Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
94 : Isi Pikiran Azelia


__ADS_3

Sore menjelang petang, Devano yang tidak sabar karena sudah menunggu dari pagi, termangu di teras depan rumahnya. Di depan gerbang sana, satu persatu anggota keluarganya keluar dari alphard hitam milik orang tuanya. Ada sang oma yang duduk di depan dan mengemban bayi. Sementara dari pintu penumpang belakang, sang papah melangkah buru-buru kemudian membukakan pintu dan dari sana ia melihat sang mamah. Perut mamahnya sudah tidak besar.


“Ayo, Kak,” ucap pak Iman lembut sambil menggandeng sebelah tangan Devano.


Devano terusik dari renungannya. “Perut Mamah sudah enggak besar, Mbah. Mamah enggak sakit, kan?” Ia sungguh penasaran. Alasannya menatap sang kakek penuh keseriusan pun karena ia ingin segera mendapatkan kejelasan.


“Alasan perut Mamah besar kan karena di perut Mamah ada dedek Divani,” yakin pak Iman. “Dan sekarang dedek Divani sudah keluar, makanya perut Mamah sudah enggak besar.”


Devano langsung mengangguk-angguk paham. Kemudian ia menatap ke depan dan perlahan membawa sang kakek melangkah, menghampiri sekaligus menjadi bagian dari kebahagiaan di depan sana. Namun, ... Devano melihat Azelia yang sedang melipir bersembunyi di balik tembok menuju kompleks sebelah di depan sana.


“Itu beneran Azelia, Mbah! Awas!” tegas Devano langsung emosional. Ia langsung mengipratkan gandengan sang kakek kemudian lari sekencang mungkin mengejar Azelia. Di depan sana, wanita berkerudung hitam itu tampak sangat panik, kemudian buru-buru kabur.


Layaknya Azelia, semua yang ada di sana juga panik. Restu nyaris menahan Devano agar bocah itu tidak mengejar wanita yang ia pergoki sungguh Azelia karena Azelia juga kerap menoleh ke belakang layaknya maling yang tertangkap basah pada kebanyakan. Namun, Devano tidak mau. Jadilah Restu yang baru menurunkan Arnita yang sampai ia bohong untuk turun dari mobilnya, sengaja meninta pak Lukman selaku pawang Devano untuk mempercepat langkah karena dari awal Devano lari pun, pak Lukman yang memang mengawal sudah langsung lari.


Jebreeeeddddd!!

__ADS_1


“Devano!” teriak Arnita histeris bersama air matanya yang berjatuhan. Jauh di dalam dadanya, jantungnya seolah rontok hanya karena pemandangan di depan sana.


Restu buru-buru lari menyusul ke depan meninggalkan Arnita yang sudah tersedu-sedu dan perlahan juga ikut menyusul.


Tepat di pertigaan kompleks sebelah keberadaan rumah Restu, Devano sudah dipeluk erat oleh pak Lukman yang sengaja membuat bocah itu tidak melihat apa yang ada di depan sana. Pak Lukman sengaja membenamkan wajah Devano ke perutnya. Sementara di jalan sebelah, Azelia yang tertabrak kijang hitam dan sudah berhenti tepat di depan mereka, menggeliat kesakitan.


Darah segar terus keluar dari mulut sekaligus hidung Azelia yang kepala dan sebagian tubuhnya masuk ke got rumah sebelah rumah Restu. Karenanya, mereka hanya bisa melihat kedua kaki Azelia yang gemetaran hebat. Got Azelia berada pun terbilang dalam, sekitar satu meter dan untungnya tidak ada airnya selain got yang cukup bersih dan hanya sedikit berlumut saja.


“Pak Lukman, bawa Devano masuk,” titah Restu yang juga menyuruh semua anggota keluarganya termasuk Arnita masuk.


Tak semata karena waktu sudah makin petang dan adzan maghrib juga tengah berkumandang. Karena alasan utama Restu meminta anggota keluarganya masuk agar mereka tidak melihat keadaan Azelia yang Restu yakini sangat mengenaskan. Benar saja, Restu yang ditemani pak Slamet, pak Iman, dan juga seorang satpam rumahnya maupun Satpam rumah pemilik selokan, mendapati Azelia yang memang sangat mengenaskan.


