Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
48 : Pemecatan dan Ganti Rugi


__ADS_3

Setengah berlari, Arnita mengunjungi sebuah pasar pakaian selaku pusat perbelanjaan pakaian terbesar di ibukota. Blazer-blazer cantik rancangannya memenuhi pasar di sana. Menjadi produk paling laris dan bahkan beberapa dari mereka yang kebanyakan wanita sudah sampai memakainya.


Arnita menangis lemas memandangi semua itu. Tangannya yang gemetaran berangsur meraba beberapa blazer di sana dan ia sampai ditawari oleh penjualnya. Nyawanya seolah dicabut secara paksa, dan ia sungguh merasa semuanya telah berakhir.


Perusahaan merugi, tentu saja. Dan Arnita menjadi orang yang paling bertanggung jawab untuk semuanya.


Wajah-wajah orang di perusahaan menjadi pucat. Tidak ada yang tidak gelisah tanpa terkecuali Miss Tania. Wanita itu tampak begitu gugup memegang ponselnya. Di depan jendela sebelah meja kerjanya, kedua tangannya yang gemetaran mengendalikan ponsel.


“Padahal aku hanya menaruhnya di story IG!” racau Miss Tania yang terusik oleh kedatangan seseorang. Seperti yang ia takutkan, itu Arnita.


Arnita yang menjadi mirip mayat hidup, mendatangi Miss Tania dengan langkah nyaris tak menghasilkan suara. Namun kenyataan tersebut malah membuat seorang Miss Tania makin gugup. Ponsel canggihnya terjatuh dari kedua tangannya yang makin gemetaran.


“Miss Tania, saya tidak seboddoh yang Anda pikirkan. Alasan saya menghormati bahkan patuh kepada Anda saja karena saya menghormati Anda sebagai atasan saya.” Arnita berkata tegas penuh kepedihan.


“Tentu saja saya juga tidak akan lupa, hari itu Anda memaksa saya untuk mengambilkan foto Anda saat memakai blazer lama koleksi saya. Anda berdalih sangat menyukai semuanya.” Arnita yang melangkah mendekati Miss Tania, dan sudah ada di hadapan wanita itu, berangsur meraih ponsel Miss Tania. Namun dengan cepat sang pemilik merebutnya.


“Ibu Arnita, tolong jangan kurang-ajar! Jangan karena Ibu Arnita merupakan suami CEO, Anda bisa kurang-ajar seenaknya kepada saya!” lirih Miss Tania sengaja memberi Arnita peringatan.


“Anda tahu suami saya CEO ini, dan mertua saya merupakan presiden direktur di perusahaan ini, kenapa Anda masih mengelak? Bukankah itu sama saja dengan bunuh dirii?” sergah Arnita masih berucap lirih tapi menusuk.


Ucapan Arnita barusan tak ubahnya tamparan keras. Miss Tania menjadi berkeringat, panas dingin di tengah tatapan kesalnya yang terus tertuju kepada kedua mata Arnita. Anehnya, wanita itu sama sekali tidak takut kepadanya. Malahan, Arnita terkesan sedang menghakiminya.


“Berikan ponsel Anda kepada saya. Karena saya yakin, semua ini karena foto-foto itu!” lanjut Arnita dan langsung dibalas gelengan tegas oleh Miss Tania.

__ADS_1


“Jangan pernah menuduh tanpa bukti, Ibu Arnita!” tegas Miss Tania.


“Berikan saja ponselnya, daripada suami saya yang melakukan karena jika itu sampai terjadi, Anda pasti menyesal, Miss! Suami saya bisa menjadi sangat kejji jika anak dan istrinya sampai diusik bahkan, ... disakiti!” ucap Arnita.


Miss Tania tersenyum sinis, membuat tampangnya benar-benar kejji. Di tengah tatapannya yang masih fokus tertuju membalas tatapan Arnita yang sampai detik ini masih menghakiminya, ia membanting sekuat tenaga ponsel di tangan kanannya.


“Tidak akan ada bukti yang bisa Anda temukan, Ibu Arnita!” tegas Miss Tania lirih, tapi kali ini benar-benar penuh kemenangan.


Arnita menggeleng kesal dan segera memungut ponsel yang layarnya sudah langsung pecah tersebut, tapi dengan cepat, Miss Tania menggilas tangan kanan yang masih berusaha meraih ponselnya. Arnita meringis kesakitan, tapi wanita itu tetap bertahan meraih ponselnya menggunakan tangan kiri yang masih bebas.


Bertepatan dengan itu, pintu ruang kerja Miss Tania terbuka. Restu pelakunya. Setelah sempat tercengang menatap apa yang terjadi di dekat meja kerja Miss Tania, Restu langsung melangkah cepat. Pria itu mendorong tubuh Miss Tania sekuat tenaga. Miss Tania berakhir terjatuh terlentang setelah sebelumnya sampai terbangingg. Kemudian yang Restu tuju tentu saja yang istri.


