
Sampai rumah, Rayyan sudah langsung merengek kesakitan. Membuat semuanya sibuk menenangkan dengan ancaman, “Rayyan jangan nangis, nanti kamu dibuang ke kandang ayam lagi sama kak Vano!”
Rayyan memang langsung diam ketakutan. Walau begitu, yang namanya Rayyan tetap identik dengan kemanjaan sekaligus tangisnya. Devano yang bisa jauh lebih menahan efek sunatnya, sampai meminta semuanya untuk memasukkan Rayyan ke kandang ayam di belakang rumah.
Mengurus dua pengantin sunat yang memiliki kepribadian berbeda, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka. Rumah selalu ramai oleh drama Devano dan Rayyan. Walau kadang merepotkan, tapi mereka lebih sering tertawanya daripada kesalnya.
Lima hari kemudian, acara syukuran sunat Devano dan Rayyan dirayakan besar-besaran. Tak hanya acara sakral yang sampai disimbolkan dengan kenduri sekaligus memotong dua kambing untuk akikah Devano, juga memotong satu ekor sapi untuk menjamu setiap warga yang datang. Sebab acaranya juga sampai disuguhi hiburan paguyuban kuda lumping. Tentunya, Devano jadi naik kuda, menjadi penganten sunat yang sampai dirias khusus dan dibawa keliling desa. Namun karena Rayyan takut pada kuda, Devano menjadi pengantin sunat sendirian dikawal oleh sang papah dan kedua kakeknya lengkap dengan pak Lukman yang sudah jadi pengawal khusus Devano.
Kini, jika dulu Arnita yang selalu diolok-olok dan selalu disangkut-pautkan dengan hubungan Azelia dan Restu, tidak dengan sekarang. Karena sekarang, semuanya kompak melakukannya kepada Azelia apalagi wanita itu tak segan ikut serta menjadi bagian pesta.
“Andai dulu Azelia enggak selingkuh, pasti dia yang sebahagia sekarang! Lihat pestanya, mewah banget!”
“Salah sendiri si Azelia enggak pernah bersyukur. Dikasih suami mapan dan juga rupawan, malah milih tong sampeh hidup yang kelakuannya bikin istighfar!”
“Sebahagia ini bagaimana? Sama yang terakhir saja dia tetap enggak punya anak! Yang jadi sumber utama kebahagiaan Restu sekarang kan anak! Itu yang pertama sudah bujang, dan sekarang yang di perut juga sudah kelihatan. Enggak seneng gimana Restu? Apalagi Arnita yang jadi sangat glow up, juga sampai masuk youtube sama tivi!”
“Hah? Masuk tivi sama youtube?!”
__ADS_1
Semua ibu-ibu yang tengah menikmati aneka olahan daging sapi di prasmanan, kompak kepo mengenai maksud Arnita yang sudah sampai masuk tivi maupun youtube. Tentu karena Arnita yang pernah menjadi desainer utama dengan karya-karya memukaunya di perusahaan yang Restu pimpin.
Azelia yang memang ada tak jauh dari ibu-ibu berhijab, langsung menunduk lesu. Ibu-ibu yang sengaja tampil necis demi menghadiri acara syukuran sunat Devano dan Rayyan terang-terangan menyindir hanya karena mereka mengerti, ia ada di belakangnya. Mereka yang jumlahnya ada belasan seolah ingin menampar Azelia dengan kenyataan. Kenyataan mengenai pesta yang Restu sekeluarga adakan. Karena meski pesta sunat Devano dan Rayyan boleh dihadiri siapa pun walau tanpa undangan, kenyataan tersebut tidak berlaku untuk Azelia.
“Orang bijak bilang, diam identik emas. Jadi, aku juga akan membuktikan itu. Aku akan memberi mereka balasan setimpal dan pastinya tak terlupakan, walau aku hanya diam. Mereka akan menerima balasan untuk semua hinaan sekaligus luka-luka yang harus aku rasakan,” batin Azelia telanjur dendam. “Karena jika aku tetap tidak bisa menjadi istri mas Restu lagi, biarkan anak-anak mereka yang menjadi sumber luka mereka. Paling tidak, anak yang sekarang masih ada si perut Arnita yang akan merasakannya. Aku sungguh akan membuat anak itu dirawat orang miskin, sementara anak yang mereka rawat justru anak orang lain. Biar mereka tahu rasa! Biar mereka merasakan balasan berkali lipat dari setiap hinaan sekaligus luka yang tengah aku rasakan!” dendam Azelia yang kemudian tersenyum sambil melahap setiap tusuk sate yang menyita sebagian piringnya.
Usia kandungan Arnita yang sekarang memang baru memasuki bulan keempat. Kendati demikian dan perut Arnita juga belum begitu kelihatan besar, kehamilan yang sudah dikabarkan membuat semuanya tahu apalagi Azelia yang sejak dari awal sudah menjadi penguntit Restu sekeluarga. Namun, benarkah Azelia sungguh akan melakukan hal keji seperti yang baru saja wanita itu rencanakan? Benarkah Azelia akan menukar anak di perut Arnita dengan anak dari orang lain hanya untuk menebus rasa sakit hatinya?
