Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
73 : Azelia yang Terus Menunggu


__ADS_3

“Alhamdullilah,” ucap Azelia menutup kisahnya dengan Ken. Kendati demikian, yang masih menguasai kehidupannya tetap Restu. Malahan, tatapannya tak segan fokus kepada Restu yang kebetulan duduk di depan sana menghadap padanya. Pria itu sempat menatapnya, tapi itu benar-benar sebentar. Restu masih sangat lengket dengan Arnita. Keduanya bersuka cita dengan bocah laki-laki yang sangat mirip dengan Restu.


“Kakak suka makanannya?” tanya Restu sengaja mengalihkan fokus perhatian di sana. Tangan kirinya berangsur merangkul pinggang Arnita dan sengaja mengunci perut istrinya itu.


“Lumayan. Tapi habis ini langsung ke pasar malam, kan?” balas Devano yang masih saja belum lupa dengan tujuan awalnya mau ikut ke sana.


Restu yang menatap kedua mata sang putra dan begitu jernih, langsung mengangguk. Senyum hangat ia berikan kepada sang putra yang hobi makan paha ayam goreng.


“Kenapa kalau dibikin ayam goreng, Kakak mau makan, tapi kalau ketemu yang hidup, Kakak jijikk?” lanjut Restu.


“Karena kalau ayam hidup ada taiinya, terus kalau sudah digoreng rasanya enak!” balas Devano sambil tetap menghabiskan paha ayam gorengnya.


Yang satu meja dengan mereka kompak menertawakan jawaban jujur Devano. Restu yang gemas pada ulah sang putra, sengaja berdiri hanya untuk mengelus kepala Devano yang memang duduk di sebelah Arnita.


Mendapati Arnita yang sedang meminum teh hangat langsung mesem sambil menggeleng tak habis pikir menatap Devano, Restu buru-buru berkata, “Enggak usah amit-amit. Biar, dikasih yang gini lagi aku alhamdullilah banget!”


“Dikasih apa?” tanya Devano langsung kepo.


Restu yang masih melongok menatap bocah itu sengaja berkata, “Dikasih teh manis hangat. Mah, minum teh, Mah!” Ia sengaja meminta minum teh milik Arnita dan langsung diberi oleh istrinya yang turut membantunya.


“Mereka bahagia banget di atas luka-lukaku,” batin Azelia. Ia bahkan tidak tahu dan memang tidak peduli pada apa yang tengah didebatkan oleh kedua orang tuanya dengan Kenzo. Azelia terlalu ngarep kepada Restu yang walau ada di hadapannya, tapi sangat sulit ia miliki.


Kemudian, rombongan Restu pamit lebih dulu meninggalkan ketua RT dan RW yang sebelumnya sudah ia beri amplop. Keempatnya menjadi bagian dari kebersamaan Kenzo dengan Azelia dan orang tuanya.

__ADS_1


“Kita ke pasar malam. Beli endog goreng!” teriak Devano lari-lari kegirangan kejar-kejaran dengan pak Lukman.


Arnita dan Restu yang sampai saat ini masih bergandengan, tersenyum bahagia melihat keaktifan putra mereka. Termasuk ketika mereka menjadi penonton untuk kebahagiaan sang putra. Hingga malam kian larut, mereka sengaja memboyong Devano apalagi Arnita sudah mabuuk kendaraan. Semua makanan yang Arnita makan wanita itu muntahkan semua.


“Jujur, aku udah enggak betah kalau cara Azelia masih seperti sekarang,” ucap Arnita ketika akhirnya, ia hanya bersama Restu dan itu di kamar mereka.


“Aku pikir kita akan di sini lebih lama lagi. Vano masih betah, kamu juga masih mabuuk kendaraan.” Restu menatap Arnita penuh pengertian. “Aku tahu Lia bikin kamu sangat enggak nyaman, tapi bukan berarti kita sampai mengorbankan kebahagiaan kita untuk orang seperti dia.”


Arnita menghela napas pasrah. Ia memutuskan untuk ganti baju. Meski di keesokan harinya, adanya Azelia yang sudah terjaga di depan gerbang, kembali mengusiknya.


Arnita yang awalnya akan jalan pagi sambil berjemur demi kesehatannya maupun sang janin, langsung tidak jadi. Arnita memilih masuk lagi, tapi Restu yang baru keluar, kembali mengajaknya keluar. Pria itu menggandengnya, berjalan santai di halaman rumah mereka yang luas. Mereka sama sekali tidak peduli kepada Azelia, walau wanita itu beberapa kali memanggil Restu.


