
“Isi angin, Mas,” ucap pak Lukman ramah dari jendela pintu yang sudah ia turunkan sempurna.
Juan secara langsung menangani. Penuh oli baik di kedua tangan, kaki, maupun sebagian wajah dan kepala, Juan menangani dengan ramah. Pria itu belum sadar tengah diawasi oleh Arnita.
“Cuma yang kanan saja, Pak?” tanya Juan memastikan setelah ia selesai mengisi angin ban mobil yang bisa ia pastikan berharga mahal.
“Iya, Mas.” pak Lukman masih menjawab dengan ramah.
“Ada uangnya enggak, Pak?” tanya Arnita yang sampai memberikan satu lembar seratus ribu kepada pak Lukman.
Detik itu juga jantung Juan seolah langsung copot hanya karena pria itu mengenali suara tersebut sebagai suara Arnita. Tak hanya selang isi angin di tangan kanannya yang langsung Juan jatuhkan begitu saja. Sebab satu batang rokok yang menghiasi bibirnya dan masih mengepulkan asap, juga mengalami hal serupa. Terlebih ketika akhirnya ia memastikan sosok yang ia yakini merupakan Arnita, memang benar.
“Nita!” Bak kehilangan akal, Juan langsung berusaha meraih, membingkai wajah Arnita menggunakan kedua tangannya.
Arnita langsung siaga mundur.
“Papah, orang gillanya gangguin Mamah, Pah!” Devano heboh bertepatan dengan kedua tangan Restu yang siaga menahan kedua tangan Juan.
“Mamah sini, Mah. Jangan di situ!” lanjut Devano siaga, mencoba mengamankan mamah tercinta.
__ADS_1
Penampilan Juan yang awut-awutan, ditambah rambut gondrongnya yang penuh oli, membuat Devano menganggapnya sebagai orang gilla. Detik itu juga Juan terdiam, dan perlahan menyadari Arnita masih menjadi bagian dari Restu. Dengan kata lain, istri baru Restu yang dikabarkan sangat cantik, bukan orang lain. Melainkan masih wanita yang sama dan itu Arnita. Wanita yang juga masih sangat ia harapkan kehadirannya.
“Sudah enggak ada urusan, kan? Kenapa masih saja ngejar-ngejar?” tegas Restu marah kepada Juan.
Arnita yang mendekap erat Devan, berusaha menutup kedua telinga sang putra agar tidak mendengar obrolan di sana, juga menatap marah Juan. “Sekarang, mau kamu apa?”
“Kita sudah enggak ada urusan, kan?” meski jauh di lubuk hatinya, Arnita masih sangat dendam kepada Juan. Pria itu belum pernah meminta maaf secara khusus, kemudian menutup kisah mereka dengan baik-baik. Semuanya tetap sama dan itu dipenuhi oleh kearoganan seorang Juan.
Juan tak kuasa menjawab, tapi batinnya menangis, menyesali kebodohannya yang dulu melepas Arnita begitu saja. Karena melihat Arnita yang sekarang dan begitu mempesona, ditambah Arnita yang sampai memiliki seorang putra sangat sehat, semua kenyataan itu tak ubahnya bilah pedang sangat tajam yang detik itu juga melukainya tanpa jeda. Luar biasa, Juan sungguh tidak menyangka bahwa kebahagiaan Arnita yang menjelma menjadi nyonya besar, akan jauh lebih menyakitkan dari ketika ia melihat keromantisan hubungan wanita itu dengan pria lain khususnya Restu.
“Apa lagi?” tanya Restu sengaja menggeser Arnita untuk berganti posisi duduk dengannya. Namun, kali ini istrinya itu menolak.
Berkaca-kaca, Juan yang tetap tidak bisa menjawab, memilih mundur, pergi begitu saja menuju rumah yang ada di belakang.
“Jalan, Pak,” ucap Restu masih tetap memeluk keluarga kecilnya.
“Tanggapan Juan yang seperti itu menegaskan dia menyesal sudah jahat kepadaku. Dia belum bisa move on dari aku.” Arnita berucap lirih kemudian menengadah, menatap Restu.
