
“Aku sudah bilang mengenai Mario ke Fiola,” cerita Arnita sambil memantau Devano dan Rayyan makan karena ia malah menyuapi Restu makan menggunakan nasi bebek yang ia bawa.
“Terus?” balas Restu dengan suara lirih juga demi menjaganya dari Devano yang serba kepo.
Arnita menceritakan semuanya, selain Fiola yang akhirnya berdalih akan belajar menerima kenyataan.
“Kalaupun sampai lanjut, tunggu si ibu Reni enggak ada saja,” ucap Restu yang memang masih belum respek ke ibu Reni.
Arnita yang bersiap menyuapi suaminya lagi berkata, “Yang namanya umur kan enggak ada yang tahu, Pah. Malahan sering, yang sehat wal afiat mendadak meninggal, eh yang sakit malah awet sakit-sakitan. Bisa jadi, alasan sakitnya diawetin gini karena Tuhan ingin yang menjalani itu tobat.”
Restu menghela napas dalam. “Susah sih Fiola. Padahal pas aku seusia dia, aku ya enggak selabil itu.”
“Papah dewasa terlalu dini karena lingkungan sekaligus keadaan Papah,” balas Arnita.
“Mamah enggak makan?” tanya Devano tengah menyuir-nyuir bebek goreng milik Rayyan.
Restu dan Arnita refleks menoleh, menatap sang putra. Kebersamaan mereka benar-benar terasa hangat walau di beberapa kesempatan, Devano masih memarahi Rayyan.
“Kamu belum pernah gendong bebek hidup, kan? Kamu belum pernah ambil telor bebek dari kandang langsung, kan? Kamu punya kelinci sama ayam juga enggak? Aku punya tuh di kampungku!” cerita Devano.
Restu menertawakannya. “Memangnya itu kampungnya Kakak?”
“Maksudnya, di rumah Kakak yang di kampung, Papah,” ucap Arnita langsung berusaha mengoreksi ucapan sang putra.
Devano langsung membenarkan anggapan mamahnya. “Ah, Papah ini!”
Restu langsung mengangguk-angguk. Ia berangsur meraih sebotol air mineral dari hadapannya kemudian membukanya. “Rayyan mau ikut pulang kampung main ke rumah Kak Vano, enggak? Kalau mau, besok ikut!”
__ADS_1
Rayyan yang mendengar itu langsung menunjukkan ekspresi antusias.
“Sudah dibawa saja, Pah. Nanti kalau nangis, langsung masukin ke kandang bebek saja, biar kapok!” ketus Devano.
Restu dan Arnita langsung tertawa. “Besok lah yah, kalau Papah Restu sama Mamah Arnita sudah beres urus resepsi!” janjinya. Satu hal yang sengaja ia minta kepada Arnita perihal hubungan mereka dengan Rayyan yaitu membiarkan Rayyan terbiasa memperlakukan mereka sebagai orang tua.
Di tempat yang berbeda, Fiola tengah berjalan hati-hati, kemudian mengetuk sebuah pintu berlabel “Manager Pelaksana”.
“Saya merasa beruntung karena saya tidak sampai dipecat setelah mamah kamu mengetahui latar belakang saya.” Mario bertutur dengan sangat santun menatap Fiola yang cenderung sedih.
“Jujur,” ucap Fiola yang masih duduk di temat duduk depan Mario. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja kerja Mario. “Kamu bahagia enggak, punya orang tua seperti itu?”
Tanpa berpikir panjang, Mario langsung menggeleng tegas di tengah tatapan penuh keseriusannya yang terus tertuju kepada kedua mata Fiola. “Enggak!” Ia menggantung ucapannya.
Fiola terdiam bingung tapi ia sendiri tidak bisa berbuat banyak termasuk itu sekadar melanjutkan ucapannya. Karena jujur saja, sebenarnya alasannya begitu keras kepala karena ia terlalu haus perhatian apalagi kasih sayang.
“Di keluarga saya ada satu kebiasaan, semacam budaya dan juga kewajiban. Bahwa seorang anak lak-laki memiliki tugas mutlak menjadi tulang punggung keluarga dan itu berlaku juga untuk saya,” jelas Mario.
“Terus, memangnya kamu punya saudara berapa?” tanya Fiola serius. Hatinya terketuk dan ingin mendengar kisah hidup pria di hadapannya lebih jauh lagi.
“Saya dan saudara saya, enam bersaudara. Dua laki-lak dan empat perempuan. Saya anak keempat. Anak pertama orang tua saya perempuan, anak kedua laki-laki. Dari semuanya sudah berumah tangga termasuk adik terkecil saya yang usianya dua puluh lima tahun. Setiap bulan keempat saudara perempuan saya, meminta jatah sumbangan dana hidup, belum mamah yang sedang sakit dan semua biaya mutlak saya yang urus,” balas Mario.
