
Setelah selesai belanja pakaian dan sandal, Azelia melangkah penuh suka cita karena yang akan langsung wanita itu lakukan adalah pergi ke salon. Azelia akan mempercantik diri di sana. Namun, Kenzo yang masih diam-diam mengikuti malah ditahan dan tak diizinkan menyusul. Tak semata karena gerak-gerik Kenzo yang mencurigakan. Karena di balik jaket kedodoran yang Kenzo pakai, malah ditemukan kemeja dan celana panjang pria.
“Oalah ... sampai lupa bayar. Sudah kalian tenang saja, aku bayar, kok!” ucap Kenzo pura-pura berlagak lupa. Beruntung, di dompetnya masih ada uang walau hanya pas untuk membayar kedua pakaian yang niat awalnya memang sengaja ia kutil, atau itu ambil diam-diam.
Semua yang ada di sana, menatap Kenzo dengan tatapan malas. Tak semata karyawan yang sedari awal kompak mengintai, tapi juga pengunjung yang menyaksikan penahanan terhadap Kenzo. Hanya saja, Kenzo yang sudah kebal sama sekali tidak peduli dan menganggap kenyataan tersebut layaknya angin lalu. Barulah ketika motor matic yang pria itu kendarai malah mendadak kehabisan bensin di tengah hujan yang mengguyur deras, Kenzo yang harus menuntun sepeda motornya langsung nangis batin.
“Siall! Bisa-bisanya malah buntung gini!” batin Kenzo sambil terus menuntun motornya mengarungi pinggir jalan raya. “Ya Tuhan, aku bosen hidup susah. Kasih aku jodoh orang kaya, kenapa? Mau janda banyak anak, bahkan cacatt pun enggak apa-apalah, asal kaya dan bisa bikin aku hidup enak! Jangan kayak Lia yang enggak punya apa-apa karena ternyata, semua yang dia punya selama ini punya si Restu. Terus urusan fisik jodoh idamanku pun gampang karena semuanya bakalan cantik sekaligus menarik asal mereka punya duit! Jadi beneran, cukup kaya dan bisa bikin aku hidup enak, aku beneran mau banget!” batin Kenzo.
Di tempat berbeda, Azelia baru menepikan motornya di depan sebuah salon kecantikan. Berbinar-binar Azelia memasuki salon tersebut di tengah hujan yang mengguyur deras. Dengan modal pas-pasan sisa ia menjual perhiasan, ia akan mempercantik diri guna memikat hati seorang Restu lagi.
Padahal, Restu yang akan dipikat masih mengurus hubungan Arnita dan pak Iman. Karena seperti yang Arnita takutkan, pak Iman tak mau menjadi bagian dari Arnita lagi. Pak Iman sengaja melakukan itu sebagai hukuman untuk dirinya yang selama ini sudah sangat kejii kepada Arnita.
“Kalau cara Bapak seperti itu, berarti Bapak memang enggak sayang ke Arnita. Bapak tahu Arnita sangat menginginkan Bapak. Arnita sedang hamil dan sudah mohon-mohon, tapi Bapak tetap begini.” Restu marah, ia sampai berdiri dari tempat duduknya untuk menenangkan Arnita yang kembali tersedu-sedu karena keputusan pak Iman.
Arnita membenamkan wajahnya di perut Restu, sementara kedua tangannya mendekap erat pinggang suaminya itu. Ia sungguh tak mengerti cara pikir sang bapak. Andaipun pria itu merasa tak enak hati bahkan malu kepadanya dan Restu, bukan berarti pak Iman malah kembali pada Sita dan ibu Misya lagi.
“Terus Bapak harus bagaimana? Sumpah, Bapak malu. Alasan Bapak begini karena Bapak malu kepada kalian! Bapak sengaja tetap bersama Sita dan mamahnya sebagai hukuman untuk Bapak.” Pak Iman benar-benar bingung.
__ADS_1
“Heh, Kakek pemarah! Kenapa kamu terus bilang malu, padahal kamu sudah pakai baju!” kesal Devano yang sampai keluar dari dalam kamarnya.
Restu mendengkus kesal. Andai pak Iman bukan ayah Arnita, sudah habis pria itu karena ia hajjar. “Tinggalkan mereka dan tebus rasa malu sekaligus tidak enakmu dengan menjadi bapak yang baik untuk Arnita!” tegas Restu.
Pak Iman langsung diam.