Punggung tangan kanan Arnita sampai lecet dihiasi darah segar, tapi Arnita tetap berusaha mengoperasikan ponsel Miss Tania.


Lantaran tidak digubris, Restu sampai balik badan, menatap Miss Tania yang masih meringis kesakitan. Tatapan yang juga sagat kejji.


Beberapa saat kemudian, rapat darurat digelar. Rapat tersebut menghadirkan semua karyawan penting termasuk juga tuan Cheng yang tak lain suami ibu Rembulan.


Miss Tania terbukti bersalah. Karena meski foto-fotnya yang menggunakan blazer koleksi Arnita sudah tidak terlihat, di jejak kiriman story ketika akan membuat sorotan cerita, masih ada. Termasuk foto-foto yang saat itu Arnita abadikan secara langsung. Foto yang jumlahnya ada beberapa itu memang tidak ada di Galeri aplikasi ponsel. Namun di bagian aplikasi pembuangan ponsel, foto-foto yang dimaksud baru saja mengalami penghapusan dan masih bisa dipulihkan sebelum tiga puluh hari dari penghapusan.


Miss Tania langsung dipecat dengan tidak hormat dan sampai harus membayar sejumlah uang ganti rugi. Termasuk Arnita, wanita itu juga dipecat karena dianggap lalai sekaligus kurang bertanggung jawab. Tuan Cheng sendiri yang langsung melakukan pemecatan tersebut.


“Kenapa Tuan sampai memecat ibu Arnita?” kesal Restu menatap marah papah sambungnya.

__ADS_1


“Maaf Tuan Cheng, ... sejauh ini, ibu Arnita sudah memberikan banyak inovasi rancangan baru untuk perusahaan kita. Bahkan sebelum Ibu Artina memegang posisi sebagai kepala desainer, Ibu Arnita sudah sangat membantu atasannya yang enam bulan lalu resign.” Mario yang duduk persis di sebelah Arnita, bertutur dengan sangat hati-hati.


“Tolong pertimbangkan lagi karena keputusan ini sangat tidak adil untuk Ibu Arnita. Apalagi jika Tuan Cheng yang ada di posisi Ibu Arnita, ... Tuan Cheng pasti akan melakukan hal yang sama. Karena jangankan Ibu Arnita, saya saja yang hanya satu level di bawah Miss Tania, benar-benar tidak berani menolak permintaan Miss Tania. Semuanya tahu Miss Tania kaki kanan Tuan, inilah alasan kami tidak berani menolak.” Mario masih menjelaskan.


Restu mengembuskan napas berat melalui mulut. “Jika memang ibu Arnita harus berhenti bekerja, biarkan dia melakukannya secara terhormat. Karena paling tidak, dia pasti juga akan langsung memperbaiki produknya yang telanjur dipasar luaskan.”


“Saran saya, jangan pernah meragukan kemampuan orang yang sudah terbiasa bekerja keras. Karena jika Anda benar-benar nekat melakukannya, Anda akan menjadi manusia hancur untuk setiap kesuksesannya.” Kali ini Restu sampai mengancam. Ia menatap sengit pria berkulit putih di hadapannya yang memang bermata sangat sipit khas orang chinese.


Tuan Cheng tetap diam, tapi tak lama setelah Restu melangkah pergi, Tuan Cheng menghantamkann kedua tangannya ke sisi meja bundar tempat mereka bermusyawarah.


Tatapan Tuan Cheng fokus pada Arnita yang masih diam di depan sana. Arnita yang duduk di sebelah Mario tampak sangat tegar. Wanita itu terlihat jelas siap menerima segala konsekwensi atas keadaan kini.


“BUAT SEMUA BARANG MENJADI BERBEDA, DAN PASTIKAN, FIOLA MENJADI MODEL UTAMANYA!” tuntut Tuan Cheng yang tak ubahnya titah Raja.


“Niat saya memang begitu, Tuan Cheng,” ucap Arnita yang kemudian menghela napas pelan.


“Saya ingin menemukan Fiola dan Tiara di proyek bahkan panggung yang sama. Selain kekuatan fans mereka sama-sama kuatnya, fakta bahwa mereka kurang akur dan kerap dibanding-bandingkan oleh khalayak akan menjadi ketertarikan tersendiri. Saya yakin proyek ini benar-benar akan viral karena dua idol muda yang sedang naik-naiknya dan terkenal kurang akur, akan bekerja sama memamerkan produk kita!” yakin Arnita lagi.


“Baiklah. Namun waktumu tidak ada satu minggu, jadi kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan!” tegas Tuan Cheng.


“Beri dia waktu sepuluh hari!” pinta Restu yang kali ini berdiri di belakang kursi Arnita duduk. Ia menatap sang papah sambung penuh tuntutan.


Semua yang ada di sana dibuat menahan napas karena perseteruan sengit antara Restu dan Tuan Cheng, tanpa terkecuali Miss Tania. Miss Tania yang duduk di seberang bekas Restu duduk, terus menunduk lantaran wanita itu merasa tak memiliki harga diri yang masih tersisa.

__ADS_1


__ADS_2