Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
98 : Ketiga Anak Arnita


__ADS_3

“Makasih banyak, ya. Tanpa mau menutup mata mengenai perjalanan hubungan kita, semuanya benar-benar indah.”


“Kita memulai semuanya dengan sangat tidak mudah. Masih ingat?” Restu menatap Arnita dengan kedua mata yang basah walau ia terus memberikan senyum terbaiknya pada Arnita yang duduk di sebelahnya.


Arnita berangsur mengangguk-angguk. Tak beda dengan sang suami, kedua matanya yang perlahan terasa panas juga ia rasa basah. Seiring dengan itu, pandangannya juga menjadi tidak jelas.


“Lebih drama dari drama India pokoknya, ya?” lanjut Restu sambil melirik Arnita penuh arti. Bersama senyum yang kian lepas, tangan kanan Arnita mencubitnya gemas.


“Tanpa adegan slow motion, yah, Pah!” ucap Arnita sengaja mengingatkan.


Restu yang seketika menahan senyumnya, berangsur mengangguk-angguk.


Mereka tengah di balkon depan kamar. Kebersamaan mereka hanya dipisahkan oleh meja bundar berukuran kecil.


“Enggak terasa, Devano sudah mau tujuh tahun. Bentar lagi masuk SD. Didi mau genap setahun, dan sudah jadi bestie kakaknya.” Arnita menutup ucapannya sambil menatap sang suami penuh cinta.


Restu langsung menanggapi dengan serius. “Gimana, Bun? Sudah ada gambaran mau nambah momongan lagi?”


Arnita langsung tersipu dan perlahan menahan tawanya. Sambil menatap sang suami, ia berkata, “Mau menikmati jadi ibu dari dua anak dulu!”


“Jangan lupa, aku juga termasuk!” sergah Restu melirik Arnita penuh arti bersama senyumannya. Di hadapannya, sang istri langsung tertawa. Tawa yang masih ditahan karena Arnita memang masih tersipu.


“Berarti, Mas anak pertama, Vano ke dua, terus baru Didi, ya?” ucap Arnita di sela tawanya.


Restu langsung menghela napas pelan. “Bukan gitu ... aku tetap yang paling muda!” ucapnya berusaha mengoreksi anggapan sang istri. Namun yang ada, Arnita malah terpingkal-pingkal.

__ADS_1


“Jadi, apa pun yang terjadi nanti, mau punya anak lima atau cukup tiga saja, ya tetap aku jadi yang paling bontot!” ucap Restu mohon izin pada Arnita agar selalu diakui jadi anak termudanya.


Arnita mengangguk-angguk sanggup. “Coba izin dulu sama anak pertama. Ih, kok malah jadi bikin beban Vano makin berat, ya? Secara, punya adik kayak papahnya, pasti nguras emosi.” Arnita sengaja melipat kedua tangannya agak ke tengah-tengah meja.


“Beban bagaimana? Orang adik termudanya bakalan bagi-bagi warisan ke dia!” balas Restu sewot seiring kedua tangannya yang juga ia lipat layaknya Arnita, tapi perlahan kedua tangannya malah meraih sekaligus menggenggam kedua tangan sang istri.


“Langit hari ini yang beneran kelabu berasa jadi penuh dengan pelangi gara-gara sika manis Papah,” ucap Arnita yang kemudian tersipu, tapi ia sungguh merasa sangat terharu.


“Kode keras ini!” ucap Restu kembali melirik sang istri penuh arti.


Arnita langsung tersenyum tak berdosa. “Sore, jalan-jalan ke luar, yuk? Weekend, kan? Takutnya di rumah terus, anak-anak juga bosen.”


“Mamahnya saja bosan, apalagi anak-anak, ya?” sergah Restu.


Arnita langsung mengangguk-angguk layaknya bocah. “Iya!” ucapnya seiring bibirnya yang mengerucut seiring ia yang menatap melas Restu. Suaminya itu tertawa kemudian beranjak menghanpirinya.


“Jujur, pembukaan butiknya bikin aku gugup loh, Pah! Padahal kan masih satu minggu lagi.” Kali ini Arnita benar-benar mengadu. Ia meringkuk dalam dekapan Restu yang ia tatap penuh kemanjaan.


Setelah proses panjang, satu minggu lagi akhirnya butik Arnita akan diresmikan. Sederet persiapan sudah tinggal eksekusi. Beberapa pakaian unggulan juga sudah tinggal dipajang. Namun efek nyaris dua tahun lamanya vakum dari dunia desain sekaligus vakum dari dunia pekerjaan, Arnita kehilangan banyak keberanian. Arnita mendadak kesulitan untuk tampil percaya diri.


