
Mas Mario : Innalilahi wainnailaihi rojiun, telah berpulang, mamah kami, ibu Reni Anggrainy. Pada hari ini, semoga .....
WA kabar duka dari Mario yang memohon maaf kepada Fiola sekeluarga, langsung mengejutkan wanita itu. Fiola buru-buru meninggalkan sang putra yang sudah lelap di sebelahnya. Wanita itu mengabarkannya kepada Restu, dan memang tidak berani mengabarkannya kepada sang mamah. Di depan kamar Restu dan Arnita, Fiola memberikan ponsel berisi ruang obrolannya dengan Mario di aplikasi WA.
Arnita yang awalnya masih duduk selonjor di tempat tidur juga langsung mengecek WA. Dari sederet status WA di kontak ponselnya, status WA Mario dan memang menjadi status terbaru di deretan status, langsung menampakkan kabar duka yang sama.
“Bentar coba aku tanya ke Mario.” Arnita sengaja berseru sambil mengomentari status WA Mario.
Sambil menunggu balasan dari Mario yang langsung mengetik pesan balasan untuknya, Arnita berangsur menghampiri kebersamaan di depan kamarnya. Usut punya usut, ibu Reni sudah kritis dari kemarin, setelah jatuh di kamar mandi.
“Kemarin, kayaknya pas dia ngajak jalan dan aku tolak deh. Makanya walau WA aku sudah dibaca, dia enggak balas dan memang kayak ngilang gitu,” ucap Fiola.
Arnita menghela napas pelan sekaligus dalam, kemudian memeluk suaminya dari samping. Ia membenamkan wajahnya, merasa turut berduka cita mendalam, tanpa mengingat betapa kejamnya seorang ibu Reni dalam kehidupan Restu.
“Pas masih hidup dan pengobatannya saja serba Mario yang urus, apalagi kalau meninggal? Keluarganya Mario yang sudah biasa terima beres sama menuntut pasti ya cuma pura-pura enggak punya duit!” ucap Restu yang akhirnya berkomentar.
“Jujur, aku enggak mau menghakimi Mario. Dari ngatain dia bod-doh lah, mau-maunya saja diperbudak atau bla, bla, bla. Soalnya gini loh, yang namanya hati orang kan ya. Hati Mario itu beneran terlalu baik. Karena meski awalnya sudah bertekad, lihat ada yang susah apalagi keluarga sendiri, ... ya mana tega. Bentar, deh. Kalau dia berani WA ke aku, aku bakalan didik dia. Aku bakalan arahin dia karena sebelum sampai di titik ini pun, aku pernah ada di posisi Mario. Kalian jangan lupa, kurang apa aku ke Azelia? Kurang apa aku ke papah mamah, walau pada akhirnya alhamdullilah mamah, papah, maupun Fiola akhirnya luluh.” Restu merasa bersimpati kepada Mario, walau di awal mengenal, pria itu sempat membuatnya merasa sangat bercemburu.
Mendengar penjelasan dari Restu, Fiola menjadi merasa sangat sedih. Fiola menjadi tersedu-sedu.
“Jadi, kamu mau coba jalani hubungan sama Mario? Ya jangan mau nikah dulu sih, tapi dari sekarang sudah langsung diarahin gitu,” ucap Arnita.
Setelah saat makan malam mereka dibuat kesal dengan ulah Azelia, pertemuan mendadak kali ini ditutup dengan Fiola yang memutuskan untuk membuka hati kepada Mario. Semalaman hingga dini hari, Fiola terus bertukar pesan WA dengan Mario. Lalu di pagi harinya, Restu mengabarkan kabar dukanya kepada sang mamah, saat mereka sarapan.
Kabar meninggalnya ibu Reni langsung membuat ibu Rembulan tak bisa berkata-kata. Wanita cantik itu tampak sangat syok. Ada duka, walau tak sebesar rasa lega yang terpancar dari wajahnya. Seolah, ibu Rembulan baru saja mendapatkan kemenangan yang sejak lama wanita itu damba.
Restu tak mau menjadi manusia munafik karena ia sendiri merasakan itu. Ia merasa bahagia atas kabar kematian ibu Reni. Karena setelah menjadi orang sangat egois dalam hidupnya, ibu Reni juga menghabiskan masa tuanya dengan banyak masa-masa sulit. Namun yang membuat Restu tak habis pikir, selama itu juga ibu Reni tidak mau belajar untuk berubah. Jangankan kepadanya maupun orang lain, kepada Mario saja, ibu Reni sangat tega.
__ADS_1
“Kirim orang buat pergi ke sana,” ucap papah Fiola sambil menikmati nasi goreng di piringnya. Ia mencoba tetap menjadi manusia yang memiliki hati, walau ibu Reni pernah sangat melukai sang istri. Tanpa mau membuat sang istri kembali terluka makin dalam, ia meyakinkan sang istri. “Hanya sebatas itu yang kita lakukan sebagai bentuk dari penghormatan terakhir kita.”
