakan aneka buah, usai.


Azelia yang berdiri di depan tikar digelar dan sudah menjadi pusat perhatian, berkata, “Saya ....”


“Kamu punya malu enggak, sih?” todong ibu Rembulan tak membiarkan Azelia jadi menjawab. Azelia yang awalnya masih menunduk, berangsur menatapnya. Membuatnya kembali mengulang pertanyaannya.


“Malu kenapa, Bu?” tanya Azelia dengan polos tak berdosanya.


“Hah?” Ibu Rembulan sampai tak bisa berkata-kata menatap tak habis pikir Azelia. Setelah baginya Fiola sang putri sudah tipikal badak yang sulit diarahkan, Azelia lebih parah.


“Saya beneran enggak merasa malu karena saya yakin, saya enggak bersalah. Selain itu, saya juga masih pakai baju.” Azelia berucap sesantun mungkin.


“Jadi sekarang, mau kamu apa?” tanya ibu Rembulan makin emosi.


Fiola menatap sebal Azelia. “Maunya ya tentu saja ingin balikan sama Mas Restu, tapi dia caranya halus agar kita yang kesannya jahat andai kita enggak bikin dia sama Mas Restu lagi.”


Fiola tetap adem ayem mengurai senyum terbaiknya pada setiap wajah di sana dan semuanya masih menjadikannya sebagai pusat perhatian.


“Masukin saja ke kandang bebek apa cegurin ke kolam ikan!” komentar Devano yang juga ikut kesal karena banyak sedikitnya ia mengerti apa yang tengah terjadi.


“Susah memang ngomong sama orang kayak gitu. Sudah biarin saja, biar jadi ODGJ beneran. Waktu kita terlalu berharga buat berurusan sama orang seperti dia,” sergah Restu yang kemudian menggandeng Arnita untuk masuk ke rumah.


“Mas ...?” sergah Azelia tak mau ditinggal.


“Orang gemblung!” kesal Devano yang buru-buru menggandeng Arnita juga kemudian ikut dengan orang tuanya, masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Kemudian, yang dilakukan yang lainnya juga sama. Mereka kompak meninggalkan Azelia. Tinggal para pekerja saja yang bekerja sama membereskan segala sesuatunya. Menyadari itu, Azelia yang ada di sana sengaja berusaha membantu. Namun tak ada satu pun pekerja yang mengizinkannya dan akan selalu mengambil alih semuanya. Malahan, Azelia di giring paksa untuk keluar dari area depan rumah Restu dan Arnita, oleh ketiga pekerja pria di sana.


Tentu setelah itu Azelia tidak bisa masuk lagi. Karena layaknya rumah pribadinya dan Restu dulu, rumah Restu dan Arnita sekarang juga dibenteng dan atasnya sampai dihiasi pecahan beling.


__ADS_2