Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak

Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak
53 : Pulang Kampung


__ADS_3

“Ini masih belum sampai juga?” tanya Devano bawel dari tempat duduk bagian belakang.


Devano duduk persis di belakang Arnita. Sementara pak Lukman yang biasanya mengawal, duduk di sebelah sopir.


“Baru juga satu jam. Sedangkan untuk sampai kampung kita, bisa sampai sepuluh bahkan dua belas jam, Ka,” jelas Arnita.


“Kok lama banget ...?” keluh Devano, kali ini bertutur dengan suara lirih.


Ada kesedihan sekaligus keputusasaan yang terdengar dari keluhan Devano barusan.


“Kemarin yang minta pulang kampung, siapa?” ucap Restu yang duduk di sebelah Arnita, dan menggunakan laptop di pangkuannya untuk bekerja. “Kakak tidur saja dulu, istirahat. Nanti kalau sudah dekat, Papah bangunin.”


Arnita yang menyimak, berangsur mengelus-elus kepala Devano menggunakan kedua tangan, membujuk sang putra untuk jauh lebih bersabar. Karena walau mudik menjadi hal yang tengah bocah itu jalani untuk bisa melihat kampung halaman Devano juga tidak boleh mengesampingkan proses yang tak kalah penting.


“Melihat sekaligus menikmati pemandangan saat mudik juga jadi bagian yang mengasyikan, loh, Kak!” Arnita masih membujuk.


Devano yang cemberut dan tak sedingin biasanya, berkata, “Tapi ayam sama bebeknya enggak keburu pergi, kan?” tanya Devano.


“Enggak. Papah sudah pesen banyak khusus buat Kakak. Beneran ada banyak di kandang belakang rumah,” balas Restu walau pria itu masih fokus bekerja bahkan jemarinya pun sibuk mengetik.


Arnita kian menambah senyumnya yang terus tertuju kepada sang putra. “Sebenarnya, Mamah juga sudah enggak sabar banget. Mamah ingin lihat, bagaimana tanggapan mereka yang dulu sangat menyakiti Mamah, ketika mereka melihat Mamah yang sekarang,” batinnya. Di benaknya kini, wajah Azelia, Juan, Sita, ibu Misya, dan juga sang bapak, silih berganti memenuhi tak ubahkan pertunjukan slide.

__ADS_1


Sekitar sebelas jam kemudian, Arnita membiarkan Restu mengemban Devano lantaran bocah itu ketiduran. Baik Arnita maupun Restu yakin, perjalanan jauh yang harus mereka tempuh membuat Devano kelelahan. Padahal sebelumnya, Devano sangat bersemangat, tak hentinya merengek untuk segera pulang kampung. Malahan hampir setiap malam sebelum keberangkatan, bocah itu selalu bawel, menanyakan sisa waktu yang harus ditunggu saking tak sabarnya untuk menjalani pulang kampung.


Saat di jalan pun, Devano sempat menikmati indahnya pemandangan. Termasuk saat di rest area, bocah itu tampak kepo mengenai apa yang orang-orang lakukan di sana, kemudian turut melakukannya. Semacam makan, termasuk itu menyantap mi seduh panas-panas sambil mengobrol dengan rekan perjalanan.


Suasana sudah petang ketika akhirnya mereka sampai kampung halaman Arnita maupun Azelia. Namun, beberapa orang yang masih beraktivitas, langsung terusik. Sebagian dari mereka yang awalnya ada di dalam rumah sampai keluar dari rumah. Sementara yang awalnya ada di luar, tak segan menyapa, meski dari semuanya, mereka pangling kepada Arnita.


Restu membawa keluarga kecilnya pulang ke kontrakan dulu dirinya dan Arnita tinggal. Sebab rumah yang dulu pria itu tempati dengan Azelia, sudah resmi terjual dan hasilnya Restu gunakan untuk membeli rumah di kota. Rumah yang juga kini menjadi tempat tinggal Restu dan keluarga kecilnya. Restu sengaja melakukannya karena tak mau teringat masa-masanya dengan Azelia. Pria itu sungguh menghapus semua jejak Azelia dalam hidupnya.


“Kontrakannya jadi bagus banget,” ucap Arnita sengaja memuji suasana di sana. Berbinar, matanya memandangi keadaan. Kontrakan yang awalnya tak sampai dipagar, kini dipagar megah dan juga memiliki gerbang kokoh.


“Ini punya kita,” ucap Restu yang menikmati ekspresi bahagia sang istri. Ia membiarkan pak Lukman mengemban Devano.


Arnita langsung tak bisa berkata-kata. “Pantas sampai direnovasi sebagus ini,” batinnya.


“Bi Ade yang urus rumah kita,” ucap Restu benar-benar manis sambil mendekap mesra pinggang Arnita.


Arnita mesem. “Oke, ... suamiku selalu memberikan yang terbaik. Emang yang terbaik, sih,” bisiknya sengaja memuji Restu yang detik itu juga menci-um keningnya penuh cinta. Malahan, bibir berisi itu seolah tidak mau lepas dari keningnya, walau pak Lukman, sang sopir, maupun bi Ade silih berganti lewat merapikan sekaligus menyiapkan segala sesuatunya.


