
“Heh, Rayyan. Jadi anak jangan cengeng kenapa, sih? Dikit-dikit eeeee, dikit-dikit omaaa! Kesel aku jadinya!” omel Devano menatap sebal Rayyan yang menangis diemban ibu Rembulan.
Arnita yang awalnya ada di lantai atas, berangsur turun. Ia melewati setiap anak tangga dengan sangat hati-hati. Kini mereka memang ada di sebuah ruko dekat jalan raya yang akan menjadi butik Arnita. Ditemani sang mamah mertua yang sampai membawa Rayyan, Arnita sengaja mengecek jalannya renovasi di sana. Restu memberi gedung itu sebagai hadiah kehamilan kedua Arnita.
“Oma, Kakak Vano serem!” isak Rayyan.
“Eh, enak saja. Serem apaan, dikiranya aku hantu?” omel Devano tak terima.
“Kakak ... Kakak, ini ada apa? Kakak apain si Rayyan?” tanya Arnita yang akhirnya sampai di sana dan langsung mendekap sang putra.
Devano berangsur menatap sang mamah sambil tetap bersedekap. “Eh, apain gimana? Dari tadi aku diem enggak diem gini sambil lihat-lihat!”
Arnita menghela napas pelan sekaligus dalam. Ia percaya semarah apa pun sang putra, setidak suka apa pun sang putra kepada sesuatu, putranya itu tak mungkin bohong. Namun di sebelah, Rayyan yang masih diemban ibu Rembulan terus berkata Devano seram.
“Papah sama Mamah bilang, aku ganteng. Kok Rayyan terus berisik kalau aku seram?” protes Devano sambil terus bersedekap.
Arnita mendekap sang putra demi menenangkannya. “Rayyan kenapa sih?”
“Kak Vano seram,” isak Rayyan yang jika dibandingkan dengan keberanian Devano yang mentalnya sudah level baja, tidak ada apa-apanya. Rayyan tipikal yang sangat manja dan apa-apa wajib diperhatikan.
“Tuh kan, bilang aku serem lagi. Sudahlah, suruh pak Lukman buat buang saja ke kandang ayam di kampung!” kesal Devano.
“Tuh kan Oma, ... aku mau dibuang!” kesal Rayyan masih terisak nelangsa.
Sadar keadaan tetap akan begitu, Arnita sengaja membawa sang putra pergi dari sana. Ia menggandeng Devano ke lantai atas yang baru ia tinggalkan.
Ruko yang Restu pilihkan untuk calon butik Arnita memiliki tiga lantai dengan ukuran yang terbilang luas. Kini, Arnita sengaja mengenalkannya secara khusus kepada sang putra.
“Ini nanti, ruang kerja Mamah ada di sebelah sini. Nanti di ruang kerja Mamah bakalan ada semacam tempat tidur juga biar pas Kakak sama adik-adik di sini, kalian bisa istirahat bahkan tidur dengan nyaman,” jelas Arnita.
“Nanti Mamah kasih ayunan di sini, biar kalian bisa bersantai sambil ayunan. Nanti akan ada microwave, kulkas, dan juga kompor. Mirip dapur mini di pojok sini.”
Arnita masih sibuk menjelaskan, padahal fokus Devano telanjur terkecoh pada kalimat Arnita yang menyebut adik-adik.
“Mamah bilang adik-adik, memangnya adik aku bakalan banyak?” ujar Devano.
__ADS_1
Arnita yang tengah melongok suasana luar dan itu jalan raya melalui hamparan kaca di sebelahnya langsung kikuk. Ia menghadap Devano sambil tersenyum tak berdosa.
“Enggak apa-apa, yah, kalau Kakak punya adik banyak? Cuma tiga, kok!” Arnita sampai jongkok hanya demi membuat tinggi tubuhnya sama dengan Devano yang langsung ia rengkuh kedua lengannya.
Devano langsung cemberut. “Tapi kalau nyebelinnya kayak Rayyan, aku buang ke kandang ayam!” ia melirik sebal sang mamah yang langsung tersenyum ceria sekaligus kegirangan menatapnya.
“Siaaaap! Semoga adik pertama Kakak, perempuan, ya!” ucap Arnita.
“Memang kalau perempuan kenapa?” tanya Devano.
“Bisa didandanin!” balas Arnita jujur dan memang tak sabar ingin punya anak perempuan.
Devano yang masih bersedekap, bertanya, “Memangnya kalau aku, enggak bisa didandanin?”
Arnita langsung bengong mendengar itu. Namun tiba-tiba, otak jailnya menggebu-gebu dan berniat mendandani Devano. Hingga ketika mereka sampai rumah, Arnita sengaja menguncir poni Devano menyerupai pohon nyiur yang terdampar di pulau keramat.