“Saya serius, Pak. Kalau Bapak masih bikin Arnita sedih lagi dengan cara Bapak yang tetap akan bersama Sita dan mamahnya, saya benar-benar marah. Bisa-bisa Bapak pun sekalian saya bakar!” lanjut Restu.
Dalam diamnya Arnita berharap, sang bapak akan mengikuti saran Restu. Karena andai sang bapak malah tetap bersama Sita dan ibu Misya, berdalih sebagai hukuman yang harua dijalani, dengan kata lain pria itu memang tidak pernah menyayangi atau sekadar peduli kepadanya.
Devano yang awalnya akan menghhajar sang kakek, memutuskan untuk menghampiri kemudian memeluk mamahnya. Sang mamah masih tersedu-sedu, dan ia tidak suka itu. Ia marah pada penyebab mamahnya menangis dan itu masih karena sang kakek.
“Sekarang Bapak beresin urusan Bapak dengan mereka. Tutup semuanya, nanti sopir saya yang antar,” lanjut Restu berusaha sesabar mungkin. Demi Arnita yang sedang hamil dan ia khawatirkan sampai kenapa-kenapa.
“Baiklah kalau begitu,” ucap pak Iman menurut. Kemudian, tatapannya tertuju pada Arnita. Putrinya itu masih terisak pilu sambil terus memeluk erat Restu. “Beruntung banget kamu punya Restu, Ta. Di saat seperti ini, dia benar-benar melakukan apa pun demi kamu,” batinnya yang kemudian mendekati Arnita. “Arnita, Bapak minta maaf.”
Arnita makin tersedu-sedu lantaran rasanya terlalu menyakitkan. Untung ia memiliki Restu yang selain memiliki materi lebih, Restu juga sangat tegas dan juga sangat bertanggung jawab. Bayangkan jika Arnita malah menikah dengan laki-laki lain termasuk itu Juan. Bukannya membuat keadaan lebih baik, yang ada Juan malah marah-marah dan membuat keadaan makin runyam.
__ADS_1
“Ya sudah, Pak. Cukup, Bapak jangan kebangetan. Selesaikan urusan Bapak dengan mereka, terus kembali ke sini. Buktikan ucapan Bapak bahwa Bapak akan menjadi manusia bahkan bapak lebih baik lagi sebagai wujud dari penyesalan sekaligus rasa bersalah Bapak kepadaku!” ucap Arnita di sela isaknya sambil tetap mendekap erat pinggang Restu sekaligus membenamkan wajahnya di perut suaminya itu.
“Iya, Nit! Sekali lagi Bapak minta maaf banget. Terima kasih juga karena kamu sudah sangat sabar menghadapi Bapak!” balas pak Iman.
Pertemuan kali ini ditutup dengan pembuktian sekaligus kesungguhan penyesalan pak Iman kepada Arnita. Pak Iman akan menjadi pribadi lebih baik lagi. Pria itu akan menjadi bapak yang baik untuk Arnita, tapi sebelum itu, pak Iman wajib menyelesaikan hubungannya dengan Sita dan sang mamah.
Malamnya, Restu dan Arnita menjalani rencana mereka. Mereka sengaja datang telat dan membuat Azelia yang sudah menyiapkan penampilan terbaik, menunggu lama. Di rumah makan itu, Azelia langsung bersuka cita, berdiri menyambut kedatangan Restu. Senyum terbaik terus dipasang menghiasi wajahnya yang telah dirias cantik. Termasuk juga gamis merah muda yang membuat seorang Azelia makin percaya diri.
“Mas Restu!” sergah Azelia sampai setengah berlari menghampiri Restu lantaran tak sabar.
“Ehm!” Dehaman itu milik Kenzo yang sengaja muncul. Kenzo sudah sampai memakai kemeja dan celana panjang yang awalnya sengaja pria itu curi dari toko pakaian.
Azelia langsung panik luar biasa, bahkan walau suasana rumah makan di sana tengah tidak banyak pengunjung. Ia nyaris meraih tangan Restu untuk mendapatkan perlindungan, tapi ....
“Wah ... sudah pada kumpul?” Arnita melangkah cepat mengamankan sang suami. Sementara Devano yang sampai lari, sengaja menggunakan pedang mainannya untuk menodongg Azelia, seolah wanita itu penjahaat yang bisa membahayakan papahnya.
Bukan hanya Kenzo yang langsung terpesona pada penampilan Arnita. Sebab sebagai wanita yang sudah sampai melakukan perawatan khusus sebelum ada di rumah makan kebersamaan mereka, Azelia juga langsung minder.
__ADS_1