“Aku mau mandi,” sergah Restu sengaja pamit kepada Arnita yang sebelumnya pamit untuk menyeka Devano.


Acara pulang kampung kali ini juga menjadi bagian dari bulan madu Arnita dan Restu. Karenanya, sepanjang perjalanan sekaligus kebersamaan, interaksi kedua sejoli itu benar-benar manis. Ditambah, nantinya Devano juga akan tidur di kamarnya sendiri.

__ADS_1


Kabar kepulangan Restu langsung menggegerkan warga kampung. Dari Azelia yang sudah bebas, Juan, dan juga keluarga bahagia bapaknya Arnita. Hanya saja, kabar tersebut dibarengi dengan kenyataan mereka yang memang tak mengenali Arnita. Hingga yang ada, kabar yang beredar malah, Restu pulang bersama istri barunya dan mereka sudah sampai memiliki seorang putra.


“Ba-jingan emang si Restu. Kerjaannya kawinn mulu, padahal Nita saja belum ada kabarnya!” batin Juan yang kemudian sengaja menuju rumah baru Restu. Rumah yang dulunya merupakan kontrakan Arnita dan Restu tinggal, tapi kini kontrakan tersebut sudah Restu beli sekaligus disulap menjadi rumah mewah.


“Hah? Mas Restu sudah nikah lagi dan istrinya cantik banget mirip Artis?” batin Azelia. Di kediamannya yang jauh dari kata mewah bahkan suasana dari cahaya lampu yang menerangi saja remang, Azelia yang awalnya menyimak obrolan keluarganya dari balik pintu kamarnya, buru-buru menutup pintunya.


Hal yang langsung Azelia lakukan adalah mematut penampilannya di cermin rias kecil yang ada di sana. Benar-benar tidak ada penampilan yang spesial. Azelia sungguh tidak menemukannya. Jangankan pakaian mahal, tubuhnya saja tak lagi terawat. Kini, Azelia layaknya wanita setempat yang hanya mampu menjalani perawatan ala kadarnya. Minimnya keuangan, tak memungkinkan wanita itu merasakan kemewahan layaknya ketika masih menjadi istri Restu.


“Andai aku masih memiliki kesempatan, aku benar-benar akan berubah, Mas. Apalagi menjadi istrinya Ken, aku malah berasa sapi perah. Belum lagi, Ken masih berbakat selingkuh. Selingkuhannya sampai sudah punya anak dan kadang, aku juga sampai harus keluar uang buat mereka. Ngenes banget memang nasibku setelah lepas daru kamu Mas. Apalagi ternyata efek aborrsi dini saat aku SMA, aku jadi sulit hamil. Dan vonis ini yang bikin Ken selalu merendahhkanku,” batin Azelia sambil menunduk dalam sekaligus berderai air mata.


Di rumahnya, pak Iman tengah ketar-ketir dan sampai gemetaran hebat. Apalagi, Sita dan ibu Misya yang memang sudah bebas, tak hentinya berisik.


“Kalau Restu sudah sampai nikah lagi, paling kemungkinan terbesar Arnita ya kalau enggak jadi ART, ... ya mohon maap, paling ya pelaacur.” Sita sengaja mengatakan itu sambil melirik kejji sang bapak yang ketar-ketir gelisah di depan pintu masuk.


Detik itu juga pak Iman menghentikan langkahnya. Perlahan air mata itu jatuh dari kedua ujung matanya, langsung lolos ke lantai kusam yang tergerus waktu di bawahnya.


“Jika itu benar-benar sampai terjadi,” batin pak Iman seiring jantungnya yang berdetak sangat kencang. “Jika Nita sampai jadi pelllacur ...,” batinnya lagi seiring kedua tangannya yang mengepal sangat kencang. “Aku benar-benar tidak akan pernah memaafkan Restu!” Sampai detik ini, pak Iman masih berbicara di dalam hati. Namun detik berikutnya, pria itu keluar dari rumah kemudian mengendarai motor bututnya.


Tanpa pamit kepada anak dan istri tercinta, pak Iman berniat mendatangi Restu. Pak Iman berniat akan memastikan kabar Arnita, memaksa pria itu untuk segera memulangkan anaknya dalam keadaan sehat wal afiat.


Kepergian pak Iman yang tampak sangat emosional, membuat ibu dan anak yang ditinggalkan menjadi tersenyum girang. Keduanya merasa menang, kemudian bersedekap sambil menggeleng tak habis pikir.

__ADS_1


“Bukan hanya sekelas pellacur lagi kayaknya sih. Karena bisa jadi, si Nita malah sudah jadi ger-mo!” ucap ibu Misya.


Sita terbahak kemudian tertawa dibuat-buat. “Mamah bisa saja! Paling cerdas emang kalau urusan julid gini!” tanggap Sita sampai menyenggol gemas sebelah bahu sang mamah. Bahagia, ... itulah yang menjadi gambaran dari kabar kepulangan Restu yang malah bersama istri baru, bukan Arnita lagi.


__ADS_2