“Iya, Pah. Makasih banyak,” banyak ibu Rembulan yang kemudian menghela napas dalam sekaligus pelan. “Rasanya beneran campur aduk,” batinnya yang kemudian menikmati nasi goreng buatan bi Ade.
Selesai sarapan, mereka langsung bersiap pergi karena hari ini, Devano akan sunat. Seperti yang mereka duga, Azelia sudah ada di depan gerbang. Malahan, wanita itu masih memakai pakaian sama dan tampaknya Azelia memang tidak pulang. Tanpa menghiraukan Azelia, semuanya kompak cuek. Namun kepada mobil Restu, Azelia sempat menghadang dan tidak mau minggir hingga pak Lukman sengaja turun untuk menggiring, memaksa Azelia mundur.
“Saya mau ikut. Enggak apa-apa, jadi tukang beres-beres pun enggak apa-apa!” yakin Azelia benar-benar memohon.
“Tolong jangan bikin hidup orang susah, Bu. Tolong lah, kalau memang Ibu enggak bisa berguna buat orang lain, paling tidak Ibu harus berguna buat diri Ibu. Jangan begini terus, malu!” ucap pak Lukman yang mendorong paksa Azelia karena wanita itu terus memaksa untuk menjadi ART di keluarga Restu.
***
“Kak Vano, sunat itu apaan, sih?” tanya Rayyan yang kali ini bergabung dengan Devano. Ia duduk di tempat duduk penumpang paling belakang bersama Devano.
“Sunat ya dipotong anunya, yang buat pipis!” balas Devano ketus.
“Lah, kamu sih iya, apa-apa takut. Sama taii bebek yang jelas-jelas enggak hidup saja kamu takut. Ayo sunat sekarang saja, daripada pas kita udah gede, dipotongnya sampai abis, loh!” lanjut Devano.
“Aahhh!” Rayyan sudah langsung merengek ketakutan.
“Nangis lagi ...,” komentar Restu membiarkan sang istri memasang stiker aroma terapi di masker miliknya.
“Rayyan mau sekalian enggak?” tanya Arnita lembut sambil menoleh, menatap Rayyan dengan tatapan teduh.
“Sakit enggak, sih?” rengek Rayyan.
Sekitar satu jam kemudian, pertanyaan Rayyan terbalas tak lama setelah Devano keluar dari ruang sunat.
__ADS_1
“Sumpah, enggak sakit!” yakin Devano yang melangkah saja masih lancar.
Restu yang membawa celana sang putra, menahan senyumnya. Restu masuk bersama pak Lukman menemani Devano. Sisanya tidak Devano izinkan dengan dalih, malu.
“Anteng banget. Malahan tadi Kakak bingung, kok udah, sampai disuruh keluar karena udahan, Devano nya beneran enggak mau!” jelas Restu.
“Jagoan, ya. Besok kalau sudah sembuh tinggal naik kuda diiringi kuda lumping!” ucap pak Iman sambil merangkul punggung sang cucu menggunakan kedua tangannya. Kemudian, ia memberikan amplop putih kepada Devano.
“Ini apa, Mbah?” tanya Devano.
“Habis sunat ya dikasih uang! Kalau bahasanya Mbah, namanya sangu!” jelas pak Iman.
“Wah ....” Devano langsung antusias dan makin antusias karena semuanya kompak memberinya uang, kecuali Rayyan. Oma, opa, Aunty, mama, papa, termasuk pak Lukman silih berganti memberinya amplop.
“Wah, Kak Vano sunat, jadi mendadak kaya dong, sana sini kasih uang!” komentar Rayyan yang menjadi ingin sunat juga agar dapat banyak amplop layaknya Rayyan.
“Ya sudah sekalian. Oma temenin!” yakin ibu Rembulan.
Rayyan yang ngumpet di balik rok sang mamah, menatap takut wajah-wajah di sana. “Tapi dikasih duit juga, ya?”
“Iya dikasih. Dikasih banyak. Ayo, sama Opa!” ajak Tuan Cheng yang langsung mengemban Rayyan. “Sekalian saja, biar langsung diproses.” Ia mengakhiri ucapannya dengan tertawa.
Maunya Rayyan ikut sunat membuat semuanya was-was. Mereka kompak melongok ke dalam. Dan layaknya Devano, Rayyan juga tidak merasa sakit, walau sepanjang proses, bocah itu terus bertanya.
“Uangnya mana?” tagih Rayyan ketika akhirnya keluar dari ruang sunat.
Semuanya kompak tertawa sambil memberi Rayyan amplop, silih berganti. Walau mereka juga yakin, saat efek biusnya habis, kedua bocah itu akan merasakan sakit dari sunatnya.
__ADS_1