“Wanita ini lagi,” komentar pak Arwan, satpam dari pemilik selokan.


Restu langsung menyikapinya dengan serius. “Memangnya kenapa, Pak? Bapak kenal wanita ini?”

__ADS_1


“Saya sering mengusir wanita ini, Pak Restu. Saya sudah melaporkannya kepada pak Vincent, dan pak Vincent juga sudah melaporkannya ke satpam kompleks karena, gerak-gerik wanita ini memang mencurigakan. Sering lontang-lantung gitu di sekitar sini. Enggak tahu apa yang dia cari, setiap ditanya jawabannya enggak jelas mirip orang kurang waras,” jelas pak Arwan santun.


“Tiap hari?” lanjut Restu memastikan karen memang penasaran.


Pak Arwan langsung menggeleng. “Enggak sih, Pak. Enggak pasti, tapi seminggu bisa dua apa tiga kali dan waktunya ya jam segini. Terhitung dari kapan, ya. Sudah mau empat bulan intinya. Ah, enggak lama setelah Pak Restu pulang kampung rame-rame sama keluarga Bapak!”


Otak Restu sudah langsung menyusun setiap kemungkinan mengenai alasan Azelia di sana yang ia yakini sengaja. Iya, Restu sangat yakin bahwa Azelia sengaja mengikutinya dari kampung dengan tujuan yang belum ia ketahui, tapi bisa si pastikan tujuan wanita itu mengikutinya sampai Jakarta pasti tidak baik.


Setelah Azelia dibawa ke rumah sakit oleh yang menabrak dan kasus pun ditangani oleh polisi, Restu langsung mengecek CCTV di rumahnya. Walau perlu proses sekaligus membutuhkan kesabaran khusus untuk memeriksanya, apa yang pak Arwan sampaikan memang benar. Azelia tidak setiap hari datang mondar-mandir tak jelas di sekitar jalan depan rumah, selain waktu yang juga selalu sore menjelang petang. Namun bisa Restu pastikan, yang Azelia incar keluarga Restu.


“Terserah kamu, Li. Serapi apa pun kejahatan kamu, Tuhan yang menentukan tidak mungkin tinggal diam kalau niat kamu saja sudah enggak benar. Sudah enggak kurang-kurang, tapi kamu malah makin keterlaluan! Bayangkan andai Devano enggak lihat kamu, pasti dosamu sudah enggak terhitung! Sekarang kamu rasakan sendiri hasil dari perbuatanmu!” batin Restu benar-benar tak mau ambil pusing. Malahan, Restu bersyukur, sumber penyakit dari keluarga sekaligus rumah tangganya sudah mendapat teguran keras. Dan semoga andai Azelia masih bisa hidup, wanita itu akan menjalaninya dengan menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Sampai di kamar, Restu masih melihat ketakutan yang begitu kuat dari sang istri. Wanitanya itu sampai ia pergoki gemetaran hebat walau Arnita tak sampai mengeluh. Ia dekati Arnita yang tengah memberi Divani ASI secara langsung di sofa depan bibir tempat tidur mereka.


Arnita yang menatap kosong wajah Divani sampai tidak menyadari Restu sudah ada di sebelahnya. Barulah ketika tangan kirinya yang mendekap tubuh atas Divani, Restu genggam, Arnita yang terkesiap berangsur menoleh. Arnita menatap Restu sambil sesekali mengerjap. Dari kedua mata Arnita yang sibuk bergetar sekaligus basah, perlahan menghasilkan butiran bening yang silih berganti berjatuhan.

__ADS_1


“Sayang, jangan terlalu dipikirkan loh, nanti yang ada kamu baby blues,” lirih Restu sambil membingkai wajah Arnita kemudian mengelap setiap air mata yang jatuh di sana menggunakan jemari tangannya. Tak lama berselang, Restu sengaja menguncikan bibirnya di kening Arnita.


Arnita masih merasa sangat syok sekaligus tak habis pikir, apa yang sebenarnya ada di pikiran seorang Azelia hingga wanita itu malah makin menggila?


__ADS_2