Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
81 : Ingin Anak Perempuan


__ADS_3

“Omong-omong, ... Papah jadi jodohin Fiola sama mas Mario?” tanya Arnita sambil menyalami tangan Restu dengan takzim ketika suaminya itu pulang.


Restu langsung diam, ragu untuk melanjutkan bahkan sekadar berucapnya.


“Berat, yah, Pah?” lanjut Arnita yang bisa melihat ketidaknyamanan dari sang suami jika membahas Mario dan Fiola. Tak semata masa lalu Mario yang ternyata anak dari ibu Reni, tapi juga Fiola yang tak kunjung mengerti. Fiola masih sangat labil dan hanya mau serba enak. Yang Fiola mau hanya bahagianya saja tanpa mau menjalani proses apalagi kesulitan dan juga luka.


Restu menghela napas sembari fokus menatap istrinya. Ia merangkul punggung Arnita kemudian membimbingnya masuk ke kamar mereka. “Sekarang aku beneran enggak mau pusing. Terserah mereka mau bagaimana. Apalagi sejauh ini enggak ada yang namanya mantan orang tua apalagi mantan anak. Kayak kamu ke bapak kamu, kamu tetap sayang dan selalu ingin dekat dengan bapak, meski di masa lalu, dia sangat melukai kamu.”


Restu berangsur meletakan tas kerjanya dan menaruhnya di meja kerja yang ada di kamar. Kemudian ia melepas dasi yang melingkar di kerah kemeja lengan panjang warna abu-abunya, sambil terus menatap kedua mata Arnita. “Aku lihat Mario ke ibu Reni juga gitu. Mario enggak bisa jauh-jauh dari mamahnya.”


“Ini bakalan berat buat Mamah. Kecuali kalau ibu Reni berubah, tapi kemarin saja, dia ... ya kayak orang enggak bersalah gitu. Sifatnya mirip Lia!” lanjut Restu yang kemudian merangkul Arnita sambil mengelus-elus perut istrinya itu. “Amit-amit. Jauh-jauh dari kita.”


Setelah tersenyum, Arnita berangsur berjinjit kemudian mendekap erat tengkuk suaminya menggunakan kedua tangan. “Ditinggal kerja sampai malam, rasanya kangen banget!”


Restu langsung tersipu mendengar pernyataan tersebut. Walau akhir-akhir ini Arnita memang menjadi jauh lebih manja apalagi jika mereka hanya sedang berdua, tetap saja kemanjaan Arnita ibarat semangat sekaligus candu untuknya.


“Vano sudah tidur belum?” tanya Restu sambil tersenyum semringah dan mendekap erat pinggang sang istri yang perlahan ia angkat.


“Ya ampun itu, ... tadi bilangnya bakalan baru tidur kalau Papah sudah tempelin bintangnya di mading kamarnya,” balas Arnita.


“Astaga, jam berapa ini? Sudah mau pukul sepuluh malam, loh! Coba aku lihat dulu!” sergah Restu yang menurunkan tubuh sang istri dengan hati-hati.


“Barusan masih belum tidur kan dari tadi aku juga di sana,” jelas Arnita yang kemudian menyusul.


Sampailah mereka di lantai atas yang menjadi keberadaan kamar Devano. Restu menuntun Arnita dengan hati-hati, kemudian Arnita yang mengetuk pintunya.

__ADS_1


“Kakak, Kakak belum tidur, kan, ini Papah sudah pulang,” ucap Arnita cukup berseru.


Karena tidak ada respons, Arnita sengaja membuka pintu kamar Devano dengan sangat hati-hati. Di kamar yang dindingnya dilukis mirip suasana desa Porong-Porong di kartun Pororo tersebut, suasana benar-benar sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana termasuk Devano yang tak lagi di kursi belajar.


“Ini anaknya ke mana? Lagi sama pak Lukman apa bagaimana?” Restu kebingungan masuk ke kamar Devano.


“Ehm!”


Mendengar suara dehaman barusan, Arnita dan Restu kompak melirik satu sama lain. Senyum geli menghiasi wajah mereka seiring Restu yang perlahan mundur ke belakang pintu.


“Eh, Kakak ada di situ?” ucap Restu pura-pura terkejut menatap sang putra.


Di belakang pintu, Devano bersedekap sambil menatap marah sang papah. “Dikiranya aku enggak ngantuk?”


