
“Nanti malam kita makan di luar, ya,” ucap Arnita sambil mengikat rambutnya dan bersiap membantu Devano merapikan lego ke dalam boks khusus.
Makan malam yang Arnita maksud merupakan makan malam bersama Azelia. Hanya saja yang Azelia tahu, wanita itu hanya akan makan berdua dengan Restu.
“Meski makan di luar, tetap makan di rumah biar sehat, yah, Kak!” ucap Restu yang ada di sebelah mereka.
Arnita yang masih jongkok, menengadah, kemudian melongok meja kerja Restu. Ternyata suaminya tak lagi meeting. Pantas saja sampai ikut nimbrung dengan obrolan mereka.
“Mah, kita mau ke pasar malam lagi?” tanya Devano kepada Arnita.
“Bukan pasar malam, tapi rumah makan. Kan mau makan malam. Apa, ... Kakak mau ke pasar malam juga?” balas Arnita.
“Kalau memang Kakak mau ke pasar malam lagi, nanti sekalian mampir,” ucap Restu.
“Iya, aku mau ke pasar malam lagi. Aku mau beli telur gulung lagi. Es boba juga, sosis bakar,” ucap Devano makin bersemangat merapikan lego di lantai.
“Makan terusssss!” sindir Restu.
“Biar sehat, Papah!” yakin Devano sudah langsung sewot.
Walau masih fokus membantu Devano, tangan kiri Arnita sengaja mengusap punggung Restu yang memang ada di sebelahnya, agar suaminya itu berhenti meledek sang putra.
“Oh iya Mamah. Tadi pas Mamah tidur, kakek pemarah itu datang!” cerita Devano.
Detik itu juga dunia seorang Arnita menjadi berputar menjadi lebih lambat. Ia menatap sang putra lekat-lekat tanpa membereskan lego lagi. “Mbah Iman, maksudnya?” Ia memastikan pada sang putra dan Devano langsung mengangguk.
Ketika Arnita menoleh ke sebelahnya untuk memastikan Restu, pria itu juga menyikapi Devano dengan serius.
__ADS_1
“Aku malah baru tahu juga, Mah,” sergah Restu karena khawatir Arnita berpikir macam-macam kepadanya.
Kedatangan pak Iman sungguh baru Restu maupun Arnita ketahui. Bersama Devano yang terus ikut, mereka keluar dari rumah dan mendapati sosok yang dimaksud tengah duduk terjaga di teras bersama pak Slamet dan pak Lukman. Kenyataan yang jujur saja membuat Arnita merasa nelangsa, sejahat apa pun pria itu kepadanya.
“Kenapa enggak tunggu di dalam, Mbah?” Kali ini, Restu sengaja memanggil bapak dari Arnita itu dengan panggilan yang harusnya Devano lakukan agar sang putra juga terbiasa. Agar Devano tak lagi memanggil dengan panggilan “kakek pemarah”.
Singkat cerita, pak Iman sengaja menunggu di luar karena merasa tak enak hati setelah mengetahui bahwa Arnita sedang tidur siang, sedangkan Restu sedang bekerja. Kabar tersebut pak Iman ketahu dari Devano.
“Ya sudah masuk, Pak!” sergah Arnita sampai berkaca-kaca saking nelangsanya.
“Enggak, di sini saja,” balas pak Iman tak enak hati.
“Pak, ih!” Arnita marah, kesal pada sikap bapaknya yang malah sengaja menjaga jarak dan bisa membuat yang tidak tahu alasannya, menjadi salah paham.
Setelah Arnita sampai lebih dulu masuk, Restu yang masih diikuti Devano, berangsur membimbing sang bapak mertua untuk masuk.
Berlinang air mata, Arnita yang sengaja menyembunyikannya dengan menunduk, berangsur menghampiri Restu yang baru masuk. Arnita memeluk erat suaminya, membenamkan wajahnya di dada pria itu.
Restu tidak begitu bingung. Pria itu langsung sigap balas mendekap, selain Restu yang juga sudah langsung menduga istrinya sedang sangat nelangsa. Karenanya, ia sengaja membimbing sang istri masuk kamar tanpa mengakhiri dekapan mereka.
