
“Bagaimana aku bisa memperbaiki hubungan kita, kalau kamu saja selalu mendiamkan bahkan ... bahkan kamu terus saja menghindari aku, Mas!” protes Azelia. “Dari kemarin loh kamu begini! Mas jangan lupa kalau aku ini korban!”
Restu yang sedang bekerja di ruang kerja yang ada di kediamannya dan Azelia, berangsur memejamkan kedua matanya kemudian menghela napas pelan. “Lalu menurutmu, aku harus bagaimana? Coba menurut kamu, harusnya aku bagaimana? Coba kamu yang jadi aku, kita tukeran posisi. Bahkan sampai detik ini kamu tidak mengakui apa yang kamu lakukan dan mantan kamu itu salah! Kalian sudah disidang, disumpah pun hanya kalian permainkan!”
“Kenapa harus membahas itu lagi, sih? Itu kan udah beres. Kasusnya beneran sudah beres dan Ken juga sudah kasih tebusan, Mas!”
“Oh ....” Restu sampai berdiri dari duduknya. Kedua tangannya bertumpu pada meja kerjanya.
Di tengah napasnya yang menjadi terengah-engah, ia berkata, “Jadi kamu bangga karena Ken sampai tebus kamu? Kamu niat jual diri, maksudnya begitu?!” Napas Restu sampai sesak karena Azelia malah makin tidak bisa diatur, ditambah keluarga wanita itu juga turut merecoki, membuat Azelia makin tidak bisa Restu arahkan.
“Mas!”
“Kamu melarang aku membahas kasus kamu yang jelas-jelas kamu lakukan dengan sengaja, tapi kamu terus mengungkit kasusku dengan Nita!” tegas Restu lagi. “Asal kamu tahu, yang perlu diperbaiki itu bukan hubungan kita. Sebenarnya hubungan kita baik-baik saja karena yang perlu diperbaiki itu kamu!!” Ia menunjuk-nunjuk Azelia. “Kamu sudah enggak jelas, enggak bisa diatur dan malah sebar fitnah sana sini! Enggak ke keluarga, enggak ke teman bahkan semua orang!” lanjut Restu.
“Jangan pura-pura boddoh!” sergah Restu lantaran Azelia tetap tidak terima apalagi menyadari kesalahannya. Wanita itu tampak jelas akan memberontak. “Kamu, keluarga kamu, dan teman-teman kamu, menyerang Nita di fb, kan? Kasusku dan Nita viral bahkan nama desa kita sampai terbawa-bawa! Sumpah yah, Li ... aku capek banget! Kamu enggak usah nyalahin Nita apa tanya siapa yang kasih tahu aku tentang perundungan ke Nita dan semua orang sampai nyerang Nita di sosmed! Karena sejak aku tahu kamu dan teman-temanmu termasuk mantan kamu reuni enggak jelas, aku sudah terbiasa buka FB kamu!”
“Kamu pikir, meski diserang ramai-ramai begitu Nita ngadu?” lanjut Restu yang kemudian menggeleng tak habis pikir. “Nita bukan kamu karena kalian sangat berbeda!”
Sakit, apa yang Restu katakan barusan lebih menyakitkan dari ketika Azelia sampai disidang layaknya kemarin, di hadapan banyak orang.
__ADS_1
“Sekali lagi kamu begitu, dan kalau kamu sampai berani menyerang Nita apalagi mengungkit kasus kami yang sudah selesai, ... aku enggak segan kirim kamu menyusul Sita dan ibu Misya karena kalian sama saja. Sakit! Kalian benar-benar sakit!” tegas Restu benar-benar emosi.
Kedua tangan Azelia mengepal kencang di sisi tubuh. Berderai air mata, ia mengangguk-angguk dan terus fokus menatap kedua mata Restu. “Baik, Mas, aku paham. Asal Mas enggak cerein aku, aku terima.”
“Tapi aku beneran ingin cerai, Li! Aku beneran enggak bisa apalagi kamu sama sekali enggak mau dengar arahanku lagi. Karena jangankan menghargai, menganggap aku saja kamu udah enggak. Kepalaku beneran nyaris pecah gara-gara tingkah kamu yang jadi ajaib!” sergah Restu.
