
Sepanjang melangkah, Arnita terus berpikir. Mecoba mengingat apakah dirinya pernah melukai Mia, sengaja tidaknya ia melakukannya. Namun selain semuanya yang tampak normal karena hubungan mereka memang terbilang bestie, pada kenyataannya Mia juga dengan sengaja meru-sak mental Devano.
Bukannya mendapat titik terang, makin berpikir Arnita malah makin pusing. Namun, pertemuan mereka dengan Mario di lorong apartemen, di petang menuju malam, membuat Arnita menemukan titik terang itu. Ada dua orang polisi yang sudah terjaga di depan pintu apartemen Mario dan memang masih di lorong keberadaan apartemen Arnita maupun Mia. Malahan, apartemen Mario memang berhadapan dengan apartemen milik Mia.
Sambil melangkah mendekati kedua polisi di sana, Arnita menatap Restu penuh terka. Tatapan yang dibalas dengan tatapan serupa oleh Restu. Detik berikutnya, langkah Arnita menjadi jauh lebih cepat. Apalagi kedua polisi yang menunggu di depan pintu apartemen Mario, juga masih polisi yang sama dengan yang mengurus kasus Mia maupun Devano.
“Maaf, ....” Arnita mendadak tidak bisa berpikir. Pikirannya mendadak kosong. Namun masih ada yang tertinggal dan ini semacam pertanyaan. Apakah, Mario masih berkaitan dengan kejahatan yang Mia lakukan kepada Devano? Namun jika iya, atas dasar apa? Bukankah selama ini Mario tulus? Malahan Mario juga yang mengenalkan Mia kepada Arnita. Mario yang menyarankan Arnita menitipkan Devano ke Mia agar selain Devano terjamin aman, Arnita juga bisa fokus bekerja.
“Kami berharap saudara bersedia memberikan keterangan,” ucap salah satu polisi berjaket kulit warna hitam di sana.
“Kalau boleh tahu, hubungan kamu sama Mia apa? Mantan, apa bagaimana? Atau hubungan lain yang lebih menyakitkan hingga diam-diam, Mia cemburu dan melampiaskannya kepada Devano dan istriku?” Restu yang sudah langsung curiga, sengaja memotong penyelidikan yang tengah polisi lakukan kepada Mario.
Detik itu juga Arnita tercengang. Arnita membodohkan dirinya sendiri, kenapa selama ini, ia tidak bertanya lebih jauh mengenai apa yang baru saja Restu singgung? Karena jika selama ini Mario selalu berdalih sudah menganggap Mia seperti adik sendiri, bukankah memang harusnya ada hubungan yang lebih jelas selain itu?
Mario langsung menatap Restu. “Kami sudah mengenal sejak kami kecil. Sejak aku masih di panti asuhan dan Mia bersama orang tuanya, kerap datang untuk menjadi donatur.”
Sebenarnya Mario belum selesai bercerita, tapi polisi yang tadi sempat melakukan penyelidikan mendadak berkata, “Kalian sempat pacaran juga tapi orang tuanya tidak merestui, kan?”
Detik itu juga dada Arnita apalagi Restu seolah dipalu.
“Fix, alasan Mia ingin membunnuh anak dan istriku karena cemburu!” ucap Restu seiring dadanya yang menjadi bergemuruh.
Mario menatap tak percaya Restu, tapi ketika tatapannya berganti pada Arnita, tatapan itu menjadi dipenuhi kepedihan layaknya hatinya. Arnita yang menunduk ia pergoki kerap menitikkan air mata.
__ADS_1
“Kami mengakhiri hubungan kami dengan baik-baik,” jelas Mario.
“Mengakhiri hubungan dengan baik-baik, bukan berarti hati dan mentalnya juga baik-baik saja, apalagi kalau Mia masih cinta dan berharap lebih ke kalian maupun hubungan kalian.” Restu berucap tegas sekaligus cepat. Lebih tegas dari polisi yang melakukan penyelidikan.
“Mia ....,” batin Mario yang langsung tidak baik-baik saja. “Kamu sendiri yang minta putus. Kamu juga yang langsung mengenalkan pacar baru bahkan satu tahun lalu kalian tunangan. Kalian akan menikah dalam waktu dekat, masa iya kamu malah tidak rela aku dekat dengan ... Nita?” Mario yang masih berbicara dalam hatinya, benar-benar bingung.