Mendengar itu, hati Restu terenyuh seiring kedua matanya yang juga menjadi terasa panas. “Sakit banget, ya?”
__ADS_1
Berkaca-kaca, Arnita berangsur mengangguk. Wanita itu membenamkan wajahnya di dada Restu, membuat dagunya bertumpu di kepala sang putra. Restu paham, yang namanya sakit hati sangat sulit diobati apalagi ia juga mengalaminya. Semacam Arnita tak sampai menjadi predator kejahatan layaknya Azelia atau Mia saja, sudah sangat untung. Termasuk Arnita masih menjadi mamah sangat baik untuk Devano saja, terbilang sangat luar biasa jika melihat masa lalu Arnita yang benar-benar penuh luka.
“Enggak apa-apa. Kamu beneran sudah menang. Mereka yang dulu menyakitimu, pasti sudah langsung menyesal dan salah satunya Juan. Dirimu terlalu berharga buat terluka, jadi mulai sekarang, kita fokus bahagia saja,” lirih Restu meyakinkan.
Arnita mengangguk-angguk paham. Yang akan ia lakukan memang seperti apa yang baru saja Restu katakan. Ia akan fokus bahagia dengan keluarga kecilnya, apalagi kini, mereka sudah dalam formasi sempurna. Restu sudah bersamanya dan otomatis, Devano juga sudah memiliki seorang papah nyata. Malahan tak menutup kemungkinan, mereka akan segera menyambut anggota keluarga baru, adiknya Devano.
“Satu persatu dari mereka yang melukaimu telah mendapatkan balasan setimpal. Kamu enggak perlu mengotorri tangan apalagi nama baik kamu karena mereka benar-benar kemakan karma yang mereka buat sendiri. Bayangin, gimana rasanya dipanggang hidup-hidup dan mereka masih hidup? Mereka akan menghabiskan waktu mereka dengan kepedihan bahkan ... caacat.” Restu yang masih memeluk Arnita, berucap lirih. “Bayangkan, bagaimana rasanya melihat orang yang dulu kita hancurkan tapi masih sangat kita cintai, malah bahagia bersama pasangan yang tepat?” lanjut Restu.
Detik itu juga Arnita menyudahi kesedihannya. Ia berangsur menatap Restu. Kemudian ia mengangguk-angguk.
“Kamu mau apa, cukup katakan kepadaku karena aku pasti akan memberikannya!” yakin Restu masih berucap lirih.
Suara klakson dari pak Slamet, sama sekali tidak mengusik kebersamaan Restu dan Arnita. Restu tetap mendekap hangat sang istri, memperlakukannya penuh cinta.
Di luar, Azelia yang menuntun motor matic-nya, susah payah menepikannya. Azelia merupakan alasan pak Slamet menekan klakson mobil.
“Mobil bagus, plat nomornya, nomor Jakarta. Jangan-jangan, itu malah mobilnya mas Restu?” pikir Azelia yang sampai berhenti menuntun motornya. Penuh peluh keringat bahkan jilbabnya sampai basah karena suasana juga sedang terik-teriknya, ia melepas kepergian mobil hitam di depan sana. Mobil hitam yang ia yakini mobil Restu.
“Sumpah yah, yang namanya penyesalan memang adanya di belakang! Bayangkan kalau dulu aku enggak egois dan malah memilih Ken, pasti aku enggak susah begini.” Azelia yang kembali melanjutkan menuntun motornya menjadi sibuk berkeluh kesah.
__ADS_1
“Motor saja sampai kehabisan bensin, saking enggak ada duitnya. Suami kerjaannya judi, mabok, main wanitaa, duh ... paket komplit memang si Ken. Paket komplet telek!” Azelia menangis. Ingin rasanya ia meninggalkan motornya di tengah bulak yang masih jauh dari pemukiman karena kanan kiri di sana merupakan hamparan sawah.
“Kalau gini caranya mending cerai saja deh. Punya suami tapi malah jadi kacuung!” isaknya memilih berhenti, menyekandarkan motor kemudian tersedu-sedu sambil jongkok. Azelia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi wajah. Sungguh, ia merindukan kehidupannya yang dulu. Kehidupannya saat masih menjadi nyonya Restu.