Azelia langsung sibuk menggeleng. “Enggak, Mas! Aku mohon jangan ceraikan aku karena aku enggak mau jadi janda!” mohonnya. “Bukankah harusnya kita impas? Kamu pernah tidur dengan Nita dan aku dengan Ken?”
Restu menghela napas pelan sambil menggeleng tak habis pikir. “Cara pikir kamu beneran ajaib, Li!”
“Oke, Mas. Oke ... aku beneran minta maaf!” Azelia benar-benar memohon. Ia menatap melas, mengharap belas kasih kepada Restu sambil mendekatinya, tapi dengan cepat Restu menolak.
Karena Azelia hanya diam, Restu sengaja menoleh dan agak balik badan. “Ingat, gunakan waktu sepuluh hari ke depan untuk memperbaiki diri. Paling tidak, tolong kembali seperti Azelia yang seperti dulu. Azelia yang masih punya kuping maupun hati. Jangan lupa, sepuluh hari ini akan menjadi penentu, jadi manfaatkan dengan baik tapi bukan berarti kamu malah senang-senang dengan Ken atau laki-laki lain lagi!”
“Keterlaluan banget kamu sumpah Mas! Gimana aku enggak kesal kalau cara kamu saja gitu!” kesal Azelia.
Restu menghela napas pelan. “Bahkan kalian masih lancar WA-an. Sayang-sayangan, kangen-kangenan, kan?”
“Gini yah, Li. Andai kamu beneran menyadari dari awal, mengakui, kemudian minta maaf dan tidak mengulangi, aku enggak akan jijiiik,” lanjut Restu nyaris menangis.
__ADS_1
“Kamu enggak mau cerai, tapi kamu asyik sama dia. Kalian bisa kena pasal perzinaaan! Lain kalau kamu mau cerai dan kalian nikah. Sudah sana dipuas-puasin, kalian mau pakai gaya apa dari kapan sampai kapan pun enggak ada yang larang!” tegas Restu. Di hadapannya, Azelia langsung bungkam kemudian menunduk dalam. Sepuluh hari, ia sungguh hanya akan memberi wanita itu waktu sepuluh hari. Setelah itu, ia sungguh tidak akan memberi toleransi lagi.
“Kamu mau pergi ajak Nita?” tanya Azelia ketika Restu mengemasi perlengkapan kerjanya di meja.
“Dia tidak mungkin mau,” tegas Restu tetap fokus berkemas.
“Jadi memang niat ajak dia?” kesal Azelia yang kemudian pergi dari sana.
Bagi Restu, alasan Azelia berubah tak semata karena kasusnya dan Arnita. Sebab Azelia kembali puber dan kepincut cinta mantan, tapi karena Azelia sadar Ken yang pengangguran tak mungkin memberi materi lebih dari Restu, Azelia tidak rela dicerai oleh Restu.
Sekitar satu jam kemudian, Restu yang sengaja pamitan kepada Arnita, mendapat bekal beberapa aneka buah, roti, camilan, dan juga air mineral daru istri mudanya itu. Selama membuat Restu menunggu karena Arnita juga sampai membuatkan bekal makan, wanita itu juga sampai membuatkan kopi agar di perjalanan, Restu tidak mengantuk.
Tentu Restu sadar, alasannya bisa dengan begitu mudah sayang kepada Arnita. Malahan Restu juga yakin, dirinya sudah sampai mencintai Arnita. Karena seberapa pun dalam rasa cintanya kepada Azelia sebelumnya, sebelum Azelia malah puber dan tergila-gila pada mantan terindah, semua perhatian Arnita dan juga sikap dewasa Arnita memang dengan sangat mudah membuat Restu menyayangi wanita itu.
“Kamu enggak mau ikut aku ke Jakarta? Bagaimana kalau kita tinggal di Jakarta saja?”
Ucapan dari Restu yang ada di sebelahnya, dan memang sampai ia suruh makan sebelum berangkat ke Jakarta mengingat waktu sudah petang, langsung membuat hati seorang Arnita gamang.
“Kita benar-benar hanya akan tinggal berdua. Di Jakarta, kita akan mulai semuanya!” lanjut Restu. Ia meletakan sendok dan juga garpunya, kemudian kedua tangannya itu meraih sebelah tangan Arnita yang awalnya baru menutup kotak bekalnya. Ia menggenggamnya lembut, dan kedua mata mereka bertatapan dalam.
__ADS_1