
“Kalau kamu masih belum bisa menghargai orang lain, ... kalau kamu bahkan masih belum bisa menghargai diri kamu sendiri, lebih baik kamu merenung. Enggak usah pergi-pergi dulu!” tegas Arnita.
“Lihat anak kamu, ... kamu enggak kasihan ke anak kamu?” lanjut Arnita masih berucap tegas dan memang emosional. “Siap enggak siap, kalau kamu sudah punya anak, kamu harus berubah. Kamu harus menyesuaikan dengan keadaan. Bukan keadaan termasuk malah anak kamu yang terus-menerus harus menyesuaikan dengan kamu!”
“Anak kamu tanggung jawab kamu, bukan orang lain bahkan itu orang tua kamu!”
“Kalau kamu mau berdalih dulu kamu enggak mau punya anak dan orang tua kamu yang minta kamu buat tetap lahirin,” lanjut Arnita. “Boleh kamu bilang gitu, tapi bilang gitunya di depan polisi, direkam dan disebar luaskan biar semua orang tahu gimana kelakuan kamu yang sebenarnya!”
“Di dunia ini bukan hanya kamu yang punya kepentingan. Di dunia ini juga bukan hanya kamu yang punya urusan bahkan mimpi. Di dunia ini bukan hanya kamu yang punya masalah, jadi berhenti bersikap seolah kamu paling sakit, ... berhenti bersikap seolah kamu paling menderita.”
“Kalau kamu sampai diingetin begini harusnya kamu terima kasih daripada kamu malah diingatkan oleh orang lain.”
“Kamu jangan suruh-suruh Mamah seenaknya karena Mamah juga capek. Mamah di sini pun enggak semata urus aku. Mamah sedang nenangin pikiran karena seperti yang baru saja aku katakan, di dunia ini bukan hanya kamu yang punya masalah! Kamu bukan satu-satunya orang yang punya kepentingan.”
“Kalau kamu tetap ingin karier, kamu harus pinter bagi waktu. Anak tetap harus diurus. Kalaupun kamu enggak bisa sepenuhnya urus, pastikan anakmu terurus!”
Arnita berbicara panjang lebar, pak Lukman yang masih ada di sana sampai membawa Devano masuk ke kamar. Tak mau tuan mudanya mendengarkan kata-kata yang tak sepantasnya didengar. Apalagi sejauh ini, Devano anak yang sangat kritis. Devano anak yang sangat pintar.
***
“Tadi Mamah marah-marah ke mamahnya Rayyan, loh, Pah!”
Niat hati tak mau membagi kelabilan Fiola kepada sang suami yang sudah memiliki banyak beban, Devano malah sudah mengabarkan lebih dulu. Arnita yang membawa sepiring nasi untuk Restu langsung termangu menatap kebersamaan sang putra dengan sang suami.
“Oh, iya ...? Gimana-gimana ceritanya?” tanggap Restu serius walau tangan kanannya sibuk meraih cumi goreng dari piring saji.
Devano yang hafal setiap ucapan sang mamah kepada Fiola mengucapkannya dengan lantang dan benar-benar dengan gaya Arnita. Sebab demi menjiwai praktiknya menirukan sang mamah, Devano sampai berdiri menjadikan pak Lukman sebagai Fiola.
__ADS_1
“Anak tetap harus diurus. Kalaupun kamu enggak bisa sepenuhnya urus, pastikan anakmu terurus!” ucap Devano yang kemudian berkata, “Sudah hanya itu, Pah. Yang lainnya, aku enggak tahu soalnya aku langsung dibawa pergi sama Pak Lukman.”
Restu yang masih menyimak sambil memakan cumi gorengnya, langsung tertawa. “Rame berarti, ya?”
“Rame gimana, Pah?” balas Devano kepo sambil kembali duduk di bekas tempat duduknya dan ada di dekat sang papah.
“Berisik!” balas Restu masih lanjut memakan cumi goreng.
“Banget Pah, mirip Rayyan banget tuh si Fiola! Bikin berisik!” balas Devano tetap tidak suka kepada Rayyan.
“Tapi kalau diperhatikan, kamu juga mirip Fiola, loh!” balas Restum
"Ah, enggak, ah!” sewot Devano langsung menolak mentah-mentah.