“Kan tadi ada kakak laki-laki,” ujar Fiola.
“Dia sudah angkat tangan karena anaknya juga banyak dan otomatis biaya hidup keluarganya juga sudah banyak. Jangankan kasih, enggak minta ke saya saja, sudah untung,” balas Mario.
“Hanya karena kamu belum menikah dan mereka menganggapmu enggak punya beban?” tebak Fiola lagi.
__ADS_1
Mario mengangguk.
“Dilepas saja semuanya kenapa?” balas Fiola yang sampai meminta Mario untuk menabok saudara bahkan mamahnya yang serba minta bantuan.
Mario menggeleng tegas. “Yang ada mereka berisik dan terus ribut.”
“Mending mereka berisik bahkan saling bunuh daripada kamu terus urus mereka dan yang ada kamu juga yang mati! Orang-orang seperti mereka beneran enggak berguna, sudah suruh mati saja!” balas Fiola yang menjadi kesal sendiri.
“Asli aku emosi!” lanjut Fiola. “Iya kalau kamu sehat, kalau kamu sakit? Juga, kalau kamu mati, siapa lagi yang bakalan bantu mereka kalau mereka enggak belajar mandiri dari sekarang?!”
Walau yang semacam keluarga Mario, Fiola yakini tak hanya ada tapi memang banyak di kehidupan ini, Fiola yang mengetahui kenyataan tersebut sampai menimpa Mario, merasa tak terima.
“Apa ini yah, salah satu alasan yang Tuhan kasih ke aku, agar aku menjadi manusia lebih baik lagi seperti janji yang kuberikan kepada mbak Arnita?” pikir Fiola yang mendadak merenung.
Kehidupannya yang tidak baik juga membuatnya menyadari, sebenarnya dirinya juga tidak begitu berbeda dengan keluarga Mario. Bedanya, keluarganya kaya raya, sementara Mario pas-pasan tapi tidak bisa hidup sesuai kemampuan.
“Bisa jadi, awal-awal mengenalku, mbak Arnita juga risi, kok adik suaminya gitu banget,” batin Fiola yang menjadi malu sendiri dengan kelakuannya.
“Saranku, mulai sekarang juga mending kamu stop, sih. Kamu cukup urus mamah kamu saja, itu pun kalau kamu memang enggak mampu, kamu boleh bahkan wajib minta bantuan saudara karena tanggung jawab ke orang tua bukan hanya tugas seorang anak. Tanggung jawab ke orang tua ya bareng-bareng. Kan yang dilahirin orang tua kamu bukan hanya kamu. Apalagi pas masih kecil, kamu semat dibuang dan hidupmu distel mirip drama.” Fiola menatap Mari penuh keseriusan. Di hadapannya, Mario tampak jelas belum bisa menentukan pilihan dan mungkin karena pria itu sudah terbiasa dipaksa menerima keadaan.
“Memangnya kamu enggak mau nikah?” lanjut Fiola. Detik itu juga Mario langsung menatapnya dengan tatapan bergetar. “Memangnya kamu enggak mikirin perasaan istri dan anakmu nanti, kalau kamu terus-menerus mengurus keluarga kamu? Kamu akan mengatasi situasi kamu dengan bagaimana? Mengorbankan hidupmu dan keluargamu?”
“Soalnya, andai kamu tetap biayai keluargamu, otomatis anak dan istrimu akan telantar. Sementara andai kamu sampai ambil banyak pekerjaan pun, masih anak dan istri kamu yang dikorbankan. Anak dan istri kamu butuh kamu, tapi kamu hanya sibuk mencukupi keluarga kamu.”
“Saranku kalau kamu tetap enggak bisa lepas dari jerat gila keluarga kamu, jangan pernah menikah apalagi punya anak. Karena andai iya, istri dan anakmu bisa jadi korban. Hanya ada dua kemungkinan mengenai apa yang akan istri dan anakmu lakukan jika mereka memiliki suami sekaligus papah sepertimu. Pertama mereka yang lelah memilih meninggalkanmu. Dan yang paling fatal, istrimu menyakiti dirinya maupun anaknya dengan bunuh diiriii, menganggap hal itu sebagai satu-satunya cara untuk keluar dari masalah kalian.”
Mendadak Fiola berpikir, kasus Mario bisa membuatnya menjadi orang yang berpikir lebih dewasa sekaligus berguna.
__ADS_1