Meninggalkan rencana jahat Azelia, ada pemandangan mencengangkan yang langsung membuat setiap pasang mata di acara pesta, menjadikannya sebagai pusat perhatian. Ada dua wanita berhijab dan sampai memakai cadar serba hitam yang datang terbilang telat. Sementara alasan semua mata langsung tertuju kepada keduanya, tentu karena kedua wanita itu merupakan Sita dan ibu Misya.
Wajah kisut dan juga warna kulit yang berbeda, sudah langsung Arnita, Restu, apalagi pak Iman kenali sebagai Sita dan sang mamah datang.
Arnita apalagi pak Iman mengenalinya sebagai suara ibu Misya. Suara yang dulu selalu lantang memberi Arnita sumpah serapah tanpa alasan.
“Berhari-hari kami enggak makan, bahkan Sita sudah sering banget sakit perut. Lihat, kami sekurus ini,” lanjut si wanita sambil merangkul wanita di sebelahnya dan ia katakan sebagai Sita.
Pak Iman langsung menunduk, antara menahan rasa tidak nyaman sekaligus gelisa.
__ADS_1
Arnita yang ada di sekitar sofa pengantin sunat duduk bersama anggota keluarga lainnya, memang mengenali kedua wanita bercadar hitam di hadapannya. Tanpa bersuara pun, Arnita sungguh bisa mengenalinya karena Arnita sangat hafal pada kedua pasang mata tajam, yang dulu selalu menatapnya dengan tatapan menghakimi. Hanya saja, Arnita ingin memberi pelajaran berharga untuk kedua wanita yang Arnita yakini sengaja berpenampilan tertutup tersebut, untuk menutupi luka parah akibat bekas bakarnya.
“Apa buktinya jika kalian memang ibu Misya dan, ... Sita?” lirih Arnita sengaja menguji. Di hadapannya, kedua wanita yang berdalih lapar itu langsung kebingungan. Keduanya langsung bertatapan, terlihat sangat gelisah.
Restu yang sampai turut berdiri di sebelah sang istri, tak berniat melarang Arnita melakukan apa pun karena pada dasarnya yang namanya sakit hati memang sulit diobati. Apalagi sejauh ini, kemarahan Arnita masih sangat manusiawi. Malahan Arnita masih membiarkan pak Iman membiayai pengobatan keduanya.
Setelah menunggu lama dan kedua wanita di hadapannya malah hanya sibuk gelisah, Arnita menghela napas pelan sekaligus dalam, mencoba menyudahi rasa panas, sesak, sekaligus sakit di dadanya. Tak lama setelah itu, Arnita bahkan mereka yang di dekat sana bisa mendengar dengan sangat jelas perut kedua wanita tersebut yang sibuk keroncongan.
“Ya sudah, enggak apa-apa. Enggak usah buka cadar, beneran enggak apa-apa. Sekarang, ... sekarang kalian boleh langsung makan sepuasnya. Namun tolong, doakan yang terbaik untuk kami sekeluarga. Sudah ... aku beneran sudah ikhlas!” isak Arnita yang menjadi sibuk menunduk sambil sibuk menyeka air matanya.
Ibu Misya langsung bersimpuh sambil mendekap sebelah kaki Arnita. Kenyataan yang membuat Restu siaga mendekap sang istri, takut ibu Misya kembali berulah. Kemudian, Sita yang tampak ragu juga berangsur jongkok disusul permintaan maaf yang akhirnya terucap.
Semua perhatian termasuk perhatian keluarga Restu langsung menjadikan ulah ibu Misya dan juga Sita yang memohon ampun kepada Arnita sekeluarga sebagai pusat perhatian. Keadaan yang juga langsung menjadi bahan pembicaraan hangat detik itu juga.
Setelah semua kebahagiaan ia terima, Arnita memang tengah berusaha memperbaiki diri. Arnita ingin menjalani lembaran baru tanpa dendam lagi. Apalagi Arnita percaya, karma itu ada. Dan Arnita percaya, jika karma baik dari perbuatan baiknya tidak langsung ia rasa, bisa jadi karma itu akan berdampak pada orang-orang yang sangat Arnita sayangi, tanpa terkecuali anak-anaknya. Jadi memang tidak ada ruginya walau Arnita bersikap baik pada orang paling jahat sekalipun.
Terik siang menuju sore kali ini langsung redup. Silih berganti semilir angin menyapa, terus berputar pelan mewarnai suasana di sana hingga suasana yang sempat agak sumuk akibat terlalu banyak orang, perlahan terurai. Perubahan drastis yang seketika terjadi tak lama setelah Arnita menyuruh kedua wanita tadi makan lahap di acara pesta untuknya sekeluarga.
__ADS_1
Di sebelah Arnita yang langsung berusaha ceria apalagi Restu masih memeluknya, Devano yang duduk di sofa pengantin sunat, menjadi mengkhawatirkan sang mamah.
“Orang tadi pasti orang jahat, tapi Mamah maafin mereka,” pikir Devano yakin seyakin-yakinnya.