“Kamu pengemiss, ya? Mau minta-minta uang, ya?” tanya Devano kebetulan baru keluar. Ia membawa seekor kelincinya sambil mendekati Azelia. “Pengemiss ya, Pah, Mah? Sudah, kasih duit saja ya biar pergi! Apa aku kasih taii kelinci aja?”


“Asstafirulloh anak ini!” kesal Azelia sambil mengelus dada.


“Beneran enggak banget, ya? Masa iya harus dilaporkan ke polisi lagi? Ya ampun ... di rumah sendiri tapi mirip pencuri gini!” keluh Restu menuntun sang istri untuk masuk rumah apalagi suasana sudah makin panas. Termasuk kepada Devano yang hanya memakai kaus dalam warna putih dipadukan dengan celana kolor.


“Masuk-masuk, ... panas banget nanti Kakak gosong!” seru Restu.


Devano segera berlari menghampiri orang tuanya. “Kelinciku belum dikasih nama yah Pah, Mah?”


“Memangnya mau dikasih nama apa?” tanya Arnita.

__ADS_1


Kebersamaan mereka pindah ke ruang keluarga. Mereka mencoba terbiasa dengan hadirnya Azelia yang mirip fans garis kerasnya Restu. Karena malau sudah malam, Azelia tak kunjung pulang. Sampai keesokan harinya pun, tetap begitu bahkan walau sudah dijemput paksa oleh orang tua dibantu warga. Baik Restu maupun Arnita menjadi khawatir Azelia gilla. Puncaknya, orang tua Azelia sampai memohon-mohon agar Restu mau menikahi Azelia. Agar Arnita mau berbaik hati mengizinkan Restu menikahi Elia.


Kenyataan orang tua Azelia yang sampai berani mengatur-ngatur hidupnya, membuat Arnita kesal luar biasa. Dan akhirnya, Arnita dan Restu memilih pergi dari sana. Namun, mereka tak lantas pulang ke Jakarta karena yang mereka lakukan justru sengaja menginap di hotel dekat pantai.


“Aku suka pantai!” seru Devano kegirangan. Bocah itu tak sabar untuk makin mendekati birunya air di pantai. Hanya saja karena gelombang sedang tak bersahabat, Arnita dan Restu belum mengizinkannya.


“Tunggu bentar. Lagi panas juga, nanti kamu gosong!” tegas Restu sambil memijat-mijat tengkuk Arnita menggunakan minyak telon. Seperti biasa, sang isti mabukk kendaraan tapi kali ini tak sampai muntah.


“Mas, sini duduk. Nanti kamu gosong!” rintih Arnita sambil mengulurkan tangan kirinya. Mereka ada di tikar tak jauh dari pantai, di bawah rindangnya pohon waru dan beberapa bunganya yang berwarna oren, tengah berjatuhan.


Devano yang lagi-lagi hanya memakai kolor dan kaus lekbong, tapi kali ini sudah sampai memegang pelampung bebek, segera mendekati sang mamah. Devano menurut kemudian merebahkan kepalanya di pangkuan sang mamah. Namun karena pelampung bebek warna oren yang ia bawa malah membuatnya kesulitan untuk tiduran, ia memberikannya kepada sang kakek.


“Jangan dipake loh, Kek!” ancamm Devano.


“Sama Kakek memang enggak dipake, tapi pelampung bebeknya bakalan langsung dijual!” ujar Restu sengaja menjaili sang putra.


“Papah nyebelin!” kesal Devano yang langsung didekap oleh Arnita menggunakan kedua tangan.


Bersama teduhnya suasana di bawah pohon waru meski di pinggir pantai sana benar-benar panas, Restu dan rombongan menikmati liburan dadakan mereka gara-gara terus didatangi Azelia. Apalagi ketika sore menjelang petang, mereka sampai main voli diwasiti oleh Arnita yang sudah jauh lebih sehat. Kendati demikian, Arnita tak sampai ikut voli lantaran kehamilannya.


Sementara itu di gerbang kediaman Arnita dan Restu, Azelia kembali di sana. Terus menunggu walau di kediaman Restu tidak ada kehidupan lain selain dari kehidupan seorang bi Ade.


“Mas, aku beneran sudah berubah Mas. Sekarang cintaku cuma buat Mas! Beneran enggak ada yang lain. Lihat aku, Mas. Memangnya masih kurang kesetiaan aku ke kamu? Aku terus menunggu begini, bahkan meski kamu enggak peduli,” batin Azelia.

__ADS_1


“Aku terus menunggu kamu tanpa kenal waktu. Aku kepanasan, aku kedinginan, aku kehujanan, ... hanya demi kamu, Mas!”


__ADS_2