Arnita menghela napas dalam dan sengaja melanjutkan langkah. Ia duduk di seberang Devano duduk sesaat setelah menyuguhkan nasi yang ia ambil. Sepiring cumi goreng buatannya nyaris habis oleh Restu menemani pria itu menyimak cerita sang putra.
Arnita kembali menghela napas kemudian kembali berdiri dan tak jadi membiarkan sang suami makan sendiri karena ia memilih menyuapinya. “Sudah beda cerita kalau berurusan sama ipar apalagi kalau ipar sambung. Kalau Fiola adik apa kakak aku, sudah enggak pikir-pikir, Pah.”
Restu menerima suapan dari sang istri. Sambil mengunyah, ia merenung serius. “Aku berpikir, emosi Fiola begitu bukan hanya karena dia selalu dimanja. Melainkan karena faktor mental dan juga emosi mamah pas hamil dia,” ucapnya yang kemudian menatap Arnita dengan serius. “Jadi, kamu juga harus kontrol emosi kamu biar yang di perut enggak sampai ikut tempramental. Belajar dari Devano juga,” ucap Restu yang sebenarnya belum selesai tapi Devano sudah bertanya.
“Memangnya aku kenapa?” ucap Devano mengulang pertanyaannya.
Restu dan Arnita refleks saling tatap.
“Jelas-jelas yang dimaksud mirip papahnya. Mirip banget malahan enggak ada yang dibuang. Termasuk tantrumnya, ih beneran mirip!” ucap Arnita sambil menyuapi Restu.
Restu yang sadar tengah disindir, langsung mesem dan memasang wajah tak berdosa kepada Arnita.
__ADS_1
“Aku beneran enggak ngerti,” ucap Devano sambil bersedekap dan menggeleng tak habis pikir dengan gayanya yang sangat cool.
Arnita dan Restu kompak menertawakan tingkah sang putra. Kemudian Restu sengaja memijat-mijat pundak maupun kepada sang istri.
“Sering-sering liburan, belanja, jagain Vano di sekolah sekalian cuci mata. Jangan stres-stres!” ucap Restu sepanjang ia memijat pundak maupun kepala sang istri.
“Kalau jalan-jalan apalagi cuci mata dan liburan, ya wajib sama Papah masa iya cuma berdua!” protes Arnita.
“Besok aku sekolah. Hari pertama sekolah Papah juga ikut antar, kan?” tanya Devano. “Awas loh, kalau aku cuma sama pak Lukman!” lanjutnya dan kali ini sambil bersedekap, menatap sinis sang papah.
“Oke. Besok kita bangun pagi, terus ke sekolah Kakak!” ucap Restu ceria dan kemudian kembali menerima suapan dari sang istri. Ia masih berdiri di belakang Arnita karena ia masih memijatnya.
“Tapi Kakak sayang pak Lukman, kan?” tanggap Arnita.
“Ya sayang lah, kan Pak Lukman juga sayang banget ke aku!” balas Devano dengan entengnya dan sampai buru-buru turun untuk memeluk pak Lukman yang duduk di belakangnya.
“Heh, kok gitu? Papah saja belum Kakak peluk, kok Kakak sudah peluk-peluk Pak Lukman?” protes Restu langsung kebakaran jenggot.
Arnita terbahak sampai lemas menertawakan kecemburuan Restu. “Tuh kan, tantrumnya mirip banget sama Kakak!”
“Sayang ... ihhhh,” rengek Restu sungguh cemburu sambil mendekap Arnita dari belakang.
“Sayang ... Sayang, Papahnya dipeluk dulu,” bujuk Arnita di sela tawanya dan meraih sebelah tangan Devano, membimbingnya untuk segera memeluk sang Papah.
“Ah Papah mirip si Rayyan. Cemen! Gitu saja ngerengek-ngerengek!” cibir Devano yang menghampiri sang papah kemudian mendekapnya dari belakang.
Restu berangsur mengemban Devano, menimangnya layaknya bayi, juga menciuumnya penuh sayang.
__ADS_1
“Sudah, jangan iri-iri terus. Jangan cemburu-cemburu, apalagi kalian kan kembaran beda generasi!” ucap Arnita yang kemudian kembali menyuapi Restu. Suaminya itu mulai jail dan menggelitiki sang putra yang menjadi tak hentinya tertawa.