
“Mas beneran matiin pasaranku! Kalau publik sampai tahu gimana? Apa kata dunia kalau mereka tahu, Rayyan itu anakku?!” Fiola nyaris mengamuk, tak lama setelah Mario pamit pulang.
Di ruang keluarga yang tak sampai disertai Arnita maupun Devano, orang tua Fiola juga tengah duduk gelisah. Walau alasan Tuan Cheng begitu karena ia tidak bisa melepas Arnita. Arnita terlalu berharga untuk dilepas. Hari ini saja, pemasaran produk rancangan Arnita, mendadak melesat semua setelah blazer yang menjadikan Fiola dan Tiara sebagai model.
Terlepas dari semuanya, dihakimi layaknya sekarang, benar-benar membuat Restu kesal. Restu yang berdiri di sebelah meja, menatap marah Fiola.
“Jujur jauh lebih baik daripada kamu malah menelan kehancuran akibat kebahagiaan sesaat dari kebohonganmu.” Restu meyakinkan Fiola. “Jujur dan jadikan itu pembelajaran. Ajak fans kamu juga mengenai pentingnya menjaga pergaulan agar tidak sampai hamil dini apalagi hamil di luar pernikahan.” Setelah berucap demikian, Restu juga sengaja berkata, “Jika kalian mau pulang, pulang saja karena aku akan mandi.”
Mendengar itu, Tuan Cheng yang duduk di sofa panjang segera berkata, “Tolong bujuk istrimu agar dia berubah pikiran. Tolong yakinkan dia untuk kembali menjadi bagian dari perusahaan.”
Restu tersenyum geli. Membuat tampangnya makin terlihat keji. “Dulu, kalian mati-matian menolakku. Sekarang, semacam istriku pun sampai menjadi bagian sangat penting dari kebutuhan hidup kalian, agar kalian tetap bisa bertahan hidup!” Tentu Restu sengaja mengejekk Tuan Cheng yang dulu menolak keras kehadiran Restu, walau Restu merupakan darah daging ibu Rembulan.
“Restu!” tegur ibu Rembulan yang kebetulan duduk di sebelah sang suami. Ia sampai berdiri kemudian menghampiri Restu.
“Arnita beneran akan fokus jadi IRT. Aku dukung banget sih, apalagi kerja di perusahaan memang capek banget,” balas Restu yang kemudian langsung pamit. Namun sebelum itu, ia juga mengabarkan, dua kamar tamu di sana sudah siap menampung ibu Rembulan sekeluarga. Walau Restu juga menyarankan, baiknya mereka pulang karena Rayyan ada di rumah hanya bersama sang pengasuh.
“Restu, ... kalian beneran masih bisa ambil libur. Nanti jadwalnya bisa diatur. Kan sekarang sudah enggak ada Miss Tania. Nanti, kamu juga deh, yang gantiin posisi Miss Tania. Kalian tetap bisa cuti, meski selama itu, kalian tetap wajib pantau secara online.” Ibu Rembulan sampai menyusul Restu ke depan kamar putranya itu.
Restu yang nyaris menarik knop pintunya, berangsur balik badan. Membuatnya menatap sang mamah apalagi dalam beberapa detik saja, tatapan mereka juga langsung bertemu.
“Mamah benar-benar memohon. Kalaupun kalian mau sampai pulang kampung, ya enggak apa-apa, asal kalian masih tetap pantau secara online.” Ibu Rembulan masih meyakinkan. “Kami hanya punya kalian. Karena kalau bukan kalian, siapa lagi? Kami enggak mungkin mengendalikan Fiola karena dia saja, masih begitu.”
Ibu Rembulan sampai izin untuk berbicara dengan Arnita secara langsung, tapi Restu tidak mengizinkannya.
“Biarkan kami bernapas dulu, Mah. Nanti pasti aku pikirin!” yakin Restu. “Sekarang kalian pulang saha, kasihan Rayyan. Seperti yang aku katakan sebelumnya, jangan sampai Fiola tidak mengakui Rayyan. Karena andai dia sampai ketahuan, dampaknya enggak hanya ke Rayyan, tapi juga kalian sekeluarga.”
__ADS_1
Ibu Rembulan tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti arahan Restu. Ia pamit, tak lupa ia juga menitipkan salam untuk Arnita maupun Devano.