“Hari ini Papah beneran sibuk dan tadi di jalan pun macet banget,” ucap Restu sambil berusaha memeluk Devano, tapi putranya itu mundur dan menolak.


“Huh!” Devano mendengkus kesal melirik kebersamaan mamah papahnya. Namun ketika Restu berhenti membuat mamahnya berputar-putar, ia berangsur memeluk punggung sang papah.


“Ya sudah, berhubung Kakak sudah mengantuk, sini bintangnya Papah yang tempel di mading,” ucap Restu yang kemudian mengemban Devano. Kemudian, ia menyugar rambut tebal Devano sambil menatapnya penuh sayang. “Kakak kan susah jadi bintang, keren. Jadi jangan ngambek-ngambek terus dong. Duh ini ganteng banget, rambutnya juga bagus banget mirip bintang sampo! Ini anak siapa, sih? Jadi bintang sampo mau, enggak?”


“Sampo apa, Pah?” tanggap Devano serius.


“Sampo bebek biar kalau mereka ee, enggak bau!” usil Restu dan langsung membuat sang anak tantrum.


“Iya, kan? Kata Kakak, bebeknya bau-bau? Makanya parfum Papah habis sama Kakak buat semprot-semprot mereka,” lanjut Restu sambil sesekali menyugar rambut Devano.

__ADS_1


“Jadi kangen kelinciku, ... bebek, ayam, entog juga.” Devano mendadak galau.


“Akhir bulan, kita pulang kampung lagi,” yakin Restu yang kemudian melirik sang istri.


Arnita mengangguk-angguk sambil mengusap penuh sayang kepala sang putra. Karena andai kemarin Azelia tak berulah, bisa jadi mereka masih bersenang-senang di kampung halaman.


“Terus besok pagi, kita video call bi Ade. Kita video call sama kelinci-kelinci Kakak, sama bebek, sama ayam, sama entog Kakak juga. Oke?” Restu sengaja mencoba meredam kegalauan sang putra. Sudah malam, selain Restu yang takut sang putra sampai sakit karena menahan rindu pada peliharaan kesayangannya.


“Bi Ade suruh ke sini bawa kelinci, bebek, ayam, sama entog aku, Pah, Mah!” mohon Devano.


“Ya nanti ee-nya ke mana-mana. Nanti mereka mabook kendaraan kayak Mamah, pingsan. Kasihan enggak ada rumah sakit hewan. Adanya dokter hewan dan biayanya lebih mahal dari biasa pengobatan manusia!” yakin Restu, tapi malah membuat Arnita tertawa.


“Kalau taii mereka keluar, buat si Rayyan saja, Pah!” protes Devano.


“Rayyan lagi, ... Rayyan lagi. Ayo kita tempelin bintangnya, kemudian tidur,” lanjut Restu sengaja mengemban sang putra.


Beres menempelkan bintang di mading, yang Devano dapatkan sebagai nilai dari sekolah, Restu yang masih memakai pakaian kerjanya segera menidurkan bocah itu.


“Kangen kampung juga?” tanya Restu sambil memandangi wajah Arnita yang meringkuk di belakang Devano.


Arnita berangsur menggeleng. “Enggak. Soalnya kalau sudah nikah gini yang dikangenin ya kalau bukan anak, tentu saja suami,” ucapnya yang tersipu malu karena sang suami terus memandanginya di tengah senyum yang sulit untuk usai.


“Sepertinya adiknya Devano beneran perempuan,” ucap Restu. Kedua matanya memang terus tertuju kepada Arnita, tapi kedua tangannya sibuk mengelus kepala maupun punggung Devano. Devano yang sudah tidur meringkuk dan menghadap kepadanya. Malahan sebelah tangan Devano sampai mendekapnya.


“Serius, Pah? Kalau beneran perempuan, ih aku seneng banget. Hari ini saja aku bikin dua baju bayi perempuan. Rasanya seru banget kalau punya anak perempuan. Berasa punya bestie gitu, mirip Papah sama Vano!” lirih Arnita sangat heboh. Anak perempuan, ia sungguh ingin memilikinya.

__ADS_1


Restu mengangguk-angguk. “Kalau aku lihat dari kebiasaan kamu akhir-akhir ini, kayaknya sih memang perempuan!”


“Amin! Semoga memang bener anak perempuan!” sergah Arnita bersemangat.


__ADS_2