
“Gimana? Hubungan kamu sama Mario sudah ada perkembangan? Kaka lihat, kemarin pas di resepsi kalian ngobrol dan sampai duduk bareng,” tanya Arnita tak lama setelah kedatangan Fiola.
Mereka ada di kediaman orang tua Fiola, dan tengah bersiap untuk makan siang. Restu, Devano, termasuk pak Iman, juga ada di sana. Sementara ibu Rembulan dan sang suami tengah ada di luar dan sampai mengajak Rayyan.
“Biasa saja sih, Kak.” Fiola meraih segelas air putih yang sudah tersedia di meja dan memang untuknya.
Arnita yang mulai mengambil piring untuk Restu kemudian mengisinya dengan nasi dan menu yang sang suami kehendaki, menatap tak mengerti sang ipar. “Biasa kamu kayaknya beda dengan kriteria apalagi standar rata-rata, deh.”
“Ya iya, aku beneran bakalan hanya biasa saja kalau dia masih dengan cara hidup keluarganya,” yakin Fiola yang kemudian berdiri, bersiap mengisi piring yang baru saja ia ambil dengan makanan yang ia kehendaki walau di meja panjang nan luas yang bersebelahan dengan kolam renang di sana penuh dengan aneka menu.
“Sayang, nasinya kurangin, sayurnya banyakin,” ucap Restu sambil sesekali serius menatap piringnya, walau ia tengah sibuk dengan kedua ponselnya.
“Nasinya banyakin dikit lah, ya Pah,” ucap Arnita kepada Restu, tapi kemudian kembali fokus ke Fiola karena suaminya juga langsung menurut. “Fi, maksud kamu dengan cara hidup dia itu, yang dia serba urus semua, ya? Termasuk yang sudah rumah tangga pun masih dia urus dan itu ibarat jadi kewajiban dia?”
Fiola yang sudah langsung memakan beef teriyaki kesukaannya walau di piringnya belum apa makanan lain termasuk itu nasi putih, langsung mengangguk-angguk. “Iya, Kak. Soalnya Mas Restu bilang bakalan sewa pembunuh bayaran buat bunuh aku kalau aku sampai sama Mario, tapi Mario belum berubah, dalam arti dia belum bisa didik keluarganya.”
Mendengar itu, Arnita mesem. Sementara di sebelahnya, Restu tetap fokus pada kedua layar ponselnya. Begitu juga dengan Devano, yang sudah langsung fokus makan sambil sesekali membantu sang kakek memakai garpu agar terbiasa. Devano mengajari sang kakek agar bisa terbiasa makan dengan sendok dan garpu.
“Tapi biasanya kalau yang semacam itu, jatuhnya kayak penyakit, Fi. Teman Kakak juga ada soalnya kan. Jadi, dia sama suaminya ibarat tulang punggung keluarga besar suaminya. Mau enggak bantu masih keluarga, mau bantu terus, buat sendiri juga kurang. Sudah enggak kurang-kurang kasih pengertiannya. Tapi ibaratnya sudah jadi budaya, susah mengubahnya,” ucap Arnita yang akhirnya menyuguhkan sepiring makan siang untuk sang suami.
__ADS_1
“Nah itu, Kak. Aku bingungnya di situ,” balas Fiola yang hanya mengisi piringnya dengan beef teriyaki dan nasi putih.
“Enggak perlu bingung, sih. Kamu kan sudah dewasa, sudah punya Rayyan, dan cinta beneran wajib pakai otak,” ucap Arnita sambil mengambil makanan untuknya sendiri.
“Pakai otak gimana, dia kan memang enggak punya otak. Pas pembagian otak, dia ngumpet di kandang bebeknya Kakak!” celetuk Restu yang walau sibuk sendiri dan kali ini mulai makin, tetap saja menyimak obrolan.
Arnita langsung mesem menyikapi sikap sang suami yang sangat mirip Devano. Namun ketika ia menatap Fiola, iparnya itu langsung mendengus sebal kepada Restu.
“Asli, Fi. Keluarga suami temen Kakak sempat berubah, tapi cuma sebentar. Sementara suami temen Kakak yang sudah biasa urus keluarganya, orangnya enggak tegaan. Posisi teman Kakak jadi serba salah. Kebutuhan makin bertambah, anak ya sudah harus sekolah, suami jadi sering marah-marah karena keluarganya dimarahi juga enggak bisa,” jelas Arnita.