Devano menatap aneh penampilan terbarunya. “Ini beneran cuma begini?”
“Tadinya pengin dikasih jepit, tapi kata papah jangan!” balas Arnita.
“Mamah aneh, yah, Pah?” ucap Devano sambil mengintip kesibukan sang mamah.
Di kamar, Arnita tengah meletakan boneka yang sudah didandani, ke meja rias. Dari balik pintu yang setengah terbuka, Devano dan Restu mengintip dari sana.
Restu yang tengah menatap layar ponselnya, segera melongok ke dalam memastikan apa yang terjadi. “Enggak ...,” ucapnya sambil menggeleng. “Mamah hanya sedang terlalu bahagia karena Mamah memang sangat ingin anak perempuan. Daripada malah kamu yang Mamah dandani jadi anak perempuan, ya mending Papah buru-buru beliin boneka.”
Lebih tepatnya, Restu tak mau foto-foto Devano didandani menjadi perempuan akan menjadi kesenjangan tersendiri bagi Devano ketika bocah itu besar.
“Oh.” Devano mengangguk-angguk, tapi kemudian ia mengikuti tuntunan sang papah yang membawanya masuk.
“Sayang, kamu enggak lupa buat siapin pakaian pengantin kita, kan?” tegur Restu takutnya Arnita lupa karena bulan depan, mereka memang akan mengadakan resepsi pernikahan mereka yang akan dihadiri orang-orang terdekat.
Arnita bergegas melangkah kemudian mengambil buku sketsanya dari meja kerja. “Aku sudah bikin beberapa sketsa. Buat aku, buat Papah, dan juga buat Kakak. Weekend besok kita beli bahannya, ya. Aku sih penginnya yang ini.”
“Ya kamu atur saja. Kamu kan jauh lebih tahu. Aku cukup ikut arahan saja,” balas Restu.
__ADS_1
Ketika papah mamahnya sibuk menyusun rencana, Devano yang masih membiarkan poninya dikuncir, memutuskan untuk menyimak.
“Namun sepertinya ukuran Mas sudah beda,” lanjut Arnita.
“Ukuran apa?” sergah Restu bingung sekaligus penasaran bertepatan dengan Arnita yang mencari halaman kosong dan menyiapkannya di buku sketsa.
“Ukuran apa?” timpal Devano tak kalah penasaran apalagi sang mamah masih diam menatap bingung sang papah.
Mendengar komentar Devano, Arnita dan Restu kompak menoleh, menatap bingung sang putra.
“Ih Papah apaan, sih. Ya ukuran pakaian.” Arnita uring-uringan. “Pikiran Mamah langsung traveling, kok Papah mendadak tanya gitu.”
Restu terpejam pasrah sekaligus tertawa geli. “Ya soalnya dari tadi yang kita bahas banyak.”
“Ada Kakak ih, Pah!” bisik Arnita memberi sang suami kode keras.
“Memangnya kalau ada aku, kenapa?” tanya Devano masih bergaya cool.
Arnita langsung tersenyum geli sambil menggeleng. “Bentar, yah, Mamah ambil pulpen sama pengukur. Kayaknya Papah sudah cukup tambah gendutz.” Ia buru-buru menuju meja kerjanya.
Restu yang baru saja dibahas langsung syok. Dengan sendirinya, kedua matanya langsung mengawasi penampilannya. Benarkah ia menjadi gendutan? Kenapa ia sama sekali tidak menyadarinya.
“Makan terus, sih!” tegur Devano sinis kepada sang papah yang detik itu juga refleks memasang wajah tak berdosa.
“Sayang, kalau gitu aku mau diet. Kamu masaknya jangan enak-enak, ya.” Restu merengek menghampiri Arnita.
“Kalau Mamah masaknya enggak enak, aku makannya gimana? Sudah Mah, masak yang enak saja biar Papah jadi hulk. Kan keren tuh! Nanti badannya kita cat ijo, biar makin mirip!” ucap Devano mendadak bersemangat. Ia sampai berlari hanya untuk bisa lebih sampai kepada Arnita, sebelum Restu sampai lebih dulu.
“Ya Pah, Mah, ... aku pengin punya papah kayak hulk! Keren banget soalnya!” mohon Devano sambil mengguncang pelan tangan papah mamahnya.
Arnita langsung menggeleng dibalas juga oleh Restu.
“Nanti Papah belikan bonekanya saja. Kalau Papah beneran kayak hulk, orang-orang bahkan mamah kamu pasti takut ke papah. Sini, ... sini!” ucap Restu berusaha membujuk Devano dan sampai menggendongnya.
“Ya ampun Kak Vano, ... kamu yah, ada-ada saja!” batin Arnita yang kemudian meminta Restu untuk bersiap karena ia siap mengukurnya untuk keperluan pakaian pengantin mereka.
__ADS_1