“Tapi kayaknya normal sih, soalnya kan sekarang ada yang urus dan terbiasa diurus, jadi hati pun refleks damai-damai saja. Beda dengan dulu yang apa-apa harus dikerjakan sendiri. Karena andai enggak, ya otomatis dapur enggak ngebul.” Hati kecil Arnita berbisik, dan Arnita langsung memaklumi kenapa dirinya ada di titik layaknya kini. Iya, jawabannya sesimpel itu. Karena kini, ia begitu dicintai dan juga sangat mencintai. Ia memiliki suami yang sangat mencintainya. Ia memiliki anak-anak yang tak hanya sangat menyayanginya karena keduanya juga akur, kompak, dan serba pintar. Termasuk urusan keluarga, baik dari pihak keluarga maupun mertua, semuanya juga sangat peduli kepada Arnita berikut anak-anaknya.


“Eh, Pah. Kayaknya kita sudah terlalu lama di sini. Cek anak-anak dulu yuk, mereka lagi ngapain,” ajak Arnita yang berangsur berdiri meninggalkan tempat duduk berhias langit kelabu di depannya.


“Paling lagi main lego,” balas Restu berangsur menyusul Arnita.

__ADS_1


Pyaaarrr ....


Di ruang keluarga lantai bawah, kapal rakitan dari lego dan baru saja Devano selesai susun, sudah langsung runtuh karena tangan lincah Didi. Seperti kebiasaan akhir-akhir ini, Didi yang sedang rutin tepuk tangan langsung tepuk tangan setelah kehebohan fatal yang ia lakukan. Padahal di sebelahnya, sang kakak sama sekali tidak tertawa atau setidaknya tersenyum. Devano masih bengong cenderung syok menyaksikan kapal rakitannya dan tingginya nyaris setara dengan tinggi Didi, runtuh.


Arnita dan Restu sampai menahan napas kemudian saling lirik, khawatir Devano ngamuk. Apalagi setelah mengetahui keberadaan mereka, Didi yang sudah lancar berjalan, dengan tanpa dosa meninggalkan kakaknya begitu saja.


“Papah, sih!” kesal Devano yang pada akhirnya mengomel, melampiaskannya kepada sang kembaran.


“Loh, kok Papah?” Restu langsung terheran-heran walau sebenarnya, ia juga sudah sangat ingin menertawakan Devano. Namun, ia sengaja menahannya karena takut membuat Devano benar-benar mengamuk.


“Ya gara-gara Papah ada si situ, jadinya kapal aku runtuh!” kesal Devano.


Resty tersenyum geli seiring ia yang berangsur menghela napas pelan. “Anakmu, Mah. Dikiranya Papahnya punya radiasi penghancur. Dari sejauh ini bisa bikin kapal legonya runtuh!” ledeknya yang tetap saja terjadi, meski ia susah payah menahannya.


“Ya sudah ... sudah. Ayo kita susun legonya lagi. Bareng-bareng!” sergah Arnita tak mau sang putra telanjur mengamuk. Ia langsung menyerahkan Didi yang sempat ia emban, kepada Restu.


Sekejap kemudian, Arnita sudah berhasil membuat sang putra kembali mulai menyusun legonya.


“Mesin penghancur juga sudah siap, ini!” sindir Restu masih mengemban sang putri yang sampai ia timang.


Arnita menggeleng tak habis pikir. “Ini pasti masih lama. Papah, tolong pesenin pizza, dong. Kakak mau pizza, kan?” sergahnya berusaha membuat kebersamaan di sana tidak membosankan khususnya bagi Devano yang tengah ngambek.


“Oke kita pesan pizza. Kakak mau pizza apa saja?” Restu langsung menanggapinya dengan hangat.


“Pengin makan di sananya, di tempatnya!” sergah Devano bersemangat.

__ADS_1


Restu mengangguk-angguk. “Oke, paling nanti sore, ya. Sekalian jalan-jalan ke luar. Tapi sekarang tetap pesan pizza. Apa mau makanan lain?”


Weekend mereka sungguh hanya diisi dengan kebersamaan indah yang tak luput dari drama Devano, Restu, dan sekarang ditambah Didi yang aktifnya bukan main. Dengan kata lain, Arnita harus makin bersabar dalam menghadapi ketiga anaknya, termasuk itu Restu di dalamnya. Apalagi jika sudah rese kepada Devano, kadang Restu juga akan lupa diri, hingga kerap membuat sekelas Devano tantrum.


__ADS_2