“Nanti lama-lama, suami temen kamu jadi ODGJ, Mah!” celetuk Restu lagi.
Pak Iman langsung bengong untuk beberapa saat kemudian bertanya kepada sang cucu yang seba tahu.
Pak Iman mengangguk-angguk paham.
Mendengar komentar Arnita dan Restu, Fiola jadi ngeri. “Asli ngeri.” Ia menatap wajah Restu dan Arnita silih berganti.
Restu berangsur menatap Fiola. “Belajar jadi orang lebih baik saja. Nanti pasti juga dikasih yang selevel. Mulai sekarang kamu jangan menilai orang hanya dari kesuksesan dan juga kehidupan enaknya. Mulai sekarang kamu wajib kepo, gimana proses seseorang bisa sesukses sekaligus sebahagia sekarang.”
__ADS_1
“Bisa sampai di titik ini pun, kami sangat berjuang, Fi. Dari awal, fitnah ibarat teman baik. Air mata ada di mana-mana beneran enggak kehitung, Kakak sampai dibuang bapak. Pas ketahuan hamil Devano, Kakak langsung diusir Azelia dan Kakak memutuskan mengadu nasib ke Jakarta. Mas kamu enggak tahu, jadi saat itu kami beneran lepas kontak. Namun sepanjang itu, walau jujur Kakak sempat marah ke Tuhan, Kakak juga pelan-pelan belajar jadi lebih baik lagi. Walau memang enggak mudah, tapi harga kebahagiaan apalagi kesuksesan memang mahal dan penuh perjuangan!” ucap Arnita lagi. Ia sampai menjadi berkaca-kaca hanya karena membahas perjalanan hubungannya dan Restu.
Restu yang menjadi berhenti mengunyah, berangsur meraih sebelah tangan Arnita kemudian menggenggamnya. Fiola memperhatikannya termasuk adegan Devano yang memarahi sang kakek.
“Kalau Mbah berani buang mamahku lagi, aku buang Mbah ke kandang ayam!”
Pak Iman mengangguk-angguk kemudian kembali meminta maaf. Baik itu kepada Devano maupun kepada Arnita yang pernah sangat ia sakiti.
Belajar dari pengalaman Restu dan Arnita, Fiola merasa hubungannya dan Mario mustahil terealisasi. Apalagi sejauh ini, Mario tidak bisa menolak setiap permohonan keluarganya. Mario tipikal yang rela berkorban apa pun demi keluarga.
“Daripada aku sakit lebih dalam, daripada aku dilema di tengah jalan bersama keluarga kecil kami, sepertinya lebih baik memang sudah saja. Apalagi budaya keluarga Mario memang kayaknya sudah ibarat penyakit,” pikir Fiola. Namun baru juga berniat mengakhiri, ponselnya berdering dan itu WA dari pria yang tengah ia pikiran, Mario.
Mas Mario : Hari ini kamu off, kan? Jalan, yuk. Sekalian ajak Rayyan.
Kepada Rayyan, Mario juga sayang. Namun kini Fiola menjadi berpikir, alasan itu terjadi karena Mario sudah terbiasa mengurus keluarga.
Fiola memutuskan membalas Mario, menyadarkan pria itu secara halus.
Fiola : Aku masih banyak acara sama keluargaku. Bahkan lusa kami mau ke kampung Kak Arina. Kayaknya sih bakalan lama di sana karena aku juga stop job dulu biar bisa fokus sama keluarga.
__ADS_1
Walau pesan Fiola sudah langsung dibaca, tapi Mario tak kunjung membalas atau tanda-tanda pria itu akan melakukannya.
“Maaf, Mas. Aku bukannya jahat, tapi cinta memang wajib pakai otak. Kamu memang orang baik, terlalu baik malahan apalagi kamu juga baik banget ke Rayyan. Namun selama kamu enggak bisa didik keluarga kamu dan bagimu mereka tetap prioritas, ya maaf. Daripada kita tetap jalan dan pas sudah nikah, kita malah saling menyakiti,” batin Fiola berusaha waras syukur-syukur Mario juga melakukan apa yang ia lakukan yaitu berubah menjadi waras. Karena bagi Fiola setelah masukan dari Arnita dan Restu, semacam baik ke keluarga juga harus pakai otak karena kalau tidak ya akhirnya seperti Mario yang ibaratnya mirip diperbudak.