Di dalam kamar, di kamar mandi, Arnita tengah menyeka Devano. Namun kedatangan Restu di sana langsung diusir oleh Devano. Devano berdalih malu kepada Restu.
“Eh, Vano ... harusnya kamu malunya sama Mamah, bukan Papah. Punya kita kan kembar!” Restu malah sengaja meledek putranya.
Devano terus meraung-raung, membuat Arnita menegur Restu, tapi Restu berdalih dirinya akan mandi di sana.
“Ya sudah, sekaranya sama Papah saja.” Restu masih menjaili Devano.
“Enggak mau. Papah pergi dulu, biar aku yang seka sama Mamah!” Devano masih mengomel, meraung-raung.
“Lah, ini kan kamar mandi Papah. Kamar mandi Vano ada di kamar Vano yang ada di lantai atas!” Restu makin asyik meledek sang putra.
“Oh, jadi gitu? Jadi, menurut Vano, Papah pelit? Ya sudah ah, kamar Pororonya, Papah jual saja ah!”
Mendengar itu, Devano langsung menjerit, menangis histeris. Arnita yang telanjur kesal sampai mencubit beberapa kali lengan Restu hingga suaminya itu kerap meringis kesakitan.
“Baru satu sudah ditangis terus. Apalagi kalau ada empat?” omel Arnita kepada Restu.
“Biar makin rame, Mah!” balas Restu masih sibuk meringis. Ia buru-buru melepas kemeja lengan panjang warna merah hatinya, kemudian memamerkan bekas gosong akibat cubitan sang istri.
“Salah siapa rese!” balas Arnita.
Devano yang sadar dibela sang mamah, benar-benar merasa senang. Devano merasa menang. “Cubit lagi, Mah! Cubit lagi yang banyak biar abis!”
__ADS_1
Ucapan terakhir Devano, membuat seorang Restu Tergelak. Untuk pertama kalinya, Arnita melihat sekaligus mendengar suaminya terbahak layaknya sekarang. Dan itu sungguh karena anak? Pikir Arnita yang mendadak tersentak lantaran pelukan tiba-tiba dari Restu. Pria itu menjadikannya sebagai tawanan untuk meledek Devano.
***
“Berarti minggu depan, kita mudik, ya?” ucap Restu yang memilih tidur di tengah-tengah, tak mau kalah dari Devano.
“Asyyyik! Naik kereta api, kan, Pah?” balas Devano kegirangan.
“Kenapa kita harus pakai kereta api?” tanya Restu serius dan memang bingung. Apalagi sejauh ini belum ada informasi transportasi yang Arnita sampaikan dan ternyata malah kereta api.
“Ah, Papah pelit lagi!” rengek Devano.
“Ya ampun pelit lagi?” keluh Restu yang kemudian kembali tertawa. Namun ketika ia yang menoleh ke sebelahnya, mendapati Arnita sudah meringkuk menghadap padanya malah terlelap, ia langsung diam.
“Ssssst, ... Mamah sudah bobo. Ya sudah, kita bobo, yah?” Kali ini, Restu sengaja berbisik-bisik kepada sang putra. Ia sengaja mengeloni sang putra, melakukannya dengan hati-hati karena biar bagaimanapun, kedua tangan Devano masih belum bisa bergerak dengan leluasa.
“Papah sayang Mamah?” bisik Devano tak heboh lagi. Dalam dekapan Restu, ia sengaja menengadah hanya untuk menatap wajah tampan versi dewasa yang sangat mirip dengannya.
Restu yang sampai menahan punggung kepala Devano, menatap kedua mata tak berdosa anaknya. “Tentu. Papah sayang banget ke Mamah.”
“Aku juga sayang banget ke Mamah!” tanggap Devano.
Restu langsung membagi senyum terbaiknya. “Ya sudah, sekarang kamu tidur. Besok, kita cari sekolah. Oke?” bisiknya sangat bersemangat dan sukses membuat sang putra berkali lipat lebih darinya.
Tak butuh waktu lama Restu bisa menidurkan sang putra. Kemudian, pria itu merebahkannya dengan sangat hati-hati. Restu mengecuup penuh sayang kening Devano, sebelum akhirnya mendekap mesra Airnita. Melihat Arnita yang begitu kelelahan, Restu sama sekali tidak berani macam-macam. Sekadar bernapas pun sampai Restu jaga agar tidak mengusik tidur Arnita.
__ADS_1