***
“Kalian marahan?” tanya Devano lantaran sang mamah yang baru pulang, tampak loyo dan ekspresi wajahnya sangat datar. Senyum yang Arnita pasang penuh kepura-puraan, dan terlihat jelas sangat dipaksakan.
Restu menatap sendu sang istri yang duduk di sebelah. “Hari ini Mamah sibuk banget, terus lagi sakit gigi juga. Makanya ngomong saja sakit.” Ia sengaja berbohong guna melindungi perasaan sekaligus mental sang putra.
“Kok Mamah bisa sakit gigi, sih, padahal Mamah rajin sikat gigi?” sergah Devano.
“Kepalaku pasti bau karena dari kemarin aku sudah enggak keramas. Gatal juga, pasti di sana banyak kumannya. Namun kata dokter, aku belum boleh keramas,” ucap Devano sengaja mengadu.
Restu menatap putranya karena penasaran. “Memangnya kamu tanya ke dokternya? Kok kamu bilang gitu?”
“Iya, dong, aku tanya. Terus, dokternya bilang gitu. Terus, tadi aku juga tanya, apakah aku bisa sembuh? Apakah tanganku bisa bergerak lagi? Dokter bilang, bisa!” balas Devano tegas.
Restu langsung tersenyum bangga. Senyum yang benar-benar hangat yang mana matanya juga sampai berkaca-kaca. “Good boy! Memang jagoan, sih!” ucapnya gemas dan kembali mendekap gemas kepala sang putra.
Kebersamaan sekaligus interaksi hangat antara Restu dan Devano, menjadi hiburan tersendiri untuk Arnita. Ia sengaja pamit mandi. Arnita berpikir, keramas dengan air hangat akan membuat kepalanya tidak begitu pusing. Selain itu, efek mens juga membuat tubuhnya seperti habis dikeroyokk warga satu kampung. Sakit sekaligus ngilu semua.
__ADS_1
***
“Mau jalan ke luar?” itulah yang Restu tawarkan ketika Arnita keluar dari kamar mandi.
Arnita yang awalnya tengah mengeringkan kepalanya menggunakan handuk, menjadi membeku untuk beberapa saat. Kemudian, tatapannya terlempar pada Devano. Putranya itu belum tidur dan tengah menonton televisi sambil memakan potongan buah kiwi disuapi oleh pak Lukman.
“Vano kasih izin. Aku beneran sudah pamit. Lagian, kita juga belum makan siang. Sekalian dinner ...?” Restu menahan napas hanya karena mendadak mengajak Arnita dinner. Wanita itu malah menatapnya aneh.
“Bentar, coba,” ucap Arnita yang kemudian meninggalkan Restu.
Restu melepas kepergian Arnita yang menghampiri Devano dengan harap-harap cemas. “Harusnya mau sih. Kan Devano saja sudah sangat keurus dan tentunya, ... aman.”
“Sayang, kamu sudah makan sore apa malam belum?” tanya Arnita. Sang putra menatapnya dan berdalih sudah makan. Jawaban yang tentu saja sangat singkat sekaligus datar, “udah.”
“Ini beneran enggak apa-apa, kalau Mamah sama Papah, pergi? Mamah sama Papah cuman pergi bentar, kok!” lanjut Arnita lembut tapi kali ini agak memohon.
Devano tak langsung menjawab. Ia menatap sang papah yang sudah berdiri di sebelah Arnita.
“Katanya sudah izin pamitan dan iya, boleh?” lirih Arnita meragukan suaminya yang langsung kebingungan ketika ia singgung izin yang dimaksud.
“Papah mandi dulu, deh. Takutnya dikira orang jahat karena Mamah pasti bakalan cantik banget.” Devano sudah kembali fokua dengan Cocomelon di layar televisinya. Tanpa mau tahu, ucapannya telah sukses membuat harga diri sang papah terbanting.
Pak Lukman sampai kelepasan senyumnya dan membuat sang bos meliriknya dengan keji. Lirikan yang begitu sarat ancaman. Lain dengan Arnita yang memilih pergi sambil menunduk. Selain itu, Arnita juga tampak membekap mulutnya menggunakan kedua tangan demi meredam tawanya.
__ADS_1