“Aku juga enggak mau berbagi apalagi kehilangan bapakku Mas. Aku beneran enggak mau. Sakit banget rasanya. Pokoknya aku mau bapakku, Mas! Dia jadi satu-satunya keluargaku yang masih tersisa. Bagaimanapun perlakuannya di masa lalu, dia tetap bapakku. Yang penting dia mau berubah. Aku beneran mau bapakku!” ucap Arnita di tengah isaknya yang pecah tak kala mereka masuk kamar.
Devano yang menyimak menjadi melongok keluar, memperhatikan sang kakek dengan saksama.
“Iya, iya ... nanti kita bicarakan baik-baik.” Restu menyanggupi, tapi Arnita sudah tersedu-sedu ketakutan kehilangan bapaknya.
“Ayo kita ke depan.”
__ADS_1
“Bapak pasti mau langsung pamitan, Mas. Bapak pasti lebih pilih Sita apalagi sekarang Sita sama mamaknya begitu.”
“Enggak, enggak ... nanti aku yang urus. Aku janji apa pun yang kamu mau, kamu bisa memilikinya. Janji itu bakalan berlaku sampai kapan pun!” Restu sampai membingkai wajah Arnita menggunakan kedua tangannya, menuntunnya untuk mau menatap sekaligus menyimak kesungguhannya agar istrinya itu tak lagi tantrum apalagi salah paham.
Arnita langsung diam.
“Kamu cukup percaya ke aku. Sudah, ayo kita keluar!” tegas Restu lagi masih meyakinkan.
Arnita tidak memberikan balasan berarti, tapi wanita itu mau dirangkul dan diboyong menemui sang bapak lagi.
“Kakek mau ke mana? Mamah nangis-nangis gara-gara Kakek mau pergi ninggalin Mamah. Kakek enggak tahu, yah, kalau aku kuat? Lihat tanganku!” ucap Devano siap menantang sang kakek war satu lawan satu. Ia yang sempat berkecak pinggang di hadapan sang kakek, kini tengah memamerkan otot kedua lengannya.
Pak Iman merasa sangat terhibur dengan kekonyolan Devano yang sangat cekatan.
“Berani Kakek bikin Mamah nangis lagiiiiiii!” ucap Devano yang mulai mengambil ancang-ancang. Kedua tangannya mengepal di depan wajah dan kakinya pun siap menendang.
“Kakak ...,” tegur Restu yang baru sampai dan masih mendekap Arnita.
Meninggalkan Arnita sang bapak yang masih harus bergeelut dengan kisah masa lalu, di sebuah toko pakaian dekat jalan raya, Azelia tengah bingung memilih.
“Aku pakai baju apa, yah, biar tampil spesial di depan mas Restu? Baju, jilbab, sandal, kebeli semua enggak yah, pakai uang jual emas tadi. Kalau enggak kebeli semua, gimana ... ya kurang. Kalau bisa aku juga pengin dandan di salon biar lebih spesial apalagi sekarang wajah sama kulitku kusam gara-gara enggak ada biaya buat perawatan,” lirih Azelia yang ada di deretan pakaian muslim wanita.
Azelia tidak tahu jika setiap geraknya, tengah dipantau secara langsung sekaligus khusus oleh sang suami yang diam-diam mengikuti. Kenzo sengaja memakai jaket hitam dan sengaja menggunakan peci jaketnya untuk menutupi kepala. Yang membuat penampilan Kenzo makin tak bisa dikenali, tentu karena selain sampai memakai masker, pria itu juga memakai kacamata hitam.
“Si Azelia beneran niat banget selingkuhnya kayak enggak punya harga diri saja. Padahal jelas-jelas, dulu dia yang pilih aku. Dulu dia yang kejar-kejar aku loh!” batin Kenzo yang akan cekatan melipir menghindar demi tetap cari aman dari Azelia.
Diam-diam, penjaga toko pakaian menjadi curiga kepada Kenzo.
__ADS_1
“Gerak-geriknya mencurigakan. Mau maling apa, ya?” bisik wanita muda berjilbab hitam dekat kasir. Ia sengaja meminta rekannya untuk mengikuti Kenzo, kemudian menyebarkan kabar mencurigakan Kenzo ke teman yang lain untuk kompak sama-sama mengawasi mengingat toko pakaian mereka bekerja luas dan memang besar.